Usia 36 tahun. Lahir di Tasikmalaya. Yogi Erlangga meraih gelar doktor dari Universitas Teknologi Delft, Belanda pada usia yang terbilang muda, 31 tahun. Dia mencintai ilmu yang dibenci banyak orang, matematika. Di negeri kincir angin itu, dia dinobatkan sebagai doktor matematika terapan.

Dan matematika itulah yang melambungkan Yogi Erlangga ke perusahaan minyak raksasa dunia. Dia adalah efisiensi. Rumus matematika yang dikembangkannya membuat ribuan insinyur minyak bisa bekerja cepat. Akurasi tinggi.  Dan akhirnya si raja minyak banyak berhemat.

Penelitian  yang dilakukan Yogi dalam meraih gelar doktor  berhasil memecahkan persoalan matematika atas gelombang yang bisa digunakan oleh perusahaan minyak untuk mencari cadangan emas hitam itu.  Rumus yang dikembangkan Yogi ini seratus kali lebih cepat dari yang berlaku sebelumnya.

Bukan cuma perusahaan minyak yang riang, sejumlah perusahaan raksasa dunia yang mengunakan unsur gelombang juga bersukaria. Rumus matematika anak Tasikmalaya itu juga manjur untuk teknologi keping Blu-Ray.  Keping itu bisa memuat data komputer dalam jumlah yang jauh lebih besar. Rumus itu juga mempermudah cara kerja radar di dunia penerbangan.

Dalam siaran pers — saat wisuda doktor Desember 2005–   Universitas Delft  sungguh bangga akan pencapaian Yogi. Siaran pers itu menyebutkan bahwa penelitian Yogi adalah murni Matematika.

Dia berhasil mengembangkan suatu metode kalkulasi, yang memungkinkan sistem komputer untuk menyesaikan ekuasi krusial secara lebih cepat. Padahal, persamaan krusial itu sulit diatasi oleh sistem komputer yang dipakai perusahaan-perusahaan minyak.

Penelitian Yogi itu didasarkan pada “Ekuasi Helhmholtz.” Bagi kalangan ilmuwan, metode ekuasi itu penting dalam mengintepretasi ukuran-ukuran akustik yang digunakan untuk mensurvei cadangan minyak.

Sebelumnya, pengukuran itu dilakukan secara dua dimensi. Namun, dalam penelitian doktoralnya, Yogi berhasil membuat metode kalkulasi yang digunakan untuk memecahkan ekuasi Helmholtz ratusan kali lebih cepat dari yang biasa.

Itulah sebabnya perusahaan-perusahaan minyak bisa memanfaatkan kalkulasi secara tiga dimensi untuk mencari cadangan minyak. Itulah sebabnya Delft yakin bahwa metode yang dikembangkan Yogi bisa mengundang daya tarik perusahaan-perusahaan minyak.

Profesor pembimbing tesis Yogi, Dr. Kees Vuik, bangga dengan kerja keras anak didiknya itu. “Berdasarkan respon-respon yang kami terima dari industri maupun universitas-universitas asing, kami yakin bahwa karya itu telah memecahkan masalah yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun,” kata Vuik dalam siaran pers Universitas Delft.

Peneliti asal Institut Teknologi Bandung (ITB), Khairul Ummah, menyatakan kekagumannya atas pencapaian Yogi. “Riset PhD dia cukup dahsyat, memecahkan persoalan matematika gelombang yang digunakan oleh perusahaan minyak Shell untuk mencari cadangan minyak,” tulis Khairul dalam laman blog ilmiah SEPIA yang dia kelola bersama sejumlah akademisi lain.

“Hasil riset dia [Yogi] cukup menghebohkan dunia minyak, terutama dengan kemungkinan membuat profil 3 dimensi dari cadangan minyak. Metode dia berhasil memproses data-data seismik seratus kali lebih cepat dari metode yang sekarang biasa digunakan,” tulis Khairul.

Yogi meraih gelar sarjana ilmu aeronautika dari ITB pada 1998. Kemudian dia menimba ilmu di Belanda dan meraih gelar Master (Msc) di Universitas Teknologi Delft pada 2001 di bidang Matematika Terapan.

Empat tahun kemudian, di alma mater dan disiplin ilmu yang sama, Yogi meraih gelar Doktor. Sempat mengikuti program post-doctoral di Jerman, Yogi selanjutnya tercatat sebagai Asisten Profesor bidang Matematika di Universitas Alfaisal, Arab Saudi.  Menurut data dari Universitas Alfaisal, Yogi sibuk dalam proyek penelitian aljabar linear dan analisis matriks.

Menurut Khairul, Yogi sempat merasa sedih bahwa dirinya lebih dihargai perusahaan-perusahaan asing ketimbang di Indonesia. Saat tidak ada perusahaan tanah air yang mengetahui karyanya, Yogi malah gencar didekati sejumlah perusahaan top dunia.

“Setelah hasil dia dipublikasikan, maka dia mendapat kontak dari Schlumberger untuk menindaklanjuti hal itu. Shell tentu saja sudah memakainya.

Bahkan di Belanda dia diliput oleh media massa, juga media TV Belanda berencana mewawancarainya (tapi dia keburu pingin pulang, jadi tidak sempat). Jelas hal ini menunjukkan potensi ekonomi luar biasa dari algoritma matematik yang dia temukan,” tulis Khairul di blognya.

Di laman blog SEPIA, Mei 2006, Yogi mencurahkan uneg-unegnya atas tiadanya perhatian perusahaan-perusahaan asal Indonesia kepada karyanya. “Dari bangsa ini, sudah banyak yang memberikan kontribusinya masing-masing pada dunia keilmuan yang digelutinya. Sayangnya bangsa kita belum terbiasa untuk menghargai hasil karya keilmuan mereka,” tulis Yogi.

Dia mencontohkan, tahun 1970, Indonesia, Malaysia, Korea, China were nothing [sama-sama tidak ada apa-apanya]. Tahun 1980, Korea became something. Tahun 1990 Malaysia started to be something. “Sekarang, China is everything. Unfortunately, we are still nothing, sadly speaking,” tulis Yogi.

Namun, dia yakin bahwa masih banyak anak bangsa yang akan merasa bangga jika mereka menghasilkan segala prestasi terbaiknya di negeri sendiri dan untuk kejayaan bangsanya. Tinggal kemauan bangsa dan negara untuk menyambut keinginan mereka dengan sambutan yang “appropriate” [layak], kata Yogi.

Sumber: VIVANews

Pendekar Pendidikan Anak Jalanan

Posted by indonesiaberprestasi On June - 10 - 2010 5 COMMENTS

Oleh Maria Serenade Sinurat

Di mata Didit Hari Purnomo (52), pendidikan harus bisa diakses oleh siapa pun, bahkan oleh anak-anak usia belasan tahun yang tak pernah mengenal arti ”rumah” dan kasih sayang. Kesadaran ini memantiknya untuk membentuk Sanggar Alang-Alang, tempat ratusan anak jalanan di Kota Surabaya belajar tentang kehidupan.

Sejak berdiri 16 April 1999, Sanggar Alang-Alang (SAA) tetap setia pada tujuan awal, yakni menyediakan pendidikan gratis untuk anak-anak jalanan. Di SAA, anak jalanan disebut dengan anak negeri. SAA menjadi rumah tempat makanan, seragam, ruang belajar, dan ruang bermain cuma-cuma bagi mereka. Didit menyebut SAA sebagai pendidikan berbasis keluarga.

Di sanggar, Didit menjadi bapak. Istrinya, Budha Ersa, sebagai mama. Sebanyak 187 anak usia 6-17 tahun di SAA adalah bagian dari keluarga besar. Untuk menggantikan biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), Didit hanya menuntut satu hal dari anak-anaknya, yakni bersikap sopan.

Setiap masuk sanggar, anak-anak selalu dalam kondisi bersih. Mereka menyalami dan memeluk satu sama lain dan menghindari kata-kata kasar dan jorok. Bagi Didit, ini bagian dari pendidikan perilaku.

”Jika setiap hari selama sebelas tahun, seorang anak jalanan bisa diajar berperilaku sopan, tentu perilakunya akan berubah,” ujar pensiunan pegawai TVRI ini.

Pendidikan perilaku hanya satu dari pelajaran yang diajarkan di SAA. Meskipun Matematika diajarkan, SAA menitikberatkan pada ilmu-ilmu praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan anak jalanan. ”Belajar bukan hanya teori, melainkan soal implementasi. Ini yang dibutuhkan anak jalanan agar tidak kembali ke jalan,” katanya.

Hingga kini, setidaknya empat program sudah dijalankan, yakni bimbingan belajar anak sekolah dan putus sekolah, bimbingan anak berbakat, bimbingan anak perempuan rawan, dan bimbingan ibu dan anak negeri.

Pendidikan praktis

Keempat program ini difokuskan pada pengetahuan praktis. Misalnya, bimbingan anak perempuan rawan yang ditujukan untuk anak jalanan perempuan dan pekerja rumah tangga. Setiap tiga hari dalam seminggu, tim SAA menyambangi anak jalanan untuk mengajari mereka tentang kesehatan reproduksi, cara membela diri, dan cara melaporkan kepada polisi jika dilecehkan secara seksual.

Lain lagi dengan program Bimbingan Ibu dan Anak Negeri (BIAN). Program ini lahir setelah Didit melihat realitas di lapangan yang keras dan suram. Kemiskinan dan kebodohan telah merenggangkan hubungan orangtua dan anak. Imbasnya, keluarga terpecah, anak-anak pun lari ke jalanan. Banyak anak yang dieksploitasi oleh orangtuanya untuk bekerja di jalanan.

Dalam kaitan ini, BIAN ditujukan untuk anak usia taman kanak-kanak dan ibunya. Sebagai pengganti kursi, anak-anak duduk di pangkuan ibundanya. Dengan demikian, bukan hanya anak yang belajar, ibu juga belajar meluangkan waktu untuk anaknya.

”Kami berharap, dengan demikian tak ada lagi ibu yang menyuruh anaknya mencari uang di jalan,” kata Didit.

Di luar kelas, anak-anak bisa berlatih alat musik, tari, dan juga tinju. Mereka yang berbakat akan diikutkan kejuaraan tingkat daerah, bahkan nasional. Jika sudah berusia 18 tahun, mereka harus meninggalkan sanggar dan memulai kehidupannya sendiri. ”Jika mereka kembali ke jalan, artinya mereka tidak lulus. Kalau tidak, berarti lulus,” kata Didit.

Pemerintah Kota Surabaya juga mengapresiasi langkah Didit. Apalagi, program rumah singgah Dinas Sosial lebih banyak gagalnya. Program yang dibuat lembaga swadaya masyarakat pun hanya berjalan ketika ada dana. ”Selama ini anak jalanan hanya jadi obyek proyek LSM, sementara miliaran rupiah untuk rumah singgah terbuang percuma,” kata Didit.

SAA juga menjadi rujukan bagi mahasiswa dan dosen yang meneliti metode pendidikan anak jalanan.

Kasih sayang

Bertahan 11 tahun, Didit menyebut satu kunci keberhasilannya. ”Kasih sayang,” kata kakek satu cucu ini. Kasih sayang adalah pendidikan hidup yang terenggut dari kehidupan anak jalanan. Mereka dialpakan dan dianggap sampah masyarakat.

Penilaian ini bagi Didit salah besar. Dia membuktikannya 11 tahun lalu ketika menyambangi Terminal Joyoboyo, tempat berkumpul anak jalanan.

Di balik penampilan anak-anak yang kumuh dan kotor, tersimpan jiwa anak-anak yang mendamba rumah dan perhatian. Jika didekati baik-baik, mereka akan membuka diri. Hati Didit tergugah melihat anak-anak yang menggelandang sejak kecil. Ada juga anak-anak dari tukang cuci, tukang becak, pencopet, dan kernet bus yang tak pernah diperhatikan.

Di balik toilet Terminal Joyoboyo itulah perjumpaan pertamanya dengan dunia anak jalanan. Pelan tapi pasti, pertemanan mereka terajut, dan setiap malam Didit mulai mengajari banyak hal. Banyak orang menamai mereka ”komunitas sekolah malam”.

Setahun lebih kegiatan itu berjalan hanya bermodalkan niat baik dan sebagian gaji Didit. Barulah tahun 1999, berkat derma dari orangtua murid Surabaya International School, Didit mendapat sumbangan Rp 5 juta. Uang itu dia gunakan untuk mengontrak rumah dua tahun di belakang Terminal Joyoboyo.

Untuk menyokong kehidupan anak-anak, SAA bergantung pada donasi pengusaha. Namun, kini SAA memiliki pendapatan dengan mengisi acara musik dan tari di sekolah. Yang paling membanggakan bagi Didit, beberapa alumni SAA berhasil berdikari.

Adi Hartono, misalnya, diterima di Universitas Negeri Surabaya lewat jalur prestasi. Adi yang enam tahun tinggal di SAA hanya mengikuti kejar paket A dan B, kemudian mendaftar ke sekolah menengah kejuruan.

”Adi yang sebelumnya anak jalanan bisa diterima di pendidikan formal. Saya senang luar biasa,” kata Didit.

Ada lagi, Mu’ad (18). Dua tahun lalu, tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Dia buta huruf hingga usia 16 tahun. Kini, Mu’ad menjelma menjadi pemuda percaya diri yang terampil menggunakan komputer.

Didit selalu mengibaratkan anak jalanan seperti alang-alang, Dia kian optimistis, alang-alang binaannya memiliki tempat sendiri di masyarakat.

Sumber: KOMPAS.Com

Satrio Wibowo, Penulis Muda Istimewa

Posted by indonesiaberprestasi On May - 16 - 2010 2 COMMENTS

Satrio Wibowo (15) bisa dikatakan penulis muda yang super-istimewa. Novel pertamanya yang berjudul
The Chronicles of Willy Flarkies diterbitkan setelah Satrio sepakat untuk mengizinkan novel perdananya yang ditulis dalam bahasa Inggris itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Satrio sama sekali tidak pernah les bahasa Inggris, bergaul dengan orang asing, ataupun hidup di luar negeri. Keluarganya pun tidak berbicara bahasa Inggris di rumah.

Tetapi, remaja yang lahir di Serang pada 24 November 1994 itu menulis novelnya dalam bahasa Inggris sebanyak 400 halaman. Novel fantasi itu dibuat Satrio saat berusia 12 tahun.

Novel The Chronicles of Willy Flarkies berkisah tentang petualangan seorang remaja yang menemukan dunia lain dengan dimensi kehidupan berbeda dan teknologi yang sangat futuristik, namun ramah lingkungan. Kisah dalam novel itu dikemas dalam berbagai sensasi rasa, mulai dari kocak, sedih, thriller, dan misteri.

Di novel yang mengisahkan remaja pria bernama Willy Flarkies yang berstatus pelajar SMP, Bowo banyak menyisipkan pesan moral dan filosofi hidup yang mengulas tentang relasi orang tua-anak, bahaya radiasi, pelestarian lingkungan, kritik pada sistem pendidikan, hingga makna persahabatan.

Satrio yang hadir dalam peringatan Hari Buku Sedunia di Pasar Festival Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan, dirinya senang berimajinasi. Satrio suka membaca buku karena bisa membawa imajinasinya keluar secara bebas.

Awal mula menjadi penulis, Satrio mengatakan, karena didorong ibunya, Yeni Sahnaz. Saat kecil, Satrio sering sakit-sakitan tanpa diketahui secara pasti penyakitnya.

Ibunya berpikir jika Satrio bisa mengeluarkan perasaan atau pikirannya lewat tulisan, Satrio tidak akan sakit-sakitan. Ternyata, cara itu ampuh dan sangat disukai Satrio.

Satrio pun bersemangat untuk menulis buku yang sesuai imajinasinya. Satrio yang sejak usia 4 tahun secara menakjubkan bisa berbicara bahasa Inggris itu selalu menulis dalam bahasa Inggris. “Lebih bisa berekspresi,” ujarnya singkat.

“Waktu ketemu penerbit agak kesulitan karena novelnya dalam bahasa Inggris, harus diterjemahkan lagi. Awalnya Satrio tetap bersikukuh novelnya terbit dalam bahasa Inggris. Soalnya dia mau go international. Tetapi akhirnya dia mengizinkan novel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,” kisah Yeni.

Yeni mengatakan, ada beberapa bakat istimewa dalam diri anak bungsunya itu. Satrio sejak kecil mampu mengoperasikan komputer dengan baik. Dia juga jago melukis dan sebentar lagi bakal diajak berpameran. Satrio pun hobi menulis puisi.

“Semuanya otodidak, enggak ada yang ngajarin. Mungkin bakat itu karena dia indigo,” kata Yeni.

Tidak mudah

Meskipun Satrio punya banyak keistimewaan yang mencengangkan, kenyataan itu tidak berarti hidup Satrio mudah. Pelajar SMPN 5 Bogor itu justru sering menghadapi masalah, mulai dari diolok-olok temannya sebagai anak aneh hingga dinilai bodoh oleh guru di sekolah.

Yeni mengisahkan, dirinya kerap dipanggil pihak sekolah sejak TK hingga SMP karena kemampuan akademik Satrio yang dinilai tidak memuaskan. Kerap kali Satrio dianggap tidak layak untuk naik kelas.

Pengalaman di sekolah yang sering kali tak menyenangkan bagi Satrio membuatnya kritis terhadap sistem pendidikan nasional. Satrio berhasil membuat testimoni mengenai pandangannya terhadap sistem pendidikan Indonesia saat didapuk menjadi salah satu pembicara. Namun, tulisannya itu batal dipresentasikan.

Dari testimoni yang diberi judul My Testimony (lagi-lagi Satrio menulis dalam bahasa Inggris), Satrio menggambarkan hidupnya sangat menyedihkan. Dia selalu dapat ranking terendah di kelasnya. Tidak seorang pun mau mengakui kelebihannya di bidang lain hanya karena dia tidak bisa mendapat nilai-nilai bagus dalam pelajaran di kelas.

Penolakan-penolakan yang berkaitan dengan bakat istimewa Satrio juga sempat membuatnya kecewa. Novelnya, yang ditulis dalam bahasa Inggris, pada awalnya tidak dilirik penerbit besar. Alasannya, penerbit tidak tertarik menerbitkan novel berbahasa Inggris di Indonesia alias bakal tidak laku di pasaran.

Satrio juga menawarkan lukisan-lukisannya pada galeri, tetapi ditolak. Kali ini alasannya Satrio terlalu muda.

Huh, di Indonesia hanya peduli tentang pendidikan. Mereka tidak menghargai seseorang seperti saya hanya karena mereka ingin semua anak Indonesia harus bersekolah. Apalagi, ada sekolah bertaraf internasional hanya mau anak yang punya ranking bagus. Soal kreativitas diabaikan. Dalam pandangan mereka itu sudah super, tapi sebaliknya saya bilang superbodoh,” ujar Satrio dengan nada tinggi.

Belajar di sekolah reguler yang dijalani Satrio dinilai menyiksa. Lazimnya sekolah secara umum, pihak sekolah menerapkan aturan-aturan yang membatasi dan ingin siswa itu sama jago di Matematika dan sains. Pengajaran guru di sekolah benar-benar tidak membuat siswa bisa menjadi diri sendiri.

“Suatu hari nanti, saya mau membuat sekolah yang 25 persen teori dan 75 persen praktik yang menghargai kreativitas,” ujar Satrio mengenai impiannya soal pendidikan.

Satrio menerima kondisi dirinya sebagai anak indigo yang berpikir dengan cara yang tidak lazim. Satrio ingin seperti fisikawan kesohor Albert Einstein yang dengan percaya diri mengatakan, “It’s not that I’m genius, but I stay with problems longer“.

Satrio menyesalkan jika orang-orang berpikir hanya ilmuwan yang pintar dan bisa membawa perubahan dunia. Dalam pandangannya, imajinasi seorang anak juga perlu dibiarkan berkembang, terutama untuk anak indigo yang punya imajinasi tidak terbatas. Bukan justru dikatakan bodoh dan aneh.

Sang ibu Yeni memahami kehidupan Satrio yang imajinatif itu justru dipandang aneh dan dicibirkan. Tetapi, Yeni terus mendorong buah hatinya untuk tidak berkecil hati. Dan, menulis pun menjadi salah satu ajang pembuktian diri bagi Satrio. Karya perdananya itu sebagai bukti jika Satrio memiliki keistimewaan dengan kekuatan imajinasinya.

“Saya mau tulis sekuelnya lagi,” tekad Satrio.

Sumber: KOMPAS.Com

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Kita

Posted by satunusa On April - 26 - 2010 ADD COMMENTS

Ki Hajar Dewantara. Source: Azmitaz

Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.

Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.

Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun”.

Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka.

Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda.

Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.

Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.
Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.

Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut.

Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.

Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.

Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.

Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.

Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan).

Profil Pribadi

Nama Lengkap: Muhammad Iman Usman (Iman)

TTL: Padang, 21 Desember 1991

Blog: http://imanusman.com/

Web: http://indonesianfutureleaders.org/

Kegiatan: Presiden Indonesian Future Leaders (IFL), Duta Muda ASEAN-Indonesia

Teman, kali ini kami menyuguhkan profil seorang anak muda yang penuh semangat dan penuh dedikasi dalam bidang pemberdayaan pemuda di Indonesia. Muhammad Iman Usman, yang kerap dipanggil Iman ini sejak usia 10 tahun telah terlibat aktif dalam kegiatan kerelawanan dan pengembangan masyarakat. Sejak saat itu pula, Iman telah meraih sejumlah penghargaan bergengsi khususnya dalam aktivitasnya mempromosikan dan memperjuangkan hak-hak anak dan dialog antarbudaya. Pada tahun 2008, ia dianugerahi Penghargaan Presiden RI – Pemimpin Muda Indonesia 2008, serta Mondialogo Junior Ambassador for Intercultural Dialogue oleh DAIMLER dan UNESCO. Pada tahun 2009, Iman terpilih sebagai salah satu dari 10 anak di dunia penerima penghargaan World Youth Achiever Recognition oleh Friendship Ambassador Foundation Amerika Serikat dan terpilih sebagai Penasehat Remaja United Nations Population Fund Indonesia. Prestasi terakhirnya di tahun 2010 adalah terpilih sebagai Duta Muda ASEAN dari Indonesia.

Mantap, kan? Dan, Iman yang baru saja memulai pendidikannya di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Hubungan Internasional ini, membagi ceritanya dengan tim Indonesia Berprestasi mengenai organisasi kepemudaan nasional yang digawanginya saat ini, Indonesian Future Leaders (IFL).

Kalau pernah mendengar tentang SEAChange, maka IFL adalah organisasi di Indonesia yang bertanggungjawab dalam prosesi seleksi event kepemudaan antar negara ASEAN tersebut.

* * *

Bagaimana sejarah berdirinya IFL? Siapa saja pendirinya?

IFL pada awalnya bernama Komunitas Anak Kritis Indonesia (KAKI) yang didirikan pada tahun 2007 oleh Iman di Sumatera Barat. KAKI sendiri selama dua tahun perkembangannya telah melakukan sejumlah aksi dalam mendukung upaya pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) di Indonesia oleh anak-anak (usia anak menurut Konvensi Hak Anak ialah individu di bawah 18 tahun).

Dan demi memperluas cakupan komunitas, mulai tahun 2009, Iman dibantu dengan 6 temannya yang lain, yakni Niwa Rahmad Dwitama, Andhyta Firselly Utami, Dian Aditya Ning Lestari, Rafika Primadesti, Stephanie Hardjo, juga Audry Maulana, memutuskan untuk mentransformasi KAKI menjadi Indonesian Future Leaders (IFL).

Apa yang mendasari berdirinya IFL?

IFL didirikan sebagai wujud perhatian para pendirinya dalam pemberdayaan pemuda, dalam pembangunan kapasitas kaum muda Indonesia untuk menjadi pemimpin masa depan yang berkualitas serta memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Kehadiran IFL diharapkan mampu menggugah pemuda Indonesia untuk mampu membawa perubahan bagi lingkungannya.

Kalau dari diri Iman pribadi, permasalahan yang krusial di Indonesia itu sebenarnya apa?

Menurut saya, salah satunya krisis kepercayaan. Di Indonesia yang saya lihat sulit tumbuh kepercayaan satu sama lain, baik dari masyarakat ke pemerintahnya maupun dari pemerintah ke masyarakatnya. Padahal kita seharunys mendukung satu sama lain. Selain itu, hal lainnya yang krusial adalah masalah pendidikan. Bagaimana menyediakan pendidikan yang baik dan affordable untuk semua kalangan masyarakat.

Program-program IFL apa saja?

Ada enam yang digelar secara rutin, yakni Children Behind Us, SEAChange, IFL Goes to School, Speak Up!, juga training dan seminar.

Children Behind Us merupakan proyek yang bekerjasama dengan British International School (BIS) dalam memberikan edukasi bagi anak-anak yang kurang beruntung di daerah Pondok Aren, Tangerang. Kegiatannya antara lain berupa pengajaran dasar-dasar bahasa Inggris, wawasan lingkungan hidup, serta seni dan budaya. Children Behind Us juga memasukkan pelatihan life skill dalam kurikulumnya.

SEAChange merupakan sebuah cyber-movement yang mengumpulkan sekitar 1 juta suara pemuda di ASEAN untuk sama-sama berjanji dalam melakukan perubahan di berbagai aspek kehidupan, baik yang bersifat personal maupun komunal. Dalam event berskala internasional ini, IFL berperan aktif dalam mengorganisasikan seluruh kegiatan SEAChange di Indonesia, termasuk dalam pemilihan kandidat representative untuk dikirimkan ke dalam puncak kegiatan di Malaysia.

IFL Goes to School merupakan program kerja IFL yang sifatnya by request. Konsepnya, IFL melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah untuk memberikan seminar, presentasi, training, team building, dan sejenisnya seputar permasalahan sosial agar anak-anak muda tersebut siap menjadi agen perubahan di lingkungannya.

Sedangkan, Speak Up! adalah program IFL yang diperuntukkan bagi cyber volunteers. Tujuannya agar cyber volunteers bisa turut berpartisipasi dengan menyuarakan aspirasi, ide, dan kritiknya mengenai isu-isu yang sedang berkembang di Indonesia saat ini. Selain itu, Speak Up! juga ditujukan agar cyber volunteers bisa saling berbagi pengalaman hidup yang dapat dijadikan pelajaran dan inspirasi bagi yang lainnya.

Kegiatan IFL yang terdekat?

Di tahun 2010 ini, kegiatan-kegiatan sosial seperti yang tertera dalam program-program IFL akan rutin dilaksanakan. Tahun depan, IFL berencana akan mengadakan Youth Parliament, semacam simulasi sidang pengambilan kebijakan seperti HNMUN, namun dengan model negara sendiri, Indonesia. Konsep acaranya nanti akan menghadirkan perwakilan dari tiap propinsi di Indonesia di mana para perwakilan tersebut dapat berbicara langsung dengan wakil pemerintah dan memberikan usulan mengenai permasalahan di berbagai bidang. Hal ini dicetuskan untuk memberikan bekal pengetahuan bagi anak-anak muda Indonesia mengenai proses pengambilan kebijakan di Indonesia. Jika anak-anak muda kita sudah sering mengikuti acara yang serupa di luar negeri tapi justru tidak mengerti proses yang terjadi di negara sendiri maka akan sangat disayangkan.

Kegiatan lainnya yang akan diadakan dan dimulai persiapannya sejak tahun ini adalah Center of School Communities, yakni semacam pusat dari komunitas-komunitas yang terbentuk di sekolah, seperti komunitas-komunitas voluntary. Center of School Communities terinspirasi dari Youth Service America yang memberikan pelatihan-pelatihan juga bantuan-bantuan lainnya pada komunitas-komunitas anak muda di Amerika.

Bagaimana berkontribusi di IFL? Siapa saja yang boleh berkontribusi?

Siapa saja boleh berkontribusi. Kami menerima field volunteer maupun cyber volunteer. Kalau field volunteer biasanya membantu kegiatan-kegiatan kami di lapangan, seperti memberikan pengajaran untuk anak-anak Children Behind Us di Tangerang. Sedangkan, cyber volunteer biasanya membantu dalam memberikan konten di web IFL. Untuk mendaftar jadi cyber volunteer dapat dilakukan langsung melalui webnya.

Cita-cita atau harapan dari Iman untuk Indonesia ke depannya?

Harapannya pemuda-pemuda Indonesia itu berdaya guna, capable di bidangnya masing-masing, memiliki kepekaan dan kemampuan untuk merubah lingkungan sekitarnya, juga mempunyai akhlak yang baik.

* * *

So, inspiring, right? Profil pemuda yang membuat kita semakin semangat untuk jadi lebih berdaya guna! Jangan mau kalah dengan Iman, kawan-kawan muda ;)

Kita juga mampu berdaya guna untuk Indonesia melalui cara kita masing-masing :)

Gesang: Maestro Keroncong dari Solo

Posted by Franova On March - 8 - 2010 3 COMMENTS

Gesang-Album Keroncong Asli (2008)

Tak banyak penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa menjadi legenda di masyarakat. Satu dari yang sedikit itu, ialah maestro keroncong asal Solo, Gesang Martohartono, pencipta lagu Bengawan Solo. Sebuah lagu keroncong yang menyeberangi lautan. Lagu yang sangat digemari di Jepang. Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. Lagu yang telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia. Dan, tak banyak

pula dari penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa bertahan hingga usia 85 tahun. Gesang bahkan telah membuktikan bahwa dalam usianya yang ke-85 tahun, masih mampu merekam suaranya. Rekaman bertajuk Keroncong Asli Gesang itu diproduksi PT Gema Nada Pertiwi (GMP) Jakarta, pada September 2002.

Sudah empat kali PT GMP memproduksi album khusus Gesang, yaitu pada tahun 1982, 1988, 1999, dan tahun 2002. Dari 14 lagu dalam rekaman compact disk (CD), enam di antaranya merupakan lagu yang belum pernah direkam. Yaitu Seto Ohashi”tahun 1988, Tembok Besar”tahun 1963, Borobudur”tahun 1965, Urung”tahun 1970, Pandanwangi”tahun 1949, dan Swasana Desa”tahun 1939. Selebihnya lagu-lagu lama karya Gesang, seperti Sebelum Aku Mati, Pamitan dan tentu saja Bengawan Solo.

Yayasan Peduli Gesang (YGP) wadah sejumlah warga Jepang yang memiliki penghormatan khusus pada Gesang, dan mereka menghimpun dana untuk membantu kehidupan Gesang. Sebagian dari mereka adalah orang Jepang yang berusia di atas 80 tahun, karena pada masa perang dahulu sudah mengagumi lagu Bengawan Solo. Mereka berasal dari Pulau Shikoku, Yokohama yg diketuai oleh Ny. Yokoyama Kazue (55 tahun). Ny. Yokoyama mengaku, sebenarnya ia hanya melanjutkan usaha mendiang Hirano Widodo, salah seorang warga Jepang yang tinggal di Klaten sebagai pengagum Gesang. “Saya sudah telanjur berjanji pada Pak Hirano tatkala beliau dirawat di rumah sakit”, tutur Ny Yokoyama. Ia bahkan mengaku, sebelumnya tidak mengenal Gesang.

Menyebut kekaguman terhadap Gesang sebagai sebuah legenda, rasanya tidak adil tanpa menyebut peran PT Gema Nada Pertiwi yang dipimpin Hendarmin Susilo 57 tahun. “Saya termasuk warga keturunan, tetapi saya cinta negeri ini, dan menyukai lagu-lagu daerah di sini seperti gending, degung, lagu-lagu Tapanuli, terutama keroncong”, ungkapnya. Hendarmin mengaku, kecintaannya pada musik keroncong seperti sudah mendarah-daging, dan karena itu ia siap berkorban. Ia juga menghormati Gesang, bahkan telah menganggapnya sebagai orangtua nya. Kalau bukan berdasar rasa kagum dan penghargaan yang mirip mitos, rasanya memang tak masuk akal sebuah perusahaan rekaman memproduksi album rekaman musik keroncong. “Apalagi di masa sulit sekarang ini”, kata Hendarmin. “Memang banyak teman Asiri yang menyebut saya gila”.

Hendarmin juga menyebutkan, sebenarnya bukan hanya kalangan masyarakat Jepang yang mengagumi Gesang. Nama Gesang dengan “Bengawan Solo” nya juga cukup dikenal pula di daratan Tiongkok. Dalam kaitan itu ia menyebut jasa Bung Karno yang pada masa lalu sering membawa misi kesenian ke RRC dan negara Asia Tenggara yang lain.

Bengawan Solo masuk ke Jepang untuk pertama kali sekitar setengah abad yang lalu di kala masa perang. Pada waktu tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, lagu itulah yang dari radio terdengar secara luas di kalangan serdadu Jepang serta orang-orang Jepang yang berada di sini.

Gesang datang pada festival salju Sapporo atas undangan himpunan persahabatan Sapporo dengan Indonesia pada tahun 1980, untuk pertama kali. Setelah itu telah berkali-kali datang ke Jepang atas undangan himpunan persahabatan Jepang. Demikianlah pagelaran keroncong berlangsung di Jepang untuk pertama kali dengan membawakan lagu Bengawan Solo. Melalui Gesang dan musik keroncong, orang menjadi sadar bahwa musik adalah sesuatu yang mutlak perlu bagi persahabatan dan perdamaian dunia. Lebih-lebih lagi, berkat kerendahan hati Pak Gesang, kepribadiannya telah membawa keakraban dan kehangatan bagi orang Jepang. Berkat kunjungannya ke Jepang, keroncong telah mengalami boom secara diam-diam. Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. Bengawan Solo yang melintasi batas negara, dengan memperkayakan hati manusia telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia. (Ensiklopedia Tokoh Indonesia)

Sahabat Para Petani

Posted by gundulucu On March - 6 - 2010 ADD COMMENTS

Artikel ini adalah kutipan dari acara Metro TV program Zero to Hero dengan episode Sahabat Para Petani.

Kita tahu bahwa petani merupakan salah satu pekerjaan di Negara kita yang berjasa menyediakan pangan bagi presiden dan semua rakyat. Namun apakah kita tahu bahwa petani jugalah yang memiliki kesejahteraan dan kemakmuran yang tergolong kecil. Adalah H. Sakaruddin yang mempunyai prestasi mengubah keadaan dengan menambah pendapatan petani sampai 7 kali lipat lebih baik dari masa lalu. Prestasi itu didapat dari pengembangan teknologi tepat guna pada pertanian dan perkebunan di pedesaan. Teknologi tepat guna ini berhasil mengolah bahan baku seperti Jagung, pisang, ketela dan lain-lain menjadi produk setengah jadi berupa keripik atau tepung.

Beliau bernama H. Sakaruddin, pemuda pelopor asal Sulawesi Tengah lulusan Universitas Taoulako – Palu. Beliau memulai perjalanan hidup menjadi pegawai sekaligus mahasiswa pada Universitas Taoulako pada tahun 1980. Ketika itu sambil kuliah dan bekerja, iya belajar mandiri di luar kampus tentang teknologi tepat guna selama 6 tahun lalu lulus sebagai Sarjana dan melanjutkan belajar mandiri tentang teknologi tepat guna tersebut sampai 1989. Selama masa belajar tersebut, ia menghabiskan sekitar 600 buku teknologi pengolahan hasil pertanian dan hasil perkebunan. Sampai pada akhirnya dia mengajar kecil-kecilan pada masyarakat untuk mengaplikasikan teknologi tepat guna pada kehidupan sehari-hari. Sehingga banyak institusi sosial yang tertarik untuk mengundang dia untuk mengajar lalu banyak undangan dari desa-desa lain untuk mengajar  tanpa dibayar apa-apa.

Semangatnya berlanjut dengan membuat pusat pelatihan kecil-kecilan beratap rumbai dan berdinding bilah bambu. Pusat pelatihan hasil jerih payah sendiri ini bertahan 19 tahun dengan kegiatan latihan bertempat  di teras dan garasi mobil di bangunan sederhana tersebut. Sampai pada akhir tahun 1990, pusat pelatihan binaan H. Sakaruddin ini mendapat bantuan dari swadaya masyarakat dan Bank Rakyat Indonesia untuk mendirikan sebuah lembaga pelatihan resmi bernama LPTTG Serenindi – Sulawesi Selatan. Pelatihan ini mengajarkan para petani untuk memberi nilai tambah pada hasil bumi menjadi aneka produk seperti tepung beras, kerupuk tortilla dan lain2. Tahun 2000 minat LSM dan pemerintah daerah semakin besar dengan mendukung terbetuknya LPTTG yang lebih baik, sehingga berdiri LPTTG Malindo – Sulawesi Selatan pada tahun 2003.

Prestasinya tercermin dari 2 cerita berikut. Cerita pertama adalah pada Kabupaten Ngada di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Seluruh 21 Kabupaten termasuk ke golongan daerah tertinggal. Namun hal itu berubah dengan Kab. Ngada yang mendengar kiprah H. Sakaruddin dan mengirim 100 orang ke LPTTG Malindo untuk belajar membuat chips jagung.  Atas jasanya Piet Jos Nuwa Wea, bupati Ngada, menyebutkan bahwa, “Jagung yang diproduksi oleh Kabupaten Ngada berjumlah 25-26 ton setahun. Dengan harga jual 1500-2000 rupiah per kg. Tetapi jagung tersebut dapat dirubah menjadi produk lebih bermutu dengan nilai tambah minimal 38.000 rupiah per 3kg atau sekitar 13000 rupiah per kg.“ Atas penyuluhan H. Sakaruddin yang sampai ke pelosok daerah Ngada, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat petani bisa meningkat. Hal itu belum termasuk pengolahan lainnya seperti pengolahan pisang Ngada. 1 pisang Ngada berharga 10.000 rupiah, namun kalau diolah 1 pisang bisa menjadi = 50.000 rupiah. Sehingga rakyat lebih bisa menjangkau jasa kesehatan dan jasa pendidikan dengan hasil bumi daerah sendiri beliau menambahkan.

Cerita kedua adalah berawal dari Antonius Billy, seorang preman yang berubah 180 derajat menjadi petani pembuat tortilla dari jagung di Sumba Barat Daya – NTT. Antonius terinspirasi dari penyuluhan dan pelatihan yang diberikan H. Sakaruddin. Antonius berkata,“ Saya tinggalkan semua yang kurang bagus dan saya mulai bertekun membuat Tortilla ini.” Hal ini diakui pemerintah Sumba Barat Daya sangat membantu perekonomian rakyat dari hasil produksi pertanian sendiri. Jagung yang semulanya hanya bisa diproduksi sebagai jagung bahan baku sebanyak 4 kg per hari bisa dirubah menjadi barang setengah jadi berupa keripik tortilla sebanyak 6 kg per hari. Hasil yang didapat pun sangat memadai bagi per petani yang mendapatkan omset 300.000 rupiah dan untung 150.000 rupiah per hari. Antonius menambahkan,”Yang saya rasakan betul pelatihan dan teknologi dari pak Sakaruddin ini bermanfaat bagi petani!”

Harapan H. Sakaruddin adalah Pimpinan negara dan Pimpinan daerah bisa menjadikan pedesaan sebagai pusat pertemuan, sebagai pusat kegiatan dan pusat pertumbuhan ekonomi rakyat. Dengan ini bisa dicapai perubahan kemiskinan dan perubahan mindset. H. Sakaruddin berkata,”Kalau semua orang pada lari ke kota, coba bayangkan kapan pedesaan bisa maju? Maka intinya adalah revitalisasi pembangunan pedesaan yaitu cukup menggeser kebijakan dari pusat ke desa. Sehingga desa bisa dicintai semua masyarakat.” Beliau juga berpendapat bahwa pelatihan selama ini sudah ada tapi tidak komprehensif, tidak sistematik dan tidak tuntas. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan H. Sakaruddin mewajibkan ketika rakyat di latih, ada semacam penandatanganan perjanjian kontrak sosial antara H. Sakaruddin (pemberi pelatihan) dengan bupati (yang meminta pelatihan) agar Pimpinan daerah memberikan jaminan pemberian modal, pemberian alat kerja, pemberian izin usaha, bantuan fasilitasi pemasaran kepada para petani. Sampai pada saat ini ada tidak kurang 60 Bupati yang datang untuk menandatangani kontrak sosial Malindo.

Saat ini H. Sakaruddin dengan Lembaga Pelatihan Teknologi Tepat Guna Malindo terus berupaya meningkatkan kesejahteraan petani. Selama 23 tahun usahanya, beliau telah melatih sekitar 2000 petani dari 164 kota dan kabupaten di kawasan Timur Indonesia.

Juga tersedia link untuk menonton video tentang H. Sakaruddin pada link dibawah :

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsprograms/2010/03/01/4835/230/Sahabat-Para-Petani

Temukan Rumus Angka Piramida, Remaja RI Disorot Media Jerman

Posted by agungfirmansyah On February - 25 - 2010 3 COMMENTS

Berlin – Seorang remaja Indonesia Ibrahim Handoko (15) mencuri perhatian media-media di Jerman. Ibrahim berhasil memformulasikan persamaan untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak terbatas.

Ibrahim, remaja santun yang juga aktif di berbagai kegiatan masjid ini mengundang decak kagum dari para pengajarnya di Jerman.

Seperti yang dilansir dari situs berita jerman www.derwesten.de, Kamis (25/2/2010) guru matematika dan pembimbing Ibrahim, Michael Wallau mengatakan muridnya adalah seorang yang luar biasa.

“Ini adalah temuan yang luar biasa bagi seorang remaja berusia 15 tahun, terlebih lagi ia menyelesaikan persamaan ini hanya disela-sela waktu luangnya,“ ujar Wallau pada derwesten.de.

Pada awalnya, Ibrahim hanya berniat membantu adik perempuannya menyelesaikan tugas sekolah tentang piramida. Persoalan ini pada intinya adalah menghitung jumlah angka pada elemen teratas suatu piramida.

Biasanya, persoalan ini diselesaikan dengan cara menjumlahkan satu persatu angka di setiap elemen penyusun paramida sehingga ditemukan jumlah total dalam piramida tersebut. Dengan rumus temuan Ibrahim, persoalan ini bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat tanpa harus menghitung satu persatu.

Berkat penemuannya ini, Ibrahim menjadi salah satu nominasi peneliti remaja terbaik tahun 2010 di Jerman. Selain itu, putra pasangan Bapak Budi Handoko dan Ibu Nuningsih ini, juga terpilih sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili distriknya dalam olimpiade matematika di tingkat negara bagian.

*) Priyanto adalah Mahasiswa S3 Universität Duisburg-Essen Jerman
Sumber: detik

Brian Arfi Faridhi, Juara Wirausaha Muda 2009

Posted by indonesiaberprestasi On February - 2 - 2010 3 COMMENTS

84403_brian_arfi_faridhi__pemenang_wirausaha_mandiri_300_225SURABAYA POST - Bisnis yang berhubungan dengan internet masih jadi primadona. Selain pasar masih terbuka lebar, modal yang diperlukan pun tidak terlalu besar.

Inilah yang menjadikan banyak pebisnis pemula getol mendalami bisnis ini. Salah satunya Brian Arfi Faridhi, mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya.

Keberhasilannya dalam bisnis inipun tak main-main. Selain mampu menjalankan bisnisnya di tengah persaingan yang sangat ketat, pemuda kelahiran 1986 ini mampu membuktikan bahwa dirinya adalah salah satu mahasiswa yang paling sukses dalam berbisnis. Ini dibuktikan dengan merengkuh gelar juara pertama kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2009.

Melalui perusahaan pengembangan web miliknya, PT DheZign Online Solution, pemuda yang menikah di usia sangat muda ini berhasil menyingkirkan sekitar 1.700 orang pesaing untuk merebut gelar juara pertama kategori kreatif. Perusahaan pengelola web ini mampu membukukan omzet Rp 559 juta tahun lalu. Inilah yang menjadi salah satu pertimbangan dewan juri memilihnya.

Diakui, bisnis yang digelutinya sekarang bukanlah bisnis pertama yang dijalankan suami Juanita Vyatri tersebut. Setidaknya sudah sembilan bisnis yang diterjuni bapak tiga anak ini. “Dan semuanya gagal total,” ujarnya sambil terkekeh ketika ditemui di kampusnya, Senin 1 Februari 2010.

Dia mengaku tidak menyerah meskipun banyak bisnisnya tersungkur. “Ya itulah risiko berbisnis, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita bangkit,” ujar pria yang pernah berjualan parfum, burger, jus buah hingga pentol ini.

Brian kini sedang mengembangkan bisnisnya ke arah yang lebih menjanjikan. “Pasar bisnis online memang sedang berkembang pesat dan kini kami sedang mempersiapkan itu untuk dikembangkan,” ujarnya. Selain pengembangan dan pengelolaan web, Brian juga sedang mengembangkan toko online yang menjual pernak-pernik muslim.

Denny Sagita

Sumber: VIVANews

Alanda Kariza – Program Director Indonesian Youth Conference

Posted by indonesiaberprestasi On December - 25 - 2009 6 COMMENTS

Alanda Kariza nama panjangnya. Saat ini umurnya masih 18 tahun. Namun, gadis satu ini sudah sangat luar biasa. Ya, dalam usia yang sebelia itu, Alanda telah patut menjadi contoh bagaimana anak muda Indonesia turut bergerak dan berperan aktif dalam kemajuan bangsanya.

Pada usia 14 tahun, Alanda menerbitkan novel pertamanya berjudul “Mint Chocolate Chips”. Selain aktif sebagai penulis, Alanda juga merupakan salah satu pendiri komunitas sosial The Cure For Tomorrow (http://www.thecurefortomorrow.org/) yang memiliki visi untuk membuat lingkungan hidup menjadi sebuah tempat tinggal yang lebih baik. Saat berumur 17 tahun, Alanda pernah mewakili Indonesia dalam “Guildford Forum Global Changemakers (GCGF)” di Inggris yang diikuti oleh remaja dari berbagai belahan dunia. GCGF yang digelar British Council tersebut bertujuan menggalang jejaring global bagi remaja yang aktif dalam membuat perubahan di negerinya.

Kali ini, Indonesia Berprestasi berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Alanda dan membicarakan seputar proyek terbarunya, yakni Indonesian Youth Conference (http://indonesianyouthconference.org/), sebuah konferensi remaja nasional pertama di Indonesia yang akan membahas berbagai macam hal, mulai dari lingkungan, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, nasionalisme, kewirausahaan sosial, teknologi informasi, industri kreatif hingga jurnalistik dan media.

Profil Singkat Alanda Kariza

alanda

Nama Lengkap: Alanda Kariza

Nama Panggilan: Alanda

Blog: http://alandakariza.com

Bisa jelaskan apa itu Indonesian Youth Conference secara umum?

Indonesian Youth Conference atau IYC itu adalah konferensi remaja nasional pertama di Indonesia. Konferensi yang akan berlangsung di Jakarta, terdiri dari berbagai macam acara, seperti seminar, workshop, juga outdoor activities lainnya dengan tema yang beragam. Mulai dari leadership, pendidikan, teknologi informasi, industri kreatif, jurnalistik, media, dan lain-lain. Konferensi ini mengundang 33 siswa-siswi SMA dari seluruh propinsi di Indonesia untuk menjadi wakil dalam menyampaikan aspirasi daerahnya. Di IYC, mereka akan diberikan pengetahuan dan keterampilan tambahan melalui workshop serta diminta untuk berbagi ide dengan remaja dari seluruh Indonesia.

Apa yang mendasari pelaksanaan Indonesian Youth Conference?

Berdasarkan sensus tahun 2005, ada sekitar 40 juta penduduk Indonesia yang tergolong dalam usia remaja (15 – 24 tahun). Jumlah ini setara dengan dua kali populasi Australia atau sepuluh kali jumlah penduduk Singapura. Suara 40 juta remaja ini tentu saja akan signifikan jika didengar. Pasti ada dari 40 juta orang tersebut yang memiliki ide-ide brilian untuk masalah-masalah yang sedang dihadapi Indonesia. IYC pun dibentuk dengan tujuan mewadahi para pemuda-pemudi Indonesia untuk bisa berbagi aspirasi serta ide. Karena, di Indonesia memang belum ada yang mewadahi, belum ada parlemen remaja yang dapat mewakili aspirasi para remaja, seperti di Pakistan dan Inggris.

Konsep acaranya seperti apa?

IYC ini insya Allah akan diselenggarakan tanggal 7 – 11 Juli 2010. Pada tanggal 7 – 9 Juli 2010, 33 siswa-siswi SMA dari berbagai propinsi yang telah lolos seleksi akan diberikan pembekalan melalui berbagai macam workshop yang akan membahas mengenai leadership, how to get idea, how to picture idea, how to work with government, dan semua materi yang dirasa akan sangat dibutuhkan oleh para remaja untuk dapat menjadi “sesuatu”. Di hari terakhir pembekalan, mereka akan diminta untuk mempresentasikan proyek yang akan mereka buat nantinya di daerah masing-masing setelah pulang dari Jakarta. Sedangkan, untuk tanggal 10 – 11 Juli 2010, IYC juga berencana untuk membuat acara-acara bagi masyarakat umum, tidak harus diikuti oleh siswa-siswi SMA, yang merasa young on heart boleh ikutan juga :)

Kami ingin sekali mengemas IYC sebagai sebuah kegiatan positif yang fun. Ingin membuat IYC sebagai celebration-nya anak muda Indonesia, tempat di mana mereka bisa didengar dan juga saling mendengar.

Mengapa namanya menggunakan bahasa Inggris “Indonesian Youth Conference” dan bukannya bahasa Indonesia “Konferensi Pemuda Indonesia”?

Banyak yang bertanya mengenai hal ini. Alasannya karena ingin apa yang dilakukan anak-anak muda Indonesia melalui IYC bisa terdengar gaungnya hingga ke luar negeri. Selamai ini kan, Indonesia hanya dipandang sebagai negara penuh bencana alam dan terorisme juga negara yang kaya dengan sumber daya alam tapi gak bisa ngapa-ngapain. Jadi, melalui IYC ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia itu sebenarnya bisa, anak-anak mudanya juga bisa berbuat hal baik untuk kemajuan negara.

Apa follow-up dari IYC?

Berharapnya, setelah IYC, 33 anak-anak dari seluruh Indonesia tersebut dapat melaksanakan apa yang menjadi impian-impian mereka di daerahnya masing-masing dengan keahlian masing-masing. Berharap IYC dapat diadakan setiap tahun dan menjadi penampung aspirasi dari anak-anak muda Indonesia terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia.

* * *

Lebih lanjut tentang Indonesian Youth Conference:

Web: http://indonesianyouthconference.org/

Dirgahayu Indonesia, Dirgahayu Tanah Airku

65 tahun silam… Tepat pukul 10.00 pagi, 17 Agustus 1945.. Tertulislah sejarah bangsa Indonesia di kanvas kehidupan. Diiringi... 

ITSF AWARD 2010

ITSF AWARD 2010 telah dimulai Indonesia Toray Science Foundation mengajak ahli ilmu pengetahuan, peneliti, dan guru SMA bidan... 

Kido/Hendra Raih Gelar Internasional

Ganda putra peringkat empat dunia Markis Kido/Hendra Setiawan meraih gelar pertama mereka dalam turnamen internasional pada... 
Indonesia, Juara Essay Competition 2010 World Bank!

Indonesia, Juara Essay Competition 2010 World Bank!

Indonesia kembali menorehkan namanya di dunia internasional. Kali ini melalui International Essay Competition 2010 yang diselenggarakan... 

TAG CLOUD

POPULAR

  • Dukung Indonesia Berprestasi

    Indonesia Berprestasi
  • Indonesia Berprestasi on Facebook!

  • Indonesia Berprestasi Didukung dan Mendukung: