Angklung (2)

BACA TULISAN SEBELUMNYA: Angklung (1)

Kebangkitan

Sejak dihapuskannya Cultuurstelsel, larangan memainkan angklung turut dicabut. Namun, pengaruh angklung tetap saja tidak sedahsyat awalnya. Angklung hanya berperan sebagai alat musik penghibur dalam pertunjukkan rakyat, seperti reog atau ogle.

Keadaan tersebut berlangsung hampir satu abad lamanya. Baru menjelang masa penjajahan Jepang, angklung mulai kembali diperhatikan. Sejak tahun 1983, Daeng Sutigna, seorang putra pribumi kelahiran Garut, mengkreasikan angklung tradisional yang mempunyai tangga nada pentatonis menjadi diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, si, do). Usahanya itu didasari atas pemikiran supaya angklung sebagai warisan budaya nusantara dapat dengan mudah dipopulerkan ke kalangan generasi muda untuk dijaga kelestariannya.

daeng

Daeng Sutigna (Sumber: link)

Usaha Daeng Sutigna pun membuahkan hasil. Angklung kembali mendapatkan tempat yang layak dan dipandang oleh masyarakat. Bahkan, angklung pun mendapatkan reputasi internasional di mata dunia. Pada tahun 1955, seorang musikus besar kebangsaan Australia, Igor Hmel Nitsky, menyatakan sebagai berikut: “.. my surprise that Daeng Sutigna has found such a practical and fascinating method of teaching the youth of Indonesia how to appreciate and play their own historic instrument, the Angklung. It’s original idea of enabling young children to read and understand the tonal structure by visual and practical demonstration, is, to say the least, wonderful!”.

Alat Pendidikan

angklung2

Sumber: link

Walaupun menurut anggapan beberapa pihak, angklung sebagai alat musik masih memiliki beberapa kekurangan, angklung masih dapat dipertanggungjawabkan sebagai sebuah alat pendidikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kemudian menetapkan angklung sebagai alat pendidikan musik di sekolah melalui Surat Keputusan tertanggal 23 Agustus 1963, No. 082/1968 sebagai berikut:

- Menetapkan angklung sebagai alat pendidikan musik dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

- Menugaskan Direktur Jenderal Kebudayaan untuk mengusahakan agar angklung dapat ditetapkan sebagai alat pendidikan musik tidak hanya dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Perkembangan Pasca Daeng

Daeng Sutigna tidak hanya mengembangkan angklung dari segi teknik pembelajarannya, melainkan juga menyebaluaskan angklung ke negara-negara di luar Indonesia. Melalui pembinaan daeng-daeng muda dari berbagai daerah yang akhirnya disebar kembali ke pelosok dunia.

Hal tersebut menyebabkan angklung mencapai puncak kejayaannya pada dasawarsa tujuh puluhan. Apresiasi yang meriah tidak hanya didapat dari kalangan tanah air saja, melainkan juga sampai ke negara tetangga. Ratusan set angklung diekspor ke Malaysia setiap tahunnya, sebagai salah satu komoditi nonmigas. Bahkan, sekolah-sekolah di Malaysia pun mengajarkan angklung kepada murid-muridnya.

***

Demikianlah, sejarah angklung sedikit banyak mengingatkan kita akan sejarah bangsa Indonesia. Ketika bangsa Indonesia berada dalam genggaman penjajah, angklung hanya menjadi alat musik pengemis. Dan ketika kemerdekaan telah tercapai, angklung kembali menjadi alat musik yang dipandang serta dibanggakan di mata dunia.

Berbanggalah kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki beraneka ragam kebudayaan. Dengan budaya, kita dapat berkaca kepada sejarah. Melihat kisah-kisah tersirat di baliknya yang mengajarkan makna perjuangan dan nasionalisme.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari sejarah dan menghargai kearifan budaya lokal”

Referensi:

http://angklung-web-institute.com/content/view/87/74/lang,en/

http://angklunglovers.blogspot.com/2009/02/sejarah-angklung-indonesia.html


IEEXPO2010

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

6 comments

  1. Pertmaxxxx

    Wuih bahasannya lengkap buanget ya. mantaffff (rock)
    jadi makin bangga dengan amhklung :)

  2. ah kali ini gagal PERTAMAX…
    yasudah Keduax juga tidak apa-apa… hehe…
    yang keren itu ketika si konduktor mulai beraksi, dan melihat ekspresi penuh perhatian para pemain ke konduktornya… pokoknya saya suka dengan angklung…. *sambil inget2 dulu waktu main angklung, tapi dijewer sama guru, gara2 mengacaukan kordinasi tim* namanya juga anak SMP, hehehehe….

  3. indonesiaberprestasi /

    @iman:
    yep, makin bangga sama angklung :D

    @ramadoni:
    yep loves angklung too..
    cara mainnya tidak terlalu sulit, tapi suaranya itu loh, tetep jernih, relaxing, dan menyihir banget :D
    jadi ikut2xan mengingat masa lalu yang baru saja berlalu :P
    ketika teman-teman peserta seminar HPAIR di Korea sangat bersemangat saat dimintai untuk jadi volunteer bermain angklung di atas panggung :D
    they really love it too
    i can see it from their eyes :D

  4. Assalamu’alaykum Wr Wb
    Nice post! Mari kita cintai budaya Indonesia…
    Btw, adakah di antara teman2x yang tahu tempat belajar angklung yang ada di wilayah depok/jakarta?
    Saya jadi pengen belajar angklung… hehe :)

  5. indonesiaberprestasi /

    @salmansalsabila:
    Wa’alaikumsalam wr wb.
    Yang kami tahu, pusat belajar angklung terbesar itu ada di Bandung, Saung Angklung Udjo (SAU), ada websitenya juga:
    http://www.angklung-udjo.co.id/

  6. erinna /

    Saya jg bangga bisa main angklung. Kebetulan saya ikut UKM angklung di STBA?Yapari – ABA, namanya KPAP GENTRA SEBA. Kita dilatih langsung oleh salah satu murid terbaik Pak Daeng Sutigna yaitu Bpk Eddy Permadi.
    Baru saja tahun 2009 kemarin kami menjadi juara 1 di Festival Angklung ITB, Alhamdulillah msh memegang juara 1 dari festival tahun 2007 (sombong dikit, hehe).

Leave a Reply