Indonesiaku Bersatu

Posted by sidicx On January - 4 - 2010 1 COMMENT

Indonesiaku Bersatu
foto oleh DetikFoto

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang kaya bergelimangan harta dan kemewahan. Ada yang miskin hidup sulit dan terhimpit.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang mobil mewah pribadinya belasan, tapi hanya menganggur di garasi rumah-rumahnya. Ada yang tiap hari siang malam berhimpitan desak-desakan bau nggak enak di dalam krl ekonomi.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang menghabiskan jutaan rupiah tiap belanja barang-barang branded dan impor. Ada yang untuk membeli beras seliter saja kesulitan, bahkan harus utang sana sini.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang menghabiskan ratusan ribu rupiah hanya untuk makan potongan kecil ikan mentah, dan/atau menghabiskan puluhan ribu hanya untuk minum susu asam. Ada orang yang memunguti butiran beras di pasar, makan nasi aking, atau bahkan terpaksa berpuasa dan hanya makan angin.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang antri berebut membeli ponsel communicator terbaru, atau iphone terbaru, atau bb terbaru. Ada yang mengantri selama berjam-jam dan berdesak-desakan, bahkan banyak yang pingsan, hanya untuk mendapatkan amplop sedekah sedekat berisi selembar Rp.20.000an.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang usia tk atau sd yang sudah dibelikan laptop oleh orang tuanya dengan alasan untuk belajar. Ada anak-anak yang bahkan satu buah buku tulis digunakan untuk mencatat semua pelajaran di sekolahnya.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada apartemen yang megah dan mewah baru saja dibangun. Ada rumah-rumah bedeng dan kumuh di sekitarnya, yang entah kapan akan rubuh.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang mengoleksi puluhan jas-jas buatan Italia seharga puluhan juta rupiah satu setelnya. Ada yang cuma punya sepotong baju, itupun kalo masih pantas disebut baju. Kucel, dekil, dan penuh tambalan di sana sini.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang diberikan kesempatan bersekolah di tempat yang nyaman, ber-AC, teknologi terbaru, diantar jemput, tapi masih saja males-malesan belajar. Ada yang harus menempuh jarak 10 km dengan berjalan kaki tanpa alas untuk sampai di sekolah. Sekolah yang atapnya bocor, tidak ada mejanya, satu ruangan untuk beberapa kelas, bahkan bangunannya sudah akan rubuh, dan mereka tidak pernah mengeluh.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang setiap makan selalu mengambil berlebihan dan menyisakan makanannya. Ada yang busung lapar karena jarang makan, itupun makanan yang tidak bergizi.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang melakukan korupsi uang negara hingga ratusan milyar bahkan triliunan, tapi bisa berleha-leha liburan di Singapura dengan uang haramnya. Ada seorang nenek bernama Minah yang mencuri 3 biji kakao karena terhimpit masalah keuangan, tapi diadili dan diberikan hukuman.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang tiap bulan bahkan tiap pekan berlibur ke Bali atau ke luar negeri. Ada yang berlibur di beranda belakang rumahnya, menatap ke arah kali butek yang sangat kotor dan berbau sangat tidak sedap.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada anak-anak yang merengek kepada orang tuanya minta dibelikan Nintendo Wii, padahal ia sudah punya XBOX360 dan PS3. Ada yang setiap hari bermain di dekat penampungan sampah, bermain debu, bermain gundu, bermain rongsokan sampah.

Indonesiaku tercinta, negeri yang (katanya) bersatu. Ada yang pura-pura tidak tahu dengan menutup mata dan telinga. Ada yang sudah berteriak dalam hati atau dengan ucapan, sampai serak hilang suara mereka.

Indonesiaku tercinta. Satu negeri. Satu nusa. Satu bangsa. Satu tanah air.

Indonesiaku tercinta. Satu kebahagiaankah? Satu kemakmurankah? Satu keadilankah? Satu kah?

Indonesia Reaktif, Kapan Jadi Bangsa yang Kreatif?

Posted by sidicx On January - 2 - 2010 1 COMMENT

Tulisan ini adalah bentuk ajakan kepada rakyat Indonesia untuk refleksi diri mengenai apa saja yang terjadi pada bangsa ini. Kemudian, bersama-sama berubah menjadi lebih baik.

Sepanjang tahun 2009 lalu, bangsa Indonesia mengalami beberapa kali pengklaiman budaya oleh negara tetangga yang sudah sama-sama kita ketahui. Mulai dari lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, tari Pendet, hingga Batik diklaim oleh mereka. Jutaan anak bangsa bereaksi. Mereka menentang dan mengutuk hal tersebut. Caranya bermacam-macam. Ada yang berdemontrasi, ada yang kampanye di Internet, ada yang membuat kelompok anti negara tersebut, ada yang cuma bisa mencela perbuatan mereka, bahkan ada pula yang melakukan hacking terhadap situs negara itu. Semua hal tersebut merupakan reaksi rakyat Indonesia.

Akan tetapi, ada hal yang sering sekali terlupa dalam setiap pembahasan seputar masalah tersebut. Tindakan yang bangsa kita lakukan selalu berbentuk tindakan reaktif, sebagai hasil dari suatu aksi. Sering sekali bangsa kita bersikap reaktif terhadap setiap masalah yang terjadi baik di dalam negeri ataupun mancanegara. Contohnya, Ketika wilayah perbatasan Indonesia di Ambalat sering dilanggar oleh kapal-kapal negara tetangga, kita bereaksi keras meskipun lebih banyak yang tidak jelas. Bahkan ada yang sampai membentuk laskar militer untuk agresi ke negara tersebut. Padahal, apakah bangsa kita telah benar-benar menjaga pulau tersebut? Atau apakah selama ini kita lupa untuk menjaga dengan baik wilayah tersebut sehingga kapal negara lain bebas saja hilir mudik di sana?

Apakah bangsa kita reaktif? Kalau kita mau jujur, jawabannya adalah YA. Padahal menurut hemat saya, sikap reaktif tidaklah menguntungkan. Akan lebih baik jikalau bangsa kita menjadi bangsa yang inisiatif. Inisiatif dalam artian memulai melakukan sesuatu dengan keinginan sendiri, tanpa menunggu hal lain yang menjadi pemicu. Pada contoh kasus pengklaiman budaya negara kita, alangkah lebih baik jika kita berinisiatif untuk mendaftarkan kebudayaan kita sehingga tidak bisa seenaknya diklaim pihak lain. Atau kita bisa saja inisiatif untuk mempromosikan kebudayaan tersebut kepada negara-negara lain di seluruh dunia, sehingga mereka tahu bahwa itu adalah milik Indonesia. Atau kita bisa inisiatif untuk mempelajari dan mendalami kebudayaan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya kita sendiri. Atau minimal kita bisa mencari tahu tentang kebudayaan bangsa kita sebagai bentuk kepedulian dan rasa memiliki terhadap kebudayaan tersebut.

Sebagai contoh kasus, saya ingin coba membahas fenomena batik di Indonesia. Sebelum adanya kasus pengklaiman batik oleh negara tetangga, perhatian dan kepedulian rakyat Indonesia secara umum terhadap batik rendah, bahkan sangat rendah. Penggunaan batik sebagai pakaian ke kantor atau bekerja jarang ditemui. Apalagi kepedulian generasi muda Indonesia untuk melestarikan batik, dalam hal ini menggunakan pakaian batik, sangat rendah. Menurut mereka, make batik tuh kuno, ketinggalan jaman. Sangat jarang kita temui orang-orang di pusat-pusat perbelanjaan menggunakan batik. Batik penggunaannya terbatas hanya oleh bapak-bapak atau ibu-ibu untuk keperluan resmi atau kondangan. Singkatnya, batik tidak populer di negerinya sendiri.

Keadaan tersebut berubah 180 derajat pada saat berita seputar klaim batik oleh negara tetangga muncul di berbagai media cetak, internet, dan televisi. Orang-orang mendadak menjadi peduli terhadap batik. Mereka menentang dan mengutuk apa yang dilakukan negara tetangga kita itu. Rakyat Indonesia seperti tersadar bahwa kita memiliki batik sebagai bagian dari budaya bangsa kita. Mulailah banyak yang mencari tahu seputar batik. Banyak pula yang mulai menggunakan batik untuk berbagai keperluan. Pemerintah juga ikut peduli dengan mendaftarkan batik sebagai warisan budaya dunia. Sampai puncaknya adalah pada tanggal 2 Oktober, pada saat batik dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia, batik mengalami puncak kepopuleran di negerinya sendiri. Pada hari itu, melalui gerakan memakai batik tanggal 2 Oktober, jutaan rakyat Indonesia kompak menggunakan batik. Indonesia menjadi lautan batik. Dan kemudian hingga hari ini, penggunaan batik oleh rakyat Indonesia sudah populer.

Adakah yang salah dengan cerita bahagia tersebut? Tidak, memang tidak ada yang salah dengan cerita tersebut. Hanya saja akan jauh lebih baik apabila kita bisa inisiatif untuk peduli terhadap bangsa kita sendiri tanpa harus menunggu suatu pemicu. Apakah, misalnya, kita harus menunggu tari jaipong diklaim bangsa lain baru kita peduli? Atau haruskah kita menunggu bangsa lain menjiplak lagu kebangsaan kita baru kemudian kita bergerak? Atau apakah hutan kita harus habis terlebih dahulu baru kemudian kita peduli akan pelestarian lingkungan? Sepertinya kita tahu jawabannya masing-masing.

Kembali ke persoalan reaktif, sebenarnya kita bisa untuk berubah, asal kita mau. Seperti pada kasus batik, kita bisa untuk menggunakan batik di berbagai kesempatan acara, asal kita mau melakukan hal itu. Sudah saatnya Indonesia menjadi bangsa yang kreatif, tidak lagi menjadi bangsa yang reaktif. Kreatif mengandung artian kita melakukan suatu perbuatan atau menciptakan sesuatu yang ide dan pemicunya dari diri kita sendiri. Sebenarnya antara kata ‘reaktif’ dengan ‘kreatif’ memiliki kedekatan. Coba ubah urutan huruf kata ‘reaktif’, kita bisa mendapatkan kata ‘kreatif’. Artinya, kita bisa kok untuk berubah dari reaktif menjadi kreatif, tergantung dari diri kita sendiri.

Saya mengajak saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk merenung dan jujur terhadap hati nurani. Maukah kita terus menerus menjadi bangsa yang reaktif? yang hanya bereaksi jika ada suatu pemicu? Tidakkah lebih baik jika kita bisa bergerak sesuai keinginan kita, dengan inisiatif kita sendiri? Tidakkah lebih baik kita jaga milik kita daripada kita merebutnya lagi setelah menjadi milik orang lain? Melalui tulisan ini, saya berharap semoga bangsa dan rakyat Indonesia bisa berubah dari bangsa yang reaktif menjadi bangsa yang inisiatif menjaga negerinya, kreatif memunculkan ide-ide brilian untuk negerinya, dan responsif terhadap kondisi dan permasalahan negerinya. Untuk Indonesia yang lebih baik.

dari seorang anak bangsa yang prihatin dan ingin menunjukkan kepeduliannya melalui tulisan.

Indonesiaku Tercinta

Posted by salmansalsabila On December - 30 - 2009 ADD COMMENTS

aku membaca, dan aku bertanya,
ada apa di negeri Indonesia yang aku cinta ini?
apakah hanya di negeriku saja hal yang luar biasa ini terjadi?

aku membaca,
pada sebuah harian berita yang aku percaya,

Tak Ada Dana, 1320 Ruang Kelas SD Dibiarkan Rusak

22270_230932167239_720482239_3032327_4087364_n

aku membaca,
katanya Dana Alokasi Khusus (DAK) hanya tersedia 3,9 Milyar Rupiah,
katanya Dana Alokasi Khusus (DAK) hanya tersedia untuk perbaikan ruang SMP dan SMA.

aku membaca,
pada sebuah harian berita yang aku percaya,
katanya Ibu Menteri Keuangan mengajukan “anggaran mendesak” sebesar 62,805 Milyar Rupiah,
katanya “anggaran mendesak” itu untuk beli mobil baru Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Menteri, dan
katanya harga per unitnya hanya 1,3 Milyar Rupiah.

22270_230933697239_720482239_3032328_7807779_n

Wow?! Murah sekali ya harganya?
Hanya sepertiga dari Dana Alokasi Khusus untuk perbaikan sekolah?

aku membaca, dan aku bertanya,

Memangnya butuh tambahan dana berapa untuk memperbaiki 1.320 Ruang SD yang rusak itu?
Bolehkah saya ikut menyumbang?
Yah, tidak banyak sih, maklum masih mahasiswa, bukan orang kaya pula,
paling hanya seribu, dua ribu, seperti waktu nyumbang koin untuk Ibu Prita.

Kira-kira cukup tidak ya?

Hari-hari di bulan Oktober yg telah Berakhir

Posted by andistididi On November - 2 - 2009 2 COMMENTS

calendar-piece

Sumber Gambar: link

Satu bulan sudah, hari-hari di bulan Oktober yang panas kita lewati. Beribu kejadian yang telah kita lalui. Ada yang menyenangkan bagi sebagian kalangan, dan ada yang menyedihkan bagi kalangan yang lainnya. Sesuatu yang wajar bagi kehidupan di dunia ini.

Bulan ini Nusantara kita diawali dengan peringatan Kesaktian Pancasila. Meski kadang kita susah juga untuk menjelaskan pada anak-anak kita, dimana letak kesaktiannya.Yang ada di ingatan kita hanyalah secuil “cerita” waktu kita masih kecil dulu. Dan terkadang, cerita itulah yang kemudian secara tidak sadar kita sampaikan ulang kepada anak-anak kita. Tentang bagaimana kejamnya sebuah usaha penghianatan terhadap kekuasaan negara kita. Dan negara kita, tetap terjaga karena “kesaktiannya”.

Dan, kali ini kita memperingati hari Kesaktian Pancasila itu dengan perasaan sedih. Perasaan terluka buat seluruh bangsa Indonesia. Karena terlalu banyak bencana yang datang menimpa. Bertubi-tubi tanpa permisi. Silih berganti tanpa mau peduli. Dari satu lokasi ke lain lokasi. Dan, ternyata rakyat kita benar-benar telah teruji. Benar-benar Rakyat yang berbudi. Silih berganti saling memberi. Bahu membahu saling membantu. Tanpa pamrih dan rasa ingin jadi nomor satu. Hanya berbagi. Tidak lebih! Demi menjaga sebuah rasa yang sama. Kesempatan yang sama. Kebahagiaan yang tak jauh beda. Sebagai sesama manusia. Yang secara kebetulan, ditakdirkan Allah sebagai Rakyat Indonesia.

Setelah itu dilanjutkan dengan peringatan Hari Jadi TNI kita. Bagus juga kali ini. Tanpa perayaan yang gegap gempita. Mengingat kondisi negara kita yang tengah berduka. Semoga, hilang semua keraguan Rakyat kita. Hilang semua prasangka buruk. Berusaha membuat Rakyat percaya, bahwa TNI hanya menjadi pengawal Rakyat Indonesia.Yang menjadi garda terdepan untuk membebaskan Rakyat dari berbagai macam tekanan yang datang. Yang bisa menjadi kekuatan dalam membantu rakyatnya untuk mengembangkan segala sesuatu demi kepentingan bangsa dan negara. Yang menjadi pagar pelindung Rakyatnya dari berbagai ancaman, bahaya, demi menjaga keselamatan negara dan bangsa. Terlebih lagi, demi ketentraman dan kesejahteraan Rakyatnya! Walau bagaimanapun kondisi TNI kita. Ingatlah! Kekuatan TNI tidak terletak pada canggihnya peralatan dan persenjataan yang di punyai. Tapi, kekuatan TNI terletak pada “kerjasama dengan Rakyat-nya”.

Terus berganti hari-hari di bulan Oktober. Hingga peringatan Hari Pangan (16 Oktober). Peringatan yang mungkin sedikit terlupakan. Yang hampir bersamaan dengan peringatan Hari Perhubungan (17 Oktober). Terlupakan mungkin karena terlalu banyaknya beban.Yang bagi sebagian kalangan Rakyat, hal itu sudah menjadi cerita sehari-hari. Karena di atas sebutan negara kita yang katanya Agraris, yang artinya sebagian terbesar dari penduduknya tergantung hidupnya pada pertanian, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan. Bahwa masalah “bahan pangan” menjadi sesuatu yang benar-benar langka dan mahal. Tidak mudah diperoleh. Dan dibuktikan dengan diberbagai tempat di penjuru tanah air kita, masih banyak rakyat yang kesulitan untuk mendapatkan bahan pangan dengan mudah dan murah. Yang berakhir dengan kenekatan untuk mengkonsumsi “sampah”. Lihat saja, betapa Rakyat kita sudah terjebak pada berbagai macam cara untuk mendapatkan bahan pangan dengan cara “ajaib dan tidak masuk akal”. Menipu dengan sengaja bahan-bahan makanan yang ada. Dengan berbagai cara, membuat, memanipulasi kemasan, mendaur ulang, dan memasarkan bahan makanan yang SESUNGGUHNYA berbahaya bagi kesehatan mereka sendiri. Dan biarpun sudah dalam kondisi seperti itupun, ternyata masih ada saja kalangan yang belum sanggup untuk membeli. Dan kondisi kurang gizi, kelaparan,…sungguh menjadi berita yang sepertinya “tabu” buat para pemimpin kita untuk mengakuinya.

Yang tidak kalah menarik di bulan Oktober, adalah sejak dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden kita. Yang dilanjutkan dengan proses “pemilihan” para Menteri sebagai pembantunya. Sebenarnya senang juga, bahwa mereka “tidak malu”, meski berprofesi sebagai pembantu. Mereka bangga. Lihat saja, betapa antusias, para peserta audisi di kala itu. Menebar senyum dimana-mana. Dan kurang dari 1 minggu sejak dilantik menjadi menteri ( 22 Otober ), tidak berselang lama setelah peringatan Hari Keuangan ( 26 Oktober ), gonjang-ganjing kenaikan gaji para pejabat tinggi terlebih para Menteri, menjadi kado paling gress di bulan ini. Entahlah. Apa yang sesungguhnya yang ada dalam pikiran para pemimpin negeri ini. Dengan dalih apapun. Pertimbangan apapun. Sungguh TIDAK PANTAS, dilakukan dalam kondisi Rakyat yang seperti ini. Rakyat Nusantara ini merindukan para pemimpin yang tidak berusaha untuk memperkaya diri sendiri. Tapi, para pemimpin yang bisa jadi teladan. Yang berani berjuang ditengah kemiskinan dan penderitaan Rakyatnya. Yang bersedia memimpin dalam kondisi sama dengan yang dirasakan oleh Rakyatnya. Pemimpin yang mempergunakan semua yang dimilikinya untuk bangsa dan negaranya. Dan jejak langkahnya, bisa dijadikan pedoman untuk kaum muda dimasa kini dan esok lusa.

Dan yang terakhir kali. Yang mungkin banyak dinanti. Adalah peringatan Sumpah Pemuda. Sudah banyak cerita tentang sejarah di sekitar sumpah pemuda ini. Meski banyak cerita disana sini. Tapi yang pasti. Peran Pemuda dalam menjaga keutuhan bangsa ini, tak akan mudah dihapus dari sejarah panjang perjalanan bangsa yang kita cintai. Tugas para kaum muda ini, tidaklah ringan. Ditengah derasnya arus globalisasi yang ada, hanya kaum muda yang diharapkan menjadi penyelamatnya.

Kaum muda harus benar-benar mempunyai semangat kebangsaan. Harus ditanamkan perasaan kebangsaan itu. Nasionalisme adalah hal yang sangat penting. Karena jika tidak, Nusantara kita ini hanya akan tinggal cerita, dongeng dan legenda. Yang kaum mudanya sudah tak ingat lagi akan jatidiri bangsanya. Ditelan arus globalisasi yang menyilaukan dan mengkhawatirkan.

Kaum muda harus berusaha terus belajar mengejar ketinggalan, menyamai dan mengatasi kepandaian bangsa-bangsa lain. Situasi dan kondisi dijaman ini memang tidak sama dengan jaman ketika dideklarasikan Sumpah Pemuda tahun 1928. Mungkin dijaman itu, rasa nasionalisme dan patriotisme masih bercorak “cultural nasionalisme”. Dan di jaman sekarang, kaum muda yang dilahirkan dan dibesarkan di alam kemerdekaan, tak mengenal traumanya masa penjajahan. Hidup ditengah-tengah zaman yang “seakan-akan” serba cukup, dimana penuh dengan iming-iming kemewahan, meski dari hasil bantuan modal asing, dan kemajuan teknologi.Yang tidak sadar bahwa negaranya tengah menghadapi “penghisapan dan hinaan” atas rakyatnya, dengan cara hidup tertekan dibawah kekuasaan terselubung secara politik dan ekonomi oleh bangsa Asing.

Maka, konsekuensi logis dari adanya keharusan historis, dari proses pergantian generasi yang lahir sesuai dengan panggilan zaman. Kaum muda harus bisa menghayati, merenungkan dan berusaha untuk terlepas dari “kebodohan”.Hanya kaum muda yang cerdas, yang tidak bisa “dijajah” dalam bentuk apapun. Hanya kaum muda yang cerdas, yang bisa membawa Nusantara ini lebih bermartabat, berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain, ditengah kultur global dengan berbagai ikon modernitasnya yang menyilaukan. Semoga …

Antara Muhammad Yamin dan Kita Ada Cinta

Posted by mahen On October - 28 - 2009 ADD COMMENTS

bangun-hss-dgn-cinta

Sumber Gambar: link

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Tak kurang dari 80 orang hadir di ruangan yang berada di Jalan Kramat Raya nomor 106. Ini bukan pertemuan biasa. Bukan ajang minum kopi sore hari reuni dengan kerabat dan teman lama, bukan pula jamuan prasmanan makan malam membahas bisnis dengan kolega. Ini adalah rapat yang disaksikan oleh semburat mentari pagi itu. 28 Oktober 1928. Sumpah diikrar menitis pesan bagi putra-putri pertiwi.

Sumpah Pemuda, lebih dari sekadar prosesi historis. Tentu Muhammad Yamin dan puluhan pemuda punya maksud. Dan telahkah kau pahami maksud mereka, Kawan? Pasti ada alasan mengapa WR Supratman menggesek dawai-dawai biolanya melantunkan harmoni nada hari itu. Dapatkah kau jelaskan padaku tentang apa irama itu, Kawan?

Delapan puluh satu tahun berlalu dan ruangan pertemuan telah jadi museum. Tapi mestikah semangat mereka pula kita museumkan? Aku bertanya pada diriku masih adakah patriotisme itu? Nasionalisme itu di manakah kini bersemayam? Sepenting itukah Sumpah Pemuda? Kuberikan kesempatan kepadamu masing-masing Kawan untuk menggangguk mantap atau sekadar menggeleng tanda sangsi.

Penting atau tidak interpretasinya bagimu, tak dapat kau sangkal Kawan inilah salah satu babak klimaks romansa bangsa ini. Mungkin tak seberapa artinya bagi stabilitas ekonomi, peningkatan standar kehidupan buruh tani dan nelayan, atau birokrasi administrasi pemerintahan detik ini, tapi ke sanalah bermuara kesempatan menghirup oksigen hari ini sebagai bangsa yang merdeka. Sekian banyak pemicu proklamasi, Sumpah Pemuda salah satunya. Dan satu hal yang kupahami lamat-lamat, Kawan. Dalam deretan 33 kata itu tersimpan makna yang Muhammad Yamin rajut dengan cinta. Cintanya pada tanah tumpah darah, cintanya pada bangsa, cintanya pada bahasa Indonesia. Kalau bukan karena cinta, untuk apalah semangat bergejolak di masa sulit itu dan untuk apa begitu frontal menyuarakan kontra kepada tirani penjajah. Dan hal serupa inilah yang mestinya menjadi pengikat batin kita dengan Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, pemuda-pemuda dari Celebes, Betawi, Maluku, dan seantero nusantara ini. Cinta kita kepada Indonesia Raya.

Lagu “Rasa Sayange” dan Tari Pendet diklaim orang. Kita mencak-mencak, bersumpah serapah bahkan kata tak senonoh pun meluncur deras di dunia maya sekalipun. Hampir setiap hari pemberitaan media dijejali dugaan dan pembuktian sejumlah anggota dewan, pejabat eselon, atau komisaris perusahaan yang terjerat dosa korupsi. Kita pun mengutuk, memaki, menghujat. “Membusuk saja mereka di jahanam!”. Harga sembako dan BBM melambung. Pelayanan kesehatan, pendidikan, sumber energi, dan angkutan umum morat-marit. Yang berwenang disalahkan, tak ayal serangkaian teori oposisi digulirkan. Semua hubungan sebab akibat di atas kuyakin adalah cinta, Kawan. Beragam ekspresi bangsa ini menggores kanvas cintanya kepada bangsa. Salahkah?

Cintanya tak salah, sama sekali tak salah. Mana mungkin kupidanakan cintamu pada negeri ini yang sama kita cinta, Kawan! Namun, interpretasi-interpretasi yang bermata dua sama-sama tak kita sadari mencampur madu dengan tuba. Cinta itu perih sekarang kurasa, menyayat luka. Miris dengan kondisi bangsa, sementara cinta baru membekas di bibir saja. Jika dulu Muhammad Yamin dan sahabat-sahabatnya hanya mengecam tindakan lalim penguasa kolonial lewat umpatan dan keluhan kemudian terlupakan dalam tebalnya buku teks, komoditi mahal waktu itu, akankah alam merdeka ini jadi milik kita saat ini? Kalau saja tak pernah ada tindakan nyata seperti Sumpah Pemuda sebagai representasi cinta mereka, akankah tegak kedaulatan negara ini? Mereka mencinta (tanah air ini) dan berbuat sesuatu untuk cinta itu

Pertanyaan kembali kulontarkan (pada diriku juga), “Apakah yang sudah kita perbuat untuk tanah air ini atas nama cinta?” Mengapa Muhammad Yamin mampu berbuat sedemikian rupa? Dengan pengetahuan dan wawasanku yang masih terbatas, kucoba tafsirkan perbuatan mereka yang berarti perlambang cinta. Jong Sumatera, Jong Java, dan Jong Islamieten telah meramu cinta mereka dalam adonan mimpi dan kerja keras. Mimpi membuktikan kebenaran bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, mimpi mendambakan anak cucunya, bahkan sampai tujuh turunan, hidup damai sentosa tanpa bayang-bayang ketakutan dan penindasan. Sebuah keniscayaan untuk tidak berhenti pada mimpi saja. Ibarat tepung, telur, dan gula menyatu rasa kue yang lezat, mimpi pun mesti dicampur dengan kerja keras. Setelah bermimpi, mereka bekerja meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan harta. Berkumpul dan bertukar pendapat (di saat kebebasan mesti ditunai dengan harga mahal), merumuskan langkah, dan siap berkorban jika nyawa sewaktu-waktu jadi tumbal. Resep cinta tanah air, serta adonan mimpi dan kerja keras Muhammad Yamin dan para pemuda Indonesia akhirnya diimplementasikan dalam produk sejarah. Sumpah Pemuda namanya.

Muhammad Yamin dan sahabat-sahabatnya mewariskan aset yang jauh lebih berharga dari retorika teks tiga kali tiga baris itu. Mereka titipkan cinta pada tanah tumpah darah, cinta pada bangsa, dan cinta pada bahasa persatuan. Antara Muhammad Yamin dan kita ada cinta. Cinta yang sama pada negeri ini mendarah daging dalam hitungan delapan dekade ini dan masih akan berlanjut sampai bumi menjemput ajal.

Tak perlu jadi Muhammad Yamin dulu untuk menggores skesta cinta kita. Toh mimpi dan kerja keras di negeri ini masih nir modal. Seperti Mas Donny Dhirgantoro tuturkan dalam sebuah karyanya, bahwa yang kita butuhkan cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdo’a. Dan kali ini lakukanlah tak hanya untuk dirimu pribadi semata, tapi untuk bangsa yang kita cinta bersama. Persembahkan karya terbaik, prasasti prestasi yang kau sematkan tuk jadi pelipur lara bunda pertiwi.

Cukup sudah bertikai ofensif dengan jiran dalam debat kusir yang makin bias ujung dan pangkalnya. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga kekayaan budaya itu. Sudahkah kita menghargai budaya kita? Apakah batik dan wayang kulit baru menjadi harta kita ketika sengketa dengan pihak asing mencuat, sementara kemarin ini hanya urusan pengrajin dan dalang yang mengepul asap dapur dari pertunjukan seni (itupun kadang hanya dibayar garam dan asam saja)? Mari kita pelajari kembali kearifan lokal dan pesan moral yang banyak tersirat dalam Kromo Inggil ataupun stambul pantun Melayu. Mari mencintai bahasa Indonesia, bukan semau gue semau lo (Secara! Cape deh). Ayo kita doakan supaya Allah memudahkan pemimpin kita memperbaiki mental mereka yang mungkin mulai berkarat debu-debu korupsi, sambil kita intropeksi diri masing-masing dan bersama kita tunjukkan kesalehan diri. Karena bangsa yang baik adalah kumpulan individu-individu yang baik, kesalehan umat adalah hadiah dari kesalehan-kesalehan individual. Kemudian, tanggung jawab sosial di berbagai aspek kehidupan adalah tanggung jawab kita bersama. Menyelenggarakan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang memadai adalah kewajiban pemerintah. Tapi bagaimana dengan kita sendiri? Sudahkah kita syukuri ni’mat pendidikan itu dengan belajar sebaik-baiknya di bangku sekolah? Sudah optimalkah cawan-cawan ilmu kita isi dengan kecemerlangan intelektual? Daripada menambah rumit persoalan meributkan mekanisme kesehatan di negeri ini yang masih semrawut, mengapa kita tidak bertindak preventif? Pelihara kesehatan kita masing-masing, jaga kebersihan, dan lestarikan lingkungan ini dengan tindakan yang selalu didasarkan atas logika kemanusiaan.

Sumpah Pemuda adakah maknanya? Mudah-mudahan aku tak salah tafsir bahwa Muhammad Yamin punya sejuta maksud, bahwa WR Supratman punya sejuta arti atas irama-irama itu. Sejuta maksud dan arti yang cukup kulukiskan pada tiga kata saja, cinta tanah air. Untuk saudara-saudaraku sebangsa setanah air, saatnya merealisasikan cinta lewat mimpi dan kerja keras. Tidak hanya untuk dirimu saja, tidak hanya untuk diriku juga, tapi untuk tanah ini yang kita pijak, untuk udara yang kita hirup, manifestasi syukur kita pada Sang Pencipta atas berjuta ni’mat-Nya. Tidak hanya untuk hari ini saja. Antara kita dan mereka pasti ada cinta!

Di tanah di mana Muhammad Hatta pernah menyusun mimpinya
The Netherlands, 28 Oktober 2009

Rahmad Mahendra
yang masih belajar mencintai tanah airnya
Sabda Rasul “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”

Di tanah di mana Muhammad Hatta pernah menyusun mimpinya

The Netherlands, 28 Oktober 2009

Mencari Pahlawan Muda Indonesia

Posted by akhdaafif On October - 28 - 2009 ADD COMMENTS

untitled

Sumber Gambar: link

Krisis bangsa saat ini memang telah menggurita. Krisis yang diawali dari terpaan badai ekonomi 11 tahun silam. Lantas disusul dengan tersingkapnya krisis politik, budaya, sosial, dan moral. Kita seharusnya tidak terbenam dalam keterpurukan dengan senantiasa mengutuk keberadaan permasalahan bangsa seperti yang terjadi saat ini. Krisis adalah takdir semua bangsa, sebagaimana perjalanan hidup manusia, adakalanya berada dalam kejayaan, dan suatu waktu ia terjatuh dalam keterpurukan.

Hal yang seharusnya kita khawatirkan adalah belum lahirnya sosok-sosok pahlawan dari berbagai krisis multidimensi itu. Krisis identitas bangsa ini 81 tahun silam jauh lebih berat. Namun, generasi saat itu berhasil mengilhami solusi identitas tersebut dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Sebuah pernyataan kesepakatan yang menyingkirkan berbagai perbedaan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Atau kita dapat merefleksikan diri pada momentum 10 November di Surabaya, saat fragmen semangat dan keberanian tersinergi dalam perjuangan mengangkat senjata.

Sejarah telah mencatatkan bahwa sosok-sosok pahlawan lahir dari para generasi muda. Berbagai peristiwa bersejarah di Indonesia dan juga di berbagai penjuru dunia lainnya telah membuktikannya. Maka ketika muncul kekeringan sosok pahlawan di negeri ini, berarti ada sesuatu yang keliru dalam diri para pemudanya.

Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Di satu sisi dapat dilihat bahwa telah terjadi distorsi makna kepahlawanan. Bagi beberapa komunitas pemuda, menjadi pahlawan adalah dengan berjuang mendapat wanita pujaannya, meskipun harus beradu fisik dalam perebutannya. Dalam komunitas yang lain, pahlawan adalah mereka yang siap bertarung dengan rekan sekampus lainnya demi gengsi fakultas. Atau bisa jadi, pahlawan adalah mereka yang hidup layak berkecukupan, meskipun untuk menggapainya tak segan sikut kanan maupun kiri.

Mungkin pula jenak idealisme dan perjuangan telah terkikis seiring berjalannya waktu. Nilai-nilai kepahlawanan telah asing dalam keseharian kita. Para pemimpin tidak mampu mencontohkannya karena sibuk berkutat dengan agenda kekuasaannya sendiri. Adapun kita, yang menisbatkan diri sebagai rakyat, tidak mampu menjadi inisiator keteladanan tersebut.

Sosok pahlawan tidaklah datang tiba-tiba dari langit. Ia dibentuk dan dibina dalam kerasnya persaingan hidup. Baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Ia juga seperti kita, manusia biasa. Salah satu hal yang membedakannya dengan yang lainnya adalah naluri yang terhujam kuat dalam pikiran dan sanubarinya, bahwa hidup haruslah berkontribusi. Memberikan seluruh kemampuan terbaik yang dimilikinya untuk kebermanfaatan orang banyak di lingkungannya.

Momentum Sumpah Pemuda adalah saat yang tepat bagi para pemuda Indonesia untuk tidak sekedar melihat rekam jejak para pahlawan bangsa. Yang lebih penting adalah bagaimana karakteristik para pahlawan tersebut dapat diteladani dan diterapkan dalam keseharian kita.

Bagaimanapun juga, bangsa ini masih butuh banyak lahir sosok pahlawan muda untuk berpadu menyelesaikan berbagai krisis bangsa. Seperti apa yang disampaikan oleh seorang penulis, “mereka bahkan sudah ada di sini. mereka adalah aku, kau dan kita semua. mereka hanya belum memulai untuk merebut takdir kepahlawanan mereka”.

Sumpah Pemuda, Masa Lalu dan Masa Kini

Posted by salmansalsabila On October - 28 - 2009 1 COMMENT

Hari ini kita sedang memasuki titik perulangan sejarah. Seandainya teknologi manusia telah berhasil mengembangkan mesin waktu yang dapat membawa kita ke masa lalu, maka pada tanggal yang sama 81 tahun silam akan kita temukan puluhan pemuda di Jln. Kramat Raya 106 (sekarang Museum Sumpah Pemuda) sedang merumuskan arah perjuangan bangsa. Mereka adalah pemuda luar biasa yang berasal dari seluruh gerakan pemuda yang ada di Nusantara kala itu. Dengan semangat kebangsaan yang tinggi, mereka menyisihkan ego kelompoknya demi persatuan dan kesatuan bangsa. Mereka menyadari potensi besar yang dimiliki bangsa ini jika seluruh komponen masyarakat yang hidup di dalamnya bersatu dan bekerja sama.

Ayo kita segarkan kembali ingatan kita pada sumpah mereka.

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Hari ini kita merasakan berkah perjuangan mereka. Kita merdeka dari penjajahan asing. Kita dapat menentukan arah perjalanan bangsa tanpa tekanan dari bangsa lain. Kita pun merasakan indahnya berada dalam satu naungan tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa.

Lantas, selanjutnya apa?

Cukupkah sumpah mereka hanya menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa yang terekam dalam satu bagian memori di otak kita? Cukupkah kita hanya menjadi bagian dari “penikmat” hasil perjuangan mereka?

Tidakkah hati kecil kita tergugah untuk bertanya pada diri sendiri, sumpah apakah yang dapat kita ikrarkan sebagai bagian dari pemuda masa kini? Tidakkah kita tergugah untuk menjadi bagian dari pelaku sejarah yang ikut serta membangun bangsa ini? Tidakkah kita menyadari besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini?

Lupakan sejenak para pemuda dari 81 tahun silam, lupakan pula sumpah yang mereka ikrarkan. Arahkan pandangan kita pada tubuh yang menaungi hati dan pikiran kita. Ya, tubuh ini adalah tubuh seorang pemuda hebat seperti mereka. Apapun status kita, apapun pekerjaan kita, apapun tingkat pendidikan kita, apapun bidang keahlian yang kita kuasai, apapun suku dan budaya kita, kita bisa ikut serta membangun dan memperbaiki bangsa ini.

Teman-teman, mari ikrarkan kembali sumpah kita sebagai bagian dari pemuda Indonesia masa kini… dan mari kita lanjutkan perjuangan mereka dalam berbagai cara dan bentuk yang sesuai dengan kemampuan kita… Kita tak perlu menenteng senjata seperti arek-arek suroboyo. Kita tak perlu turun ke jalan seperti pemuda ‘98. Kita tak perlu mengibarkan bendera merah-putih di kedalaman laut bunaken. Bahkan, kalian juga tak perlu menulis tulisan di blog seperti yang aku lakukan. Cukup lakukan saja satu hal yang paling bisa kita lakukan sebagai bagian dari pemuda masa kini…

Refleksi di Hari Sumpah Pemuda

Posted by lenidisini On October - 28 - 2009 1 COMMENT

Kami, putera dan puteri Indonesia mengaku, bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia

Kami, putera dan puteri Indonesia mengaku, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

Kami, putera dan puteri Indonesia mengaku, berbahasa satu, bahasa Indonesia

Siapa yang tidak ingat dengan tiga bait kalimat tersebut?

Ya, SUMPAH PEMUDA.

1928-Sumpah_Pemuda-1

Sumber Gambar: link

Dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober, 81 tahun yang silam. Para pemuda dari berbagai daerah dan golongan berkumpul bersama di Weltevreden (Jakarta) untuk menyuarakan hasrat dan keinginannya dalam bersatu tanah, bangsa, serta bahasa.

Sebuah hasrat yang menggebu hingga disebut dengan SUMPAH. Hasrat yang menggebu untuk terlepas dari segala belenggu penjajahan dan berdiri tegak di atas kaki sendiri. Sebuah hasrat yang pada akhirnya melahirkan semangat-semangat juang para pemuda calon pemimpin bangsa penggerak kemerdekaan.

Namun, pertanyaannya sekarang, saat ini, di zaman ini..

Adakah kiranya pemuda yang masih paham jiwa dan semangat dasar SUMPAH PEMUDA ketika itu? Adakah kiranya pemuda saat ini yang masih mempunyai hasrat membara dalam menjiwai SUMPAH tersebut? Ataukah karena alasan relevansi maka kita sudah mulai melupakan makna SUMPAH PEMUDA dan tenggelam pada dunianya masing-masing?

Saya di sini tidak ingin mengatakan bahwa SUMPAH PEMUDA adalah segalanya. Saya hanya ingin membangkitkan lagi ingatan sejarah itu. Bahwa, 81 tahun yang silam, di Indonesia, pernah ada semangat-semangat menggelora dalam diri para pemudanya untuk bersatu dan menjadikan Indonesia lebih baik lagi. Hanya ingin mengingatkan bahwa 81 tahun yang silam, pernah ada sekumpulan pemuda penuh cinta, yang rela mengorbankan waktu dan pikirannya, merumuskan tiga bait kalimat yang menjadi kebutuhan penting demi persatuan bangsa. Hanya ingin mengingatkan bahwa 81 tahun yang silam, ada pendar-pendar kepedulian yang begitu besar dari jiwa para pemuda. Mereka peduli tanah air, ibu pertiwi, melebihi segala kepentingan pribadinya dan golongannya. Mereka bagaikan kunang-kunang yang menyebarkan cahayanya di tengah gulita malam, di tengah gegap gempita kosongnya pengharapan.

Wahai pemuda masa kini, mungkin benar apa yang dikatakan N. Daldjoeni. Bahwa, tantangan kita saat ini semakin berat. Ada empat masalah yang generasi muda hadapi saat ini, yakni di bidang ekonomi-edukatif, biologis-fisik, sosial-patologis, dan psikologis. Sungguh kompleks ketika kita dihadapkan pada efek domino dari sebuah keterbatasan. Pendidikan yang sulit dijangkau dengan merata oleh semua golongan, mengakibatkan kita menerima dengan pasrah untuk dididik menjadi bodoh. Kebodohan menuntun kita pada kehidupan sosial yang tidak lebih baik. Yang mana bisa jadi hal itu pada akhirnya akan memengaruhi pula psikologis seseorang. Frustasi, rendah diri, malas, takut pun menjadi teman setia dalam hidup. Lantas, apa jadinya, jika hal tersebut menimpa para pemuda calon pemimpin bangsa kelak?

Itu baru satu contoh alur masalah. Yang lainnya, globalisasi. Jalur ini berhasil melahirkan pemuda-pemuda yang mudah terbawa arus zaman dan hampir-hampir kehilangan identitas diri. Kebanggaan akan tren dari luar melebihi kebanggaan akan warisan leluhur sendiri. Alhasil, hampir saja harga diri kita dicabik-cabik negara lain. Jangan selalu menyalahkan pihak lain, mari berkaca kepada diri sendiri terlebih dahulu. Ternyata, atas segala permasalahan yang terjadi, ada bagian dari kesalahan sendiri yang turut berperan. Ibarat pepatah “Semut di seberang lautan tampak namun gajah di pelupuk mata tak tampak”.

Wahai pemuda, sudah seharusnya kita berkaca diri. Lupakanlah sejenak euforia masa lalu kejayaan pemuda. Jangan terbang terlalu tinggi ketika dikatakan oleh Ben Anderson, seorang pengamat politik, bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah para pemuda. Hal itu memang benar nyatanya. Tapi, itu DULU. Sekarang? Kebanyakkan pemuda, walaupun tidak semua, seperti kehilangan taringnya. Tidak bergairah, tidak bersemangat membawa perubahan. Setiap hari, rutinitasnya adalah menghabiskan uang orangtua, mengikuti tren saat ini sampai terengah-engah dan lupa untuk melihat ke bawah, lupa mengingat bahwa masih banyak masalah yang harus diperhatikan, masih banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung mereka. Ada apa wahai pemuda? Mungkinkah sudah merasa cukup nyaman? Mungkinkah sudah merasa baik-baik saja? Maafkan saya jika menampar terlalu keras atau justru terlalu lembut?

Terkadang kita memang butuh dijatuhkan agar bisa kembali kepada realita. Di hari SUMPAH PEMUDA tahun ini, di hari yang sebenarnya sama istimewanya dengan hari-hari lainnya, saya hanya ingin menyuarakan harapan saya dan mungkin juga harapan beberapa orang lainnya.

Sudah saatnya, kita para pemuda untuk bangkit.

Kembali memupuk jiwa SUMPAH PEMUDA dalam diri kita.

Dalam bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan zaman.

Dalam cara-cara yang baru lagi segar.

Hal tersebut sebenarnya bisa dimulai dari diri sendiri.

Meningkatkan kualitas diri, mengimplementasikan kemampuan diri ke dalam ranah nyata untuk kebermanfaatan orang banyak, bahu-membahu membangun bangsa dengan kompetensinya masing-masing untuk Indonesia yang lebih maju.

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Berbicara tentang Indonesia, kita juga bisa berbicara yang indah-indah. Bukan maksud hati untuk mengesampingkan segala hal... 
Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Meski surat keterangan tidak mampu (SKTM) tidak diberlakukan lagi, ada kabar gembira bagi warga miskin di Jatim. Sejak 1... 
Kendal Miliki Open Source Sendiri

Kendal Miliki Open Source Sendiri

Meski bukan kota besar, Kendal berani untuk mandiri dalam hal penggunaan software komputer. Bahkan kota kecil di Jawa Tengah... 
Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Bersama Kota Manila di Filipina, Yogyakarta saat ini menjadi pusat seni rupa di Asia Tenggara. Dalam level yang berbeda,... 
Enter the video embed code here. Remember to change the size to 310 x 250 in the embed code.

TAG CLOUD

POPULAR

  • Dukung Indonesia Berprestasi

    Indonesia Berprestasi

  • Gabung Jadi Volunteer/Kontributor di Milis Kami!

  • Indonesia Berprestasi on Facebook!

  • Follow us on Twitter!

  • Dukung Internet Sehat

    Internet Sehat
  • Categories

  • Indonesia Berprestasi Didukung dan Mendukung: