Memang, pendidikan di Indonesia bukanlah yang paling terkenal di antara negara-negara yang lain. Namun, pendidikan negara kita adalah salah satu dari sekian hal yang patut dikasihani oleh semua orang. Mengapa? Hal tersebut dikarenakan arah pendidikan Indonesia yang tak pasti. Sebut saja kurikulum pembelajaran yang digunakan pendidikan di Indonesia, selalu berubah-ubah setiap beberapa tahun sekali, padahal satu kurikulum saja belum bisa dikuasai dengan baik oleh para pelajar yang menghadapinya.
Contoh yang lainnya adalah beberapa kesalahan yang diberikan oleh para pengajar dalam pembelajaran di tingkat sekolah. Ada beberapa sekolah yang mengajarkan siswanya untuk melakukan demonstrasi. Meskipun tidak berdampak negatif untuk masyarakat sekitar karena hanya dilakukan di lingkungan sekolah untuk mengajarkan pada siswa bagaimana cara mengungkapkan pendapat, namun hal ini sangat berpengaruh negatif terhadap pikiran para pelajar Indonesia. Apakah guru tidak memikirkan akibatnya ke depan, apabila siswa terus mempraktekkan hal tersebut, kemudian menjadi korban dalam berbagai acara demonstrasi, seperti yang banyak terjadi belakangan ini? Atau mereka lebih senang muridnya mencium aroma gosong dari ban yang dibakar daripada mencium aroma medali emas yang diperebutkan oleh berbagai kalangan?
Kedua hal di atas merupakan pemicu melencengnya arah pendidikan Indonesia. Sesungguhnya, jalur pendidikan yang telah dilalui Indonesia tidak kalah panjang dengan yang dilalui oleh negara lain. Namun, mengapa Indonesia masih sulit untuk menyetarakan pendidikan dengan negara lainnya? Jawabannya hanya satu, yaitu dikarenakan perjalanan pendidikan Indonesia yang harus selalu menciptakan belokan-belokan, baik yang pendek maupun yang panjang. Oleh sebab itu, pendidikan di Indonesia tak pernah bisa teguh lalu pertumbuhannya pun terhambat.
Maka dari itu, sebagai warga negara Indonesia, kita wajib meluruskan jalur yang ditempuh oleh pendidikan Indonesia. Semua belokan yang tercipta di masa lalu biarlah terjadi dan tak usah diungkit-ungkit kembali. Yang terpenting, mulai sekarang hingga masa yang akan datang, berusahalah untuk menjaga kelurusan jalur peningkatan pendidikan Indonesia, agar kelak semua orang bisa membawa pendidikan Indonesia ke titik yang tertinggi, dan berusaha untuk tetap mempertahankan Indonesia dalam persaingan dengan negara-negara lain. Kalau sudah maju, tak perlu bingung lagi kan harus dibawa ke mana pendidikan negara kita ini? (joe)

Saat Malaikat Bicara Pendidikan

Posted by rizkyandriawan On May - 22 - 2010 1 COMMENT

Educatiel adalah malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk mengawasi perkembangan kecerdasan manusia, khalifah sekaligus makhluk kesayangannya di bumi. Sekitar medio tahun 2010, Educatiel banyak sekali menerima laporan doa dan keluhan seputar pendidikan yang datang dari bumi Indonesia. Penasaran dengan apa yang terjadi di Indonesia, Educatiel mengundang seluruh malaikat penjaga dari anak – anak Indonesia untuk rapat dan mencari tahu sebetulnya sedang ada apa dengan pendidikan di Indonesia.

Setelah malaikat – malaikat penjaga itu berkumpul Educatiel memulai rapat dan membukanya dengan menceritakan apa yang didengarnya dari bumi Indonesia.

Saudara – saudaraku malaikat yang terhormat, banyak manusia di bumi Indonesia yang mengatakan ada kegagalan pendidikan di bumi Indonesia sana. Konon salah satunya terlihat karena adanya semacam ujian di sana yang banyak pesertanya yang tidak lulus. Berikut saya akan membacakan dugaan – dugaan saya mengenai kasus Indonesia ini dan mohon untuk ditanggapi.

lalu Educatiel pun mulai membacakan dugaan penyebab banyak manusia di bumi Indonesia yang mengeluhkan pendidikan:

Pertama – tama, saya ingin sampaikan bahwa banyak manusia yang mengeluhkan pemerataan kesempatan pendidikan, apakah benar itu terjadi dan menjadi sebab krusial di Indonesia?

“Maaf paduka, perkenalkan saya adalah malaikat penjaga dari seorang gadis berusia 12 tahun yang tinggal di sebuah desa. Di desa tempat saya bertugas, fasilitas pendidikan minimalis sekali. Sekolah luasnya tidak lebih dari beberapa jengkal saja. Ruang kelas yang tersedia terbatas jadi harus dipakai bergantian. Kondisinya pun sangat jauh dari layak paduka.

Namun, menurut saya hal itu bukan masalah utama, meskipun minim setiap anak bisa mengenyam ilmu yang cukup sebetulnya. Sayangnya, anak – anak ini justru kurang mendapat kesempatan dari orang tua mereka sendiri paduka. Siang hari sepulang sekolah mereka diminta membantu orang tua mereka bekerja di kebun. Di malam hari mereka terlalu lelah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Dan di luar itu semua paduka, tidak semua orang tua menginginkan anaknya sekolah. Banyak di antara mereka yang lebih suka anaknya meladang, membantu mengurus rumah saat bapaknya bekerja atau malah menikahkan mereka sejak dini.”

Hmm, begitu ya. Kalau begitu mungkinkah karena fasilitas di tempatmu minim, sehingga orang tua juga merasa ragu menyekolahkan anaknya? Mungkinkan bukan saja pemerataan kesempatan tapi juga pemerataan fasilitas pendidikan anak juga perlu diperhatikan?

“Interupsi pak ketua. Sebelumnya mohon maaf, saya menjaga seorang anak lelaki di ibukota berusia 16 tahun. Orang tuanya sangat mampu. Anak yang saya jaga setiap hari kini ke sekolah dengan mobil mewah, membawa smartphone terbaru dan kartu kredit gold di dompetnya. Ia bersekolah di sekolah dengan fasilitas super mewah, namun apa lacur, tetap saja nilainya buruk dan orang tuanya mengeluhkan itu terus menerus.

Dan anak itu bukan satu – satunya paduka. Di sekolah tersebut juga banyak siswa yang standar keilmuannya rendah sehingga para guru pun mau tidak mau mengatrol nilai siswa – siswinya agar tidak kena labrak kepala sekolah yang begitu membanggakan sekolahnya itu.”

Begitukah? wah, yang miskin gagal. yang kaya juga gagal, apa jangan – jangan negri itu anak – anaknya bodoh semua ya?

Saat itulah, seorang malaikat lain berdiri mengangkat tangannya. Berbeda dengan 2 malaikat sebelumnya yang melapor dengan tatapan lesu selesu kebanyakan orang di bumi Indonesia ketika membicarakan pendidikan, malaikat ini mengangkat kepalanya tegak setengah angkuh, tersenyum dan berbicara dengan penuh semangat:

Anak yang saya jaga bukanlah orang berada. Keluarganya miskin. Sekolah pun meskipun di daerah ibukota hanya di sebuah sekolah pinggiran yang mungkin tidak jauh lebih baik dari gadis di cerita malaikat pertama. Ayahnya bukanlah orang yang pintar atau hebat. Masa mudanya Ia hanyalah buruh cetak di perusahaan koran dan kini Ia menjadi pengamen setelah dipecat akibat perusahaannya merugi saat krisis.

Walau begitu yang mulia, kebetulan saat muda Ia suka sekali membaca koran sisa hasil cetakannya. Ia membawanya pulang ke rumah dan membacanya bersama istrinya. Rubrik kesukaannya adalah rubrik berbau profil para tokoh. Ia selalu senang membaca kisah sukses para tokoh itu sambil berharap suatu hari Ia bisa sukses seperti mereka. Tapi apa daya, semakin Ia membaca semakin minder Ia terhadap hidupnya. Banyak sekali tokoh sukses yang Ia baca di koran, tapi sedikit sekali yang sukses tiba – tiba, kebanyakan dari mereka telah membekali dirinya dengan berbagai persiapan sejak muda, sesuatu yang Ia gagal lakukan.

Ketika Ia punya anak, di pikirannya hanya 1 kalimat: “anakku harus sukses, Ia tidak boleh memiliki hidup semenderita aku!”. Dan sejak itu Ia mencurahkan tenaganya untuk bekerja ekstra demi menyekolahkan anak – anaknya. Kemudian Ia juga menabung demi mengikuti program keluarga berencana, karena Ia berpikir bahwa menyekolahkan 1 anak itu berat, maka Ia tidak ingin punya anak terlalu banyak seperti saudara – saudaranya di kampung yang berpikir banyak anak banyak rejeki.

Ia tidak membacakan buku dongeng pada anaknya. Yang Ia bacakan adalah rubrik tokoh di koran kesayangannya. Satu hal yang Ia tanamkan pada anak – anaknya adalah “nak, kamu bisa punya kehidupan yang lebih baik dari bapak, tapi kamu harus mempersiapkan segalanya, terutama pendidikan kamu”

IQ anak – anaknya sebetulnya juga tidak jauh beda dengan si bapak. Mereka tidak begitu cerdas, tidak bisa menghitung perkalian 2 digit kali 2 digit di luar kepala dengan cepat. Namun inspirasi dari sang ayah dan dorongan dari sang ibu membuat mereka bertekad untuk belajar keras.

Dan sejauh yang saya lihat, perjuangan orang tua itu terbayar. Anak – anaknya bisa mendapat ilmu yang cukup meski memulai dari sekolah pinggiran. Ada 2 anak yang kujaga di keluarga itu. Si kakak sampai saat ini bisa mempertahankan prestasinya di 10 besar smp-nya, sementara si adik memang sedikit lebih pintar kerap menjadi juara kelas.

Lalu, apa kesimpulanmu dari cerita ini wahai malaikat penjaga anak – anak yang beruntung tersebut?

Jadi kalau boleh saya berpendapat paduka, sekolah memang hanya bisa memberikan ilmu. Banyak orang di bumi Indonesia yang tidak menyukai ini dan berpendapat harus ada pembimbingan moral di sekolah, namun menurut saya ini tidak tepat. Perlu diingat di bumi Indonesia, mencari guru yang bisa mengajar keilmuan dengan baik saja susah, apalagi yang bisa mengajar keilmuan dan moral?

Masih ada satu pihak yang sebetulnya punya peranan penting pada pendidikan anak, yaitu orang tua masing – masing. Masalahnya, orang tua dari anak – anak generasi sekarang juga menjalani usia sekolah 20-30 tahun yang lalu, dan saat itu pendidikan juga belum sukses. Saya tidak melihat pendidikan di bumi Indonesia ini gagal sekarang, yang saya lihat ya dari dulu memang belum sukses. Mendidik anak itu mudah, namun kalau orang tua dari anak tersebut tidak punya visi yang sama dalam mendidiknya, bisa menjadi sulit. Banyak orang tua tidak tahu seperti apa dunia karir saat ini, contoh mudah beberapa minggu lalu di bumi Indonesia gempar karena berita seorang anak sangat cerdas dipekerjakan menjadi tukang sapu karena orang tuanya mendesak si anak bekerja di tempat tersebut. Lalu kisah anak cerdas yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena orang tuanya mengarahkan ke pernikahan dini, bekerja membantunya atau malah karena saudaranya terlalu banyak sehingga dananya kurang juga kerap terjadi.

Paduka Educatiel, sejauh ini saya melihat, anak – anak di bumi Indonesia tidak termotivasi untuk belajar karena memang tidak diberikan gambaran yang baik mengenai masa depan yang bisa didapat oleh orang tua mereka. Maka dari itu, saya rasa apa yang bisa dilakukan bukanlah dengan memperbaiki sekolah atau mengganti model ujian, tapi memastikan anak – anak itu mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan dari orang tua mereka masing – masing, yaitu motivasi untuk menjalani pendidikan dan menjelaskan kepada orang tua mereka apa pentingnya pendidikan bagi anak – anak mereka, karena tanpa itu, mau semewah apapun kita bangun gedung sekolah di pedesaan tetap tidak akan ada gunanya.

Terima kasih atas waktunya dan mohon maaf jika ada kesalahan dalam kata – kata saya.

Seketika itu seluruh hadirin sidang malaikat terdiam mendengar penuturan tersebut. Mereka mulai membayangkan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah masalah yang sudah mengakar sejak puluhan tahun lalu. Masalahnya bukan pada dana, fasilitas, sistem atau kurikulum, tapi modernisasi visi masyarakat akan pendidikan dan juga penekanan akan pentingnya pendidikan itu sendiri, sesuatu yang terdengar sepele tapi rasanya berat sekali dilakukan.

________________________________________________________________

tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba opini pendidikan di web Indonesia Berprestasi, tulisan yang sama bisa anda temukan di blog pribadi saya. :)

Buku, Kenangan Atau Dendangan?

Posted by joevandi On May - 21 - 2010 1 COMMENT

Buku, seperti yang kita semua ketahui adalah sumber dari segala pendidikan, karena buku adalah jendela dunia. Sejak dulu, para pengajar menggunakan buku sebagai acuan untuk mengajar di kelas. Semua kegiatan belajar mengajar tak lepas dari yang namanya buku, mulai dari buku tulis sampai buku lembar kerja siswa (LKS). Semua perhatian pelajar Indonesia pun mau tak mau tertuju pada buku-buku sekolah. Namun, sekarang jaman telah berubah, gerbang era globalisasi telah terbuka, dan warga Indonesia sedikit demi sedikit ikut masuk melalui gerbang tersebut. tak heran apabila budaya lama kita semakin ditinggalkan, dan tergantikan dengan berbagai teknologi canggih yang sisi positifnya jauh lebih menguntungkan apabila dimanfaatkan.

Era globalisasi ini juga telah mempengaruhi cara guru mengajar di sekolah.Sekarang semakin banyak guru yang memanfaatkan teknologi saat pembelajaran, salah satu contohnya adalah menggunakan Liquid Crystal Display (LCD) Proyektor. Memang, hal ini lebih memudahkan, baik guru maupun siswa, dalam kelancaran pembelajaran. Namun, berkaitan dengan program Departemen Pendidikan Nasional yang mengisyaratkan  “Indonesia Gemar Membaca Buku”, tentu akan mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal ini disebabkan karena siswa cenderung lebih suka untuk mneg-copy file yang telah diterangkan oleh guru, dan mereka hanya akan belajar dari sana, bukan lagi dari buku. Padahal, apabila mereka belajar dari buku, banyak sekali hal-hal yang tidak ditemukan dalam file guru namun ada di dalam buku.

Andai saja hal tersebut telah diterapkan di seluruh Indonesia, akankah buku masih bermanfaat bagi pelajar Indonesia? Lalu, apa lagi yang dapat kita harapkan dari buku, sedangkan jaman telah memaksa kita untuk meninggalkannya dan beralih ke sesuatu yang baru? Semoga saja Depdiknas dapat menemukan cara untuk menyeimbangkan antara penggunaan buku dan teknologi. (joe)

http://jred-file.blogspot.com

Menjadi Bangsa yang Berkarakter

Posted by daniel.hermawan51 On May - 20 - 2010 5 COMMENTS

Lomba Opini Indonesia Berprestasi

Tema : “Pendidikan Indonesia : Mau Dibawa Ke Mana?”

Menjadi Bangsa yang Berkarakter

Oleh. Daniel Hermawan

Pendidikan ibarat sebuah kunci untuk membuka pintu dunia. Pendidikan memegang peranan penting bagi kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mengutamakan pendidikan bagi warganya. Berbagai inovasi, pemikiran, penemuan, dan ide-ide cemerlang lahir dari proses pendidikan. Pendidikan membuat suatu bangsa berpikir kreatif, kritis, dan ingin tahu. Bangsa yang tidak mengenal pendidikan lambat laun akan tergerus oleh arus zaman.

Saat ini pendidikan menjadi isu hangat yang dibicarakan di Indonesia. Berbagai media massa dan elektronik menyajikan berita seputar wajah pendidikan Indonesia saat ini, mulai dari kasus plagiarisme hingga anak putus sekolah. Kasus yang terjadi di lembaga pendidikan ini telah mencoreng citra pendidikan Indonesia di mata internasional. Dunia internasional mulai meragukan kualitas dan kompetensi lulusan Indonesia akibat kasus pelanggaran akademis yang terjadi.

Kasus plagiarisme yang dilakukan Prof. Dr. Anak Agung Banyu Perwita selaku staf pengajar mata kuliah Hubungan Internasional di salah satu universitas swasta yang cukup terkemuka di Indonesia telah menodai citra pengajar Indonesia. Pengajar yang seyogianya memberi teladan bagi peserta didik, justru melakukan pelanggaran akademis yang fatal. Akibat perbuatan ini, Prof. Dr. Anak Agung terancam dipecat dan gelar doktor yang sandangnya saat ini juga terancam dicopot.

Di kalangan pelajar, MZ selaku mahasiswa program doktor di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia juga terlibat dalam kasus serupa. MZ menjiplak laporan penelitian ilmuwan Belgia yang diikutsertakan dalam lomba penelitian internasional di China tanpa melampirkan sumber kutipan dan referensi. Akibatnya, gelar doktor MZ dicabut dan nama baik universitas MZ menjadi tercoreng.

Di sisi lain, kemiskinan juga masih menjadi masalah utama kemajuan pendidikan di Indonesia. Sebanyak 8.800 anak putus sekolah terpaksa mengamen dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Padahal mereka masih berusia sangat belia dan berada dalam usia anak sekolah. Mereka harus merelakan masa depan mereka demi memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing.

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan program BOS dan Sekolah Gratis di Indonesia. Sayangnya kedua program ini belum memberikan pencerahan bagi dunia pendidikan Indonesia. Banyak pihak  yang seharusnya menjadi sasaran utama program ini justru tidak mendapatkan haknya. Sekolah Gratis juga tidak benar-benar “gratis” dengan berbagai biaya operasional sekolah yang ada, seperti buku pelajaran, seragam, fotokopi, dan lain sebagainya. Akhirnya keberadaan kedua program ini tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Jujur saya prihatin melihat kasus Bank Century yang tak kunjung usai. Para wakil rakyat yang duduk di kursi DPR seakan sibuk dengan berbagai permainan politik yang menguntungkan partainya. Sikap dan tindakan para wakil DPR juga tidak mencerminkan orang yang terdidik dengan aksi dorong-dorongan dan maki-memaki di ruang DPR. Sungguh memprihatinkan memang. Pada akhirnya, pendidikan bangsa yang menjadi kunci keberhasilan suatu bangsa menjadi prioritas yang terabaikan.

Saya rasa pendidikan Indonesia saat ini sudah mengalami degradasi moral. Era kemajuan teknologi dan informasi yang berkembang di Indonesia membuat norma-norma susila yang ada mulai diabaikan. Banyak orang kini menjadikan kebenaran sebagai sesuatu yang relatif, tergantung sudut pandang orang tersebut. Sesuatu yang awalnya dianggap tabu, kini dianggap sebagai sebuah kewajaran. Tak heran jika perilaku-perilaku menyimpang, seperti korupsi, plagiarisme, mencuri, dan berbagai kasus lainnya kini dapat diartikan sebagai kebenaran bagi sekelompok orang.

Melihat fenomena ini, pemerintah mengusung tema Hari Pendidikan Nasional 2010 : “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Degradasi moral yang terjadi di dunia pendidikan saat ini dapat diatasi jika kita membenahi karakter dan pola pikir kita selama ini. Kepandaian memang kunci keberhasilan suatu bangsa. Namun, kepandaian tanpa karakter lambat laun akan menghancurkan keberhasilan yang dicapai. Karakter akan membatasi dan memberikan garis yang jelas antara sesuatu yang baik dan buruk untuk dilakukan.

Pendidikan karakter sendiri dapat diberikan di lembaga pendidikan sedari dini. Pelajar harus diajarkan dan dibina untuk menjadi pribadi yang berkarakter. Karakter manusia sendiri mencakup nilai-nilai luhur, integritas, kekuatan mental, tenggang rasa, semangat kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Karakter akan membuat seseorang menjadi cerdas, baik secara intelektual maupun moral.

Menumbuhkan bangsa yang berkarakter memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengajar dan pemerintah harus bekerja sama dalam mengikis nilai-nilai kebebasan dan individualisme     yang melekat dalam diri pelajar. Terlepas dari itu, keluarga juga turut membentuk karakter seseorang sedari dini. Keluarga harus menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan pemahaman yang benar seputar karakter. Karakter dapat ditumbuhkan dari sikap keteladanan seseorang yang menjadi cerminan bagi orang lain.

Karakter ibarat sebuah pijakan yang menghantarkan kemajuan suatu bangsa. Tugas kita sekarang sebagai pelajar, pengajar, pemerintah, dan keluarga adalah menggali kembali nilai-nilai kebenaran yang tergerus oleh arus zaman. Karakter akan menempatkan manusia pada posisi yang tepat dan potensi yang maksimal. Maka mari kita wujudkan bangsa yang berkarakter dengan membenahi pola pikir dan mentalitas kita selama ini.

Link : http://lifeisabook51.blogspot.com/2010/05/menjadi-bangsa-yang-berkarakter.html

~ oOo ~

Mencermati realitas pendidikan Indonesia saat ini, kita harus jujur mengatakan bahwa  sistem pendidikan yang dibangun masih belum ideal.  Masih banyak ditemukan catatan   kekurangan dalam beberapa hal.  Misal digugatnya UAN oleh beberapa pihak, cacatnya pelaksanaan UAN karena berbagai fakta kecurangan yang dilakukan oleh oknum pendidik, tidak klop-nya pendidikan dengan dunia kerja, mahalnya biaya pendidikan, sarana pendidikan yang masih kurang memadai, dan lain-lain.

Menarik untuk mencermati pendidikan di Jepang.  Jepang mewajibkan pendidikan dasar 9 tahun bagi warganya, sama seperti kita.  Bedanya, pemerintah hingga lini terbawah siap dengan kebijakan pendidikan wajib 9 tahun tersebut.  Akses masyarakat terhadap sarana pendidikan sangat mudah, karena setiap distrik pasti memiliki SD dan SMP dengan standar kualitas yang sama di seluruh Jepang.  Dan semua biaya pendidikan dasar itu digratiskan…tis..tis…  Kecuali untuk beberapa keperluan misal karya wisata, bentou (makan siang ).
Satu hal yang juga menarik, pendidikan dasar (shougakkou -SD) tidak mengenal ujian kenaikan kelas.  Siswa yang telah menyelesaikan proses belajar di kelas satu secara otomatis akan naik ke kelas dua, demikian seterusnya. Ujian akhir pun tidak ada, karena SD dan SMP (Chougakkou ) masih termasuk kelompok compulsory education , sehingga siswa yang telah menyelesaikan studinya di tingkat SD dapat langsung mendaftar ke SMP.  Lantas, bagaimana mengevalusi para siswanya ?

Tentu saja tetap ada proses evaluasi.  Guru tetap melakukan ulangan sesekali untuk melihat kemampuan dan daya serap murid terhadap pelajaran.  Nilai yang diberikan bukan berupa angka, tapi huruf A, B, C, kecuali untuk pelajaran matematika. Nanti di kelas 4, 5 dan 6 SD para murid diberikan test IQ untuk melihat tingkat kemampuannya.  Tapi hasil test itu bukan bertujuan untuk mengelompokkan para murid.  Sistem pendidikan di Jepang tidak mengenal klasifikasi kelas berdasarkan tingkat kecerdasan siswa (ada kelas unggulan, sekolah unggulan dan seterusnya, seperti di Indonesia ).  Semua kelas terdiri dari anak-anak dengan beragam tingkat kecerdasan. Jepang juga tidak mengenal sistem pemberian ranking atau peringkat kepada muridnya.  Sehingga semua murid tak ada yang merasa lebih dari teman-temannya.  Hasil test IQ tersebut nantinya digunakan untuk memberikan perhatian “lebih” kepada murid dengan IQ di atas normal dan di bawah normal.

Kantor pemerintah pada lini terbawah (distrik ) mempunyai data lengkap tentang penduduk di wilayahnya, termasuk data anak yang sudah masuk usia sekolah (sudah berusia 6 tahun atau lebih hingga bulan Maret tahun tersebut ). Orang tua akan dikirimi surat oleh kantor distrik yang berisi panggilan untuk memasukkan anaknya ke sekolah, berikut daftar SD negeri yang terdekat dari tempat tinggalnya.  Anak tidak diperbolehkan mendaftar SD dan SMP di luar wilayah tempat tinggalnya karena mereka mulai dididik untuk mandiri.  Anak-anak di Jepang semenjak SD tak diperkenankan untuk diantar orang tuanya ke sekolah.  Nah, bagaimana jika penduduk di distrik tersebut sedikit ?  Pendidikan di kelas tetap berlangsung walau hanya dihuni oleh 10 orang siswa sekalipun.
Untuk menjamin kualitas pendidikannya, pemerintah mengontrol dengan ketat seluruh sekolah di Jepang.  Kualitas sekolah negeri di semua distrik sama, dalam arti fasilitas sekolah, bangunan, tenaga pengajar dengan persyaratan yang sama (guru harus memegang lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh Educational Board setiap prefecture ). Oleh karena itu mutu siswa SD dan SMP di Jepang yang bersekolah di sekolah negeri dapat dikatakan “sama”, sebab Ministry of Education mengondisikan equality di semua sekolah.

Di tingkat SMP dan SMA – sama seperti di Indonesia – ada dua kali ulangan, mid test dan final test, tetapi tidak bersifat wajib atau nasional. Hanya beberapa prefecture saja yang melaksanakan final test.  Final test dilaksanakan serentak selama tiga hari, dengan materi ujian yang dibuat oleh sekolah berdasarkan standar dari Educational Board di prefecture tersebut. Penilaian kelulusan siswa SMP dan SMA tidak berdasarkan hasil final test saja, tapi akumulasi dari nilai tes harian, ekstra kurikuler, mid test dan final test. Dengan sistem seperti ini, tentu saja hampir 100% siswa naik kelas atau dapat lulus.
Selanjutnya siswa lulusan SMP dapat memilih SMA yang diminatinya, tetapi kali ini mereka harus mengikuti ujian masuk SMA yang bersifat standar.  Artinya soal ujian dibuat oleh Educational Board di setiap prefecture. Dalam memilih SMA, siswa berkonsultasi dengan guru, orang tua atau disediakan lembaga khusus di Educational Board yang bertugas melayani konsultasi dalam memilih sekolah. Ujian masuk pun hampir serentak di seluruh Jepang dengan bidang studi yang sama yaitu, Bahasa Jepang, English, Math, Social Studies, dan Science. Di level SMA ini, siswa dapat memilih sekolah di distrik lain.

Untuk masuk universitas, siswa lulusan SMA diharuskan mengikuti ujian masuk universitas yang berskala nasional. Ini yang dianggap `neraka` oleh sebagian besar siswa SMA. Sebagian dari mereka memilih untuk belajar di juku (les privat, seperti di Indonesia) untuk dapat lulus ujian masuk universitas. Ujian masuk Perguruan Tinggi dilakukan dua tahap. Pertama secara nasional, soal ujian disusun oleh Ministry of education, terdiri dari lima bidang studi seperti ujian masuk SMA.   Berikutnya,  siswa harus mengikuti ujian masuk yang dilakukan masing-masing universitas. Skor kelulusan adalah akumulasi ujian masuk nasional dan ujian di setiap perguruan tinggi. Nanti hasil ujian tidak diumumkan, tetapi jawaban ujian diberitakan lewat koran, televisi atau internet, sehingga peserta ujian masuk perguruan tinggi harus menghitung sendiri skornya. Jika tidak memenuhi skor minimal yang disyaratkan di fakultas/universitas pilihannya, peserta dapat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi swasta atau menjalani masa ronin (menyiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk di tahun berikutnya) di prepatory school (yobikou ).

Penilaian mutu pendidikan di Jepang, dengan kata lain dilakukan dengan menstandarkan ujian masuk SMA dan perguruan tinggi.  Tentu saja sistem ini bisa berjalan karena pemerintah di Jepang pun berusaha maksimal untuk menyamakan kondisi public education-nya, dalam arti menyediakan infra struktur yang sama untuk setiap jenjang pendidikan di daerah.

Kebetulan saat ini saya dan keluarga tinggal di Jepang.  Saya sering sekali memperhatikan anak-anak sekolah di sini.  Dari mulai seragam mereka, tas ransel kotak yang mereka bawa, hingga perlengkapan sekolah yang mereka gantung di sekeliling ransel.   Entah, bisa jadi kesimpulan yang saya ambil salah.  Bahwa apa yang mereka dapatkan di sekolah, apa yang diajarkan oleh para sensei, bagaimana kerasnya alam Jepang mendidik mereka, telah memberi andil pada kemajuan Jepang saat ini.
Jika kita juga ingin maju, yuk benahi juga pendidikan kita.  Sejak pendidikan pertama yang didapatkan seorang anak, yaitu dari orang tuanya di rumah.  Artinya, ini tugas kita semua sebagai orang tua.  Berikanlah anak haknya, didiklah mereka dengan hati dan cinta.

Pemerintah juga terlebih dahulu harus membenahi sarana dan fasilitas pendidikan kita di seluruh wilayah. Memang ini tidak mudah, karena kita sedang berbicara dalam konteks Indonesia dengan ribuan pulaunya, dengan tingkat akses yang berbeda-beda.  Masih begitu banyak PR besar yang kita hadapi. Menurut saya, sebelum pemerintah disibukkan dengan isu “swastanisasi” PTN atau UAN yang katanya akan meningkatkan mutu pendidikan kita.  Alangkah lebih baik jika pemerintah berupaya keras terlebih dahulu memperhatikan pemenuhan pendidikan dasar 9 tahun.  Berupaya memperluas akses masyarakat untuk mendapatkannya.  Memperbaiki sarana dan fasilitas pendidikan di tingkat ini, meningkatkan kualitas guru, dan memperbaiki kurikulumnya.  Jika pendidikan dasar kita sudah mapan dan berkualitas, insya Allah jenjang pendidikan berikutnya, akan lebih mudah ditata dan ditingkatkan kualitasnya.  Semoga bermanfaat.

Referensi bacaan : indosdm.com
Ditulis Nurul Asmayani

Kayuhan Sepeda (Sebuah Harapan)

Posted by puji.hastuti On May - 19 - 2010 ADD COMMENTS

Kayuhan sepeda berkilometer menghantarkan menuju anak ini menuju sebuah tempat ajaib yang ia yakin akan menghantarkannya kepada kegemilangan dihari esok. Keringat yang mengucur deras bak sarapan semangat setiap paginya. Kobaran semangat yang juga membara pada kayuhan serta derap langkah yang lainnya. Ribuan bahkan jutaan anak bangsa sangat menggantungkan asa tertingginya melalui tempat ajaib ini. Tempat ajaib itu adalah sekolah.

Sekolah adalah sebuah lembaga pendidikan yang menjadi penting peranannya bagi kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan merupakan salah satu konsumsi aqliyah bagi masyarakat Indonesia yang wajib tercukupi. Kehausan akan ilmu sesungguhnya fitrah manusia lho. Memang, urusan konsumsi perut lebih bersifat urgent. Bagaimana tidak, kalo urusan yang satu ini belum terpenuhi, bangsa ini bisa mengamuk dan berubah menjadi ganas. Bahkan bisa lebih ganas dari singga (Waw, serem). Namun, setidaknya jika kedua hal ini dapat terpenuhi dengan komposisi yang pas. Pasti bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih gemilang. Karena sesungguhnya hidup seimbang akan lebih baik bukan?

Lembaga pendidikan bak sebuah mantra yang akan menyulap batu yang tidak berharga menjadi permata. Memang kata mantra disini agak berbeda dengan pengertian cara kerja mantra yang kita kenal selama ini. Mantra hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengubah segalanya. Terlihat mudah dan nyaris tanpa usaha yang terlalu keras. Namun, lain halnya dengan pendidikan. Mantra pada pendidikan cukup membutuhkan waktu yang lama dalam melakukan pekerjaanya. Bisa bisa berbelas-belas tahun, perpuluh-puluh tahun, bahkan bisa lho sampai seumur hidup. Ada sebuah proses panjang dalam mencapai permata itu.

Semangat kayuhan sepeda dan derap langkah dengan konsisten mencapai kegemilangan itu. Proses batu yang telah membatu berubah secara perlahan dan berkala. Perubahan yang konsisten dan pasti menuju permata yang berkilau indah. Namun, ternyata ketidakpastian mengombang-ambing proses ini. Siapa lagi yang bisa melakukan ini. Ya, kekuasaan para elit yang mengusik konsistensi dengan terjangan ketidakpastian kebijakan serta upeti.

Para elit kelas atas sibuk mengubah-ubah kebijakan dengan alih-alih sistem harus bergerak maju. Kebijakan yang dianggap maju karena telah terbukti berhasil di negara maju. Mengertikah para elit tersebut tentang kebijakan yang sesungguhnya mereka keluarkan? Mengertikah mereka tentang pendidikan? Mengertikah mereka tentang bangsa ini secara komperhensif? Saya kira mereka sesungguhnya harus mempertannyakan ini dulu sebelum menjadi kendaraan yang akan mengakomodasi pendidikan negeri ini. Jangan-jangan mereka hanya mengejar lontaran pujian. Prestise mereka menjadi meninggi karena telah mampu ke barat-baratan.

Para elit kelas bawah mungkin dalam hal ini hanya menjadi perpanjangan tangan dari elit kelas atas terkait dengan pelaksanaan kebijakan yang selalu saja berubah-ubah. Para elit kelas bawah mungkin tidaklah pantas untuk dipersalahkan terkait dengan kebijakan. Namun, hal ini tidak membuat elit kelas bawah luput dari ke nistaan. Elit kelas bawah yang “bermata ijo”. Mereka biasanya bermain-main dengan upeti. Menguras kantong-kantong usang dengan tagihan upeti hingga kantong-kantong tersebut menjadi kering kerontang. Tak jarang saat kantong-kantong telah kering kayuhan sepeda dan derap langkah terhenti. Berhenti karena dihentikan oleh “si mata ijo”.

Banyak derap langkah yang harus terhenti karena mereka bingung menentukan arahnya. Peta yang mereka pegang ternyata sudah kadaluwarsa. Mereka bingung dan keadaan ini memaksa mereka harus berbalik arah ke garis awal dan mulai mengikuti peta yang baru. Ternyata dipertengahan peta yang baru mereka dapatkan telah berganti lagi dengan yang baru. Walaupun tertatih mereka sabar mengurut langkah dengan pelan dan sabar dengan peta yang terbaru. Peta ini pun tanpa sadar telah kadaluwarsa juga. Kaki-kaki mereka mulai menggerutu dan menampakan protes kekesalan karena alur yang tidak pasti. Derap langkah pun memilih untuk berhenti saja.

Saat kayuhan sepeda berputar dengan kecepatan rotasi yang sangat tinggi sehingga sampailah ia pada garis finish. Garis yang sesungguhnya bukanlah garis akhir. Garis ini merupakan penanda bahwa ia berhak untuk melanjutkan kayuhan ke lintasan berikutnya. Namun, Tidak bisa karena legitimasi itu tidak mampu ditebus. Apalagi kalau tidak karena kantong-kantong yang sudah keburu mengering.

Akankah keadaan seperti ini terus terjadi? Sedangkan bangsa diluar sana semakin banyak memproduksi permata-permata berkualitas. Akankah dibiarkan saja sepak terjang “sang pemburu prestise” dan “si mata ijo”? Jadi, Mau di Bawa ke Mana Pendidikan Negeri Ini? Bukan hanya saya, kamu, dia, atau mereka yang memiliki kewajiban untuk menjawab ini. Kita semua lah yang memiliki beban untuk menjawab ini semua.

17 Mei 2010, 23:33
Jakarta

Pendidikan, antara Ketertarikan dan Kemenarikan

Posted by muhammadtaufiq On May - 18 - 2010 4 COMMENTS

Pendidikan, antara Ketertarikan dan Kemenarikan

Oleh: Muhammad Taufiq*)

http://muhammadtaufiq.wordpress.com/

Nyaris semua opini yang saya baca tentang sistem pendidikan di Indonesia hanyalah mencibir tentang carut-marut dan kegagalannya. Mulai menyoroti tentang kurangnya ketersediaan lapangan pekerjaan, pro-kontra adanya Ujian Nasional, metode pembelajaran yang tak sesuai, kualitas pendidik pasca sertifikasi, dan seterusnya. Beraneka ragam masalah yang timbul dari sistem pendidikan seolah tak ada habisnya. Tapi sudahkah Anda melihat pendidikan di Indonesia dari masa ke masa?

Pendidikan adalah sebuah proses. Kita, pemerintah bersama berbagai pihak telah sedemikian rupa berupaya untuk menjadikan pendidikan sebagai hal terpenting dalam bangsa ini. Bukankah kita tak seharusnya pesimis dengan segala yang telah kita capai bersama?

Meski tak bisa kita pungkiri, dirasa masih banyaknya ketidaksesuaian yang mengganggu. Contoh sederhana banyaknya anak-anak kita yang dipaksa melahap semua mata pelajaran yang beraneka rupa. Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Sejarah, dan lain-lain. Ah, mendengar namanya saja terasa membosankan.

Mr. Kobayashi*) telah mengajarkan bahwa kita dapat memahami minat dan bakat siswa sejak dini. Dalam sekolahnya, Tomoe Gakuen, Mr. Kobayashi memberi kebebasan kepada anak didiknya untuk menekuni hobi dan bakat mereka masing-masing. Guru memberi daftar pelajaran yang akan diajarkan pada hari itu, kemudian siswa diberi kebebasan memilih untuk memulai harinya dengan pelajaran yang disenanginya. Dengan begitu kita dapat melihat bakat dan minat anak-anak kita sejak dini, sehingga kita dapat membimbing dan mengarahkannya. Lalu mengapa sekolah dasar kita tidak menawarkan pilihan jurusan-jurusan kepada anak-anak kita?

Juga tentang gambar-gambar yang terpajang di dinding-dinding kelas. Gambar tokoh-tokoh sejarah Indonesia dengan wajah tegang dan menakutkan terasa tidak relevan lagi. OK lah tokoh-tokoh tersebut sangat berjasa bagi Indonesia dan bagian dari sejarah yang tak boleh kita lupakan, tapi dapatkah anak-anak kita mengambil semangat inspirasi dari mereka? Semenjak saya belum dilahirkan, hingga saat ini, gambar-gambar tersebut tetap saja angker terpajang. Ah, memandang gambarnya saja tidak mengenakkan. Tapi bagaimana jika yang terpanjang gambar tokoh dunia yang penuh inspiratif, seperti Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Ibnu Sina, Bill Gates, dan lain-lain? Semangat inspirasi dan inovasi lah yang anak-anak kita butuhkan!

“Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya serta mengembangkan inovasi, menjadi konsep yang harus diusung dalam agenda reformasi bidang pendidikan. Untuk mengembalikan pendidikan pada nilai-nilai dasarnya harus ditinjau kembali kurikulum, metodologi, serta sistem evaluasi. Sedangkan untuk mengembangkan inovasi masa depan, anak didik harus dipacu mengembangkan keingintahuan intelektual dengan kebebasan berimaji konstruktif sebebas-bebasnya agar kreativitas dapat tumbuh dalam pikiran mereka.” Itulah harapan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang disampaikan dalam puncak perayaan HARDIKNAS 2010,

Kita semua berharap, visi Kementerian Pendidikan Nasional yang terangkai dalam Rencana Strategis Kemendiknas 2010-2014 , yakni terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional untuk membentuk insan Indonesia cerdas komprehensif, dapat terwujud dan kita nikmati bersama.

Yang dimaksud dengan layanan prima pendidikan nasional adalah layanan pendidikan yang:

(1) tersedia secara merata di seluruh pelosok nusantara;

(2) terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat;

(3) berkualitas/bermutu dan relevan dengan kebutuhan kehidupan bermasyarakat,

dunia usaha, dan dunia industri;

(4) setara bagi warga negara Indonesia dalam memperoleh pendidikan berkualitas dengan memperhatikan keberagaman latar belakang sosial-budaya, ekonomi,

geografi, gender, dan sebagainya; dan

(5) menjamin kepastian bagi warga negara Indonesia mengenyam pendidikan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat, dunia usaha, dan dunia industri.

Untuk mencapai visi Kemendiknas 2014, Misi Kemendiknas 2010-2014 dikemas dalam ”Misi 5K” sebagai berikut.

(1) Meningkatkan Ketersediaan Layanan Pendidikan

(2) Meningkatkan Keterjangkauan Layanan Pendidikan

(3) Meningkatkan Kualitas/Mutu dan Relevansi Layanan Pendidikan

(4) Meningkatkan Kesetaraan dalam Memperoleh Layanan Pendidikan

(5) Meningkatkan Kepastian/Keterjaminan Memperoleh Layanan Pendidikan

Akhirnya, yang kita perlukan adalah sikap optimis bahwa ke depan pendidikan di Indonesia semakin baik dan menarik. Hingga anak-anak bangsa ini semakin tertarik untuk menikmatinya. Education for All. Education for Future.

* * *

*) Penulis adalah penjaga kantin sekolah dasar.

**) Mr. Kobayashi adalah kepala sekolah Tomoe Gakuen, sekolah dasar di Jepang yang hidup antara 1936-1945, dan menjadi inspirasi salah satu alumninya, Tetsuko Kuroyanagi. Tetsuko menuliskan kenangannya selama sekolah di Tomoe Gakuen ke dalam sebuah buku Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela, salah satu buku terlaris sepajang masa dan dicetak dalam berbagai bahasa.

Referensi:

1) “Reformasi Pendidikan Harga Mati” Koran Duta Masyarakat. Rabu, 12 Mei 2010.

2) “Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela” Tetsuko Kuroyanagi. Penerbit Gramedia. Tahun 2009.

3) “Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasonal 2010-2014” http://www.diknas.go.id/

Pariwisata Indonesia

Posted by Wenie Martin Dahlia On May - 18 - 2010 ADD COMMENTS

Raja Ampat (Source: Indonesia.Travel)

Keputusan Presiden No 38 Tahun 2005 mengamanatkan bahwa seluruh sektor harus mendukung pembangunan pariwisata Indonesia. Amanah tersebut sangat mendukung pembangunan pariwisata dan menguntungkan pariwisata Indonesia. Bahkan, pemerintah sudah mencanangkan bahwa pariwisata harus menjadi andalan pembangunan Indonesia.

Mengapa pemerintah mencanangkan demikian?

Hal tersebut karena Indonesia memiliki sekitar 17.504 pulau dan diantaranya terdapat sekitar 6.000 yang tidak berpenghuni. Pulau-pulau di Indonesia menyebar sekitar katulistiwa dan memberikan cuaca tropis. Setiap pulau memiliki potensi masing-masing. Keindahan pegunungan, lautan, langit, dan berbagai hal lainnya dapat kita temukan di Indonesia.

Kebijakan yang dikeluarkan tersebut memberikan beberapa implikasi bahwa perlu adanya pembenahan yang menyeluruh di berbagai sektor. Namun tentunya agar lebih efisien dan efektifnya pembangunan kepariwisataan tersebut diperlukan suatu platform pembangunan pariwisata yang berorientasi kepada tren kepariwisataan global masa kini dan masa depan.

Berdasarkan sumber data yang saya peroleh, dijelaskan bahwa tren pariwisata tahun 2020, perjalanan wisata dunia akan mencapai 1,6 milyar orang. Diantaranya 438 juta orang akan berkunjung ke kawasan Asia-Pasifk, dan 100 juta orang ke Cina. Melihat jumlah wisatawan yang sedemikian besar, maka Indonesia dapat menawarkan segala daya tariknya untuk mendatangkan wisatawan dan merebut pangsa pasarnya. Dengan perolehan sebesar USD 4, 496 miliar pada tahun 2002, penerimaan devisa dari pariwisata Indonesia baru memperoleh 0,95 % dari pengeluaran wisatawan dunia (USD 474 miiiar).

Angka tersebut masih dinilai sangat kecil. Namun demikian dengan pulihnya perekonomian Indonesia, serta semakin baiknya kondisi keamanan dan politik nasional, wisatawan internasional ke Indonesia diperkirakan akan mencapai 10 juta orang pada tahun 2009 dengan perolehan devisa mencapai lebih dari USD 10 miliar.

Selain wisatawan mancanegara, wisatawan domestik pun (dalam negeri, atau nusantara) diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sejalan dengan semakin meningkatnya rata-rata pendapatan masyarakat.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2004-2009 menjelaskan bahwa salah satu sasaran untuk meningkatkan sektor non-migas adalah dengan meningkatkan kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa menjadi sekitar USD 10 miliar pada tahun 2009, sehingga sektor pariwisata diharapkan mampu menjadi salah satu penghasil devisa besar. Berdasarkan hal tersebut, maka kebijakan pembangunan kepariwisataan diarahkan untuk meningkatkan efektivitas pemasaran melalui kegiatan promosi dan pengembangan produk-produk wisata serta meningkatkan sinergi dalam jasa pelayanan pariwisata.

Dengan jumlah wisman yang masih relatif rendah dan dengan potensi wisata yang jauh lebih besar dan beragam dibanding dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand, sesungguhnya Indonesia memiliki peluang cukup besar untuk menarik lebih banyak lagi wisatawan mancanegara. Apalagi dalam tahun belakang ini telah terjadi perubahan consumer behaviour pattern atau pola konsumsi dari para wisatawan ke jenis wisata yang lebih tinggi. Yaitu menikmati produk atau kreasi budaya (culture) dan peninggalan sejarah (heritage), serta nature atau eko wisata dari suatu daerah.

Sebagai negara yang sarat dengan sejumlah besar peninggalan sejarah, kekayaan atraksi budaya yang sangat beragam dan unik, natur maupun ekowisata yang tersebar di hampir seluruh pelosok nusantara, peluang Indonesia untuk menjadi daerah tujuan wisatawan mancanegara menjadi semakin besar. Adanya kebijakan-kebijakan baru pemerintah dibidang kepariwisataan telah menimbulkan rasa optimisme dari pemerintah baik pusat maupun daerah, serta para swasta dalam pengembangan pariwisata mancanegara.

Secara umum daya saing yang perlu ditingkatkan untuk memacu pertumbuhan pariwisata nasional mencakup tiga aspek yaitu:

1. Daya saing negara termasuk di dalamnya organisasi pariwisata nasional dan kualitas SDM nya;
2. Daya saing masyarakat termasuk didalamnya nilai-nilai yang dimiliki masyarakat dalam menyikapi kepariwisataan;
3. Daya saing unit bisnis kepariwisataan termasuk didalamnya keandalan dalam mengantisipasi keinginan wisatawan yang semakin bertambah.

Bagi wisatawan, ancaman teror sangat diperhitungkan dalam rencana liburan mereka sebagaimana kelimpahan cahaya sinar matahari. Promosi yang sudah dilakukan hanya berupa informasi yang sporadis. Kita ketinggalan dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand. Seluruh pihak di pemerintahan harus lebih proaktif dalam mempromosikan, bahkan kepulauan terbesar di dunia masih belum siap mempromosikan pariwisata maritim, karena hanya memiliki 2 marinal.

Indonesia adalah negara besar dan pemerintah perlu menunjukkan bahwa Bali ada di Indonesia, bukan sebaliknya. Kerjasama diantara pelaku kepariwisataan , baik pemerintah pusat, daerah dan pihak swasta masih dirasakan belum selaras dan optimal. Terutama pada hal-hal yang strategis dalam aktivitas promosi Luar Negeri, antara lain dalam hal sosialisasi kebijakan, koordinasi dan implementasinya. Hal ini menyebabkan kurang sinergisnya instansi lintas sektoral maupun antar stake holders. Hal tersebut bisa mengganggu dan menghambat kelancaran program promosi yang diharapkan.

Alam memiliki keindahan yang sangat tinggi nilainya. Ketika Indonesia berusaha untuk memajukan sektor pariwisata akan membuat nilai Indonesia semakin tinggi di mata dunia. Setiap manusia menghargai keindahan. Pariwisata dan segala keindahan alam yang telah dianugerahkan di tanah ibu pertiwi harus kita lestarikan dan kita manfaatkan untuk memajukan Indonesia. Bahkan, hal ini dapat memulihkan kondisi perekonomian Indonesia.

Sistem Pendidikan Keblinger

Posted by matdaoz On May - 17 - 2010 1 COMMENT

Keblinger,, mungkin itu sebuah kata yang tepat mendeskripsikan situasi pendidikan di Indonesia saat ini. Bagaimana tidak, bisa kita lihat kualitas pendidikan yang secara mayoritas masih dibawah standar meskipun memang masih ada siswa/i negeri ini yang mampu meraih prestasi di tingkat dunia dengan memenangkan berbagai kejuaraan baik itu Fisika, Matematika dan sebagainya, tapi hal itu tidak cukup menjadi parameter baiknya kualitas pendidikan di negeri ini. Berbagai upaya dijalankan guna mengerek tingkat kualitas pendidikan di negeri tercinta ini namun masih belum cukup juga dan belum ada hasil yang memuaskan. Seiring pergantian periode menteri pendidikan tak juga ada perubahan signifikan, bahkan ada kesan sistem pendidikan mengikuti siapa orang yang menjabat sebagai menterinya. Ganti periode jabatan menteri pendidikan berganti pula sistem pendidikan yang diberlakukan dan seperti yang sekarang ini kita lihat mayoritas hasilnya, malah dilihat dari perbandingan kelulusan baik tingkat SMP dan SMA tahun sebelumnya tahun ini mengalami peningkatan tingkat ketidak lulusan siswa dan mencerminkan penurunan kualitas secara nasional. Belum lagi fenomena kerusuhan antar pelajar dan pergaulan bebas yang kian hari semakin kronis padahal mereka adalah penerus generasi negeri ini,, well.. kalau boleh pakai jargon, cocoknya : ”Apa kata dunia !!”. Pendidikan merupakan pilar penting dalam perkembangan peradaban manusia, dengan ilmu pengetahuan perbaikan hidup dan kesejahteraan dapat digapai. Lalu bagaimana jika pendidikan itu tidak berjalan??? Bisa kita bayangkan… dan bagaimana dengan sistem pendidikan yang sekarang ini berjalan, apakah sudah sesuai untuk memajukan mutu pendidikan itu sendiri? Bisa dilihat relitasnya dalam kehidupan sehari-hari, berapa banyak sarana pendidikan yang sudah tak layak guna baik di kota apalagi di pedesaan padahal itu merupakan tanggung jawab pemerintah dalam menjamin kelangsungan pendidikan bagi masyarakatnya guna mencerdaskan kehidupan warganya toh?? Belum lagi tindakan men-swastanisasikan pendidikan lewat UU BHP yang belakangan memang sudah dihapuskan namun itu merupakan satu bentuk ketidak berpihakan pemerintah terhadap pendidikan warganya dan salah satu bentuk liberalisasi pendidikan,, belum lagi mahalnya biaya pendidikan yang memang bukan cerita lagi, hanya orang ber’duit’ yang bisa sekolah.. sekarang ini tidak ada jaminan mutlak dari pemerintah bagi warga negaranya meskipun hanya untuk mencicipi rasanya pendidikan formal bagi ”the lower class”… Mau di bawa kemana pendidikan yang merupakan pilar negeri ini wahai para pemimpin? Tidakkah kalian lupa bahwa kalian akan dimintai pertanggung jawaban di hari perhitungan nanti? Ataukah kalian telah lupa bahwa hari pengadilan itu benar adanya?

Buat Ibu Pertiwi Tersenyum dengan Memajukan Pendidikan

Posted by Wenie Martin Dahlia On May - 17 - 2010 ADD COMMENTS

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbagi dalam 33 provinsi. Ibukota Indonesia adalah Jakarta, suatu kota yang terletak di Pulau Jawa. Bisa kita lihat bahwa jarak antara kota yang satu dan kota lain yang berbeda pulau tidaklah mudah untuk ditempuh. Mungkin perbedaan jarak dan sulitnya menjangkau kota yang satu dengan yang lain, memberi banyak pengaruh terhadap berbagai aspek, termasuk aspek pendidikan Indonesia. Ketika kita berbicara tentang pendidikan Indonesia, tidak sedikit masyarakat yang mengatakan bahwa kita termasuk negara yang tertinggal dalam hal pendidikan. Apakah itu benar?

Dahulu kala, ketika Belanda menjajah Indonesia, di negara kita didirikan berbagai jenis sekolah, seperti ELS (Eurospeesch Lagere School), Sekolah Bumi Putera, Sekolah Desa, dan HBS (Hogere Burger School). Waktupun terus berputar hingga akhirnya Indonesia dapat meraih kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Kemerdekaan membawa perubahan dalam berbagai aspek, sistem pendidikan di Indonesia juga turut berubah.

Beberapa tahun yang lalu, di Indonesia terdapat berbagai jenis sekolah, seperti SMEA (Sekolah Menengah Tingkat Atas), SPG (Sekolah Pendidikan Guru), dan STM. Sekolah-sekolah tersebut merupakan bentuk sekolah vokasi. Namun, tidak lama kemudian terjadi penyederhanaan sehingga hanya terdapat SMA dan SMK. Seiring berjalannya waktu, nama SMK seolah-olah menjadi lenyap dan kurang diminati oleh banyak masyarakat. Akibatnya, di daerah-daerah banyak berlangsung pembangunan SMA, SMK sudah sangat jarang terdengar.

Lalu bagaimana dengan sistem pendidikan Indonesia saat ini? Apakah pemerintah sudah mampu memberikan yang terbaik untuk rakyatnya?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita lihat pendidikan di Amerika, di negara maju tersebut terdapat kurikulum terintegrasi (integrated curriculum), metode mengajar yag berpusat pada siswa (student centered teaching method), pengajaran atas dasar kemampuan dan minat individu (individualized instruction), dan sekolah alternatif.

Lalu, bagaimana dengan negara maju lainnya seperti Cina? Cina membagi pendidikannya ke dalam empat sektor, yaitu basic education, technical and vocational education, higher education, dan adult education. Bahkan, pemerintahnya juga menyediakan pendidikan prasekolah yang materinya meliputi permainan, kegiatan kelas , olah raga, aktivitas sehari-hari serta pekerjaan fisik.

Kemudian, bagaimana dengan Indonesia? Apakah pemerintah perlu merasa “iri” dengan segala kemajuan pendidikan di negara lain?

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum pendidikan yang berkembang di Indonesia. Kalau kita tinjau dari konsep pengadaan kurikulum tersebut, kurikulum kita tidak kalah dengan kurikulum yang diterapkan di negara-negara maju lain, seperti Amerika. Akan tetapi, yang terjadi di negara kita adalah sangat sulit untuk menerapkan seperti apa yang telah dikonsepkan. Dalam penerapan kurikulum tersebut, banyak terjadi ketidaksesuaian. Mungkin pemerintah sering mengadakan studi banding terhadap pendidikan di negara lain. Akan tetapi, pemerintah juga harus melakukan studi banding di dalam negeri. Pemerintah dapat melihat langsung kondisi dan kemampuan masyarakat sehingga pemerintah dapat menerapkan suatu kurikulum yang asli Indonesia yang benar-benar sesuai untuk digunakan di Indonesia sehingga dapat menjawab keinginan bangsa Indonesia akan pendidikan.

Penerapan yang tidak sesuai dengan konsep juga terjadi pada pengadaan sekolah gratis. Padahal, apabila subsidi dan pengadaan sekolah gratis bisa berjalan sebagaimana mestinya, pasti rakyat Indonesia yang tidak mempunyai biaya pendidikan bisa mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak, seperti yang telah diatur dalam UUD 1945.

Lalu, Mengapa pendidikan di negara kita sangat jauh dari kata “baik” (menurut hasil survey penulis terhadap beberapa teman-teman penulis) ?

Apakah persoalan sarana prasarana pendidikan yang tidak memadai merupakan suatu masalah untuk pendidikan Indonesia? Banyak masyarakat yang mengatakan bahwa pemerintah sangat tidak adil terhadap pendistribusian segala hal di bidang pendidikan, sebut saja penyebaran tidak merata. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai untuk menunjang berlangsungnya sistem pendidikan. Namun, terdapat juga sekolah yang fasilitasnya sudah memadai, tetapi sekolah tersebut tidak dapat memaksimalisasikan fungsi dari fasilitas penunjuang pendidikan tersebut.

Bagaimana dengan kondisi guru di Indonesia? Beberapa tahun ini, setiap tahun di negara kita selalu diadakan ujian nasional. Apa permasalahannya? Menurut survey, banyak oknum pendidikan yang seolah-olah menjadi contoh untuk memperburuk moral bangsa. Hal tersebut terjadi karena banyaknya oknum pendidikan terutama guru yang bersifat komersial. Banyak sekolah-sekolah yang menghalalkan banyak cara (termasuk yang negatif) hanya untuk meningkatkan grade sekolahnya.

Apakah yang harus dilakukan pemerintah? Kenyataannya, hal yang paling sulit dilakukan adalah mengubah moral atau perilaku seseorang. Mungkin, yang dapat dilakukan pemerintah adalah menerapkan sanksi tegas untuk setiap pendidik yang melakukan tindak kecurangan. Pemerintah juga harus menerapkan standar yang tinggi untuk seorang pendidik. Misalnya, seorang pendidik diwajibkan memiliki gelar minimal S-1. Bahkan, pemerintah bisa mengadakan ujian tertulis dan praktek mengajar untuk setiap calon guru agar mendapat sertifikat. Saya rasa hal tersebut sudah berlangsung di negara kita, tetapi pelaksanaannya kurang maksimal. Masih terdapat “kebocoran-kebocoran”.

Banyak mahasiswa yang berpendapat bahwa mereka menginginkan pendidikan yang terfokus. Kami belajar untuk hidup, untuk masa depan, bukan hanya untuk saat ini. Kami semua para pelajar dan mahasiswa membutuhkan seorang pendidik, bukan pengajar. Karena kenyataannya yang ada saat ini hanyalah oknum pengajar, bukan pendidik. Pendidikan seharusnya tidak menuntut kami untuk selalu menerapkan Study Oriented. Sebab, pada kenyataannya yang dibutuhkan di dunia kerja, di dunia nyata adalah sebuah penerapan (praktek).

Seperti perkataan seorang teman saya, Gabriel Evod, “Belajar itu gak semua kita dapet dari guru, dites, dapet NILAI, terus dapet rangking, terus dibilang jadi yang terbaik. Semua ga guna kalo terpaksa, karena akar dari belajar itu adalah kesenangan. Kita ga bisa memilih sesuatu yang kita gak suka untuk kita pelajari.”

Lalu bagaimana supaya belajar itu bisa menyenangkan? Semuanya akan menyenangkan apabila kita melakukan sesuatu sesuai dengan minat kita. Bagaimana supaya masyarakat sasaran pendidikan bisa lebih terfokus dalam menempuh pendidikannya?

Apakah pemerintah harus berusaha mengembangkan sekolah vokasi, seperti SMK? Kesalahannya adalah ketika kita mengganggap SMK tidak lagi berarti dan SMA semakin populer. SMK dan SMA harus sama-sama dikembangkan, sebab itu merupakan pilihan. Mengapa banyak yang tidak berminat ke SMK? Ini semua sebagian besar mungkin karena masalah gengsi dan alur kehidupan. Kondisi SMK yang tidak lagi dikembangkan dan minimnya jumlah SMK, membuat SMK seolah-olah menjadi tidak begitu bermakna. Banyak orang yang memiliki gengsi tinggi, hal tersebut membuatnya lebih memilih SMA, mengapa demikian? Apakah duduk di bangku SMK merupakan hal yang menimbulkan rasa malu? Pemerintah perlu melakukan pembenahan untuk pengembangan SMK supaya masyarakat yang ingin mendapatkan pendidikan yang langsung sesuai dengan bidangnya bisa mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya.

Dilain sisi, di bangku sekolah, seperti SMA terlalu banyak pelajaran yang harus dipelajari, padahal pelajaran tersebut bisa diminimalisasi dan menjadikan beberapa pelajaran menjadi kategori pelengkap atau pilihan (tidak memaksa) sehingga pelajar atau mahasiswa akan menjadi lebih fokus dalam menempuh pendidikannya.

Namun, masalah pendidikan Indonesia juga disebabkan oleh sasaran pendidikan (yaitu pelajar atau mahasiswa). Banyak di antara mereka yang cenderung tidak suka belajar, mereka asik dengan dunianya sendiri sehingga menganggap pendidikan tidak penting. Di sini lah peran orang tua dan lingkungan terdekat sangat diperlukan. Dengan kolaborasi, kerja sama, dan semangat semua komponen penduduk Indonesia, saya yakin kita bisa membawa pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.

Intinya semua perubahan butuh proses dan proses yang harus ditempuh tidaklah mudah. Akan tetapi, bukan berarti tidak mungkin. Pemerintah bisa berusaha sedikit demi sedikit untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Ayo, kita buat ibu pertiwi tersenyum dengan memajukan pendidikan !

Dirgahayu Indonesia, Dirgahayu Tanah Airku

65 tahun silam… Tepat pukul 10.00 pagi, 17 Agustus 1945.. Tertulislah sejarah bangsa Indonesia di kanvas kehidupan. Diiringi... 

ITSF AWARD 2010

ITSF AWARD 2010 telah dimulai Indonesia Toray Science Foundation mengajak ahli ilmu pengetahuan, peneliti, dan guru SMA bidan... 

Kido/Hendra Raih Gelar Internasional

Ganda putra peringkat empat dunia Markis Kido/Hendra Setiawan meraih gelar pertama mereka dalam turnamen internasional pada... 
Indonesia, Juara Essay Competition 2010 World Bank!

Indonesia, Juara Essay Competition 2010 World Bank!

Indonesia kembali menorehkan namanya di dunia internasional. Kali ini melalui International Essay Competition 2010 yang diselenggarakan... 

TAG CLOUD

POPULAR

  • Dukung Indonesia Berprestasi

    Indonesia Berprestasi
  • Indonesia Berprestasi on Facebook!

  • Indonesia Berprestasi Didukung dan Mendukung: