Sumber Gambar: link
Krisis bangsa saat ini memang telah menggurita. Krisis yang diawali dari terpaan badai ekonomi 11 tahun silam. Lantas disusul dengan tersingkapnya krisis politik, budaya, sosial, dan moral. Kita seharusnya tidak terbenam dalam keterpurukan dengan senantiasa mengutuk keberadaan permasalahan bangsa seperti yang terjadi saat ini. Krisis adalah takdir semua bangsa, sebagaimana perjalanan hidup manusia, adakalanya berada dalam kejayaan, dan suatu waktu ia terjatuh dalam keterpurukan.
Hal yang seharusnya kita khawatirkan adalah belum lahirnya sosok-sosok pahlawan dari berbagai krisis multidimensi itu. Krisis identitas bangsa ini 81 tahun silam jauh lebih berat. Namun, generasi saat itu berhasil mengilhami solusi identitas tersebut dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Sebuah pernyataan kesepakatan yang menyingkirkan berbagai perbedaan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Atau kita dapat merefleksikan diri pada momentum 10 November di Surabaya, saat fragmen semangat dan keberanian tersinergi dalam perjuangan mengangkat senjata.
Sejarah telah mencatatkan bahwa sosok-sosok pahlawan lahir dari para generasi muda. Berbagai peristiwa bersejarah di Indonesia dan juga di berbagai penjuru dunia lainnya telah membuktikannya. Maka ketika muncul kekeringan sosok pahlawan di negeri ini, berarti ada sesuatu yang keliru dalam diri para pemudanya.
Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Di satu sisi dapat dilihat bahwa telah terjadi distorsi makna kepahlawanan. Bagi beberapa komunitas pemuda, menjadi pahlawan adalah dengan berjuang mendapat wanita pujaannya, meskipun harus beradu fisik dalam perebutannya. Dalam komunitas yang lain, pahlawan adalah mereka yang siap bertarung dengan rekan sekampus lainnya demi gengsi fakultas. Atau bisa jadi, pahlawan adalah mereka yang hidup layak berkecukupan, meskipun untuk menggapainya tak segan sikut kanan maupun kiri.
Mungkin pula jenak idealisme dan perjuangan telah terkikis seiring berjalannya waktu. Nilai-nilai kepahlawanan telah asing dalam keseharian kita. Para pemimpin tidak mampu mencontohkannya karena sibuk berkutat dengan agenda kekuasaannya sendiri. Adapun kita, yang menisbatkan diri sebagai rakyat, tidak mampu menjadi inisiator keteladanan tersebut.
Sosok pahlawan tidaklah datang tiba-tiba dari langit. Ia dibentuk dan dibina dalam kerasnya persaingan hidup. Baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Ia juga seperti kita, manusia biasa. Salah satu hal yang membedakannya dengan yang lainnya adalah naluri yang terhujam kuat dalam pikiran dan sanubarinya, bahwa hidup haruslah berkontribusi. Memberikan seluruh kemampuan terbaik yang dimilikinya untuk kebermanfaatan orang banyak di lingkungannya.
Momentum Sumpah Pemuda adalah saat yang tepat bagi para pemuda Indonesia untuk tidak sekedar melihat rekam jejak para pahlawan bangsa. Yang lebih penting adalah bagaimana karakteristik para pahlawan tersebut dapat diteladani dan diterapkan dalam keseharian kita.
Bagaimanapun juga, bangsa ini masih butuh banyak lahir sosok pahlawan muda untuk berpadu menyelesaikan berbagai krisis bangsa. Seperti apa yang disampaikan oleh seorang penulis, “mereka bahkan sudah ada di sini. mereka adalah aku, kau dan kita semua. mereka hanya belum memulai untuk merebut takdir kepahlawanan mereka”.
Related posts:
- Pahlawan Indonesia di Timor Barat Sumber Gambar: Roslin Orphanage Walaupun Hari Pahlawan sudah berlalu,...
- Kaum Muda Slovakia Gandrungi Budaya Indonesia Kita sebagai manusia seringkali lebih mendengar apa yang dikatakan orang...
- Refleksi di Hari Sumpah Pemuda Kami, putera dan puteri Indonesia mengaku, bertumpah darah yang satu,...
- Sumpah Pemuda, Masa Lalu dan Masa Kini Hari ini kita sedang memasuki titik perulangan sejarah. Seandainya teknologi...
- Aktivis Muda Indonesia! Mari Bergabung di Indonesian Youth Conference! Dear all readers, kami punya berita hangat yang menarik untuk...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.




