Kepik dan Kuda Poni

kepikkuda

Alkisah di suatu hutan hujan tropis, hiduplah seekor kepik muda nan rupawan. Selain penampilan fisiknya yang indah, kepik ini juga terkenal akan kecerdasan dan ketangkasannya. Kepik muda ini memiliki kemampuan melompat paling tinggi di antara kepik lainnya. Ia sangat bangga akan kemampuannya itu.

Suatu hari yang cerah, kepik muda sedang berjalan-jalan seorang diri. Ia melompat-lompat dari satu dahan pohon ke dahan yang lain. Sampai pada akhirnya, ia berhenti di dahan pohon yang paling tinggi. Ia terpana melihat sebuah desa yang tampak indah dan sejuk. Begitu takjubnya, hingga si kepik muda berharap agar suatu saat ia dapat pergi mengunjungi desa tersebut.

Saat yang dinantikan tiba. Teman baiknya, burung merpati, mengajaknya untuk berjalan-jalan ke desa tersebut. Berangkatlah kedua sahabat itu menuju desa dengan hati riang gembira. Dari langit, mereka dapat melihat banyak hal menakjubkan dari desa tersebut. Sungai yang biru jernih, anak-anak yang bermain dengan riang gembira, juga kuda-kuda di padang rumput yang hijau menyejukkan. Kedua sahabat tersebut lantas memutuskan untuk turun di padang rumput.

Si kepik muda sangat tertarik melihat sekumpulan kuda yang sedang merumput. Ia bertanya-tanya dalam hati, “Siapakah mereka? Sungguh kekar dan menakjubkan”. Lantas, si kepik pun mendekati satu di antara mereka yang sedang merumput seorang diri, seekor kuda poni kecil berwarna putih. “Hai, siapakah kamu? Dan apakah yang kamu lakukan di sini?”, tanya kepik.

“Aku adalah kuda poni satu-satunya di desa ini. Aku terpilih di antara sekian puluh kuda poni lainnya untuk diikutkan perlombaan di desa ini karena keunggulan-keunggulanku”, jawab kuda poni dengan sombongnya.

Mendengar perkataan kuda poni, panaslah hati si kepik muda. Lantas, ia menantang kuda poni untuk bertanding, “Tidak semua binatang dapat kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Asal kau tahu, aku juga punya kemampuan yang tidak kalah hebat darimu”.

“Baik”, jawab kuda poni.

“Di depan sana, ada sebuah bongkahan batu yang cukup besar. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati bongkahan batu tersebut dalam sekali lompat”, tantang kuda poni.

Kesempatan pertama adalah si kuda poni. Dengan mudahnya, ia berhasil melompati bongkahan batu di tengah padang rumput tersebut. Berikutnya adalah giliran si kepik muda. Dengan sekuat tenaga, kepik muda melompat, namun ia hanya mencapai bagian tengah batu dan tidak berhasil melompati seluruhnya.

Kuda poni lantas menghampiri si kepik muda. Sambil tertawa, ia berkata, “Nah, kepik. Apa lagi yang mau kamu lakukan sekarang? Kamu sudah kalah!”

“Belum!”, jawab kepik muda dengan sengit. “Tantangan pertama tadi, kamu yang menentukan. Beranikah jika tantangan berikutnya aku yang menentukan?”

“Oke, baiklah!”, tukas si kuda poni.

“Tantangan kedua ini cukup sederhana. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya buka diukur dari seberapa tinggi dia melompat, tetapi diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya,” jelas kepik.

Kuda poni kembali mendapatkan kesempatan pertama. Dari hasil lompatannya, dia berhasil melompat setinggi dua kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran kepik. Lompatan kepik sebenarnya tidak setinggi lompatan si kuda poni, namun ketinggian lompatannya ternyata setara dengan dua puluh kali tinggi tubuhnya. Alhasil, pemenang untuk perlombaan kedua adalah kepik.

Kuda poni pun menghampiri kepik dengan perasaan kagum yang membuncah. “Hebat! Kamu berhasil mengalahkan saya! Tapi, ini berarti kita masih seri. Harus ada perlombaan ketiga untuk menentukan pemenangnya”, kata si kuda poni.

“Tidak perlu! Karena pada dasarnya, pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standar perlombaannya. Pada saat lomba pertama, kamu yang menentukan standar perlombaannya dan kamu menang. Demikian pula pada lomba kedua, saya yang menentukan standar perlombaannya dan saya pemenangnya. Hakikatnya adalah baik saya maupun kamu memiliki standar untuk berhasil yang berbeda-beda. Masalahnya kita sadar atau tidak, bahwa kita memiliki potensi untuk melakukan yang terbaik,” jelas si kepik muda.

***

Begitulah sobat, setiap manusia dikaruniakan oleh Sang Pencipta kemampuan untuk menghasilkan yang terbaik bagi lingkungannya. Dengan kata lain, setiap dari kita memiliki peluang yang sama untuk menjadi sukses. Jika kita mau menyadarinya, mensyukurinya, dan memanfaatkannya dengan baik, maka akan menghasilkan standar kehidupan yang dapat diukur serta dicapai dengan baik pula.

Untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang lebih baik, setiap individu seharusnya menetapkan standar-standar yang disesuaikan dengan dirinya. Masalahnya saat ini, banyak yang lebih senang menggunakan standar keberhasilan atau kegagalan orang lain untuk diterapkan pada dirinya. Hal ini sangat berbahaya, karena mereka yang menggunakan standar orang lain perlahan-lahan dapat saja kehilangan jati diri dan yang terpenting kesulitan dalam membangun kepercayaan diri untuk maju.

Ketika tiap orang menyadari potensi dan kelebihan dirinya masing-masing serta mampu menetapkan standar bagi dirinya sendiri, maka dia akan disibukkan dengan pencapaian cita-cita yang telah ditetapkan. Hampir seluruh waktunya difokuskan untuk peningkatan kualitas dirinya. Tidak ada waktu untuk bergosip dan membicarakan keburukkan orang lain. Sedangkan, implementasi pencapaian cita-cita tidak akan terlaksana tanpa bantuan orang lain sebagai mitra.

So, sobat, selamat menetapkan standar pribadi untuk kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan menetapkan standar kehidupan akan membuat hidup terasa lebih hidup. Sadarilah bahwa setiap pribadi memiliki potensi untuk melakukan dan memberikan yang terbaik untuk bangsa walaupun melalui jalan yang berbeda-beda.

Salam Indonesia Berprestasi!

Share it and feel it!

*) Kisah ini dimodifikasi dari cerita “Anjing dan Belalang” pada buku “Setengah Isi Setengah Kosong”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Smart Detox