Sumpah Pemuda, Masa Lalu dan Masa Kini

Posted by salmansalsabila On October - 28 - 2009

Hari ini kita sedang memasuki titik perulangan sejarah. Seandainya teknologi manusia telah berhasil mengembangkan mesin waktu yang dapat membawa kita ke masa lalu, maka pada tanggal yang sama 81 tahun silam akan kita temukan puluhan pemuda di Jln. Kramat Raya 106 (sekarang Museum Sumpah Pemuda) sedang merumuskan arah perjuangan bangsa. Mereka adalah pemuda luar biasa yang berasal dari seluruh gerakan pemuda yang ada di Nusantara kala itu. Dengan semangat kebangsaan yang tinggi, mereka menyisihkan ego kelompoknya demi persatuan dan kesatuan bangsa. Mereka menyadari potensi besar yang dimiliki bangsa ini jika seluruh komponen masyarakat yang hidup di dalamnya bersatu dan bekerja sama.

Ayo kita segarkan kembali ingatan kita pada sumpah mereka.

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Hari ini kita merasakan berkah perjuangan mereka. Kita merdeka dari penjajahan asing. Kita dapat menentukan arah perjalanan bangsa tanpa tekanan dari bangsa lain. Kita pun merasakan indahnya berada dalam satu naungan tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa.

Lantas, selanjutnya apa?

Cukupkah sumpah mereka hanya menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa yang terekam dalam satu bagian memori di otak kita? Cukupkah kita hanya menjadi bagian dari “penikmat” hasil perjuangan mereka?

Tidakkah hati kecil kita tergugah untuk bertanya pada diri sendiri, sumpah apakah yang dapat kita ikrarkan sebagai bagian dari pemuda masa kini? Tidakkah kita tergugah untuk menjadi bagian dari pelaku sejarah yang ikut serta membangun bangsa ini? Tidakkah kita menyadari besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini?

Lupakan sejenak para pemuda dari 81 tahun silam, lupakan pula sumpah yang mereka ikrarkan. Arahkan pandangan kita pada tubuh yang menaungi hati dan pikiran kita. Ya, tubuh ini adalah tubuh seorang pemuda hebat seperti mereka. Apapun status kita, apapun pekerjaan kita, apapun tingkat pendidikan kita, apapun bidang keahlian yang kita kuasai, apapun suku dan budaya kita, kita bisa ikut serta membangun dan memperbaiki bangsa ini.

Teman-teman, mari ikrarkan kembali sumpah kita sebagai bagian dari pemuda Indonesia masa kini… dan mari kita lanjutkan perjuangan mereka dalam berbagai cara dan bentuk yang sesuai dengan kemampuan kita… Kita tak perlu menenteng senjata seperti arek-arek suroboyo. Kita tak perlu turun ke jalan seperti pemuda ‘98. Kita tak perlu mengibarkan bendera merah-putih di kedalaman laut bunaken. Bahkan, kalian juga tak perlu menulis tulisan di blog seperti yang aku lakukan. Cukup lakukan saja satu hal yang paling bisa kita lakukan sebagai bagian dari pemuda masa kini…

Related posts:

  1. Refleksi di Hari Sumpah Pemuda Kami, putera dan puteri Indonesia mengaku, bertumpah darah yang satu,...
  2. Mencari Pahlawan Muda Indonesia Sumber Gambar: link Krisis bangsa saat ini memang telah...
  3. Antara Muhammad Yamin dan Kita Ada Cinta Sumber Gambar: link Kami putera dan puteri Indonesia mengaku...
  4. Bahasa Indonesia Dipelajari 40 Negara Sumber: link Sebentar lagi, kita akan memperingati Sumpah Pemuda...
  5. Suarakan Pikiranmu di Kolom Baru Kami: Opini! Dear all, Selamat hari Sumpah Pemuda Di hari ini, kami...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

One Response to “Sumpah Pemuda, Masa Lalu dan Masa Kini”

  1. rin says:

    Aku terinspirasi dari kisah hidup ilmuwan kembar Indonesia. Umar Anggara Jenie dan Said Djauharsyah Jenie. Ayah beliau-beliau meninggal sejak mereka kecil, sehingga mereka hanya diasuh oleh ibundanya. Ibu beliau adalah seorang dokter yang sangat menghargai Ilmu pengetahuan. Beliau mengakui bahwa Ibu beliau-beliau lah yang telah menjadi inspirasi dalam hidup.

    Sang ibu pernah berkata “sekolah itu untuk mencari ilmu bukan untuk mencari uang”. Sang ibu sangat berharap anak-anaknya menjadi seorang Guru.

    Jika kita ingat, dulu gaji seorang Guru amatlah rendah.

    Betapa ikhlasnya sang Ibunda dalam menjalani hidup ini.

    Dengan ilmu pengetahuan, kau dapat menyelamatkan kehidupan umat manusia. Sang Ibunda juga sering memberikan hadiah edukatif kepada anak-anaknya seperti kereta api, mobil-mobilan sambil dijelaskan fungsi dan cara kerjanya.

    Kini 2 anak kembar itu sudah menjadi ilmuwan besar. Said Djauharsyah Jenie adalah Guru Besar Teknik Penerbangan ITB dan menjadi salah satu ilmuwan dunia perwakilan Indonesia dalam bidang penerbangan, aeronautika dan astronautika, Sedangkan Umar Anggara Jenie adalah professor Ilmu kimia organik UGM, peneliti terbaik IPA thn 1992, peneliti terbaik ilmu kesehatan dan bioteknologi thn 1994. Meskipun kembar, namun mereka sangat berbeda. Mereka saling mendukung dan menyemangati untuk hal-hal yang positif. Sang adik Umar Anggara berkata bahwa kakaknya Said memang sangat cerdas, sedangkan pak Umar sendiri awalnya tak yakin dirinya bisa meraih prestasi.

    Aku jadi teringat tulisan pak Sjafrie Mangkuprawira (Dosen IPB yang banyak berjasa dalam dunia pendidikan dan masyarakat kecil) dalam bukunya yang inspiratif “RONA WAJAH”. Bahwa di dunia ini banyak tipe orang seperti yang dikatakan Ali r.a: ada orang yang tahu bahwa dia tahu, ada orang yang tak tahu bahwa dia tahu, ada orang yang tidak tahu bahwa dia tak tahu lalu banyak berceloteh sok tahu.

    Wah, itulah kenapa saat aku meminta nasihat dari Dosen Pembimbingku yang sering berkeliling dunia, Ibu Fransisca Rungkat Zakaria yang kuat menyuarakan pangan fungsional untuk kesehatan masyarakat Indonesia dan sibuk dengan segudang proyek penelitiannya serta tak matrealistis dengan keahliannya. Ibu itu menjawab “kamu sadar tidak bahwa kamu itu BODOH?? Makanya kamu harus serius KULIAH, dengarkan dan pikirkan perkataan dosen benar atau tidak, catat, jangan hanya menonton Dosen tapi pikiran kemana-mana”…saat itu aku tak bisa menahan air mata. Ya, aku memang masih bodoh, aku terlalu bangga dengan “berhasilnya aku mencapai target pada masa lalu”, dan sangat bodoh sekali jika aku tak mau mengakui kebodohanku. Tentu saja, aku sedang berada di hadapan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Dosen-dosenku ada yang ahli mikroba (bisa buat makanan protein tinggi dari sampah produk pertanian, dll), ahli flavor, ahli teknik rekayasa proses pengolahan pangan.

    Dan aku sangat menyesal kenapa begitu mudahnya aku menerima realita. Saat SMP, aku pernah ditanya oleh Guruku yang bijak, apa tujuanmu sekolah? aku jawab denga polos: “untuk cari ilmu, untuk berbakti pada otu dan menjadi orang yang berguna”. Namun tak disangka Guruku itu berkata “realitanya sekolah itu untuk mencari uang nak”. Ucapan itu membekas dan baru kini kusadari bahwa sepatutnya kita menjalani kehidupan ini dengan ikhlas. Karena semuanya akan dinilai olehNYa.

    Wah ini satu kalimat Pak Andi Hakim Nasution (beliau dulu hanya seorang mahasiswa yang berani menegur kesalahan jawaban dosennya, dan setelah dewasa beliau menjadi rektor besar IPB). “Jika ada 2 pilihan: Ilmu atau kepopuleran, pilihlah ilmu karena ilmu membuatmu bahagia dan bisa mendapatkan kepopuleran (kalo dapat bonus, kal gak ya gak apa-apa).

    Masih teringat ttg manisnya iman, masih teringat ttg pencarian hakikat/tujuan hidup ini. Wahai diri, janganlah kau membenci dirimu. Terima diri apa adanya, dengan begitu kau akan mengerti ttg kesungguhan dan ketulusan memperbaiki dirimu sendiri tanpa henti, tanpa lelah.

    Tak perlu menjadi “hebat” dulu agar dicintai. Cukup menjadi apa yang kau bisa, baik menjadi akar, daun, air, mentari, atau apapun. Tak perlu menjadi jutawan/milioner agar bisa berjuang. Kau masih ingat? Berjuang adalah mengorbankan apa yang kau miliki, potensimu, masa mudamu, hartamu. Jangan pernah berpikir bahwa kau tak memiliki apapun. Dengan ketenangan dzikrullah yang ada dalam hatimu, akhlakmu, ketegasanmu memegang jati dirimu, kau sudah menaklukkan hati dan cinta banyak orang. Jikapun jadi hebat, itu karena kesungguhanmu untuk meraih ridhoNya, dan atas pertolonganNya juga kan

    Janganlah hidupmu danri-harimu temotvasi untuk uang dan kepopuleran. Karena hatimu akan semakin rapuh dan hilang visi hidupmu. Uang untuk hidup tapi hidup bukan untuk uang. Jangan dengarkan kata-kata orang yang tamak terhadap duniawi. Bagaimanapun akhirat itu lebih utama.

    Tataplah sekelilingmu dengan kekhusyuan dan tasbih.

    Kau beribadah ikhlas untuk raih ridhoNya, untuk masuk ke syurganya. Maka belum tibakah waktunya kau bersungguh-sungguh dalam ibadah itu? Baik dalam keadaan ringan atau berat, sedih atau senang. Hanya padaNya, kau mencurahkan segala rasa, asa dan tangis.

    Sedangkan doa adalah senjatamu. Mintalah untuk dunia dan akhiratmu. Impian yang tak mungkin bisa jadi mungkin, dengan kuasaNya.

    Ingat seorang teman muslimahmu yang dapat beasiswa ke Jepang? Padahal ia memiliki keterbatasan, hanya karena ia yakin. Maka yakinlah pada dirimu, jangan sekali-kali remehkan dirimu dan hasil karyamu.

    Aku cukup kesal, dosenmu bilang “jangan menjadi orang yang setengah-setengah”. Ya, aku ingin banyak bertanya, tapi waktu kuliah itu singkat dan banyak orang yang tak suka aku bertanya”. Kupikir aku bisa mencari jalan lain untuk memecahkan pertanyaanku,namun sampai detik ini aku belum bersungguh2 untuk memecahkan pertanyaanku.

    …..(ronawajah.com)

Leave a Reply

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Berbicara tentang Indonesia, kita juga bisa berbicara yang indah-indah. Bukan maksud hati untuk mengesampingkan segala hal... 
Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Meski surat keterangan tidak mampu (SKTM) tidak diberlakukan lagi, ada kabar gembira bagi warga miskin di Jatim. Sejak 1... 
Kendal Miliki Open Source Sendiri

Kendal Miliki Open Source Sendiri

Meski bukan kota besar, Kendal berani untuk mandiri dalam hal penggunaan software komputer. Bahkan kota kecil di Jawa Tengah... 
Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Bersama Kota Manila di Filipina, Yogyakarta saat ini menjadi pusat seni rupa di Asia Tenggara. Dalam level yang berbeda,... 
Enter the video embed code here. Remember to change the size to 310 x 250 in the embed code.

TAG CLOUD

POPULAR

  • Dukung Indonesia Berprestasi

    Indonesia Berprestasi

  • Gabung Jadi Volunteer/Kontributor di Milis Kami!

  • Indonesia Berprestasi on Facebook!

  • Follow us on Twitter!

  • Dukung Internet Sehat

    Internet Sehat
  • Categories

  • Indonesia Berprestasi Didukung dan Mendukung: