Penghargaan Pita Prada untuk Seniman Lukis Tradisional Bali

Posted by sucilestarini On December - 11 - 2009 ADD COMMENTS

Panitia “biennale” pertama seni lukis tradisional Bali “Pita Prada” akan memberi penghargaan kepada empat pelukis yang memiliki prestasi dan reputasi tinggi dalam kancah perkembangan seni rupa di Bali. Seleksi oleh tim juri meliputi berbagai aspek, antara lain adalah dilihat dari sisi apakah karya seni yang dihasilkan mampu memberikan motivasi dan inspirasi bagi seniman lain untuk menghasilkan karya serupa.

kamasan

Salah Satu Lukisan Tradisional Bali (Sumber: link)

Tim juri yang beranggotakan tujuh orang akan melakukan penilaian terhadap 180 lukisan tradisional Bali yang dipamerkan secara serentak pada tiga museum perkampungan seniman Ubud. Empat seniman yang lolos seleksi secara ketat itu, selain mendapat piagam penghargaan juga berupa uang tunai. Penyerahan penghargaan sendiri akan dilakukan di sela-sela berlangsungnya pameran, yakni sejak 11 Desember 2009 hingga 1 Januari 2010.

Pande Suteja Neka, yang juga pemilik Museum Neka Ubud menilai, seni lukis tradisional hingga kini masih tetap ditekuni oleh seniman di berbagai tempat Pulau Dewata. Dalam perkembangan seni lukis tradisional itu muncul marshab Sanur, Nagasepha, mewakili corak lukisan Bali Utara. Selain itu marshab Kamasan, Kabupaten Klungkung, marshab Batuan, Ubud (Kabupaten Gianyar) dan marshab Kapal (Kabupaten Badung).

Dalam perkembangannya, marshab Ubud membagi diri dalam beberapa submarshab, antara lain submarshab Kutuh, Keliki, Taman, Tebesaya, Padang Tegal, Pengosekan dan Penestan yang melahirkan aliran besar Young Artist. Perkembangan seni lukis tradisional Bali itu mampu melakhirkan seniman-seniman muda yang berbakat untuk mewarisi dan meneruskan kesinambungan seni di atas kanvas di Pulau Dewata, ujar Pande Suteja Neka.

Referensi: ANTARANews

ITS Pamerkan Teknologi Militer Buatan Anak Negeri

Posted by sucilestarini On November - 5 - 2009 1 COMMENT

HUT TNI

Sumber Gambar: link

Institut Teknologi Surabaya turut ambil bagian dalam mengembangkan peralatan militer di Indonesia. Hal tersebut tampak melalui pameran Indonesian Military Technology Exhibition (IMTE) 2009 yang menampilkan beberapa hasil karya dosen dan mahasiswanya. IMTE 2009 yang digelar pada hari Rabu (4/11) hingga Kamis (5/11) dan bertempat di Graha Sepuluh November juga diikuti oleh kalangan industri, seperti PT LEN Industry juga PT Dahana dan kalangan militer, seperti Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL), marinir, juga Balitbang Departemen Pertahanan TNI.

Dalam pameran ini, Teknik Sistem Perkapalan ITS menampilkan beberapa hasil desain kapal militer. Dua dari enam desain kapal militer tersebut yang berjenis hovercraft bahkan sedang dalam proses lelang untuk diproduksi. Dua hovercraft tersebut berfungsi untuk mengangkut personel TNI dan artileri.

Selain desain kapal militer, juga terdapat beberapa desain lain yang ditampilkan, seperti desain tank amfibi, landing ship medium untuk operasi di daerah pedalaman yang dilengkapi helipad, serta kapal cepat. Sementara itu, Balitbang Departemen Pertahanan memamerkan pesawat pengintai mini bernama Quad Rotor. Kol. CBA Ir. Didiet Sudiro MM, Kabid Perencanaan IPTEK Pertahanan Balitbang Dephan menyatakan bahwa pesawat tersebut dapat digunakan untuk berbagai kepentingan baik untuk militer seperti pengintaian, membawa peledak, maupun untuk kepentingan sipil. Pesawat buatan Dian Hakim tersebut mampu mengintai musuh tanpa terdeteksi dari ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Selain tidak terdeteksi, pesawat tersebut juga diyakini dapat diaplikasikan di semua medan.

Selain Quad Rotor, teknik pengendali misil yang dibuat oleh dosen FMIPA ITS, Subchan, Ph.D juga tidak kalah menariknya. Pengendali misil tersebut mampu melakukan penyerangan terhadap target diam tanpa terdeteksi oleh radar.

Ketua pelaksana IMTE 2009, Arry Sanjoyo, M.Ikomp mengatakan bahwa pameran teknologi militer yang pertama kali diadakan di Indonesia ini diharapkan dapat membuat mahasiswa lebih peka terhadap masalah yang dihadapi oleh TNI terutama dalam hal persenjataan dan dapat saling membantu melalui riset-riset yang bermanfaat. Ia menambahkan bahwa saat ini pun sudah ada “lampu hijau” dari Departemen Pertahanan untuk menjembatani hasil riset militer dari mahasiswa.

Referensi: ITS Online dan ANTARANews

Program yang Diusung Danamon Go Green Masuk Seleksi BBC

Posted by sucilestarini On November - 3 - 2009 ADD COMMENTS

nothingwasted

Sumber Gambar : link

Pasar tradisional yang ada di Indonesia pada umumnya sangat kotor oleh karena tumpukan sampah yang bertebaran di mana-mana. Hampir 90% sampah yang ada berasal dari sayur-sayuran yang membusuk dan tak layak jual. Danamon Go Green lantas meluncurkan program “Nothing Wasted” yang mengkonversi sampah-sampah tersebut ke dalam bentuk kompos yang membawa keuntungan bagi para petani lokal. Tidak hanya menguntungkan petani lokal, program tersebut juga diyakini dapat menurunkan tingkat penyakit yang pada umumnya disebabkan oleh sampah yang membusuk.

Program “Nothing Wasted” ini berhasil terpilih menjadi salah satu dari 12 finalis yang terseleksi dari 900 program pengembangan masyarakat sedunia yang digelar oleh BBC World Challenge. Program tersebut merupakan satu-satunya program yang mewakili Indonesia pada kompetisi yang digelar oleh BBC. Sehingga, ada harapan yang cukup besar dari pihak Danamon Go Green bahwa masyarakat Indonesia dapat memberikan dukungannya beramai-ramai melalui voting online yang dimulai sejak 28 September hingga 13 November 2009. Voting dapat dilakukan melalui www.theworldchallenge.co.uk.

World Challenge sendiri merupakan kompetisi internasional yang diadakan BBC World News dan Majalah Newsweek. Kompetisi tersebut melombakan program-program inovatif yang bertujuan mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan perempuan, pengelolaan lingkungan, serta pengembangan ekonomi masyarakat.

Saya sudah vote untuk Indonesia di ajang BBC World Challenge 2009. Kamu?

Referensi: ANTARANews & World Challenge 09

Indonesia Merebut Dua Kemenangan dari Turnamen Prancis Terbuka

Posted by sucilestarini On November - 2 - 2009 ADD COMMENTS

nova_widianto

Sumber Gambar: link

Indonesia berhasil membawa pulang dua gelar kemenangan dari kejuaraan Super Series Prancis Terbuka di Paris. Gelar tersebut berhasil diraih oleh pasangan Nova Widianto/Lilyana Natsir dan Markis Kido/Hendra Setiawan.

Ganda campuran peringkat tiga dunia Nova Widianto/Lilyana Natsir berhasil meraih gelar kedua tahun ini setelah memenangi final Prancis Terbuka melawan sesama pasangan Indonesia, Hendra Aprida Gunawan/Vita Marissa. Sedangkan, pasangan Kido/Hendra yang menjadi unggulan pertama berhasil menundukkan unggulan kedua dari Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong setelah melalui tiga game yang cukup sengit dengan 15-21, 21-15, 21-14.

Dalam pertandingan yang digelar di Pierre de Coubertin Stadium, Paris, Niva/Lilyana yang meraih gelar pertama mereka tahun ini di Malaysia Terbuka Super Series mengatakan bahwa target berikutnya adalah meraih medali emas SEA Games 2009 di Laos, Desember mendatang.

Ya, mari kita doakan agar olahraga Indonesia semakin berjaya dan mencetak banyak prestasi yang cemerlang! :)

Referensi: ANTARANews

Musik Kolintang Masuk Buku Rekor Dunia

Posted by sucilestarini On November - 1 - 2009 ADD COMMENTS

Kolintang, alat musik merdu yang tumbuh dan berkembang di Minahasa, Sulawesi Utara tersebut, berhasil dicatatkan ke dalam buku rekor dunia, The Guiness Book World of Records. Pada hari Sabtu (31/10) lalu, musik kolintang beserta musik bambu lainnya dimainkan secara massal oleh lebih dari 3000 orang di Stadion Maesa, Tondano, Sulawesi Utara. Selain pertunjukan musik massal, juga dipamerkan perangkat kolintang dan musik bambu yang berukuran raksasa.

Sertifikat pengakuan dari Guiness World Records (GWR) diserahkan oleh perwakilan lembaga tersebut, Lucia Sinigagliesi, kepada penyelenggara acara, Benny J Mamoto, Direktur Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Sertifikat selanjutnya diserahkan kepada Bupati Minahasa, Vreeke Runtu. Di dalam acara tersebut, Lucia Sinigagliesi mengungkapkan, hasil penelitian tim GWR yang berkantor di London, Inggris, menunjukkan bahwa instrumen, melodi, dan irama kolintang dan musik bambu di Indonesia belum ada yang menyamai di dunia. GWR mencatat kolintang dan musik bambu sebagai wujud seni tradisi yang menakjubkan dunia.

3554726p

Sumber Gambar: link

Sebelum diadakan penyerahan sertifikat, dilakukan penghitungan terhadap jumlah pemain dan ukuran perangkat yang disyaratkan oleh GWR. Para pemain pun mempersembahkan lagu “Aki Tembo-temboan” dan “Minahasa Kina Toanku” dengan iringan kolintang serta lagu “Mangemo Sako” dengan iringan musik bambu.

Hasil penghitungan tim GWR dan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara menunjukkan, jumlah pemain kolintang dan perangkatnya melebihi dari yang dipersyaratkan, yakni 1.223 orang. Sedangkan untuk musik bambu, jumlah pesertanya bahkan mencapai 3011 orang. Jumlah yang dipersyaratkan sendiri adalah minimal 1000 orang untuk kolintang dan 1000 orang untuk musik bambu.

terompetmaengketjeppengbajamba006

Sumber Gambar: link

Untuk kolintang raksasa yang terbuat dari kayu cempaka, ukurannya adalah 8 meter untuk panjang; lebar 2,5 meter; tinggi 2 meter; berat 3168 kilogram dan volume bahan 13,7 meter kubik. Sedangkan untuk musik bambu yang berupa terompet seng klarinet memiliki panjang lengkung/lingkar dalam hingga luar 4-32 meter, diamter mulut 6 meter, dan tinggi 8 meter. Terompet tersebut terbuat dari stainless steel sebagai modifikasi bahan dari bambu.

Referensi: KOMPAS

From Zero to “Hero”!

Posted by sucilestarini On October - 12 - 2009 11 COMMENTS

“Orang-orang besar atau sukses tidak pernah berhenti berusaha hanya karena berhadapan dengan batu-batu rintangan di jalan yang dilaluinya.”

(Quote asli dari saya, Suci Lestarini N :P )

* * *

ouray_ice_climbing

Sebutlah namanya Moti. Kira-kira lebih dari lima belas tahun yang lalu, ia bekerja sebagai “asisten rumah tangga” di keluarga saya. Ketika itu, tentu saja, saya masih kecil sekali. Kisah tentang ia, saya dapatkan dari ibu saya :)

Moti asli Demak, sama seperti alamarhum ayah saya. Ketika pertama bekerja di keluarga saya, usianya masih belasan tahun. Namun karena alasan ekonomi, Moti terpaksa mengadu nasib sebagai “asisten rumah tangga” dan mengubur impiannya bersekolah. Sebuah keputusan yang berat bagi anak seusianya. Ketika teman-temannya bisa bersekolah dan ia hanya bisa menggantungkan citanya.

Kata ibu, Moti anak yang sangat rajin bekerja ketika itu. Almarhum ayah dan ibu sangat menyukainya. Oleh sebab itu, almarhum ayah dan ibu saya sepakat untuk memberikannya “bonus”. Moti kemudian ditawari untuk bersekolah.

Bagai mendapat durian runtuh, tawaran tersebut tentu diamini Moti dengan segenap jiwa dan raganya. Moti benar-benar giat dan rajin bersekolah hingga lulus sekolah menengah atas. Selepas itu, Moti sudah tidak lagi bekerja pada keluarga kami karena sebuah hal yang saya lupa mengapa.

Kisah Moti tentu saja tidak berakhir hingga paragaraf di atas. Beberapa puluh tahun kemudian, saya, adik, dan Ibu berkesempatan bertemu dengan Moti. Ketika itu, kami sekeluarga hendak ziarah ke makam alamarhum ayah di Demak. Karena tidak punya keluarga untuk “numpang bermalam” di Demak, maka ibu pun menghubungi Moti agar bisa menginap di rumahnya. Begitulah, dalam keluarga kami, tidak pernah ada pembedaan antara asisten rumah tangga dan majikan. Kami diajarkan untuk menghargai setiap orang dan memperlakukan mereka sama seperti yang lainnya.

Tak dinyana, sesampainya di Demak, Moti sudah menjadi seseorang yang luar biasa. Kami yang berangkat ke Demak menaiki bis, dijemput oleh keluarga Moti dengan mobil yang cukup lumayan di tempat yang telah disepakati sebelumnya. Di mobil, Moti bercerita banyak hal. Katanya, saat ini, ia telah bekerja sebagai seorang PNS di bagian pertanian di Demak. Ia bercerita, selepasnya dari rumah kami, ia membuka usaha sebagai seorang tukang jahit. Ilmu menjahit ketika itu memang Moti dapatkan dari ibu saya yang pandai menjahit. Dari hasil usaha jahit-menjahit, Moti mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sehingga bisa berkuliah S1 pertanian dengan uangnya sendiri.

Di kampus, Moti bertemu dengan pangeran idamannya. Mereka lantas menikah. Bertahun-tahun mereka membina rumah tangga dengan tekun sambil terus berikhtiar untuk kehidupan yang lebih baik. Dan kami memang melihat hasil kerja keras Moti dan suaminya. Saya dan ibu terperanjat dengan rumah yang didirikan oleh Moti. Untuk ukuran “tinggal di perkampungan”, rumah yang dibangun Moti dan keluarga cukup besar. Lantainya sudah dikeramik semua, halamannya luas penuh tanaman beraneka ragam. Kesuksesan Moti tidak hanya terlihat dari materi tapi juga dari anak-anaknya. Yang tertua, baru berhasil masuk perguruan tinggi yang cukup bagus di Semarang dengan jurusan teknik informatika. Yang lebih muda, berhasil berprestasi baik di sekolahnya.

Benar-benar luar biasa. Saya dan ibu benar-benar terkagum-kagum dengan Moti. Yang membuat saya malu adalah bahwa ketika saya hendak kembali ke Jakarta, Moti memberi saya dan adik “uang saku”. Sudah susah payah saya menolak, tapi ia tetap bersikukuh. Katanya, untuk jajan-jajan buku. Saya paham, Moti pasti menganggap saya dan adik juga “anaknya”. Kami berdua memang belum bekerja dan masih bersekolah. Tapi, tidak pernah terbayang bahwa akan begini jadinya. Dulu kami yang biasa memberikan uang tanda terimakasih kepada Moti, tapi kini malah berbalik.

* * *

Bagi saya, kisah di atas luar biasa. Moti benar-benar menjadi saksi hidup saya akan kekuatan sebuah impian. Dari seorang “asisten rumah tangga” biasa hingga menjadi seorang PNS dengan hidup yang berkecukupan. Perjuangan Moti dalam menggapai impian hidupnya benar-benar patut diacungi jempol.

Moti adalah contoh nyata dari orang-orang besar yang tidak pernah berhenti berusaha hanya karena keadaan awalnya yang kurang menguntungkan. Ia tidak pernah mengeluh dan menangisi nasibnya dilahirkan di keluarga yang kekurangan. Justru, ia terus menatap ke depan, tetap bergerak, berusaha dan bekerja sesuai kemampuannya. Ia terus bersikap positif, menciptakan peluang-peluang baginya untuk terus maju, dan menerjang segala rintangan yang ada di hadapannya.

Untuk mempunyai semangat seperti Moti memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Yang perlu kita tanamkan terus dan terus adalah semangat pantang menyerah dan pikiran positif serta optimis untuk meraih cita.

Seandainya setiap pemuda-pemudi Indonesia adalah orang-orang seperti Moti, saya yakin bahwa masa depan negara ini akan lebih cerah. Karena kita mempunyai agen-agen pewaris dengan semangat yang membara untuk menggapai impiannya juga mudah bangkit dari segala keterpurukkan.

I really wait the next Motis in Indonesia. I do believe that we can, coz Moti can ;)

From Zero to “Hero”

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Berbicara tentang Indonesia, kita juga bisa berbicara yang indah-indah. Bukan maksud hati untuk mengesampingkan segala hal... 
Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Meski surat keterangan tidak mampu (SKTM) tidak diberlakukan lagi, ada kabar gembira bagi warga miskin di Jatim. Sejak 1... 
Kendal Miliki Open Source Sendiri

Kendal Miliki Open Source Sendiri

Meski bukan kota besar, Kendal berani untuk mandiri dalam hal penggunaan software komputer. Bahkan kota kecil di Jawa Tengah... 
Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Bersama Kota Manila di Filipina, Yogyakarta saat ini menjadi pusat seni rupa di Asia Tenggara. Dalam level yang berbeda,... 
Enter the video embed code here. Remember to change the size to 310 x 250 in the embed code.

TAG CLOUD

POPULAR

  • Dukung Indonesia Berprestasi

    Indonesia Berprestasi

  • Gabung Jadi Volunteer/Kontributor di Milis Kami!

  • Indonesia Berprestasi on Facebook!

  • Follow us on Twitter!

  • Dukung Internet Sehat

    Internet Sehat
  • Categories

  • Indonesia Berprestasi Didukung dan Mendukung: