
Sumber Gambar: link
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Tak kurang dari 80 orang hadir di ruangan yang berada di Jalan Kramat Raya nomor 106. Ini bukan pertemuan biasa. Bukan ajang minum kopi sore hari reuni dengan kerabat dan teman lama, bukan pula jamuan prasmanan makan malam membahas bisnis dengan kolega. Ini adalah rapat yang disaksikan oleh semburat mentari pagi itu. 28 Oktober 1928. Sumpah diikrar menitis pesan bagi putra-putri pertiwi.
Sumpah Pemuda, lebih dari sekadar prosesi historis. Tentu Muhammad Yamin dan puluhan pemuda punya maksud. Dan telahkah kau pahami maksud mereka, Kawan? Pasti ada alasan mengapa WR Supratman menggesek dawai-dawai biolanya melantunkan harmoni nada hari itu. Dapatkah kau jelaskan padaku tentang apa irama itu, Kawan?
Delapan puluh satu tahun berlalu dan ruangan pertemuan telah jadi museum. Tapi mestikah semangat mereka pula kita museumkan? Aku bertanya pada diriku masih adakah patriotisme itu? Nasionalisme itu di manakah kini bersemayam? Sepenting itukah Sumpah Pemuda? Kuberikan kesempatan kepadamu masing-masing Kawan untuk menggangguk mantap atau sekadar menggeleng tanda sangsi.
Penting atau tidak interpretasinya bagimu, tak dapat kau sangkal Kawan inilah salah satu babak klimaks romansa bangsa ini. Mungkin tak seberapa artinya bagi stabilitas ekonomi, peningkatan standar kehidupan buruh tani dan nelayan, atau birokrasi administrasi pemerintahan detik ini, tapi ke sanalah bermuara kesempatan menghirup oksigen hari ini sebagai bangsa yang merdeka. Sekian banyak pemicu proklamasi, Sumpah Pemuda salah satunya. Dan satu hal yang kupahami lamat-lamat, Kawan. Dalam deretan 33 kata itu tersimpan makna yang Muhammad Yamin rajut dengan cinta. Cintanya pada tanah tumpah darah, cintanya pada bangsa, cintanya pada bahasa Indonesia. Kalau bukan karena cinta, untuk apalah semangat bergejolak di masa sulit itu dan untuk apa begitu frontal menyuarakan kontra kepada tirani penjajah. Dan hal serupa inilah yang mestinya menjadi pengikat batin kita dengan Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, pemuda-pemuda dari Celebes, Betawi, Maluku, dan seantero nusantara ini. Cinta kita kepada Indonesia Raya.
Lagu “Rasa Sayange” dan Tari Pendet diklaim orang. Kita mencak-mencak, bersumpah serapah bahkan kata tak senonoh pun meluncur deras di dunia maya sekalipun. Hampir setiap hari pemberitaan media dijejali dugaan dan pembuktian sejumlah anggota dewan, pejabat eselon, atau komisaris perusahaan yang terjerat dosa korupsi. Kita pun mengutuk, memaki, menghujat. “Membusuk saja mereka di jahanam!”. Harga sembako dan BBM melambung. Pelayanan kesehatan, pendidikan, sumber energi, dan angkutan umum morat-marit. Yang berwenang disalahkan, tak ayal serangkaian teori oposisi digulirkan. Semua hubungan sebab akibat di atas kuyakin adalah cinta, Kawan. Beragam ekspresi bangsa ini menggores kanvas cintanya kepada bangsa. Salahkah?
Cintanya tak salah, sama sekali tak salah. Mana mungkin kupidanakan cintamu pada negeri ini yang sama kita cinta, Kawan! Namun, interpretasi-interpretasi yang bermata dua sama-sama tak kita sadari mencampur madu dengan tuba. Cinta itu perih sekarang kurasa, menyayat luka. Miris dengan kondisi bangsa, sementara cinta baru membekas di bibir saja. Jika dulu Muhammad Yamin dan sahabat-sahabatnya hanya mengecam tindakan lalim penguasa kolonial lewat umpatan dan keluhan kemudian terlupakan dalam tebalnya buku teks, komoditi mahal waktu itu, akankah alam merdeka ini jadi milik kita saat ini? Kalau saja tak pernah ada tindakan nyata seperti Sumpah Pemuda sebagai representasi cinta mereka, akankah tegak kedaulatan negara ini? Mereka mencinta (tanah air ini) dan berbuat sesuatu untuk cinta itu
Pertanyaan kembali kulontarkan (pada diriku juga), “Apakah yang sudah kita perbuat untuk tanah air ini atas nama cinta?” Mengapa Muhammad Yamin mampu berbuat sedemikian rupa? Dengan pengetahuan dan wawasanku yang masih terbatas, kucoba tafsirkan perbuatan mereka yang berarti perlambang cinta. Jong Sumatera, Jong Java, dan Jong Islamieten telah meramu cinta mereka dalam adonan mimpi dan kerja keras. Mimpi membuktikan kebenaran bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, mimpi mendambakan anak cucunya, bahkan sampai tujuh turunan, hidup damai sentosa tanpa bayang-bayang ketakutan dan penindasan. Sebuah keniscayaan untuk tidak berhenti pada mimpi saja. Ibarat tepung, telur, dan gula menyatu rasa kue yang lezat, mimpi pun mesti dicampur dengan kerja keras. Setelah bermimpi, mereka bekerja meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan harta. Berkumpul dan bertukar pendapat (di saat kebebasan mesti ditunai dengan harga mahal), merumuskan langkah, dan siap berkorban jika nyawa sewaktu-waktu jadi tumbal. Resep cinta tanah air, serta adonan mimpi dan kerja keras Muhammad Yamin dan para pemuda Indonesia akhirnya diimplementasikan dalam produk sejarah. Sumpah Pemuda namanya.
Muhammad Yamin dan sahabat-sahabatnya mewariskan aset yang jauh lebih berharga dari retorika teks tiga kali tiga baris itu. Mereka titipkan cinta pada tanah tumpah darah, cinta pada bangsa, dan cinta pada bahasa persatuan. Antara Muhammad Yamin dan kita ada cinta. Cinta yang sama pada negeri ini mendarah daging dalam hitungan delapan dekade ini dan masih akan berlanjut sampai bumi menjemput ajal.
Tak perlu jadi Muhammad Yamin dulu untuk menggores skesta cinta kita. Toh mimpi dan kerja keras di negeri ini masih nir modal. Seperti Mas Donny Dhirgantoro tuturkan dalam sebuah karyanya, bahwa yang kita butuhkan cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdo’a. Dan kali ini lakukanlah tak hanya untuk dirimu pribadi semata, tapi untuk bangsa yang kita cinta bersama. Persembahkan karya terbaik, prasasti prestasi yang kau sematkan tuk jadi pelipur lara bunda pertiwi.
Cukup sudah bertikai ofensif dengan jiran dalam debat kusir yang makin bias ujung dan pangkalnya. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga kekayaan budaya itu. Sudahkah kita menghargai budaya kita? Apakah batik dan wayang kulit baru menjadi harta kita ketika sengketa dengan pihak asing mencuat, sementara kemarin ini hanya urusan pengrajin dan dalang yang mengepul asap dapur dari pertunjukan seni (itupun kadang hanya dibayar garam dan asam saja)? Mari kita pelajari kembali kearifan lokal dan pesan moral yang banyak tersirat dalam Kromo Inggil ataupun stambul pantun Melayu. Mari mencintai bahasa Indonesia, bukan semau gue semau lo (Secara! Cape deh). Ayo kita doakan supaya Allah memudahkan pemimpin kita memperbaiki mental mereka yang mungkin mulai berkarat debu-debu korupsi, sambil kita intropeksi diri masing-masing dan bersama kita tunjukkan kesalehan diri. Karena bangsa yang baik adalah kumpulan individu-individu yang baik, kesalehan umat adalah hadiah dari kesalehan-kesalehan individual. Kemudian, tanggung jawab sosial di berbagai aspek kehidupan adalah tanggung jawab kita bersama. Menyelenggarakan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang memadai adalah kewajiban pemerintah. Tapi bagaimana dengan kita sendiri? Sudahkah kita syukuri ni’mat pendidikan itu dengan belajar sebaik-baiknya di bangku sekolah? Sudah optimalkah cawan-cawan ilmu kita isi dengan kecemerlangan intelektual? Daripada menambah rumit persoalan meributkan mekanisme kesehatan di negeri ini yang masih semrawut, mengapa kita tidak bertindak preventif? Pelihara kesehatan kita masing-masing, jaga kebersihan, dan lestarikan lingkungan ini dengan tindakan yang selalu didasarkan atas logika kemanusiaan.
Sumpah Pemuda adakah maknanya? Mudah-mudahan aku tak salah tafsir bahwa Muhammad Yamin punya sejuta maksud, bahwa WR Supratman punya sejuta arti atas irama-irama itu. Sejuta maksud dan arti yang cukup kulukiskan pada tiga kata saja, cinta tanah air. Untuk saudara-saudaraku sebangsa setanah air, saatnya merealisasikan cinta lewat mimpi dan kerja keras. Tidak hanya untuk dirimu saja, tidak hanya untuk diriku juga, tapi untuk tanah ini yang kita pijak, untuk udara yang kita hirup, manifestasi syukur kita pada Sang Pencipta atas berjuta ni’mat-Nya. Tidak hanya untuk hari ini saja. Antara kita dan mereka pasti ada cinta!
Di tanah di mana Muhammad Hatta pernah menyusun mimpinya
The Netherlands, 28 Oktober 2009
Rahmad Mahendra
yang masih belajar mencintai tanah airnya
Sabda Rasul “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”
Di tanah di mana Muhammad Hatta pernah menyusun mimpinya
The Netherlands, 28 Oktober 2009