Sumber: link
Ya, satu lagi hasil kreativitas anak bangsa yang patut diacungi jempol dan diapresiasi setinggi-tingginya oleh kita.
Penemuan ini dibuat oleh tiga arek (pemuda) Dukuh Kupang, Surabaya yang tertarik kepada kerajinan batik, tetapi mereka ingin cara yang praktis dan cocok untuk anak-anak muda. Awalnya, Prima Amri Surahmat tertarik belajar membatik, tetapi malam (lilin) di dalam canting sering tumpah dan membuatnya kepanasan.
Arek Dukuh Kupang yang sehari-hari berprofesi sebagai “lawyer” (penasihat hukum) itu pun bertemu dua rekannya senasib yakni Dwi Mulyono (konsultan pajak) dan Widianto (teknisi). Mereka akhirnya melakukan eksperimen bersama-sama untuk membuat canting yang praktis dan mampu mendorong muda-mudi untuk belajar membatik.
Menurut rekannya, Dwi Mulyono, kesukaannya minuman suplemen Redoxon akhirnya memunculkan ide untuk menjadikan bekas tabung Redoxon sebagai tabung untuk canting. Ide lain datang dari Widianto yang memang teknisi kompresor. Dia memberi klep sebagai mata canting yang dilapisi elemen untuk dialiri listrik sebagai sarana pemanasan. Dari situ, Widianto pun menambahkan “dimmer” yang merupakan alat pengatur panas seperti yang ada pada setrika, bahkan ada juga baut untuk mengatur besar-kecilnya lubang pada canting. Widianto mengatur panas antara 20 sampai 25 watt. Kalau menggunakan canting elektrik selama satu jam akan membayar listrik hanya Rp1.200,00.
Prima yang didaulat menjadi koordinator dari Komunitas Batik Lukis “Klampis Ireng” Dukuh Kupang itu juga menjamin siapapun yang menggunakan canting elektrik akan mampu membatik hanya dalam seminggu. Menurutnya. canting elektrik itu memang mempunyai kelebihan dibanding canting tradisional, sehingga anak-anak muda pasti akan suka, karena caranya mudah dan tidak malu untuk dibawa kemana-mana. Bahkan, paparnya, dirinya pernah mengajari anak SD (sekolah dasar) untuk belar membatik dengan canting elektrik dan sukses.
“Kalau anak SD saja bisa, masak kita kalah? Soal motif batik ya terserah kreasi kita sendiri. Ada rekan yang bilang motif sak karepe dewe (semau sendiri) alias kontemporer,” kata Prima.
Paten
Cara mudah membatik dengan canting elektrik agaknya membuat Komunitas Batik Lukis “Klampis Ireng” pun berkembang dan dikenal hingga ke luar Kota Surabaya. Komunitas tersebut memiliki 12 anggota yang serius, yaitu delapan pemuda dari Dukuh Kupang, dua pemuda dari Rungkut, dan dua pemuda dari Kalianak. Tidak hanya itu, kiprah “Klampis Ireng” pun dilirik ibu-ibu PKK yang belajar membatik, bahkan warga asing dari Filipina dan Yunani pun pernah menimba ilmu kepada komunitas mereka.
Prima berpendapat bahwa berkembangnya komunitas tersebut mungkin karena kelompoknya sering ikut pameran batik dimana-mana. Itu pun sesuai dengan nama Klampis Ireng yang merupakan nama desa kelahiran tokoh pewayangan yakni Semar, yang selalu mendidik orang dan mengayomi untuk berkembang menjadi lebih baik.
Bahkan, kiprah “Klampis Ireng” yang cukup aktif itu membuat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim mendorong mereka untuk mendaftarkan paten pada Juli 2009 atas karya kreatif mereka itu. Oleh karena itu, katanya, canting elektrik sampai sekarang belum pernah dijual kepada orang lain, sebab mereka menunggu keluarnya paten, kendati mereka sudah mampu membuat 20 canting elektrik dalam sehari. Prima mengatakan bahwa canting elektrik belum pernah dijual kepada siapapun, karena memang belum pernah diproduksi, tetapi kalau batik yang dihasilkan sudah banyak yang memesan.
Langkah pemuda Dukuh Kupang Surabaya itu diacungi jempol oleh pemerhati batik dari UKP Surabaya, Lintu Tulistyantoro, yang juga Ketua Komunitas Batik Surabaya (KiBaS) yang menaungi “Klampis Ireng” pula. Ia mengakui bahwa teknik membatik yang ditawarkan itu bagus, karena akan membuat anak-anak muda tertarik membatik. Menurutnya, cara membatik sekarang memang berbeda dengan cara nenek moyang kita dulu.
Tentang motif “bebas” dari komunitas “Klampis Ireng”, Lintu yang juga Ketua Jurusan Desain Interior pada Fakultas Seni dan Desain (FSD) UKP Surabaya itu tidak menyoal. Menurutnya, bagaimanapun Surabaya adalah kota metropolis, karena itu motif batiknya tidak harus satu desain. Bisa motif mangrove, suro lan boyo, adu doro, teri mumet, dan bahkan blok plan khas perumahan, apalagi dengan canting `made in` Surabaya pula.
Sumber: ANTARA (Edy M Ya’kub)
Related posts:
- Batik Indonesia menjadi Warisan Budaya Dunia | Indonesian Batik as The World Cultural Heritage Sumber: link Batik memang identik dengan Indonesia, tetapi bukan...
- JBatik – Perkawinan Batik dengan Teknologi JBatik adalah salah satu dari sekian banyak hasil karya anak...
- Selamat Hari Batik, Indonesia! 2 Oktober 2009! Merupakan sebuah hari yang membanggakan bagi bangsa...
- Wayang Multikultur Memukau Surabaya Saya menemukan sebuah artikel di Detik tentang pagelaran wayang yang...
- Batik: Persembahan Indonesia Untuk Dunia Batik telah dikenal sejak lebih dari ratusan tahun silam. Sebenarnya,...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.





wah mantep juga ya indonesia…
saya sampaikan apresiasi atas temuan canting batik elektriknya. Tetapi kalo tidak salah saya pernah membaca canting tersebut juga pernah ditemukan oleh mahasiswa teknik elektro UGM pada tahun 2006 dan pernah dipamerkan pada acara Research Week di Gedung Grha Sabha Pramana (GSP) UGM dengan harga kurang dari Rp. 300 ribu.
Mungkin serupa namun tak sama. Yang pasti niat dan kreativitas untuk meningkatkan produktivitas batik saya acungi jempol.
mas smoga klampis ireng tanbah maju kita dri STM SIANG sucses 4 klampis ireng
saya juga punya canting elektrik,tapi designnya lebih futuristik,stylis,simpel,dan lebih nyaman jika dipakai,mau liat?^_^,mau?,hubingi di facebook saya sajahhahahahha,(harris_frodo@yahoo.com),hehehehe
bolehkah saya memperbaharui designnya(karena saya sudah membuatnya)????,apakah sah,kalo saya mempublikasikannya dikemudian hari^_^,hehehehe
pasti penasarankan mau liat,hehehehe