Batik, Wayang, Keris, Jadi Warisan Budaya Dunia

Posted by rabindra On February - 5 - 2010 ADD COMMENTS

20100205141954-warisanbudaya-050210-2Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya Dunia (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) telah memasukkan batik, keris dan wayang Indonesia ke dalam daftar warisan budaya tak benda dunia.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyerahkan sertifikat pengakuan UNESCO tersebut kepada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dalam sebuah seremoni di kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jakarta, Jumat.

Usai menerima sertifikat itu, Agung menyerahkannya kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang selanjutnya akan memegang tanggung jawab pelestarian warisan-warisan budaya tersebut.

“Selain sertifikat pengakuan terhadap tiga mata budaya takbenda, pemerintah juga menerima sertifikat `best practices` pelestarian batik,” kata Agung.

Ia mengatakan, sebagai negara yang mata budaya tak bendanya masuk ke dalam daftar warisan budaya tak benda dunia Indonesia terikat dengan kewajiban untuk melestarikan mata budaya tersebut.

“Kita semua punya tanggung jawab untuk melestarikan warisan budaya ini, misalnya dengan sering memakai batik. Hanya untuk wayang dan keris yang agak berat,” kata Jero.

Ia mengajak seluruh komponen masyarakat berpartisipasi dalam upaya pelestarian warisan budaya tersebut dengan mempelajarinya.

“Saya mengajak semua untuk sering menonton wayang, supaya mata budaya ini bisa terus ada,” katanya.

Jero mengatakan, pemerintah akan mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung upaya pelestarian warisan budaya.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menambahkan, pemerintah juga mendukung pengembangan produk budaya yang dikategorikan sebagai produk ekonomi kreatif tersebut.

Selain itu, kata Agung, pemerintah akan mendapat bantuan teknis dan dana konservasi dari UNESCO untuk mendukung upaya pelestarian produk budaya nasional yang sudah masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia.

Terus Memasukkan
Jero mengatakan, pemerintah akan menginventarisir mata budaya yang ada di Indonesia dan berjuang memasukkannya karya budaya yang dianggap paling agung ke dalam daftar representatif UNESCO.

Ketua Pelaksana Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman mengatakan tahun ini pemerintah menyusun proposal untuk memasukkan angklung dan tari saman ke dalam daftar representatif UNESCO.

“Tahun depan kita akan berusaha menyusun proposal untuk memasukkan tenun ikat dan gamelan,” katanya.

Ia menjelaskan, selama ini upaya untuk menyiapkan proposal pemasukkan mata budaya ke dalam daftar representatif badan dunia itu sering terkendala minimnya akademisi yang memiliki pengetahuan mendalam tentang suatu mata budaya.

“Seperti batik misalnya, praktisinya banyak. Tapi cari profesor yang ahli tentang batik susahnya setengah mati,” demikian Arief Rachman.(M035/A038)

Sumber: ANTARANews

Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Posted by rabindra On January - 10 - 2010 ADD COMMENTS

Bersama Kota Manila di Filipina, Yogyakarta saat ini menjadi pusat seni rupa di Asia Tenggara. Dalam level yang berbeda, dua kota tersebut memiliki iklim yang sangat mendukung perkembangan seni rupa.

yogyakarta-batik

Photo Credit: Blog Antoys

Hal itu dikatakan Karim Raslan, pengamat seni rupa asal Malaysia, dalam kuliah umum Biennale Jogja X dengan tema Seni Rupa di Asia Tenggara, Jumat (8/1/2010).

Raslan menuturkan, identitas Asia Tenggara yang diperkuat dengan organisasi ASEAN sebenarnya dimunculkan untuk kepentingan politik dan ekonomi. Sedangkan seni rupa di kawasan Asia Tenggara sebenarnya berkembang sendiri-sendiri di setiap negara, dalam tegangan antara nilai lokal dan universal.

Namun, dunia telah menganggap Asia Tenggara sebagai sebuah komunitas bersama sehingga muncul juga istilah seni rupa Asia Tenggara. Tidak ada yang disebut gaya melukis Asia Tenggara, seperti juga tidak ada yang disebut sebagai identitas Asia Tenggara. “Asia Tenggara adalah wilayah persilangan budaya. Namun dunia sudah telanjur menganggap kawasan ini sebagai suatu komunitas seni, sehingga kalau ada Biennale internasional, mereka perlu mengundang perupa dari Asia Tenggara,” jelasnya.

Menurut Karim, satu hal yang mungkin menyamakan perkembangan seni rupa di kawasan Asia Tenggara adalah pengalaman dengan krisis ekonomi. Pascareformasi, terjadi ledakan seni rupa di semua negara. Perupa merespon perubahan dan kebebasan politik dalam karya mereka.

Dalam komunitas Asia Tenggara tersebut, lanjut dia, Yogyakarta dan Manila menjadi pusat perkembangan seni rupa. Berada di dua negara yang secara ekonomi belum begitu maju, dua kota ini justru memiliki iklim yang sangat mendukung perkembangan seni rupa.

Karim menambahkan, Singapura dan Malaysia mungkin punya segala hal yang bisa mendukung seniman. Tapi di dua negara itu tidak ada iklim sebebas Yogyakarta. Kelemahan institusi budaya milik negara di Indonesia justru menguntungkan seniman dalam berkarya.

Di Malaysia, seniman yang didukung pemerintah tentu harus menuruti keinginan pemerintah. Ini membuat seni rupa tidak berkembang. “Di Yogyakarta, lihatlah Biennale, di sini kita bisa melihat begitu banyak hal. Sedangkan di Filipina, ada banyak institusi pendidikan seni dengan pengajar berkualitas sehingga bisa seni terus berkembang,” katanya.

Sumber: KOMPAS.com

Ngana Pe Bodi… Poco-Poco!

Posted by indonesiaberprestasi On December - 26 - 2009 ADD COMMENTS

Iramanya sungguh asik juga ceria. Membuat badan ingin terus bergerak mengiringi melodi uniknya. Tidak susah pula untuk dipelajari dan merupakan salah satu budaya khas bangsa kita, Indonesia. Ya, apalagi kalau bukan tari poco-poco!

Sahabat, di edisi Warisan Budaya Nusantara kali ini, tim Indonesia Berprestasi akan menyuguhkan cerita menarik seputar tari poco-poco. Hope u all can enjoy it! Berharap postingan pendek ini bisa menambah sedikit khasanah pengetahuan kita mengenai budaya negeri sendiri ;)

Karena Seorang Gadis

Tidak disangka, tari poco-poco memiliki sejarah yang cukup unik. Semuanya, berawal dari sebuah jamuan pesta! Ketika itu, seorang seniman Ternate berdarah Ambon bernama Arie Sapulette terpikat pada seorang gadis yang sedang membawakan tarian tradisi masyarakat Yospan, Papua, dan Wayase, Ambon. Spontan ia pun membuat sebuah lirik lagu dari melodi gendang yang mengiringi tarian gadis tersebut..

Balenggang patapata,

Ngana pe goyang… pica-pica,

Ngana pe bodi… poco-poco,

Cuma ngana yang kita cinta

Cuma ngana yang kita sayang

Cuma ngana suka bikin pusing

(Arti:

Jalannya berlenggang,

Goyangan badanmu… lincah,

Tubuhmu yang berisi dan lincah

Hanya kamu yang kucinta

Hanya kamu yang kusayang

Hanya kamu suka buat aku pusing…)

Begitulah, Arie sangat terpikat dengan kelincahan seorang gadis penari sehingga keluarlah kata poco-poco! Dan sejak saat itu, tarian dengan melodi rentak gendang seperti yang dibawakan gadis tersebut dinamakan tari poco-poco.

Setelah Arie pindah ke Jakarta pada tahun 1995, lagu yang ia gubah mulai populer ke seluruh Indonesia dan dinyanyikan oleh penyanyi terkenal, Yopie Latul. Tari poco-poco sendiri baru populer sekitar tahun 2001.

Empat Penjuru Mata Angin

tom3poco

Sumber Gambar: link

Tari poco-poco adalah tarian yang relatif mudah sehingga sangat digemari oleh masyarakat. Bahkan, sering juga kita melihat, tari poco-poco dijadikan semacam senam oleh murid-murid sekolah di Indonesia.

Gerakan dasar tari poco-poco relatif mudah. Dua langkah kecil ke kanan, kembali ke tempat, lalu mundur satu atau dua langkah ke belakang, kemudian maju ke depan sambil berputar. Begitu seterusnya, gerakan tersebut diulang-ulang. Prinsipnya adalah memutar tubuh ke empat penjuru mata angin lalu kembali ke tempat semula.

Saat ini, tari poco-poco telah berkembang sehingga memiliki sekitar 50 variasi gerakan. Iringan musiknya pun menjadi beraneka macam. Sahabat mungkin sudah pernah mendengar berbagai versi iringan musiknya, dari dangdut, house music (disko), juga cha-cha.

Olahraga hingga Hiburan Tentara

Selain untuk olahraga, musiknya yang ceria membuat poco-poco sering digunakan pada berbagai macam event yang ada. Beberapa kalangan memanfaatkan poco-poco sebagai alat penghubung dan pengerat hubungan diplomasi antara Indonesia dengan negara asing. Bahkan, katanya, sebelum menjadi populer seperti saat ini, poco-poco juga sering dibawakan oleh pasukan tentara yang bertugas di Ambon sebagai alat untuk memperkuat persatuan. Poco-poco ditarikan sebagai salah satu cara menghibur diri pula ketika bertugas.

Keragaman ini mungkin disebabkan oleh kemudahan poco-poco dalam ditarikan. Tidak seperti tarian tradisional lainnya. Dan, terlepas dari semuanya, hal paling penting yang ingin didapatkan dari tari poco-poco ini adalah rasa gembira serta perasaan yang lebih segar.

* * *

Sahabat, jika kamu punya informasi tambahan atau informasi berbeda mengenai tarian poco-poco ini, silakan ditambahkan di bagian komentar ya! Terimakasih ;)

Referensi

http://budaya-indonesia.org/iaci/Tari_Poco_Poco_Maluku

http://taipingilmu.blogspot.com/2009/03/poco-poco-dan-sejarahnya.html

Bali Perlu Lembaga Pengelola Warisan Budaya

Posted by rabindra On December - 17 - 2009 ADD COMMENTS

Provinsi Bali memerlukan sebuah lembaga pengelola warisan budaya dunia (WBD), jika tiga kawasan di Provinsi Bali yang diusulkan ke Unesco disetujui, kata Dirjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar Drs. Hari Untoro Dradjat.

1413062p

“Lembaga WBD itu nantinya untuk menjaga eksistensi tiga kawasan yang diusulkan ke Unesco itu,” katanya dalam acara sosialisasi pengelolaan WBD di Denpasar, Rabu.

Tiga kawasan yang diusulkan di Provinsi Bali itu, Daerah Aliran Singai (DAS) Pakerisan, Jatiluwih dan Taman Ayun terus dimantapkan agar dapat ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia (WBD) oleh Unesco, katanya.

Dalam pemaparannya, ia mengatakan, memperjuangkan tiga kawasan Bali untuk ditetapkan menjadi WBD memang cukup panjang. Usulan itu sudah dilakukan mulai tahun 2002, saat ini usulan tersebut sudah mendapat nomor di Unesco.

Dalam prosesnya, masih banyak persyaratan yang mesti dipenuhi diantaranya kepastian lembaga pengelola jika nantinya tiga kawasan tersebut ditetapkan sebagai WBD. Unesco memang memiliki sifat kehati-hatian dalam hal ini, katanya.

Ia mengatakan, pada prinsipnya, usulan Bali mengedepankan “cultural landscape”, yaitu keberadaan subak (oraganisasi tradisional mengatur tata air irigasi) yang telah mendunia. “Usulan WBD untuk kategori ini memang cukup rumit,” katanya.

Ia menggambarkan, Unesco pernah menetapkan sebuah kawasan serupa di Filipina menjadi WBD untuk kategori ini. Pascapenetapan WBD tersebut, terjadi perubahan yang begitu cepat pada masyarakat sekitar karena meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan.

Jika tak bisa dikendalikan, kondisi ini dikhawatirkan akan membahayakan lingkungan sekitar dan merusak keseimbangan alam. “Hal ini hendaknya menjadi sebuah pelajaran berharga bagi Bali untuk komit menjaga kelestarian alam, khususnya yang nantinya ditetapkan menjadi WBD,” katanya.

Untoro punya keyakinan, masyarakat Bali dengan konsep Tri Hita Karana bisa menjaga kelestarian lingkungannya, mengingatkan, sejalan dengan meningkatnya kepentingan ekonomi, tantangan yang dihadapi dalam upaya pelestarian lingkungan akan semakin besar.

“Saya yakin, konsep Tri Hita Karana yang dimiliki masyarakat Bali bisa menangkal berbagai tantangan tersebut,” jelasnya.

Adanya kepastian dalam pengelolaan WBD diharapkan mampu meyakinkan Unesco untuk segara menetapkan tiga kawasan Bali menjadi WBD, katanya.

Sementara itu, Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan Dr. IB Sedhawa, mengharapkan agar tahun 2010 mendatang, tiga kawasan usulan tersebut bisa ditetapkan menjadi WBD.

“Untuk itu, memang perlu adanya sebuah lembaga pengelola agar WBD tetap terjaga eksistensinya,” katanya.

WBD hendaknya dikelola oleh sebuah lembaga independan yang sifatnya komplementer, terdiri atas kalangan akedemisi, bendesa, LSM komponen swasta.

Selain melakukan konservasi, lembaga pengelola ini nantinya juga dapat melakukan pendidikan dan pembinaan kepada masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan sekitar WBD. Sebab bagaimanapun, tantangan yang menyertai penetapan WBD akan semakin berat sejalan meningkatnya kepentingan ekonomi.

Sumber: Kompas.Com

Gitar Sipoholon Tembus AS

Posted by rabindra On December - 15 - 2009 ADD COMMENTS

Pemesanan gitar hasil industri kerajinan rakyat Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara yang memiliki kayu berkualitas dan suara cukup nyaring menembus pasar Amerika Serikat.

gitar-sipoholon_09

Gitar Sipoholon (Sumber: link)

“Pesanan gitar yang dikerjakan secara turun temurun oleh keluarga Hutagalung ini sudah sampai ke Amerika,” kata penanggung jawab anjungan Kabupaten Tapanuli Utara, Jones Lubis, di Pekan Raya Sumut, Medan, Senin.

Kelebihan gitar Sipoholon adalah kualitas dan seni penjiwaan pembuatnya ditambah dengan pemilihan kayu kualitas terbaik yang ditemukan di daerah Sarulla, Tarutung.

Usaha gitar yang dijalani sejak 1954 ini, pembuatannya terbilang cukup sederhana dan membutuhkan kesabaran karena masih manual serta memiliki kejelian sentuhan tangan.

Jones menambahkan, pembuatan gitar tersebut muncul karena adanya gitar buatan luar yang dipasarkan ke daerah Tapanuli Utara pada saat itu sehingga keluarga Hutagalung termotivasi untuk membuat gitar yang tidak kalah kualitasnya.

Usahanya semakin berkembang, semula dilakukan di rumahnya Hutabagasan Desa Lumban Baringin Sipoholon. Modal usaha terkumpul kini dapat membeli tanah di pinggir jalan raya Jalan Balige km 3 Lumban Baringin Sipoholon.

Pemasaran gitar tersebut pada umumnya hanya melayani pesanan. Semua gitar yang terpajang di galleri sudah ada pembelinya.

Harga gitar yang dipatok oleh Hutagalung berkisar Rp350 ribu sampai Rp1 juta tergantung bentuk dan model. “Tergantung keinginan si pemesan, satu gitar biasanya membutuhkan waktu 1-2 minggu”, katanya.

Jones menjelaskan, pembuatan gitar Sipoholon yang terbilang mudah serta dapat menghasilkan kualitas suara merdu ini tidak kalah dibandingkan dengan gitar luar.

Sumber: ANTARANews

Naskah Kraton Yogya Didokumentasi Elektronik

Posted by lenidisini On December - 14 - 2009 ADD COMMENTS

Ribuan naskah-naskah kuno milik Keraton Yogyakarta akan didokumentasikan secara elektrik. Pihak keraton akan menggandeng salah satu universitas di Jerman untuk mendokumentasi naskah agar keberadaan dan pelestariannya tetap terpelihara dengan baik.

73764_konservasi_naskah_kuno_300_225

Konservasi Naskah Kuno (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

Perwakilan keluarga Kraton Yogyakarta, GBPH Djoyokusumo mengatakan, proses dokumentasi elektrik terhadapan naskah-naskah kuno merupakan tawaran dari salah satu universitas di Jerman. Sebelumnya, pihak universitas tersebut telah melakukan hal serupa di Aceh, pasca bencana tsunami beberapa tahun lalu.

“Daripada mesin itu langsung dibawa pulang ke Jerman, pihak universitas menawarkan kepada Kraton untuk mendokumentasikan
naskah-naskan kuno milik keraton ke secara elektrik dalam bentuk CD room komputer,” kata Djoyokusumo, adik kandung Sri Sultan Hamengkubuwono X, kepada VIVAnews seusai acara Kirab Budaya 2009 Puralaya Gunung Pring, Magelang, Minggu, 13 Desember 2009.

Jumlah naskah kuno yang akan didokumentasikan mencapai ribuan. Kondisi naskah tersebut masih terpelihara dengan baik dan merupakan peninggalan sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono V. “Naskah-naskah kuno tersebut sangat bermacam-macam diantaranya surat-surat dan kitab-kitab kuno. Namun, jumlah persisnya saya tidak ingat, tetapi mencapai ribuan,” sebutnya.

Sementara itu, mengenai keberadaan naskah kuno peninggalan sebelum masa Sri Sultan Hamengkubuwono V, dijelaskan dia, banyak yang dibawa oleh Deandels dan Raflles ke Belanda dan Inggris. Dengan adanya dokumentasi elektrik, dia mengharapkan, agar keberadaan naskah-naskah kuno tetap terpeliharan dan lestari.

Sehingga, semua masyakarakat bisa mengetahui dan mengaskes naskah-naskah tersebut melalui komputerisasi. “Ya, naskah-naskah tersebut masih bagus, namun ada juga yang kertasnya sudah rusak. Untuk yang rusak nanti akan diperbaiki,” jelas Djojokusumo.

Laporan: Fajar Sodiq | Solo

Sumber: VIVANews

Deklarasi Djuanda

Posted by indonesiaberprestasi On December - 13 - 2009 3 COMMENTS

SOSOK Ir. H. DJUANDA KARTAWIJAYA: PENGABDI REPUBLIK INDONESIA TANPA HENTI DAN SEJARAH DEKLARASI DJUANDA

Oleh: Didik Prajoko, M.Hum. & Asep Kambali, S.Pd.

Hari ini tidak nampak satu pun status FB/FS/Twitter,dll. tentang Hari Nusantara. Sedih sekali, padahal pada 13 Desember 1957 perdana menteri Ir.H. Djuanda telah melakukan terobosan besar dalam mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan & laut yang menjadi wilayah teritorial Indonesia dgn mencanangkan Deklarasi Djuanda. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, bendungan, stasiun KA, bahkan bandara. Tp trnyta qta tdk mngenalnya, karena kita telah melupakannya :”( Mari blajar lagi sejarah! ;-)

12462_238547933451_798268451_4334529_6124757_a Nggak banyak generasi masa kini yang mengenal sosok Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, meski namanya sudah sangat banyak diabadikan ke dalam nama jalan, nama bendungan, nama stasiun kereta api (di Jakarta) dan bahkan nama bandar udara di kota Surabaya. Banyak tokoh-tokoh yang hidup semasanya juga berpikir yang sama bahwa dalam dua puluh tahun terakhir ini namanya tidak menjadi buah bibir generasi muda, padahal Ir. H. Djuanda Kartawidjaja telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasiona RI. Walah, jangan-jangan banyak para elit Republik ini mengalami sindrom yang sama, yaitu sama sekali tidak mengenalnya. Ironis…

Tentunya hal ini menjadi kepedulian kita bersama. Perlu diketahui, bahwa sejak masa awal kemerdekaan (1946) sampai meninggalnya 6 Nopember 1963 dalam usia 52 tahun, Ir. H. Djuanda K. selalu mendapat kepercayaan menjadi menteri dalam berbagai kabinet, bahkan ketika meninggal masih menjabat sebagai Menteri Pertama antara tahun 1959-1963, dan sebelumnya adalah Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan selama tahun 1957-1959.

Ir. H. Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 januari 1911, merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS). Pendidikan sekolah dasar diselesaikan di HIS dan kemudian pindah ke sekolah untuk anak orang Eropa Europesche Lagere School (ELS), tamat tahun 1924. Selanjutnya oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah menengah khusus orang Eropa yaitu Hogere Burger School (HBS) di Bandung, dan lulus tahun 1929. Pada tahun yang sama dia masuk ke sekolah Tinggi Teknik (Technische Hooge School) di Bandung, mengambil jurusan teknik sipil dan lulus tahun 1933. Semasa mudanya Djuanda hanya aktif dalam organisasi non politik yaitu Paguyuban Pasundan dan anggota Muhamadiyah, dan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhamadiyah. Karir selanjutnya dijalaninya sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum propinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.

Ir. Djuanda oleh kalangan pers dijuluki ‘menteri marathon’ karena sejak awal kemerdekaan (1946) sudah menjabat sebagai menteri muda perhubungan sampai menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959) sampai menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963). Sehingga dari tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, beliau menjabat sekali sebagai menteri muda, 14 kali sebagai menteri, dan sekali menjabat Perdana Menteri.

Pada saat diangkat oleh presiden Soekarno sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Karya, Ir. Djuanda bukanlah orang partai, sehingga ‘Kabinet Karya’ ini beranggotakan para menteri yang dipilih berdasarkan keahliannya bukan berdasarkan asal partainya. Pada saat menjabat sebagai perdana menteri inilah, Ir. Djuanda harus menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang berat dan rumit. Beberpa diantarannya adalah masalah ketegangan hubungan antara presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta yang mengundurkan diri tahun 1956. Selain itu pergolakan di daerah semakin memanas dengan ketidakpuasan elit politik dan militer di daerah seperti di Sumatera barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara. Selain itu pemerintahan Djuanda juga harus mengatasi pemberontakan Darul Islam (DI/TII) di Jawa barat, Aceh dan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon dan Seram, dan juga masalah provinsi Irian Barat yang masih diduduki oleh Belanda.

Sebagai perdana menteri, Djuanda memprakarsai kegiatan yang berusaha untuk menormalisasi keadaan dan menegakkan keutuhan Negara Republik Indonesia. Untuk itulah diadakan Musyawarah Nasional yang mengundang para penguasa sipil dan militer di daerah, tokoh-tokoh Indonesia yang dianggap mampu memberikan masukan-masukan yang positif sesuai dengan tujuan Munas. Acara diadakan di Gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan Timur no. 56. Presiden Soekarno dan mantan Wakil Presiden Moh. Hatta juga bersedia hadir dalam acara tersebut. Kehadiran tokoh ‘dwi tunggal’ diharapkan dapat mempengaruhi para elit lokal untuk mau duduk dan bermusyawarah memecahkan berbagai masalah kebangsaan yang tengah mengancam keutuhan Negara RI. Acara Munas dimulai tanggal 10 September 1957 dan berlangsung sampai 14 September 1957.

Dalam pembukaan Munas, Ir. Djuanda menekankan pentingnya segala komponen bangsa untuk memikirkan pemecahan masalah yang membuat Negara RI berjalan tidak normal. Dengan membawa kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan golongan atau partai. Sementara itu Bung karno dan Bung Hatta mengingatkan kembali agar segenap komponen bangsa mengambil teladan dari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai jiwa yang membawa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, mengingat munas ini juga diselenggarakan di gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan No 56.
Munas ini secara umum cukup berhasil meredam ketegangan antara pusat dan daerah untuk sementara waktu. Memburuknya hubungan RI dan Belanda menimbulkan gejolak di Indonesia, sehingga terjadi kekacauan dalam pengambilalihan asset-asset milik Belanda dan ditambah lagi terjadinya ‘Peristiwa Cikini’ pada tanggal 30 Nopember 1957 yaitu peledakan granat di sekolah Cikini ketika Soekarno berkunjung ke sekolah anaknya tersebut, Soekarno selamat tetapi banyak yang tewas akibat ledakan granat tersebut. Peristiwa ini berkembang dan meningkatkan suhu politik di dalam negeri, termasuk penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Keadaan menjadi tidak stabil ketika komandan-komandan militer dibeberapa daerah meminta agar Kabinet Djuanda dibubarkan atau mengundurkan diri. Sehingga memasuki 1958 situasi pergolakan mulai memuncak dan meletus di Sumatera Barat (PRRI) dan Sulawesi Utara (Permesta).

Namun dari semua kesulitan yang dihadapi oleh Kabinet Djuanda dan juga bangsa Indonesia umumnya. Perdana menteri Djuanda ternyata mampu melakukan terobosan besar dalam upanya mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan dan laut yang menjadi wilayah territorial Indonesia dengan mencanangkan Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957, yang berbunyi:

”segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada di bawah kedaulatan Indonesia”.

Pernyataan ini dibacakan dalam sidang Kabinet oleh Perdana menteri Djuanda sebagai landasan hukum bagi penyusunan Rancangan Undang Undang yang nantinya dipergunakan untuk menggantikan Territoriale Zee and Maritime Kringen Ordonantie tahun 1939, terutama pasal 1 ayat 1 yang menyatakan wilayah territorial Indonesia hanya 3 mill diukur dari garis air rendah setiap palung. Hal ini mengakibatkan wilayah perairan antara pulau-pulau di Indonesia menjadi kantung-kantung internasional yang dapat dimanfaatkan oleh pihak luar, dan waktu itu banyak kapal-kapal perang Belanda yang melintasi laut-laut dalam kita menuju Irian Barat dengan memanfaatkan hukum territorial laut tahun 1939.

Penyusunan Deklarasi Djuanda yang sangat penting ini tidak terlepas dari peran. Mochtar Kusumaatmadja yang pada saat itu adalah anggota panitia rancangan Undang-undang (RUU) Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim. “Ketika RUU sedang dalam proses penyelesaian dengan menetapkan wilayah laut territorial Indonesia adalah 12 mil dari garis air rendah. Bulan oktober 1957, menteri Chaerul Saleh mendatangi saya dan mengatakan bahwa RUU tersebut tidak banyak berguna untuk menutup Laut Jawa dari pelayaran kapal-kapal asing terutama kapal perang Belanda. Mochtar kemudian menyusun draft deklarasi atas seizin Letkol Laut Pirngadi, ketua Panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dan juga Kepala Staff Operasi Angkatan Laut.” kata Mochtar.

Pada tanggal 13 Desember 1957, panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dipanggil PM. Djuanda di Pejambon, Jakarta. Letkol Pirngadi dan Mochtar kusumatmadja kemudian dipersilahkan menjelaskan peta Indonesia yang sudah menggunakan konsep laut “antara” sebagai wilayah territorial Indonesia bukan hanya 3 mil atau 12 mil dari garis air rendah. Hasil rapat kabinet kemudian memutuskan konsep yang menyatakan bahwa; ”segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada dibawah kedaulatan Indonesia” diterima sebagai keputusan rapat. Kemudian keputusan ini diumumkan oleh PM Djuanda, yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda, yang memiliki arti yang strategis bagi perjuangan bangsa Indonesia untuk meningkatkan pembangunan dan memantapkan kesatuan nasionalnya. Dengan demikian wilayah laut kita dihitung 12 mil dari garis-garis dasar yang menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau Indonesia yang terluar, dengan demikian luas territorial Indonesia berkembang dari dua juta km2 menjadi lima juta km2.

Meskipun Deklarasi Djuanda belum diakui secara internasional, namun oleh pemerintah RI, deklarasi ini diundangkan melalui keputusan Undang-Undang/Prp No. 4/1960, bulan Februari 1960. UU ini kemudian diperkuat dengan Keputusan presiden no. 103/1963 yang menetapkan seluruh perairan Nusantara Indonesia sebagai satu lingkungan laut yang berada di bawah pengamanan Angkatan laut RI. Berbagai peraturan ini juga menimbulkan kecaman dari dunia Internasional, namun Indonesia tetap bersikukuh bahwa deklarasi Djuanda merupkan solusi yang terbaik untuk menjaga keutuhan laut Indonesia dan dipergunakan untuk kemamkmuran rakyat Indonesia.

Dalam konferensi Hukum laut PBB ke-3, Indonesia memprjuangkan konsep kesatuan kewilayahan Nasional yang meliputi wilayah darat, laut dan udara dan seluruh kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Konsep ini kemudian diakui dalam konvensi Hukum laut PBB di Montego Bay (Jamaika) pada tanggal 10 Desember 1982. Indonesia kemudian meratifikasinya dalam UU No. 17/1985 pada tanggal 31 Desember 1985. akhirnya setelah 25 tahun menunggu Deklarasi Djuanda telah diakui oleh PBB, namun baru diakui secara internasional sejak 16 Nopember 1994, setelah 60 negara meratifikasinya. Hal ini berarti butuh waktu 37 tahun sejak Deklarasi Djuanda Kesatuan Kewilayahan Indonesia diakui oleh dunia Internasional. Saat ini dengan diberlakukannya Zona Ekonomi Eksklusif sejauh 200 mil dari garis dasar perairan maka wilayah yang dapat dikelola ekonominya termasuk wilayah laut seluas delapan juta km2, enam juta km2 diantaranya adalah wilayah perairan laut. Sosok diplomat dan ahli hukum laut Indonesia yang sangat aktif memperjuangan cita-cita deklarasi Djuanda adalah selain prof. Dr, Mochtar Kusumaatmadja adalah prof. Dr. Hashim Djalal yang dengan aktif mengikuti berbagai sidang PBB tentang hukum laut, sejak tahun 1970-an sampai 1990-an. Hashim Djalal menyelesaikan gelar Doktor tentang hukum laut pada Universitas Virginia tahun 1961, karena diilhami oleh Deklarasi Djuanda. Bahkan dia juga menggagas Rancangan peraturan pemerintah temntang lalu Lintas Laut Damai Kendaraan Air Asing melalui Perairan Nusantara Indonesia, pada bulan Juli 1962, yang kemudian disetujui oleh kabinet dan dijadikan Peraturan pemerintah No. 8/1962.

Demikianlah Deklarasi Djuanda yang kita peringati setiap tanggal 13 Desember ini merupakan momentum yang dapat dijadikan refleksi sudah sejauh mana wilayah territorial darat dan laut yang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita termasuk Prof. Dr. Mochtar kusumaatmadja dan Prof. Dr. Hashim Djalal dapat kita ambil semangatnya bagi pembangunan Indonesia yang lebih baik. Kehilangan Sipadan dan Ligitan, hilangnya pulau-pulau di selat Malaka akibat pengerukan pasir yang dijual ke Singapura dan masalah-masalah pulau terdepan kita yang rentan dijarah oleh pihak luar. Sudah selayaknya dalam peringatan Deklarasi Djuanda para elit sipil dan militer negeri ini selalu mengedepankan kinerjanya agar jangan sampai wilayah territorial kita berkurang karena ketidakpedulian kita terhadap territorial laut dan pulau-pulau di perbatasan dengan Negara lain. Peringtan Deklarasi Djuanda dapat dimaknai sebagai tanggung jawab setiap generasi untuk menjiwai semangat deklarasi tersebut. Maka, fahami dan dalamilah segenap ruh dan jiwa dari deklarasi itu, agar kita tidak kehilangan apa yang seharusnya menjadi hak kita dan generasi setelah kita.

Naskah:

Tim Panitia Seminar dan Pameran 50 Tahun Deklarasi Djuanda. Direktorat Georgrafi Sejarah Departemen Kebudayaan & Pariwisata RI.

Disarikan oleh:
Didik Prdjoko, M.Hum dan Drs. Asep Kambali

Sumber:
I.O. Nanulaita, Ir. Haji Juanda Kartawijaya, Depdikbud, IDSN, 1980/1981

Awaloedin Djamin, ed., Pahlawan Nasional Ir. H. Djuanda: Negarawan, Administrator dan Teknokrat Utama, Jakarta, Kompas, 2001

Hampir Dilupakan, Epos La Galigo

Posted by indonesiaberprestasi On October - 17 - 2009 7 COMMENTS

4620_106551970308_106369150308_3169654_3286770_n

Sumber: Facebook Fan Page I La Galigo

Pertama kali kami mendengar epos La Galigo karena ada seseorang yang menyarankan pada kami untuk membahas epos tersebut pada artikel warisan budaya nusantara berikutnya. Jujur saja, pada awalnya kami sendiri pun tidak tahu menahu tentang epos tersebut. Setelah mencari tahu di internet, kami pun menemukan kenyataan bahwa memang epos tersebut tidak terlalu dikenal di negaranya sendiri, Indonesia. Epos tersebut justru lebih terkenal di luar negeri! Ironis, ya!

Namun, kami rasa belum terlambat. Daripada tidak sama sekali, maka kami pun memutuskan untuk menuliskan sedikit mengenai sejarah epos La Galigo melalui sumber-sumber yang kami dapatkan. Dengar-dengar epos La Galigo pun sedang diperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan sebagai Memory of The World (MOW) atau ingatan kolektif manusia berupa warisan dokumenter yang secara sah dapat menjadi bukti sejarah manusia. Semoga saja terlaksana. Dan semoga saja melalui tulisan kami kali ini bisa membuat para pembaca semua mengetahui (walaupun sedikit) mengenai epos La Galigo.

* * *

Sejarah La Galigo

Epos La Galigo atau biasa juga dikenal dengan I La Galigo merupakan karya sastra (epos) yang terpanjang di dunia. La Galigo adalah hasil karya sastra dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan, Indonesia. Isinya sebagian berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epos ini menceritakan tentang penciptaan alam semesta oleh raja dunia atas atau raja langit bernama La Patiganna. Disebutkan pula bahwa epos ini bercerita tentang Sawerigading, seorang perantau juga pahlawan yang gagah berani.

La Galigo sebenarnya tidak tepat disebut sebagai teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos-mitos. Namun, epos La Galigo tetap dapat memberikan gambaran kepada kita mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14.

Struktur Cerita

Alurteks

Sumber: PortalBugis

La Galigo mempunyai struktur cerita yang besar dan panjang. Ia memuat beberapa sub cerita di dalamnya. Sub cerita yang disebut episode pun dapat dilihat dari dua dimensi. Di satu sisi, episode tersebut merupakan bagian cerita dari keseluruhan La Galigo namun di sisi yang lain episode tersebut juga merupakan cerita tersendiri dalam bingkai La Galigo.

Hal ini disebabkan antara lain karena panjangnya cerita yang melingkupi setiap tokoh, sehingga kadang-kadang tidak tertampung hanya dalam satu episode. Terkadang satu cerita terdapat pada dua atau tiga episode, hal tersebut tergantung banyaknya peristiwa yang diceritakan.

Kandungan La Galigo

Epos bermula dengan penciptaan dunia. Ketika dunia masih kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), raja langit, La Patiganna, mengadakan musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib. Musyawarah tersebut menghasilkan keputusan berupa pelantikan anak lelaki raja langit yang tertua, La Toge’ langi’ menjadi Raja Alekawa (bumi) dan memakai gelar Batara Guru. Sebelum turun ke bumi, ia harus melalui masa ujian selama 40 hari 40 malam. Tidak lama sesudah ujian tersebut, Batara Guru kemudian turun ke bumi, di Ussu’, daerah Luwu’ yang saat ini menjadi Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.

Di kemudian hari, La Toge’ langi’ menikahi sepupunya We Nyili’timo’, anak dari Guru ri Selleng, raja alam gaib. Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu’. La Tiuleng sendiri lalu mendapatkan dua orang anak kembar bernama Lawe atau Sawerigading dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar tersebut tidak dibesarkan bersama-sama sehingga pada suatu saat Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng akibat ketidaktahuannya bahwa mereka masih bersaudara. Ketika ia mengetahui hal tersebut, ia lantas meninggalkan Luwu’ dan bersumpah tidak akan kembali lagi.

Sawerigading lantas melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Tiongkok. Selama perjalanan ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuk pemerintah Jawa Wolio yakni Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia lantas menikahi putri Tiongkok bernama We Cudai.

Sawerigading sendiri digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa. Ia pernah mengunjungi berbagai macam tempat, seperti Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau’ dan Jawa Ritengnga (diduga Jawa Timur dan Jawa Tengah), Sunra Rilau’ dan Sunra Riaja (diduga Sunda Timur dan Sunda Barat) serta Melaka. Ia pun dikisahkan pernah mengunjungi surga dan alam gaib.

Sawerigading sendiri dikisahkan merupakan ayah dari La Galigo yang kemudian bergelar Datunna Kelling. La Galigo juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, perantau, dan pahlawan yang hebat. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari berbagai negara. Namun, seperti ayahnya pula, La Galigo dikisahkan tidak pernah menjadi raja. Anak lelaki La Galigo yang bernama La Tenritatta’ lah yang dikisahkan terakhir dinobatkan menjadi raja di Luwu’.

* * *

Isi epos ini merujuk pada masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan pemukiman yang berpusat di muara sungai, tempat kapal-kapal besar boleh berlabuh. Pusat pemerintahan pun yang terdiri dari istana dan rumah-rumah bangsawan terletak berdekatan dengan muara sungai. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang asing disambut baik di kerajaan Bugis. Para pedagang tersebut baru boleh berniaga setelah membayar cukai kepada pemerintah. Perniagaan ketika itu menggunakan sistem barter. Ketika itu, laut menjadi media yang sangat penting untuk saling berhubungan antar kerajaan. Golongan muda bangsawan di Bugis ketika itu pun dianjurkan untuk merantau sejauh mungkin sebelum mereka diberi tanggung jawab yang besar.

Pementasan La Galigo di Eropa

4620_106552460308_106369150308_3169663_2295307_n

Sumber: Facebook Fan Page I La Galigo

La Galigo telah dipentaskan di beberapa negara Eropa. Pada tahun 2004, La Galigo dipentaskan di Belanda, Perancis, dan Amerika. Pementasan tersebut mendapatkan respon yang sangat positif dari berbagai kalangan masyarakat. Bahkan, koran The New York Times yang biasanya sangat kritis memberikan komentar yang positif. Pementasan La Galigo tersebut terlaksana di bawah bimbingan Robert Wilson, yang sayangnya seorang seniman teater dari Amerika Serikat dan bukan dari negeri sendiri. Sehingga pada akhirnya cerita diadaptasi dan merupakan percampuran dari berbagai kebudayaan dengan tetap menggunakan ciri kebudayaan Makassar.

Naskah La Galigo

Informasi mengenai salinan naskah-naskah La Galigo sebagian besar terdapat di perpustakaan Leiden, Belanda. Naskah lainnya juga terdapat di Jakarta, yakni di perpustakaan Nasional dan juga di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan di Gedung Mulo yang memiliki 15 buah naskah Bugis.

* * *

Oya, sekedar menambahkan, I La Galigo juga mempunyai page tersendiri di Facebook. Bagi kawan-kawan yang tertarik dengan La Galigo, dapat bergabung ke dalam page tersebut ;)

Terimakasih!

Referensi:

http://id.wikipedia.org/wiki/La_Galigo

http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/pakar-kebudayaan-bugis-la-galigo

http://www.facebook.com/pages/I-La-Galigo/106369150308

Canting Batik Elektrik “Made In” Arek Surabaya

Posted by indonesiaberprestasi On October - 10 - 2009 6 COMMENTS

canting elektrik

Sumber: link

Ya, satu lagi hasil kreativitas anak bangsa yang patut diacungi jempol dan diapresiasi setinggi-tingginya oleh kita.

Penemuan ini dibuat oleh tiga arek (pemuda) Dukuh Kupang, Surabaya yang tertarik kepada kerajinan batik, tetapi mereka ingin cara yang praktis dan cocok untuk anak-anak muda. Awalnya, Prima Amri Surahmat tertarik belajar membatik, tetapi malam (lilin) di dalam canting sering tumpah dan membuatnya kepanasan.

Arek Dukuh Kupang yang sehari-hari berprofesi sebagai “lawyer” (penasihat hukum) itu pun bertemu dua rekannya senasib yakni Dwi Mulyono (konsultan pajak) dan Widianto (teknisi). Mereka akhirnya melakukan eksperimen bersama-sama untuk membuat canting yang praktis dan mampu mendorong muda-mudi untuk belajar membatik.

Menurut rekannya, Dwi Mulyono, kesukaannya minuman suplemen Redoxon akhirnya memunculkan ide untuk menjadikan bekas tabung Redoxon sebagai tabung untuk canting. Ide lain datang dari Widianto yang memang teknisi kompresor. Dia memberi klep sebagai mata canting yang dilapisi elemen untuk dialiri listrik sebagai sarana pemanasan. Dari situ, Widianto pun menambahkan “dimmer” yang merupakan alat pengatur panas seperti yang ada pada setrika, bahkan ada juga baut untuk mengatur besar-kecilnya lubang pada canting. Widianto mengatur panas antara 20 sampai 25 watt. Kalau menggunakan canting elektrik selama satu jam akan membayar listrik hanya Rp1.200,00.

Prima yang didaulat menjadi koordinator dari Komunitas Batik Lukis “Klampis Ireng” Dukuh Kupang itu juga menjamin siapapun yang menggunakan canting elektrik akan mampu membatik hanya dalam seminggu. Menurutnya. canting elektrik itu memang mempunyai kelebihan dibanding canting tradisional, sehingga anak-anak muda pasti akan suka, karena caranya mudah dan tidak malu untuk dibawa kemana-mana. Bahkan, paparnya, dirinya pernah mengajari anak SD (sekolah dasar) untuk belar membatik dengan canting elektrik dan sukses.

“Kalau anak SD saja bisa, masak kita kalah? Soal motif batik ya terserah kreasi kita sendiri. Ada rekan yang bilang motif sak karepe dewe (semau sendiri) alias kontemporer,” kata Prima.

Paten

Cara mudah membatik dengan canting elektrik agaknya membuat Komunitas Batik Lukis “Klampis Ireng” pun berkembang dan dikenal hingga ke luar Kota Surabaya. Komunitas tersebut memiliki 12 anggota yang serius, yaitu delapan pemuda dari Dukuh Kupang, dua pemuda dari Rungkut, dan dua pemuda dari Kalianak. Tidak hanya itu, kiprah “Klampis Ireng” pun dilirik ibu-ibu PKK yang belajar membatik, bahkan warga asing dari Filipina dan Yunani pun pernah menimba ilmu kepada komunitas mereka.

Prima berpendapat bahwa berkembangnya komunitas tersebut mungkin karena kelompoknya sering ikut pameran batik dimana-mana. Itu pun sesuai dengan nama Klampis Ireng yang merupakan nama desa kelahiran tokoh pewayangan yakni Semar, yang selalu mendidik orang dan mengayomi untuk berkembang menjadi lebih baik.

Bahkan, kiprah “Klampis Ireng” yang cukup aktif itu membuat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim mendorong mereka untuk mendaftarkan paten pada Juli 2009 atas karya kreatif mereka itu.  Oleh karena itu, katanya, canting elektrik sampai sekarang belum pernah dijual kepada orang lain, sebab mereka menunggu keluarnya paten, kendati mereka sudah mampu membuat 20 canting elektrik dalam sehari. Prima mengatakan bahwa canting elektrik belum pernah dijual kepada siapapun, karena memang belum pernah diproduksi, tetapi kalau batik yang dihasilkan sudah banyak yang memesan.

Langkah pemuda Dukuh Kupang Surabaya itu diacungi jempol oleh pemerhati batik dari UKP Surabaya, Lintu Tulistyantoro, yang juga Ketua Komunitas Batik Surabaya (KiBaS) yang menaungi “Klampis Ireng” pula. Ia mengakui bahwa teknik membatik yang ditawarkan itu bagus, karena akan membuat anak-anak muda tertarik membatik. Menurutnya, cara membatik sekarang memang berbeda dengan cara nenek moyang kita dulu.

Tentang motif “bebas” dari komunitas “Klampis Ireng”, Lintu yang juga Ketua Jurusan Desain Interior pada Fakultas Seni dan Desain (FSD) UKP Surabaya itu tidak menyoal. Menurutnya, bagaimanapun Surabaya adalah kota metropolis, karena itu motif batiknya tidak harus satu desain. Bisa motif mangrove, suro lan boyo, adu doro, teri mumet, dan bahkan blok plan khas perumahan, apalagi dengan canting `made in` Surabaya pula.

Sumber: ANTARA (Edy M Ya’kub)

Kopi Semendo Diekspor ke Italia

Posted by semende On October - 9 - 2009 4 COMMENTS

sem1

Kopi Semendo (Sumber: link)

Para pengusaha produk minuman olahan asal Treste, Italia, berminat mengimpor produk kopi dari Kecamatan Semendo, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumsel. Mereka menilai cita rasa kopi Semendo sesuai untuk dijadikan bahan baku industri minuman olahan yang ada di negara mereka.

Demikian salah satu kesimpulan dari kegiatan kunjungan pengusaha kopi Italia ke Pemerintah Provinsi Sumsel dan Pemerintah Kota Palembang, Jumat (14/9). Acara ini dihadiri gubernur dan sejumlah pejabat pemerintahan. Kunjungan berlangsung selama dua hari.

Kepala Dinas Perkebunan Sumsel Syamuil Chatib mengatakan, kopi Semendo merupakan salah satu produk kopi yang tergolong spesial dan asli Sumsel. Dari hasil kesepakatan dengan pengusaha Italia, mereka bersedia mengimpor kopi bubuk Semendo dengan harga beli premium, yakni 7,5 dollar AS (sekitar Rp 70.000) per kilogram.

Syamuil menambahkan, sekitar 60 persen dari total produk kopi Semendo sebesar 20.000 ton per tahun akan diekspor melalui laut menuju Pelabuhan Treste, Italia. Kopi Semendo saat ini mendominasi jumlah produksi kopi di Sumsel dengan total luas lahan tanam 20.000 hektar dan melibatkan 15.000 petani lokal.

“Kerja sama perdagangan ini merupakan business to business, bukan government to government. Artinya murni pengusaha dengan petani, antara Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) dan Specialty Italian Coffee Association” kata Syamuil.
Menurut Syamuil, selama ini ada kesan bahwa kopi merupakan komoditas yang kurang dilirik karena dianggap kurang berpotensi bersaing di pasar internasional. “Kopi Indonesia berbeda dengan karet. Di dunia internasional nama Indonesia sudah cukup terpandang sebagai salah satu negara pengekspor karet sejak dulu,” katanya.

Salah satu kendala pengembangan industri kopi di Sumsel, kata Syamuil, kurang inovatifnya pengemasan produk dan perlunya peningkatan standardisasi mutu di bidang pengolahan. “Meski demikian, pemerintah terus berusaha dan membantu memfasilitasi para petani dan produsen di Semendo untuk memperbaiki kedua hal itu,” katanya.

Antony Zueta, salah satu pengusaha Italia, mengatakan, kunjungan pengusaha Italia ke Indonesia ini tidak hanya dilakukan ke Sumsel, tetapi juga ke sejumlah sentra produsen kopi lainnya, seperti Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Tujuan kunjungan ke Asia adalah untuk mencari produk kopi yang sesuai untuk bahan baku industri pengolahan minuman.

“Di Italia, salah satu pusat industri minuman berbasis kopi ada di Treste yang notabene juga menjadi kota pelabuhan. Kami mendengar bahwa kopi Indonesia berpotensi untuk dikembangkan. Karena itu, kami datang untuk mengetes. Setelah dites, kopi Indonesia ternyata sesuai dengan cita rasa konsumen kami di sana,” kata Antony Zueta. (ONI/kompas)

Kontributor: Agus Manggala

Saat ini, penulis sedang memperkenalkan kopi Semendo tersebut ke daerah Bandung, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa.

Kopi ini asli terbuat dari kopi Arabika dan sangat cocok untuk penikmat kopi asli. Ada sedikit ulasan tentang kopi Asli dari Semendo dapat anda kunjungi: Blog Cikopi

Ada yang berminat mencoba kopi Semendo? Hub Agus: 085669588493 (alamat: Jl Setiabudi Depan UPI Bandung)

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Promosi Pariwisata Indonesia, Yuk!

Berbicara tentang Indonesia, kita juga bisa berbicara yang indah-indah. Bukan maksud hati untuk mengesampingkan segala hal... 
Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Saat Ini Warga Miskin di Jatim Gratis Berobat

Meski surat keterangan tidak mampu (SKTM) tidak diberlakukan lagi, ada kabar gembira bagi warga miskin di Jatim. Sejak 1... 
Kendal Miliki Open Source Sendiri

Kendal Miliki Open Source Sendiri

Meski bukan kota besar, Kendal berani untuk mandiri dalam hal penggunaan software komputer. Bahkan kota kecil di Jawa Tengah... 
Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Yogyakarta Pusat Seni Rupa Asia Tenggara

Bersama Kota Manila di Filipina, Yogyakarta saat ini menjadi pusat seni rupa di Asia Tenggara. Dalam level yang berbeda,... 
Enter the video embed code here. Remember to change the size to 310 x 250 in the embed code.

TAG CLOUD

POPULAR

  • Dukung Indonesia Berprestasi

    Indonesia Berprestasi

  • Gabung Jadi Volunteer/Kontributor di Milis Kami!

  • Indonesia Berprestasi on Facebook!

  • Follow us on Twitter!

  • Dukung Internet Sehat

    Internet Sehat
  • Categories

  • Indonesia Berprestasi Didukung dan Mendukung: