Temukan Rumus Angka Piramida, Remaja RI Disorot Media Jerman

Posted by agungfirmansyah On February - 25 - 2010 1 COMMENT

Berlin – Seorang remaja Indonesia Ibrahim Handoko (15) mencuri perhatian media-media di Jerman. Ibrahim berhasil memformulasikan persamaan untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak terbatas.

Ibrahim, remaja santun yang juga aktif di berbagai kegiatan masjid ini mengundang decak kagum dari para pengajarnya di Jerman.

Seperti yang dilansir dari situs berita jerman www.derwesten.de, Kamis (25/2/2010) guru matematika dan pembimbing Ibrahim, Michael Wallau mengatakan muridnya adalah seorang yang luar biasa.

“Ini adalah temuan yang luar biasa bagi seorang remaja berusia 15 tahun, terlebih lagi ia menyelesaikan persamaan ini hanya disela-sela waktu luangnya,“ ujar Wallau pada derwesten.de.

Pada awalnya, Ibrahim hanya berniat membantu adik perempuannya menyelesaikan tugas sekolah tentang piramida. Persoalan ini pada intinya adalah menghitung jumlah angka pada elemen teratas suatu piramida.

Biasanya, persoalan ini diselesaikan dengan cara menjumlahkan satu persatu angka di setiap elemen penyusun paramida sehingga ditemukan jumlah total dalam piramida tersebut. Dengan rumus temuan Ibrahim, persoalan ini bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat tanpa harus menghitung satu persatu.

Berkat penemuannya ini, Ibrahim menjadi salah satu nominasi peneliti remaja terbaik tahun 2010 di Jerman. Selain itu, putra pasangan Bapak Budi Handoko dan Ibu Nuningsih ini, juga terpilih sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili distriknya dalam olimpiade matematika di tingkat negara bagian.

*) Priyanto adalah Mahasiswa S3 Universität Duisburg-Essen Jerman
Sumber: detik

Keelokan Ubud, Kota Terbaik Se-Asia

Posted by agungfirmansyah On February - 4 - 2010 1 COMMENT

http://www.kompas.com/data/photo/2010/02/04/3675756p.jpg

Kamis, 4 Februari 2010 | 03:07 WIB

Ubud, kawasan wisata di Kabupaten Gianyar, Bali, mendapat penghargaan sebagai kota terbaik se-Asia berdasarkan survei pembaca majalah pariwisata yang berbasis di Amerika Serikat, Conde Nast Traveller, awal Januari lalu. Daerah itu dinilai terbaik dari sisi keramahtamahan masyarakatnya, atmosfer atau suasananya, budaya atau situsnya, serta akomodasi, restoran, dan tempat berbelanjanya.

Apa saja atau tempat mana saja di Ubud dan sekitarnya yang kiranya pantas menjadi semacam ikon wisata terbaik Asia itu? Bukankah atmosfer atau suasana di pusat Ubud, yakni sekitar Puri Ubud, tidak ada bedanya dengan Kuta, misalnya, yang mulai sumpek dan diwarnai kemacetan setiap harinya?

”Kita bersyukur dan gembira Ubud dipilih sebagai kota terbaik se-Asia dengan skor 82,5, mengalahkan Bangkok, Hongkong, Chiang Mai, dan Kyoto. Tetapi, hal itu juga membawa konsekuensi berat untuk menata kondisi yang ada, seperti kesemrawutan yang terjadi di mana-mana,” kata Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace di Puri Ubud, Sabtu (30/1) lalu, saat menerima penghargaan itu.

Cok Ace, selain berbicara sebagai tokoh keluarga Puri Ubud, juga selaku Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali dan atas nama Ubud Hotels Association.

Menurut Cok Ace, hal mendesak yang perlu ditangani terutama kesemrawutan arus lalu lintas, parkir di perkotaan, pasar, penataan dan pengamanan kawasan pantai, serta Daerah Aliran Sungai Tukad Pakerisan.

Maka, sekadar saran, luangkan waktu seharian penuh untuk telaten—ibarat mencari kutu—menikmati suasana Ubud. Cobalah ”membongkar” jalanan, tempat, sekaligus suasana di belakang Puri Ubud. Di sanalah keunikan dan keistimewaan kawasan wisata itu tersaji.

Letak Ubud yang relatif dekat dari Denpasar, sekitar 25 kilometer, menawarkan pilihan tempat menginap. Melalui Jalan By Pass Ngurah Rai dan By Pass Ida Bagus Mantra, dari Kuta hanya butuh waktu paling lama satu jam.

Dengan tinggal di kawasan Bali bagian selatan itu, wisatawan akan menikmati suasana pantai, di samping pedesaan yang masih kental suasana sawahnya.

Jika kocek Anda tebal, bolehlah menikmati aneka hotel mewah di pinggiran Sungai Ayung. Hotel dan vila di kawasan itu menyajikan beragam pemandangan spektakuler terasering sawah dan tebing kali.

Pilihan lain, cottage dan pondok wisata di sekitar Puri Ubud. Di sana Anda dapat berbaur dengan masyarakat. Sang pemilik pondok wisata bahkan melengkapi pelayanan dengan mebanten atau menyiapkan sesaji dan aneka perlengkapan upacara keagamaan.

Tempat persinggahan

Ada beberapa tempat persinggahan yang elok untuk dikunjungi di ”belakang” Ubud. Salah satunya adalah Tegallalang. Jika Anda penggemar sepeda, kenapa tidak mencoba menggunakan sepeda. Soal penyewaan, jangan khawatir. Ini Bali! Dengan sepeda, keseluruhan suasana sekitar akan mudah tertangkap.

Pastikan menyusuri sepanjang jalan menuju Tegallalang, desa yang terletak 5 kilometer arah utara Ubud. Desa itu adalah desa kerajinan kayu yang bersanding dengan panorama sawah berterasering. Sayang, hamparan pemandangan indah itu di beberapa titik sudah tertutup barisan rumah toko atau kios kerajinan. Masuklah ke jalan-jalan desa, salah satunya di Dusun Ceking. Pemandangan tersaji, suasana perajin pun tertangkap mata.

Keluar dari Tegallalang, arahkan perjalanan ke Pakudui, Sebatu. Pakudui terkenal sebagai desa penghasil patung-patung kayu, khusus berbentuk Garuda Wisnu Kencana (GWK). Di sanalah otentisitas pembuatan patung-patung GWK akan dapat dinikmati secara langsung. Patung seharga puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah ada di dusun itu. Puas dengan aneka kerajinan, siapkan diri Anda untuk mendapatkan suasana spiritual Bali, hanya 400 meter di timur Pakudui. Di sanalah Pura Gunung Kawi, Sebatu, berada.

Perasaan tenteram dan damai langsung terasa begitu kita berada di depan pura tersebut. Bagi Anda yang datang ke sana sebagai pelancong, pastikan terlebih dulu membayar tiket masuk Rp 7.000 (untuk dewasa) dan Rp 3.000 (anak-anak). Tiket masuk itu sudah termasuk untuk sewa kamen (kain jarit) yang harus dikenakan selama berada di area pura.

Situs www.babadbali.com mencatat, ada tiga pura bernama Gunung Kawi di Bali. Kebetulan semuanya berada di Kabupaten Gianyar. Selain di Sebatu, ada pula Pura Gunung Kawi Tampak Siring dan Bitra.

Jika waktu sudah tepat berada di tengah hari, sejumlah warung makan dan restoran di Ubud sudah menunggu. Jika Anda turis yang bisa memakan semua jenis makanan, warung babi guling Bu Oka di sebelah kompleks Puri Ubud layak dikunjungi.

Untuk makanan halal sangat beragam. Bebek Bengil yang ternama atau Warung Makan Nasi Campur Kadewatan Bu Mangku di Kadewatan tidak boleh ditinggalkan. Jika kesan formal kita temui di Bebek Bengil, suasana lebih rileks tersaji di Warung Bu Mangku. Maklum, meja lesehan digelar di teras kompleks rumah khas Bali itu.

Sekali lagi, ini Bali….

(BENNY DWI KOESTANTO)

Sumber: Koran Kompas

Teknologi Tepat Guna Yunus Puji Wibowo

Posted by agungfirmansyah On December - 16 - 2009 Comments Off

Oleh A Ponco Anggoro

”Ciptakan Pekerjaan daripada Mencarinya”. Slogan ini tertulis pada selembar spanduk besar di ruang tamu rumah Yunus Puji Wibowo di Jalan Sunan Ampel, Desa Sumberejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Slogan itu terus memotivasi Yunus sampai akhirnya cita-citanya terwujud, bahkan meraih sejumlah penghargaan.

Menjadi pengusaha memang dicita-citakan Yunus sejak masih kecil. Saat usianya masih 12 tahun, duduk di Kelas I SMPN 1 Geger, niatnya untuk berusaha sudah mulai dipupuk oleh ibunya.

”Saat itu ayah meninggal dunia. Ibu lalu berpesan agar saya tidak mengandalkan warisan dari ayah,” ungkapnya. Bersamaan dengan pesan itu, Yunus diberi lima ayam oleh ibunya sebagai titik awal agar Yunus memulai usaha.

Setiap hari, saat hendak berangkat ke sekolah, telur yang dihasilkan kelima ayam itu dibawa dan dijualnya di toko jamu yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Selama tiga tahun dia jalani usaha ini. Hasil penjualan telur sepenuhnya untuk membayar uang sekolah.

Yunus memperoleh kepuasan dengan berjualan telur. Apalagi cita-citanya menjadi pengusaha bisa terwujud. Kepuasannya ini yang terus memotivasinya agar bisa menjadi pengusaha saat dewasa kelak.

Namun, seiring bertambahnya usia, niatnya menjadi pengusaha tertunda. Ketika bersekolah di STM PGRI I Madiun, di sela waktu belajarnya dia bekerja di salah satu perusahaan konstruksi di Madiun. ”Saya ikut memasang instalasi listrik di perumahan-perumahan baru,” kenangnya.

Selepas STM, tiga kali dia berpindah-pindah kerja di tiga perusahaan konstruksi di Malang dan Bandung. Dia kemudian menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Taiwan. ”Uang Rp 20 juta yang saya tabung dari hasil kerja selama dua tahun dipakai untuk keperluan itu,” tambahnya.

Meskipun gajinya di Taiwan sekitar Rp 4 juta per bulan, Yunus tidak betah. Hanya selama satu bulan dia bertahan di sana. ”Saya menjadi kuli di pabrik paralon di sana. Tidak betah rasanya disuruh-suruh, bertentangan dengan cita-cita saya menjadi pengusaha,” tuturnya.

Dia lalu pulang ke Indonesia. Namun, karena uangnya sudah habis untuk biaya ke Taiwan, dia memilih bekerja di sebuah perusahaan jasa TKI di Jakarta. Setelah bekerja setahun dan keuangannya kembali pulih, dia baru kembali ke Madiun. ”Saya berniat mewujudkan cita-cita saya yang tertunda,” kata Yunus.

Pabrik kerupuk

Di Madiun, uang yang ditabungnya itu diinvestasikan untuk membuat pabrik kerupuk. Kerupuk dipilih karena mayoritas warga kampungnya bekerja sebagai perajin kerupuk. Lima tahun dijalani, usaha itu tidak juga berkembang. Pembuatan kerupuk yang masih manual menjadi kendala utama usaha rakyat itu.

Yunus pun berangkat ke Surabaya untuk mencari informasi pemotong kerupuk yang bisa mempercepat produksi. Dari Surabaya, dia berangkat ke Tulungagung karena dia mendapat keterangan bahwa ada orang yang bisa memberikan informasi lebih banyak di Tulungagung. ”Karena uang yang dimiliki terbatas, saya sering tidur di masjid di Surabaya dan Tulungagung,” katanya.

Setelah informasi yang diperoleh cukup, dia kembali ke Madiun. Barang-barang bekas, seperti pelek sepeda, rantai, dan kaleng susu, dikumpulkannya untuk dibuat menjadi mesin pemotong kerupuk. Dengan percobaan berulang kali selama satu bulan, mesin baru tuntas dibuat.

”Sempat putus asa karena tidak kunjung berhasil. Kegagalan saat membuat mesin itu malah membuat saya semakin tertantang,” ujar Yunus.

Dalam satu hari, mesin yang rangkanya dari kayu dan pembuatannya menghabiskan dana Rp 5 juta itu bisa memotong satu kuintal kerupuk. Setelah mengetahui cara membuat mesin itu, dia mulai membuat mesin pemotong dengan rangka besi, tidak lagi dengan kayu.

Selain memperbarui rangkanya, kemampuan memotongnya pun ditingkatkan. Jika sebelumnya satu kuintal kerupuk per hari, sekarang bisa dua kuintal setiap dua jam. Mesin juga dimodifikasi sehingga tidak hanya bisa digunakan untuk memotong kerupuk, tetapi juga tempe. Untuk membuat alat yang kemudian dinamakan mesin pemotong kerupuk multiguna ini membutuhkan modal Rp 3,5 juta.

Pada tahun 2008 Yunus mengikutsertakan mesin itu dalam lomba teknologi tepat guna. Di tingkat Kabupaten Madiun, dia menjadi satu-satunya peserta dan di tingkat provinsi dia meraih juara kedua.

Setelah itu, mesin ciptaannya mulai dikenal. Dia pun mulai diikutsertakan dalam berbagai pameran. Sejak itu mesin yang dibuatnya dicari banyak orang. Yunus menjual mesin itu Rp 5 juta per unit. ”Sudah sepuluh mesin terjual. Mesin itu digunakan di Bandung dan Aceh,” tambahnya.

Tidak berhenti pada satu karya cipta mesin, Yunus mencoba membuat mesin lain, yaitu mesin parut listrik. Mesin yang biasa digunakan untuk pompa air dimodifikasi sehingga menjadi mesin yang bisa dipakai memarut kelapa dan ketela.

Bentuknya yang kecil, mudah dibawa ke mana-mana, membuat mesin ini banyak dicari orang. Sejak diproduksi awal tahun 2009 sudah ada 200 unit mesin parut yang terjual. Mesin yang dijual dengan harga Rp 350.000 per unit ini diminati pembeli dari beberapa daerah, di antaranya Sumatera, Kalimantan, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat.

Di samping terus membuat mesin, Yunus juga menjalin kemitraan dengan petani untuk membudidayakan tanaman rosela di lahan seluas 15 hektar di Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Dia memodali para petani untuk menanam rosela, yang kemudian dia beli guna diolah menjadi sirop. Setiap tahun dia mampu memproduksi 5.000 botol sirop yang harganya Rp 12.000 per botol.

”Dari usaha-usaha ini, sekarang setiap bulan saya bisa memperoleh penghasilan kotor Rp 25 juta,” kata Yunus. Padahal, saat bekerja di perusahaan konstruksi dia hanya memperoleh penghasilan Rp 2 juta per bulan.

Cita-citanya menjadi pengusaha sudah terwujud. Berbagai penghargaan pun sudah diraihnya. Namun, dia masih terus bermimpi. Dengan usianya yang masih 30 tahun, tampaknya masih terbuka kesempatan bagi Yunus untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpinya itu.

Sumber: Koran Kompas

Panahan Sumbang Dua Emas

Posted by agungfirmansyah On December - 16 - 2009 ADD COMMENTS

Vientiane,  – I Nyoman Gusti Puruhito dan Novia Nuraini tampil gemilang dengan mendapatkan dua medali emas dari cabang panahan pada SEA Games XXV Laos, Selasa (15/12). Medali tersebut didapat dari nomor compound 70 meter dan recurve perseorangan.

Puruhito menyabet emas setelah sukses mengalahkan pemanah Singapura, Chua Boon Rong Adriel, 115-111 di partai final nomor compound 70 meter perseorangan di kompleks Stadion Nasional Vientiane, Laos.

Sementara itu, Novia Nuraini naik di podium teratas setelah menyisihkan pemanah asal Malaysia, Anbarasi Subramaniam, 103-101. Pemanah berusia 19 tahun asal Bojonegoro ini merajai nomor recurve perseorangan.

Puruhito tampil cukup percaya diri. Dari 12 anak panah yang dilepaskan, dia mendapatkan angka rata-rata 9,58 poin. Dia membuka keunggulan pada sesi pertama 29-27. Pada sesi selanjutnya, kedua pemanah meraih nilai sama sehingga kedudukan menjadi 58-56.

Pada sesi ketiga, Puruhito memperlebar jarak lagi setelah tiga anak panahannya menghasilkan angka 10, 10, dan 9. Sementara Adriel hanya mencetak angka 9, tiga kali berturut-turut. Puruhito memimpin dengan selisih empat poin, 87-83.

Pada sesi terakhir, kedua pemanah menghasilkan angka yang sama. Puruhito berturut-turut mencetak angka 9, 10, dan 9, sedangkan Adriel 9, 9, dan 10. Dengan tambahan angka tersebut, total angka yang diraih Puruhito menjadi 115, sedangkan Adriel hanya 111.

Bagi Puruhito, keberhasilannya meraih medali emas di SEA Games merupakan yang kedua. Emas pertama didapat saat berlaga di SEA Games Thailand tahun 2007. ”Tekanan untuk memenangi pertandingan ini cukup besar. Akan tetapi, mental saya sudah siap menghadapi situasi ini dan saya hanya fokus ke permainan agar tidak membuat kesalahan,” ujar Puruhito.

Ia menambahkan, ketegangan yang sesungguhnya justru terjadi di babak semifinal. Ketika itu dia berhadapan dengan pemanah Filipina, Earl Benyamin Yap, yang dinilainya lebih tangguh dibandingkan dengan lawannya di final. ”Earl merupakan pesaing utama saya. Kami sudah beberapa kali bertemu dan permainannya selalu sulit, sementara Adriel merupakan atlet pendatang baru,” ujarnya.

Kesuksesan Puruhito meraih medali emas diikuti pemanah putri Novia Nuraini. Novia tampil sebagai juara cukup mengejutkan karena pemanah berusia 19 tahun—yang ikut ke SEA Games dengan biaya sendiri—ini tidak masuk dalam unggulan.

Novia bahkan sudah membuat kejutan saat tampil di perempat final. Dia tampil cukup tenang dan konsisten untuk mengalahkan seniornya, Ika Yuliana Rochmawati, yang lebih diunggulkan menjadi juara, dengan skor 103-99.

Di babak semifinal, Novia juga kembali bermain konsisten dan penuh konsentrasi untuk mengeliminasi pemanah Myanmar. Meski raihan angka keduanya cukup ketat, Novia masih lebih unggul dan berhak tampil di final setelah menyelesaikan pertandingan dengan skor 103-100.

Manajer tim panah Indonesia, Leana Suniar, mengatakan, selain dari dua nomor ini, Indonesia masih berpeluang mendapat medali emas dari nomor tim compound dan recurve putra. Nomor- nomor itu akan mulai dipertandingkan hari Rabu ini. (Prasetyo Eko P/Gatot Widakdo dari Vientiane, Laos)

Sumber: Koran Kompas

Rizal Sukma Masuk 100 Pemikir Terkemuka Dunia

Posted by agungfirmansyah On December - 1 - 2009 ADD COMMENTS

Jakarta -  Ketua Lembaga Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah sekaligus Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Dr. Rizal Sukma, menjadi intelektual Indonesia yang masuk daftar 100 pemikir global versi majalah Foreign Policy, AS.

Doktor dari London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris, ini dipandang majalah Foreign Policy telah mendorong cara pandang baru yang radikal mengenai peran Indonesia di dunia.

Rizal, sebut Foreign Policy pada edisi untuk Desember 2009, adalah teoritisi terkemuka dalam soal hubungan Islam dan negara, serta mendorng peran global negerinya Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Rizal, lanjut Foreign Policy, baru-baru ini telah menerbitkan buku berjudul “Islam in Indonesian Foreign Policy” yang memotret pergulatan antara identitas rakyat Indonesia dengan lembaga-lembaga negara yang hampir seluruhnya sekuler sejak kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Rizal yang menamatkan kesarjanaannya dari Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran, Bandung, ini ditempatkan Foreign Policy sebagai pemikir ke 92 dari 100 pemikir global utama dunia.

“Dengan Indonesia yang masih bergulat dengan warisan kekuasaan diktatur Suharto selama 32 tahun, pemikiran-pemikiran Sukma membantu memetakan satu arah yang dengan kuat mengintegrasikan Indonesia dalam dunia, dan akhirnya mencampakkan omong kosong bahwa Islam dan demokrasi tidak bisa menyatu,” demikian Foreign Policy.

Dalam daftar ini, Gubernur Federal Reserve Ben Bernanke ditempatkan pada urutan pertama pemikir global paling berpengaruh, disusul Presiden AS Barack Obama di posisi dua, dan Zahra Rahnavard, istri pemimpin oposisi Iran, Mir Hossein Mousavi, sekaligus tokoh utama dibalik Revolusi Hijau di Iran, pada posisi tiga.

Tokoh-tokoh besar dunia lainnya yang masuk ke jajaran 100 pemikir global ini diantaranya adalah suami istri Bill dan Hillary Clinton, ulama Mesir Sayyid Imam al-Sharif yang adalah mantan pemimpin organisasi garis keras Al Jihad dan eks teman seperjuangan dari orang nomor dua di Alqaeda (Ayman Al-Zawahiri).

Nama-nama kondang lain yang bisa disebut diantaranya adalah Bill Gates, Paus Benediktus XVI, sosiobilogis dan evolusionis darwinian Richard Dawkins, sastrawan Vaclav Havel, ekonom Joseph Stiglitz, dan pejuang HAM Aung San Suu Kyi.

Kemudian mantan sekjen PBB Kofi Annan, tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, George Soros, pakar keuangan mikro Muhammad Yunus, Henry Kissinger, sosiolog Francis Fukuyama, PM Inggris Gordon Brown, pakar perbandingan agama Karen Armstrong dan sejarawan Paul Kennedy. (*)

Jafar Sidik dari Foreign Policy dan sumber lainnya.

Sumber: Antara.

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Berbicara tentang Indonesia, kita juga bisa berbicara yang indah-indah. Bukan maksud hati untuk mengesampingkan segala hal... 
Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Meski surat keterangan tidak mampu (SKTM) tidak diberlakukan lagi, ada kabar gembira bagi warga miskin di Jatim. Sejak 1... 
Kendal Miliki Open Source Sendiri

Kendal Miliki Open Source Sendiri

Meski bukan kota besar, Kendal berani untuk mandiri dalam hal penggunaan software komputer. Bahkan kota kecil di Jawa Tengah... 
Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Bersama Kota Manila di Filipina, Yogyakarta saat ini menjadi pusat seni rupa di Asia Tenggara. Dalam level yang berbeda,... 
Enter the video embed code here. Remember to change the size to 310 x 250 in the embed code.

TAG CLOUD

POPULAR

  • Dukung Indonesia Berprestasi

    Indonesia Berprestasi

  • Gabung Jadi Volunteer/Kontributor di Milis Kami!

  • Indonesia Berprestasi on Facebook!

  • Follow us on Twitter!

  • Dukung Internet Sehat

    Internet Sehat
  • Categories

  • Indonesia Berprestasi Didukung dan Mendukung: