Gesang: Maestro Keroncong dari Solo

Posted by Franova On March - 8 - 2010 3 COMMENTS

Gesang-Album Keroncong Asli (2008)

Tak banyak penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa menjadi legenda di masyarakat. Satu dari yang sedikit itu, ialah maestro keroncong asal Solo, Gesang Martohartono, pencipta lagu Bengawan Solo. Sebuah lagu keroncong yang menyeberangi lautan. Lagu yang sangat digemari di Jepang. Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. Lagu yang telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia. Dan, tak banyak

pula dari penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa bertahan hingga usia 85 tahun. Gesang bahkan telah membuktikan bahwa dalam usianya yang ke-85 tahun, masih mampu merekam suaranya. Rekaman bertajuk Keroncong Asli Gesang itu diproduksi PT Gema Nada Pertiwi (GMP) Jakarta, pada September 2002.

Sudah empat kali PT GMP memproduksi album khusus Gesang, yaitu pada tahun 1982, 1988, 1999, dan tahun 2002. Dari 14 lagu dalam rekaman compact disk (CD), enam di antaranya merupakan lagu yang belum pernah direkam. Yaitu Seto Ohashi”tahun 1988, Tembok Besar”tahun 1963, Borobudur”tahun 1965, Urung”tahun 1970, Pandanwangi”tahun 1949, dan Swasana Desa”tahun 1939. Selebihnya lagu-lagu lama karya Gesang, seperti Sebelum Aku Mati, Pamitan dan tentu saja Bengawan Solo.

Yayasan Peduli Gesang (YGP) wadah sejumlah warga Jepang yang memiliki penghormatan khusus pada Gesang, dan mereka menghimpun dana untuk membantu kehidupan Gesang. Sebagian dari mereka adalah orang Jepang yang berusia di atas 80 tahun, karena pada masa perang dahulu sudah mengagumi lagu Bengawan Solo. Mereka berasal dari Pulau Shikoku, Yokohama yg diketuai oleh Ny. Yokoyama Kazue (55 tahun). Ny. Yokoyama mengaku, sebenarnya ia hanya melanjutkan usaha mendiang Hirano Widodo, salah seorang warga Jepang yang tinggal di Klaten sebagai pengagum Gesang. “Saya sudah telanjur berjanji pada Pak Hirano tatkala beliau dirawat di rumah sakit”, tutur Ny Yokoyama. Ia bahkan mengaku, sebelumnya tidak mengenal Gesang.

Menyebut kekaguman terhadap Gesang sebagai sebuah legenda, rasanya tidak adil tanpa menyebut peran PT Gema Nada Pertiwi yang dipimpin Hendarmin Susilo 57 tahun. “Saya termasuk warga keturunan, tetapi saya cinta negeri ini, dan menyukai lagu-lagu daerah di sini seperti gending, degung, lagu-lagu Tapanuli, terutama keroncong”, ungkapnya. Hendarmin mengaku, kecintaannya pada musik keroncong seperti sudah mendarah-daging, dan karena itu ia siap berkorban. Ia juga menghormati Gesang, bahkan telah menganggapnya sebagai orangtua nya. Kalau bukan berdasar rasa kagum dan penghargaan yang mirip mitos, rasanya memang tak masuk akal sebuah perusahaan rekaman memproduksi album rekaman musik keroncong. “Apalagi di masa sulit sekarang ini”, kata Hendarmin. “Memang banyak teman Asiri yang menyebut saya gila”.

Hendarmin juga menyebutkan, sebenarnya bukan hanya kalangan masyarakat Jepang yang mengagumi Gesang. Nama Gesang dengan “Bengawan Solo” nya juga cukup dikenal pula di daratan Tiongkok. Dalam kaitan itu ia menyebut jasa Bung Karno yang pada masa lalu sering membawa misi kesenian ke RRC dan negara Asia Tenggara yang lain.

Bengawan Solo masuk ke Jepang untuk pertama kali sekitar setengah abad yang lalu di kala masa perang. Pada waktu tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, lagu itulah yang dari radio terdengar secara luas di kalangan serdadu Jepang serta orang-orang Jepang yang berada di sini.

Gesang datang pada festival salju Sapporo atas undangan himpunan persahabatan Sapporo dengan Indonesia pada tahun 1980, untuk pertama kali. Setelah itu telah berkali-kali datang ke Jepang atas undangan himpunan persahabatan Jepang. Demikianlah pagelaran keroncong berlangsung di Jepang untuk pertama kali dengan membawakan lagu Bengawan Solo. Melalui Gesang dan musik keroncong, orang menjadi sadar bahwa musik adalah sesuatu yang mutlak perlu bagi persahabatan dan perdamaian dunia. Lebih-lebih lagi, berkat kerendahan hati Pak Gesang, kepribadiannya telah membawa keakraban dan kehangatan bagi orang Jepang. Berkat kunjungannya ke Jepang, keroncong telah mengalami boom secara diam-diam. Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. Bengawan Solo yang melintasi batas negara, dengan memperkayakan hati manusia telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia. (Ensiklopedia Tokoh Indonesia)

Sahabat Para Petani

Posted by gundulucu On March - 6 - 2010 ADD COMMENTS

Artikel ini adalah kutipan dari acara Metro TV program Zero to Hero dengan episode Sahabat Para Petani.

Kita tahu bahwa petani merupakan salah satu pekerjaan di Negara kita yang berjasa menyediakan pangan bagi presiden dan semua rakyat. Namun apakah kita tahu bahwa petani jugalah yang memiliki kesejahteraan dan kemakmuran yang tergolong kecil. Adalah H. Sakaruddin yang mempunyai prestasi mengubah keadaan dengan menambah pendapatan petani sampai 7 kali lipat lebih baik dari masa lalu. Prestasi itu didapat dari pengembangan teknologi tepat guna pada pertanian dan perkebunan di pedesaan. Teknologi tepat guna ini berhasil mengolah bahan baku seperti Jagung, pisang, ketela dan lain-lain menjadi produk setengah jadi berupa keripik atau tepung.

Beliau bernama H. Sakaruddin, pemuda pelopor asal Sulawesi Tengah lulusan Universitas Taoulako – Palu. Beliau memulai perjalanan hidup menjadi pegawai sekaligus mahasiswa pada Universitas Taoulako pada tahun 1980. Ketika itu sambil kuliah dan bekerja, iya belajar mandiri di luar kampus tentang teknologi tepat guna selama 6 tahun lalu lulus sebagai Sarjana dan melanjutkan belajar mandiri tentang teknologi tepat guna tersebut sampai 1989. Selama masa belajar tersebut, ia menghabiskan sekitar 600 buku teknologi pengolahan hasil pertanian dan hasil perkebunan. Sampai pada akhirnya dia mengajar kecil-kecilan pada masyarakat untuk mengaplikasikan teknologi tepat guna pada kehidupan sehari-hari. Sehingga banyak institusi sosial yang tertarik untuk mengundang dia untuk mengajar lalu banyak undangan dari desa-desa lain untuk mengajar  tanpa dibayar apa-apa.

Semangatnya berlanjut dengan membuat pusat pelatihan kecil-kecilan beratap rumbai dan berdinding bilah bambu. Pusat pelatihan hasil jerih payah sendiri ini bertahan 19 tahun dengan kegiatan latihan bertempat  di teras dan garasi mobil di bangunan sederhana tersebut. Sampai pada akhir tahun 1990, pusat pelatihan binaan H. Sakaruddin ini mendapat bantuan dari swadaya masyarakat dan Bank Rakyat Indonesia untuk mendirikan sebuah lembaga pelatihan resmi bernama LPTTG Serenindi – Sulawesi Selatan. Pelatihan ini mengajarkan para petani untuk memberi nilai tambah pada hasil bumi menjadi aneka produk seperti tepung beras, kerupuk tortilla dan lain2. Tahun 2000 minat LSM dan pemerintah daerah semakin besar dengan mendukung terbetuknya LPTTG yang lebih baik, sehingga berdiri LPTTG Malindo – Sulawesi Selatan pada tahun 2003.

Prestasinya tercermin dari 2 cerita berikut. Cerita pertama adalah pada Kabupaten Ngada di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Seluruh 21 Kabupaten termasuk ke golongan daerah tertinggal. Namun hal itu berubah dengan Kab. Ngada yang mendengar kiprah H. Sakaruddin dan mengirim 100 orang ke LPTTG Malindo untuk belajar membuat chips jagung.  Atas jasanya Piet Jos Nuwa Wea, bupati Ngada, menyebutkan bahwa, “Jagung yang diproduksi oleh Kabupaten Ngada berjumlah 25-26 ton setahun. Dengan harga jual 1500-2000 rupiah per kg. Tetapi jagung tersebut dapat dirubah menjadi produk lebih bermutu dengan nilai tambah minimal 38.000 rupiah per 3kg atau sekitar 13000 rupiah per kg.“ Atas penyuluhan H. Sakaruddin yang sampai ke pelosok daerah Ngada, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat petani bisa meningkat. Hal itu belum termasuk pengolahan lainnya seperti pengolahan pisang Ngada. 1 pisang Ngada berharga 10.000 rupiah, namun kalau diolah 1 pisang bisa menjadi = 50.000 rupiah. Sehingga rakyat lebih bisa menjangkau jasa kesehatan dan jasa pendidikan dengan hasil bumi daerah sendiri beliau menambahkan.

Cerita kedua adalah berawal dari Antonius Billy, seorang preman yang berubah 180 derajat menjadi petani pembuat tortilla dari jagung di Sumba Barat Daya – NTT. Antonius terinspirasi dari penyuluhan dan pelatihan yang diberikan H. Sakaruddin. Antonius berkata,“ Saya tinggalkan semua yang kurang bagus dan saya mulai bertekun membuat Tortilla ini.” Hal ini diakui pemerintah Sumba Barat Daya sangat membantu perekonomian rakyat dari hasil produksi pertanian sendiri. Jagung yang semulanya hanya bisa diproduksi sebagai jagung bahan baku sebanyak 4 kg per hari bisa dirubah menjadi barang setengah jadi berupa keripik tortilla sebanyak 6 kg per hari. Hasil yang didapat pun sangat memadai bagi per petani yang mendapatkan omset 300.000 rupiah dan untung 150.000 rupiah per hari. Antonius menambahkan,”Yang saya rasakan betul pelatihan dan teknologi dari pak Sakaruddin ini bermanfaat bagi petani!”

Harapan H. Sakaruddin adalah Pimpinan negara dan Pimpinan daerah bisa menjadikan pedesaan sebagai pusat pertemuan, sebagai pusat kegiatan dan pusat pertumbuhan ekonomi rakyat. Dengan ini bisa dicapai perubahan kemiskinan dan perubahan mindset. H. Sakaruddin berkata,”Kalau semua orang pada lari ke kota, coba bayangkan kapan pedesaan bisa maju? Maka intinya adalah revitalisasi pembangunan pedesaan yaitu cukup menggeser kebijakan dari pusat ke desa. Sehingga desa bisa dicintai semua masyarakat.” Beliau juga berpendapat bahwa pelatihan selama ini sudah ada tapi tidak komprehensif, tidak sistematik dan tidak tuntas. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan H. Sakaruddin mewajibkan ketika rakyat di latih, ada semacam penandatanganan perjanjian kontrak sosial antara H. Sakaruddin (pemberi pelatihan) dengan bupati (yang meminta pelatihan) agar Pimpinan daerah memberikan jaminan pemberian modal, pemberian alat kerja, pemberian izin usaha, bantuan fasilitasi pemasaran kepada para petani. Sampai pada saat ini ada tidak kurang 60 Bupati yang datang untuk menandatangani kontrak sosial Malindo.

Saat ini H. Sakaruddin dengan Lembaga Pelatihan Teknologi Tepat Guna Malindo terus berupaya meningkatkan kesejahteraan petani. Selama 23 tahun usahanya, beliau telah melatih sekitar 2000 petani dari 164 kota dan kabupaten di kawasan Timur Indonesia.

Juga tersedia link untuk menonton video tentang H. Sakaruddin pada link dibawah :

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsprograms/2010/03/01/4835/230/Sahabat-Para-Petani

Temukan Rumus Angka Piramida, Remaja RI Disorot Media Jerman

Posted by agungfirmansyah On February - 25 - 2010 2 COMMENTS

Berlin – Seorang remaja Indonesia Ibrahim Handoko (15) mencuri perhatian media-media di Jerman. Ibrahim berhasil memformulasikan persamaan untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak terbatas.

Ibrahim, remaja santun yang juga aktif di berbagai kegiatan masjid ini mengundang decak kagum dari para pengajarnya di Jerman.

Seperti yang dilansir dari situs berita jerman www.derwesten.de, Kamis (25/2/2010) guru matematika dan pembimbing Ibrahim, Michael Wallau mengatakan muridnya adalah seorang yang luar biasa.

“Ini adalah temuan yang luar biasa bagi seorang remaja berusia 15 tahun, terlebih lagi ia menyelesaikan persamaan ini hanya disela-sela waktu luangnya,“ ujar Wallau pada derwesten.de.

Pada awalnya, Ibrahim hanya berniat membantu adik perempuannya menyelesaikan tugas sekolah tentang piramida. Persoalan ini pada intinya adalah menghitung jumlah angka pada elemen teratas suatu piramida.

Biasanya, persoalan ini diselesaikan dengan cara menjumlahkan satu persatu angka di setiap elemen penyusun paramida sehingga ditemukan jumlah total dalam piramida tersebut. Dengan rumus temuan Ibrahim, persoalan ini bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat tanpa harus menghitung satu persatu.

Berkat penemuannya ini, Ibrahim menjadi salah satu nominasi peneliti remaja terbaik tahun 2010 di Jerman. Selain itu, putra pasangan Bapak Budi Handoko dan Ibu Nuningsih ini, juga terpilih sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili distriknya dalam olimpiade matematika di tingkat negara bagian.

*) Priyanto adalah Mahasiswa S3 Universität Duisburg-Essen Jerman
Sumber: detik

Brian Arfi Faridhi, Juara Wirausaha Muda 2009

Posted by indonesiaberprestasi On February - 2 - 2010 1 COMMENT

84403_brian_arfi_faridhi__pemenang_wirausaha_mandiri_300_225SURABAYA POST - Bisnis yang berhubungan dengan internet masih jadi primadona. Selain pasar masih terbuka lebar, modal yang diperlukan pun tidak terlalu besar.

Inilah yang menjadikan banyak pebisnis pemula getol mendalami bisnis ini. Salah satunya Brian Arfi Faridhi, mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya.

Keberhasilannya dalam bisnis inipun tak main-main. Selain mampu menjalankan bisnisnya di tengah persaingan yang sangat ketat, pemuda kelahiran 1986 ini mampu membuktikan bahwa dirinya adalah salah satu mahasiswa yang paling sukses dalam berbisnis. Ini dibuktikan dengan merengkuh gelar juara pertama kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2009.

Melalui perusahaan pengembangan web miliknya, PT DheZign Online Solution, pemuda yang menikah di usia sangat muda ini berhasil menyingkirkan sekitar 1.700 orang pesaing untuk merebut gelar juara pertama kategori kreatif. Perusahaan pengelola web ini mampu membukukan omzet Rp 559 juta tahun lalu. Inilah yang menjadi salah satu pertimbangan dewan juri memilihnya.

Diakui, bisnis yang digelutinya sekarang bukanlah bisnis pertama yang dijalankan suami Juanita Vyatri tersebut. Setidaknya sudah sembilan bisnis yang diterjuni bapak tiga anak ini. “Dan semuanya gagal total,” ujarnya sambil terkekeh ketika ditemui di kampusnya, Senin 1 Februari 2010.

Dia mengaku tidak menyerah meskipun banyak bisnisnya tersungkur. “Ya itulah risiko berbisnis, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita bangkit,” ujar pria yang pernah berjualan parfum, burger, jus buah hingga pentol ini.

Brian kini sedang mengembangkan bisnisnya ke arah yang lebih menjanjikan. “Pasar bisnis online memang sedang berkembang pesat dan kini kami sedang mempersiapkan itu untuk dikembangkan,” ujarnya. Selain pengembangan dan pengelolaan web, Brian juga sedang mengembangkan toko online yang menjual pernak-pernik muslim.

Denny Sagita

Sumber: VIVANews

Alanda Kariza – Program Director Indonesian Youth Conference

Posted by indonesiaberprestasi On December - 25 - 2009 4 COMMENTS

Alanda Kariza nama panjangnya. Saat ini umurnya masih 18 tahun. Namun, gadis satu ini sudah sangat luar biasa. Ya, dalam usia yang sebelia itu, Alanda telah patut menjadi contoh bagaimana anak muda Indonesia turut bergerak dan berperan aktif dalam kemajuan bangsanya.

Pada usia 14 tahun, Alanda menerbitkan novel pertamanya berjudul “Mint Chocolate Chips”. Selain aktif sebagai penulis, Alanda juga merupakan salah satu pendiri komunitas sosial The Cure For Tomorrow (http://www.thecurefortomorrow.org/) yang memiliki visi untuk membuat lingkungan hidup menjadi sebuah tempat tinggal yang lebih baik. Saat berumur 17 tahun, Alanda pernah mewakili Indonesia dalam “Guildford Forum Global Changemakers (GCGF)” di Inggris yang diikuti oleh remaja dari berbagai belahan dunia. GCGF yang digelar British Council tersebut bertujuan menggalang jejaring global bagi remaja yang aktif dalam membuat perubahan di negerinya.

Kali ini, Indonesia Berprestasi berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Alanda dan membicarakan seputar proyek terbarunya, yakni Indonesian Youth Conference (http://indonesianyouthconference.org/), sebuah konferensi remaja nasional pertama di Indonesia yang akan membahas berbagai macam hal, mulai dari lingkungan, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, nasionalisme, kewirausahaan sosial, teknologi informasi, industri kreatif hingga jurnalistik dan media.

Profil Singkat Alanda Kariza

alanda

Nama Lengkap: Alanda Kariza

Nama Panggilan: Alanda

Blog: http://alandakariza.com

Bisa jelaskan apa itu Indonesian Youth Conference secara umum?

Indonesian Youth Conference atau IYC itu adalah konferensi remaja nasional pertama di Indonesia. Konferensi yang akan berlangsung di Jakarta, terdiri dari berbagai macam acara, seperti seminar, workshop, juga outdoor activities lainnya dengan tema yang beragam. Mulai dari leadership, pendidikan, teknologi informasi, industri kreatif, jurnalistik, media, dan lain-lain. Konferensi ini mengundang 33 siswa-siswi SMA dari seluruh propinsi di Indonesia untuk menjadi wakil dalam menyampaikan aspirasi daerahnya. Di IYC, mereka akan diberikan pengetahuan dan keterampilan tambahan melalui workshop serta diminta untuk berbagi ide dengan remaja dari seluruh Indonesia.

Apa yang mendasari pelaksanaan Indonesian Youth Conference?

Berdasarkan sensus tahun 2005, ada sekitar 40 juta penduduk Indonesia yang tergolong dalam usia remaja (15 – 24 tahun). Jumlah ini setara dengan dua kali populasi Australia atau sepuluh kali jumlah penduduk Singapura. Suara 40 juta remaja ini tentu saja akan signifikan jika didengar. Pasti ada dari 40 juta orang tersebut yang memiliki ide-ide brilian untuk masalah-masalah yang sedang dihadapi Indonesia. IYC pun dibentuk dengan tujuan mewadahi para pemuda-pemudi Indonesia untuk bisa berbagi aspirasi serta ide. Karena, di Indonesia memang belum ada yang mewadahi, belum ada parlemen remaja yang dapat mewakili aspirasi para remaja, seperti di Pakistan dan Inggris.

Konsep acaranya seperti apa?

IYC ini insya Allah akan diselenggarakan tanggal 7 – 11 Juli 2010. Pada tanggal 7 – 9 Juli 2010, 33 siswa-siswi SMA dari berbagai propinsi yang telah lolos seleksi akan diberikan pembekalan melalui berbagai macam workshop yang akan membahas mengenai leadership, how to get idea, how to picture idea, how to work with government, dan semua materi yang dirasa akan sangat dibutuhkan oleh para remaja untuk dapat menjadi “sesuatu”. Di hari terakhir pembekalan, mereka akan diminta untuk mempresentasikan proyek yang akan mereka buat nantinya di daerah masing-masing setelah pulang dari Jakarta. Sedangkan, untuk tanggal 10 – 11 Juli 2010, IYC juga berencana untuk membuat acara-acara bagi masyarakat umum, tidak harus diikuti oleh siswa-siswi SMA, yang merasa young on heart boleh ikutan juga :)

Kami ingin sekali mengemas IYC sebagai sebuah kegiatan positif yang fun. Ingin membuat IYC sebagai celebration-nya anak muda Indonesia, tempat di mana mereka bisa didengar dan juga saling mendengar.

Mengapa namanya menggunakan bahasa Inggris “Indonesian Youth Conference” dan bukannya bahasa Indonesia “Konferensi Pemuda Indonesia”?

Banyak yang bertanya mengenai hal ini. Alasannya karena ingin apa yang dilakukan anak-anak muda Indonesia melalui IYC bisa terdengar gaungnya hingga ke luar negeri. Selamai ini kan, Indonesia hanya dipandang sebagai negara penuh bencana alam dan terorisme juga negara yang kaya dengan sumber daya alam tapi gak bisa ngapa-ngapain. Jadi, melalui IYC ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia itu sebenarnya bisa, anak-anak mudanya juga bisa berbuat hal baik untuk kemajuan negara.

Apa follow-up dari IYC?

Berharapnya, setelah IYC, 33 anak-anak dari seluruh Indonesia tersebut dapat melaksanakan apa yang menjadi impian-impian mereka di daerahnya masing-masing dengan keahlian masing-masing. Berharap IYC dapat diadakan setiap tahun dan menjadi penampung aspirasi dari anak-anak muda Indonesia terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia.

* * *

Lebih lanjut tentang Indonesian Youth Conference:

Web: http://indonesianyouthconference.org/

Teknologi Tepat Guna Yunus Puji Wibowo

Posted by agungfirmansyah On December - 16 - 2009 Comments Off

Oleh A Ponco Anggoro

”Ciptakan Pekerjaan daripada Mencarinya”. Slogan ini tertulis pada selembar spanduk besar di ruang tamu rumah Yunus Puji Wibowo di Jalan Sunan Ampel, Desa Sumberejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Slogan itu terus memotivasi Yunus sampai akhirnya cita-citanya terwujud, bahkan meraih sejumlah penghargaan.

Menjadi pengusaha memang dicita-citakan Yunus sejak masih kecil. Saat usianya masih 12 tahun, duduk di Kelas I SMPN 1 Geger, niatnya untuk berusaha sudah mulai dipupuk oleh ibunya.

”Saat itu ayah meninggal dunia. Ibu lalu berpesan agar saya tidak mengandalkan warisan dari ayah,” ungkapnya. Bersamaan dengan pesan itu, Yunus diberi lima ayam oleh ibunya sebagai titik awal agar Yunus memulai usaha.

Setiap hari, saat hendak berangkat ke sekolah, telur yang dihasilkan kelima ayam itu dibawa dan dijualnya di toko jamu yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Selama tiga tahun dia jalani usaha ini. Hasil penjualan telur sepenuhnya untuk membayar uang sekolah.

Yunus memperoleh kepuasan dengan berjualan telur. Apalagi cita-citanya menjadi pengusaha bisa terwujud. Kepuasannya ini yang terus memotivasinya agar bisa menjadi pengusaha saat dewasa kelak.

Namun, seiring bertambahnya usia, niatnya menjadi pengusaha tertunda. Ketika bersekolah di STM PGRI I Madiun, di sela waktu belajarnya dia bekerja di salah satu perusahaan konstruksi di Madiun. ”Saya ikut memasang instalasi listrik di perumahan-perumahan baru,” kenangnya.

Selepas STM, tiga kali dia berpindah-pindah kerja di tiga perusahaan konstruksi di Malang dan Bandung. Dia kemudian menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Taiwan. ”Uang Rp 20 juta yang saya tabung dari hasil kerja selama dua tahun dipakai untuk keperluan itu,” tambahnya.

Meskipun gajinya di Taiwan sekitar Rp 4 juta per bulan, Yunus tidak betah. Hanya selama satu bulan dia bertahan di sana. ”Saya menjadi kuli di pabrik paralon di sana. Tidak betah rasanya disuruh-suruh, bertentangan dengan cita-cita saya menjadi pengusaha,” tuturnya.

Dia lalu pulang ke Indonesia. Namun, karena uangnya sudah habis untuk biaya ke Taiwan, dia memilih bekerja di sebuah perusahaan jasa TKI di Jakarta. Setelah bekerja setahun dan keuangannya kembali pulih, dia baru kembali ke Madiun. ”Saya berniat mewujudkan cita-cita saya yang tertunda,” kata Yunus.

Pabrik kerupuk

Di Madiun, uang yang ditabungnya itu diinvestasikan untuk membuat pabrik kerupuk. Kerupuk dipilih karena mayoritas warga kampungnya bekerja sebagai perajin kerupuk. Lima tahun dijalani, usaha itu tidak juga berkembang. Pembuatan kerupuk yang masih manual menjadi kendala utama usaha rakyat itu.

Yunus pun berangkat ke Surabaya untuk mencari informasi pemotong kerupuk yang bisa mempercepat produksi. Dari Surabaya, dia berangkat ke Tulungagung karena dia mendapat keterangan bahwa ada orang yang bisa memberikan informasi lebih banyak di Tulungagung. ”Karena uang yang dimiliki terbatas, saya sering tidur di masjid di Surabaya dan Tulungagung,” katanya.

Setelah informasi yang diperoleh cukup, dia kembali ke Madiun. Barang-barang bekas, seperti pelek sepeda, rantai, dan kaleng susu, dikumpulkannya untuk dibuat menjadi mesin pemotong kerupuk. Dengan percobaan berulang kali selama satu bulan, mesin baru tuntas dibuat.

”Sempat putus asa karena tidak kunjung berhasil. Kegagalan saat membuat mesin itu malah membuat saya semakin tertantang,” ujar Yunus.

Dalam satu hari, mesin yang rangkanya dari kayu dan pembuatannya menghabiskan dana Rp 5 juta itu bisa memotong satu kuintal kerupuk. Setelah mengetahui cara membuat mesin itu, dia mulai membuat mesin pemotong dengan rangka besi, tidak lagi dengan kayu.

Selain memperbarui rangkanya, kemampuan memotongnya pun ditingkatkan. Jika sebelumnya satu kuintal kerupuk per hari, sekarang bisa dua kuintal setiap dua jam. Mesin juga dimodifikasi sehingga tidak hanya bisa digunakan untuk memotong kerupuk, tetapi juga tempe. Untuk membuat alat yang kemudian dinamakan mesin pemotong kerupuk multiguna ini membutuhkan modal Rp 3,5 juta.

Pada tahun 2008 Yunus mengikutsertakan mesin itu dalam lomba teknologi tepat guna. Di tingkat Kabupaten Madiun, dia menjadi satu-satunya peserta dan di tingkat provinsi dia meraih juara kedua.

Setelah itu, mesin ciptaannya mulai dikenal. Dia pun mulai diikutsertakan dalam berbagai pameran. Sejak itu mesin yang dibuatnya dicari banyak orang. Yunus menjual mesin itu Rp 5 juta per unit. ”Sudah sepuluh mesin terjual. Mesin itu digunakan di Bandung dan Aceh,” tambahnya.

Tidak berhenti pada satu karya cipta mesin, Yunus mencoba membuat mesin lain, yaitu mesin parut listrik. Mesin yang biasa digunakan untuk pompa air dimodifikasi sehingga menjadi mesin yang bisa dipakai memarut kelapa dan ketela.

Bentuknya yang kecil, mudah dibawa ke mana-mana, membuat mesin ini banyak dicari orang. Sejak diproduksi awal tahun 2009 sudah ada 200 unit mesin parut yang terjual. Mesin yang dijual dengan harga Rp 350.000 per unit ini diminati pembeli dari beberapa daerah, di antaranya Sumatera, Kalimantan, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat.

Di samping terus membuat mesin, Yunus juga menjalin kemitraan dengan petani untuk membudidayakan tanaman rosela di lahan seluas 15 hektar di Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Dia memodali para petani untuk menanam rosela, yang kemudian dia beli guna diolah menjadi sirop. Setiap tahun dia mampu memproduksi 5.000 botol sirop yang harganya Rp 12.000 per botol.

”Dari usaha-usaha ini, sekarang setiap bulan saya bisa memperoleh penghasilan kotor Rp 25 juta,” kata Yunus. Padahal, saat bekerja di perusahaan konstruksi dia hanya memperoleh penghasilan Rp 2 juta per bulan.

Cita-citanya menjadi pengusaha sudah terwujud. Berbagai penghargaan pun sudah diraihnya. Namun, dia masih terus bermimpi. Dengan usianya yang masih 30 tahun, tampaknya masih terbuka kesempatan bagi Yunus untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpinya itu.

Sumber: Koran Kompas

Deklarasi Djuanda

Posted by indonesiaberprestasi On December - 13 - 2009 3 COMMENTS

SOSOK Ir. H. DJUANDA KARTAWIJAYA: PENGABDI REPUBLIK INDONESIA TANPA HENTI DAN SEJARAH DEKLARASI DJUANDA

Oleh: Didik Prajoko, M.Hum. & Asep Kambali, S.Pd.

Hari ini tidak nampak satu pun status FB/FS/Twitter,dll. tentang Hari Nusantara. Sedih sekali, padahal pada 13 Desember 1957 perdana menteri Ir.H. Djuanda telah melakukan terobosan besar dalam mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan & laut yang menjadi wilayah teritorial Indonesia dgn mencanangkan Deklarasi Djuanda. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, bendungan, stasiun KA, bahkan bandara. Tp trnyta qta tdk mngenalnya, karena kita telah melupakannya :”( Mari blajar lagi sejarah! ;-)

12462_238547933451_798268451_4334529_6124757_a Nggak banyak generasi masa kini yang mengenal sosok Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, meski namanya sudah sangat banyak diabadikan ke dalam nama jalan, nama bendungan, nama stasiun kereta api (di Jakarta) dan bahkan nama bandar udara di kota Surabaya. Banyak tokoh-tokoh yang hidup semasanya juga berpikir yang sama bahwa dalam dua puluh tahun terakhir ini namanya tidak menjadi buah bibir generasi muda, padahal Ir. H. Djuanda Kartawidjaja telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasiona RI. Walah, jangan-jangan banyak para elit Republik ini mengalami sindrom yang sama, yaitu sama sekali tidak mengenalnya. Ironis…

Tentunya hal ini menjadi kepedulian kita bersama. Perlu diketahui, bahwa sejak masa awal kemerdekaan (1946) sampai meninggalnya 6 Nopember 1963 dalam usia 52 tahun, Ir. H. Djuanda K. selalu mendapat kepercayaan menjadi menteri dalam berbagai kabinet, bahkan ketika meninggal masih menjabat sebagai Menteri Pertama antara tahun 1959-1963, dan sebelumnya adalah Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan selama tahun 1957-1959.

Ir. H. Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 januari 1911, merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS). Pendidikan sekolah dasar diselesaikan di HIS dan kemudian pindah ke sekolah untuk anak orang Eropa Europesche Lagere School (ELS), tamat tahun 1924. Selanjutnya oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah menengah khusus orang Eropa yaitu Hogere Burger School (HBS) di Bandung, dan lulus tahun 1929. Pada tahun yang sama dia masuk ke sekolah Tinggi Teknik (Technische Hooge School) di Bandung, mengambil jurusan teknik sipil dan lulus tahun 1933. Semasa mudanya Djuanda hanya aktif dalam organisasi non politik yaitu Paguyuban Pasundan dan anggota Muhamadiyah, dan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhamadiyah. Karir selanjutnya dijalaninya sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum propinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.

Ir. Djuanda oleh kalangan pers dijuluki ‘menteri marathon’ karena sejak awal kemerdekaan (1946) sudah menjabat sebagai menteri muda perhubungan sampai menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959) sampai menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963). Sehingga dari tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, beliau menjabat sekali sebagai menteri muda, 14 kali sebagai menteri, dan sekali menjabat Perdana Menteri.

Pada saat diangkat oleh presiden Soekarno sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Karya, Ir. Djuanda bukanlah orang partai, sehingga ‘Kabinet Karya’ ini beranggotakan para menteri yang dipilih berdasarkan keahliannya bukan berdasarkan asal partainya. Pada saat menjabat sebagai perdana menteri inilah, Ir. Djuanda harus menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang berat dan rumit. Beberpa diantarannya adalah masalah ketegangan hubungan antara presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta yang mengundurkan diri tahun 1956. Selain itu pergolakan di daerah semakin memanas dengan ketidakpuasan elit politik dan militer di daerah seperti di Sumatera barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara. Selain itu pemerintahan Djuanda juga harus mengatasi pemberontakan Darul Islam (DI/TII) di Jawa barat, Aceh dan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon dan Seram, dan juga masalah provinsi Irian Barat yang masih diduduki oleh Belanda.

Sebagai perdana menteri, Djuanda memprakarsai kegiatan yang berusaha untuk menormalisasi keadaan dan menegakkan keutuhan Negara Republik Indonesia. Untuk itulah diadakan Musyawarah Nasional yang mengundang para penguasa sipil dan militer di daerah, tokoh-tokoh Indonesia yang dianggap mampu memberikan masukan-masukan yang positif sesuai dengan tujuan Munas. Acara diadakan di Gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan Timur no. 56. Presiden Soekarno dan mantan Wakil Presiden Moh. Hatta juga bersedia hadir dalam acara tersebut. Kehadiran tokoh ‘dwi tunggal’ diharapkan dapat mempengaruhi para elit lokal untuk mau duduk dan bermusyawarah memecahkan berbagai masalah kebangsaan yang tengah mengancam keutuhan Negara RI. Acara Munas dimulai tanggal 10 September 1957 dan berlangsung sampai 14 September 1957.

Dalam pembukaan Munas, Ir. Djuanda menekankan pentingnya segala komponen bangsa untuk memikirkan pemecahan masalah yang membuat Negara RI berjalan tidak normal. Dengan membawa kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan golongan atau partai. Sementara itu Bung karno dan Bung Hatta mengingatkan kembali agar segenap komponen bangsa mengambil teladan dari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai jiwa yang membawa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, mengingat munas ini juga diselenggarakan di gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan No 56.
Munas ini secara umum cukup berhasil meredam ketegangan antara pusat dan daerah untuk sementara waktu. Memburuknya hubungan RI dan Belanda menimbulkan gejolak di Indonesia, sehingga terjadi kekacauan dalam pengambilalihan asset-asset milik Belanda dan ditambah lagi terjadinya ‘Peristiwa Cikini’ pada tanggal 30 Nopember 1957 yaitu peledakan granat di sekolah Cikini ketika Soekarno berkunjung ke sekolah anaknya tersebut, Soekarno selamat tetapi banyak yang tewas akibat ledakan granat tersebut. Peristiwa ini berkembang dan meningkatkan suhu politik di dalam negeri, termasuk penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Keadaan menjadi tidak stabil ketika komandan-komandan militer dibeberapa daerah meminta agar Kabinet Djuanda dibubarkan atau mengundurkan diri. Sehingga memasuki 1958 situasi pergolakan mulai memuncak dan meletus di Sumatera Barat (PRRI) dan Sulawesi Utara (Permesta).

Namun dari semua kesulitan yang dihadapi oleh Kabinet Djuanda dan juga bangsa Indonesia umumnya. Perdana menteri Djuanda ternyata mampu melakukan terobosan besar dalam upanya mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan dan laut yang menjadi wilayah territorial Indonesia dengan mencanangkan Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957, yang berbunyi:

”segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada di bawah kedaulatan Indonesia”.

Pernyataan ini dibacakan dalam sidang Kabinet oleh Perdana menteri Djuanda sebagai landasan hukum bagi penyusunan Rancangan Undang Undang yang nantinya dipergunakan untuk menggantikan Territoriale Zee and Maritime Kringen Ordonantie tahun 1939, terutama pasal 1 ayat 1 yang menyatakan wilayah territorial Indonesia hanya 3 mill diukur dari garis air rendah setiap palung. Hal ini mengakibatkan wilayah perairan antara pulau-pulau di Indonesia menjadi kantung-kantung internasional yang dapat dimanfaatkan oleh pihak luar, dan waktu itu banyak kapal-kapal perang Belanda yang melintasi laut-laut dalam kita menuju Irian Barat dengan memanfaatkan hukum territorial laut tahun 1939.

Penyusunan Deklarasi Djuanda yang sangat penting ini tidak terlepas dari peran. Mochtar Kusumaatmadja yang pada saat itu adalah anggota panitia rancangan Undang-undang (RUU) Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim. “Ketika RUU sedang dalam proses penyelesaian dengan menetapkan wilayah laut territorial Indonesia adalah 12 mil dari garis air rendah. Bulan oktober 1957, menteri Chaerul Saleh mendatangi saya dan mengatakan bahwa RUU tersebut tidak banyak berguna untuk menutup Laut Jawa dari pelayaran kapal-kapal asing terutama kapal perang Belanda. Mochtar kemudian menyusun draft deklarasi atas seizin Letkol Laut Pirngadi, ketua Panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dan juga Kepala Staff Operasi Angkatan Laut.” kata Mochtar.

Pada tanggal 13 Desember 1957, panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dipanggil PM. Djuanda di Pejambon, Jakarta. Letkol Pirngadi dan Mochtar kusumatmadja kemudian dipersilahkan menjelaskan peta Indonesia yang sudah menggunakan konsep laut “antara” sebagai wilayah territorial Indonesia bukan hanya 3 mil atau 12 mil dari garis air rendah. Hasil rapat kabinet kemudian memutuskan konsep yang menyatakan bahwa; ”segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada dibawah kedaulatan Indonesia” diterima sebagai keputusan rapat. Kemudian keputusan ini diumumkan oleh PM Djuanda, yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda, yang memiliki arti yang strategis bagi perjuangan bangsa Indonesia untuk meningkatkan pembangunan dan memantapkan kesatuan nasionalnya. Dengan demikian wilayah laut kita dihitung 12 mil dari garis-garis dasar yang menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau Indonesia yang terluar, dengan demikian luas territorial Indonesia berkembang dari dua juta km2 menjadi lima juta km2.

Meskipun Deklarasi Djuanda belum diakui secara internasional, namun oleh pemerintah RI, deklarasi ini diundangkan melalui keputusan Undang-Undang/Prp No. 4/1960, bulan Februari 1960. UU ini kemudian diperkuat dengan Keputusan presiden no. 103/1963 yang menetapkan seluruh perairan Nusantara Indonesia sebagai satu lingkungan laut yang berada di bawah pengamanan Angkatan laut RI. Berbagai peraturan ini juga menimbulkan kecaman dari dunia Internasional, namun Indonesia tetap bersikukuh bahwa deklarasi Djuanda merupkan solusi yang terbaik untuk menjaga keutuhan laut Indonesia dan dipergunakan untuk kemamkmuran rakyat Indonesia.

Dalam konferensi Hukum laut PBB ke-3, Indonesia memprjuangkan konsep kesatuan kewilayahan Nasional yang meliputi wilayah darat, laut dan udara dan seluruh kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Konsep ini kemudian diakui dalam konvensi Hukum laut PBB di Montego Bay (Jamaika) pada tanggal 10 Desember 1982. Indonesia kemudian meratifikasinya dalam UU No. 17/1985 pada tanggal 31 Desember 1985. akhirnya setelah 25 tahun menunggu Deklarasi Djuanda telah diakui oleh PBB, namun baru diakui secara internasional sejak 16 Nopember 1994, setelah 60 negara meratifikasinya. Hal ini berarti butuh waktu 37 tahun sejak Deklarasi Djuanda Kesatuan Kewilayahan Indonesia diakui oleh dunia Internasional. Saat ini dengan diberlakukannya Zona Ekonomi Eksklusif sejauh 200 mil dari garis dasar perairan maka wilayah yang dapat dikelola ekonominya termasuk wilayah laut seluas delapan juta km2, enam juta km2 diantaranya adalah wilayah perairan laut. Sosok diplomat dan ahli hukum laut Indonesia yang sangat aktif memperjuangan cita-cita deklarasi Djuanda adalah selain prof. Dr, Mochtar Kusumaatmadja adalah prof. Dr. Hashim Djalal yang dengan aktif mengikuti berbagai sidang PBB tentang hukum laut, sejak tahun 1970-an sampai 1990-an. Hashim Djalal menyelesaikan gelar Doktor tentang hukum laut pada Universitas Virginia tahun 1961, karena diilhami oleh Deklarasi Djuanda. Bahkan dia juga menggagas Rancangan peraturan pemerintah temntang lalu Lintas Laut Damai Kendaraan Air Asing melalui Perairan Nusantara Indonesia, pada bulan Juli 1962, yang kemudian disetujui oleh kabinet dan dijadikan Peraturan pemerintah No. 8/1962.

Demikianlah Deklarasi Djuanda yang kita peringati setiap tanggal 13 Desember ini merupakan momentum yang dapat dijadikan refleksi sudah sejauh mana wilayah territorial darat dan laut yang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita termasuk Prof. Dr. Mochtar kusumaatmadja dan Prof. Dr. Hashim Djalal dapat kita ambil semangatnya bagi pembangunan Indonesia yang lebih baik. Kehilangan Sipadan dan Ligitan, hilangnya pulau-pulau di selat Malaka akibat pengerukan pasir yang dijual ke Singapura dan masalah-masalah pulau terdepan kita yang rentan dijarah oleh pihak luar. Sudah selayaknya dalam peringatan Deklarasi Djuanda para elit sipil dan militer negeri ini selalu mengedepankan kinerjanya agar jangan sampai wilayah territorial kita berkurang karena ketidakpedulian kita terhadap territorial laut dan pulau-pulau di perbatasan dengan Negara lain. Peringtan Deklarasi Djuanda dapat dimaknai sebagai tanggung jawab setiap generasi untuk menjiwai semangat deklarasi tersebut. Maka, fahami dan dalamilah segenap ruh dan jiwa dari deklarasi itu, agar kita tidak kehilangan apa yang seharusnya menjadi hak kita dan generasi setelah kita.

Naskah:

Tim Panitia Seminar dan Pameran 50 Tahun Deklarasi Djuanda. Direktorat Georgrafi Sejarah Departemen Kebudayaan & Pariwisata RI.

Disarikan oleh:
Didik Prdjoko, M.Hum dan Drs. Asep Kambali

Sumber:
I.O. Nanulaita, Ir. Haji Juanda Kartawijaya, Depdikbud, IDSN, 1980/1981

Awaloedin Djamin, ed., Pahlawan Nasional Ir. H. Djuanda: Negarawan, Administrator dan Teknokrat Utama, Jakarta, Kompas, 2001

Rizal Sukma Masuk 100 Pemikir Terkemuka Dunia

Posted by agungfirmansyah On December - 1 - 2009 ADD COMMENTS

Jakarta -  Ketua Lembaga Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah sekaligus Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Dr. Rizal Sukma, menjadi intelektual Indonesia yang masuk daftar 100 pemikir global versi majalah Foreign Policy, AS.

Doktor dari London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris, ini dipandang majalah Foreign Policy telah mendorong cara pandang baru yang radikal mengenai peran Indonesia di dunia.

Rizal, sebut Foreign Policy pada edisi untuk Desember 2009, adalah teoritisi terkemuka dalam soal hubungan Islam dan negara, serta mendorng peran global negerinya Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Rizal, lanjut Foreign Policy, baru-baru ini telah menerbitkan buku berjudul “Islam in Indonesian Foreign Policy” yang memotret pergulatan antara identitas rakyat Indonesia dengan lembaga-lembaga negara yang hampir seluruhnya sekuler sejak kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Rizal yang menamatkan kesarjanaannya dari Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran, Bandung, ini ditempatkan Foreign Policy sebagai pemikir ke 92 dari 100 pemikir global utama dunia.

“Dengan Indonesia yang masih bergulat dengan warisan kekuasaan diktatur Suharto selama 32 tahun, pemikiran-pemikiran Sukma membantu memetakan satu arah yang dengan kuat mengintegrasikan Indonesia dalam dunia, dan akhirnya mencampakkan omong kosong bahwa Islam dan demokrasi tidak bisa menyatu,” demikian Foreign Policy.

Dalam daftar ini, Gubernur Federal Reserve Ben Bernanke ditempatkan pada urutan pertama pemikir global paling berpengaruh, disusul Presiden AS Barack Obama di posisi dua, dan Zahra Rahnavard, istri pemimpin oposisi Iran, Mir Hossein Mousavi, sekaligus tokoh utama dibalik Revolusi Hijau di Iran, pada posisi tiga.

Tokoh-tokoh besar dunia lainnya yang masuk ke jajaran 100 pemikir global ini diantaranya adalah suami istri Bill dan Hillary Clinton, ulama Mesir Sayyid Imam al-Sharif yang adalah mantan pemimpin organisasi garis keras Al Jihad dan eks teman seperjuangan dari orang nomor dua di Alqaeda (Ayman Al-Zawahiri).

Nama-nama kondang lain yang bisa disebut diantaranya adalah Bill Gates, Paus Benediktus XVI, sosiobilogis dan evolusionis darwinian Richard Dawkins, sastrawan Vaclav Havel, ekonom Joseph Stiglitz, dan pejuang HAM Aung San Suu Kyi.

Kemudian mantan sekjen PBB Kofi Annan, tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, George Soros, pakar keuangan mikro Muhammad Yunus, Henry Kissinger, sosiolog Francis Fukuyama, PM Inggris Gordon Brown, pakar perbandingan agama Karen Armstrong dan sejarawan Paul Kennedy. (*)

Jafar Sidik dari Foreign Policy dan sumber lainnya.

Sumber: Antara.

Best Young Engineer dari Indonesia

Posted by indonesiaberprestasi On November - 25 - 2009 ADD COMMENTS

20091120183726

Muhammad Agung Bramantya, seorang putra bangsa Indonesia, kembali menorehkan sebuah sejarah yang dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Ia mendapatkan penghargaan “Young Engineer Award” dari Japan Society of Applied Electromagnetics and Mechanics (JSAEM).

Acara penganugerahan bagi ilmuwan berprestasi, karya ilmiah terbaik, dan riset kolaborasi industri teraplikasi ini sendiri merupakan acara tahunan dari JSAEM. Tahun ini, acara tersebut diselenggarakan pada tanggal 19 November 2009 malam bersamaan dengan puncak acara Magnetodynamics Conference ke-18 yang diselenggarakan di Tokyo City University, Tokyo, Jepang.

Muhammad Agung Bramantya yang biasa dipanggil mas Bram ini merupakan satu-satunya warga negara asing di antara deretan warga Jepang yang meraih penghargaan tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, kita boleh cukup berbahagia dan bersyukur, bukan?! :)

Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kini tengah menempuh S3 di Keio University tersebut mendapatkan penghargaan karena karya ilmiahnya yang berjudul “Ultrasonic Study on the Clustering Structures of Magnetorheological Fluids Under a Uniform Magnetic Field” berhasil dimuat di Jurnal Ilmiah terbitan JSAEM. Karya ilmiah tersebut mendapatkan penilaian yang luar biasa (outstanding academic paper) dari para dewan juri.

Mas Bram bercerita bahwa karya ilmiah tersebut berhasil menjelaskan fenomenda dasar berupa clustering partikel pada cairan pintar/smart fluid yang dinamakan magnetorheological fluid dengan metode ultrasonic. Selain itu, Mas Bram juga mengungkapkan harapannya agar kuantitas dan kualitas rekan-rekan akademisi dari Indonesia yang mau menekuni bidang magnetohydrodynamics terus meningkat sehingga bisa memberikan manfaat lebih luas bagi bangsa Indonesia.

Referensi: KabarIndonesia

Reza – Finalis Swedish Idol 2009 dari Indonesia

Posted by indonesiaberprestasi On November - 21 - 2009 2 COMMENTS

Indonesia, ternyata kita punya satu lagi penyanyi wanita bersuara emas yang tidak kalah membanggakan dibandingkan Anggun yang telah mendunia.

Reza Ningtyas Lindh namanya. Dara yang lahir dan besar di Jakarta ini, sukses menembus babak final ajang nyanyi bergengsi di Swedia, Swedish Idol 2009. Ia mendapatkan dukungan tidak hanya dari masyarakat Indonesia yang berada di sana namun juga masyarakat Swedia yang menaruh hati pada kekuatan suaranya.

reza

Karakter suara Reza memang menarik dan sangat cocok untuk musik-musik beraliran jazz, R&B, serta soul yang juga merupakan genre musik favoritnya. Walaupun di ajang Swedish Idol 2009 tersebut, Reza tetap ditantang untuk dapat menyanyikan musik lainnya beraliran pop dan rock. Hal menarik lain yang dimiliki Reza adalah teknik vokalnya yang matang. Berkat dua hal inilah, perhatian publik Swedia pun tersita dan membuat mereka mengarahkan dukungannya pada Reza hingga mampu masuk ke babak final.

Dikisahkan, keterlibatan Reza pada ajang Swedish Idol 2009 ini merupakan hasil dari “jebakan” teman-temannya. Reza yang pernah berpartisipasi pada program pencarian bakat penyanyi Asia, Asia Bagus, sebenarnya sudah jarang menyanyi di hadapan publik sejak tinggal di Swedia, Desember 2004.

Banyak hal yang menyebabkannya menunda keinginannya untuk kembali melantukan lagu-lagu dengan suara indahnya. Penyesuaian diri dengan budaya setempat, bahasa, serta cuaca yang sangat berbeda dari Indonesia telah sedikit banyak menyita waktunya.

Namun, pada awal musim panas tahun ini, ketika tim audisi Swedish Idol tiba di Malmö, kota yang dekat dengan tempat tinggal Reza, teman-teman Reza secara diam-diam menjebaknya untuk mengikuti audisi. Dengan alasan mengajak Reza jalan-jalan ke Kopenhagen, teman-teman Reza malah langsung membawanya ke tempat audisi yang telah dipadati ratusan lebih peserta.

Itulah awal dari perjalanan Reza di kontes Swedish Idol 2009 di mana ia mampu menembus 5 besar di babak final hingga turut mengharumkan nama Indonesia juga di mata publik Swedia dan dunia.

Blog Reza: http://reza.idol.tv4.se/

Video Penampilan Reza: YouTube

Referensi: detikNews

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Berbicara tentang Indonesia, kita juga bisa berbicara yang indah-indah. Bukan maksud hati untuk mengesampingkan segala hal... 
Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Meski surat keterangan tidak mampu (SKTM) tidak diberlakukan lagi, ada kabar gembira bagi warga miskin di Jatim. Sejak 1... 
Kendal Miliki Open Source Sendiri

Kendal Miliki Open Source Sendiri

Meski bukan kota besar, Kendal berani untuk mandiri dalam hal penggunaan software komputer. Bahkan kota kecil di Jawa Tengah... 
Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Bersama Kota Manila di Filipina, Yogyakarta saat ini menjadi pusat seni rupa di Asia Tenggara. Dalam level yang berbeda,... 
Enter the video embed code here. Remember to change the size to 310 x 250 in the embed code.

TAG CLOUD

POPULAR

  • Dukung Indonesia Berprestasi

    Indonesia Berprestasi

  • Gabung Jadi Volunteer/Kontributor di Milis Kami!

  • Indonesia Berprestasi on Facebook!

  • Follow us on Twitter!

  • Dukung Internet Sehat

    Internet Sehat
  • Categories

  • Indonesia Berprestasi Didukung dan Mendukung: