Angklung (1)

Guys, sebagai anak muda Indonesia yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, pasti pada pernah dengar kan alat musik tradisional milik kita semua bernama angklung? Kalau gak pernah denger kebangetan euy! Yang gini-gini nih, yang bisa bikin Indonesia sedikit demi sedikit kehilangan aset-aset budayanya. Kalau kamu-kamu masih ngaku cinta Indonesia dan pengen jadi pengganti “ayah-ibu” kita di kabinet masa depan, kudu tahu paling gak sedikit saja mengenai sejarah warisan-warisan budayanya. Biar apa? Yah biar bisa ngebelain negara dengan argumen-argumen yang berdasar jikalau suatu saat ada pihak-pihak yang sengaja maupun tidak sengaja berusaha mengambil alih kekayaan bangsa kita.

By the way, saya sendiri juga tidak terlalu tahu banyak. Tapi, saya masih pengen belajar lebih dalam, lho. Kalau ada yang mau nambahin, silakan nambahin, ya!

Sejarah Angklung

angklung1

Sumber: link

Sebenarnya, sejak kapan angklung mulai muncul dan berkembang, merupakan pertanyaan yang belum dapat dijawab secara pasti. Namun, menurut perkiraan Dr. Groneman, dalam bukunya “De Gamelan to Jogjakarta, Letterkundige Vehaldingen der Koninkl”, angklung sudah menjadi sebuah alat musik yang digemari oleh masyarakat Indonesia di beberapa daerah sebelum pengaruh Hindu berkembang di Indonesia. Namun anehnya, angklung tidak digambarkan pada candi Borobudur dan Prambanan sebagaimana halnya alat musik bambu lainnya, seperti alat musik bambu berdawai yang sudah berkembang sebelum zaman Hindu di Indonesia.

Nama angklung baru disebut-sebut dalam Serat Centhini (naskah sejarah lama mengenai musik dan agama di tanah Jawa) yang dibuat pada tahun 1830. Dalam serat tersebut, dikisahkan seorang putra kyai bernama Cebolang yang mempertunjukkan keahliannya bermain musik (disebut musik terbangan) di hadapan Bupati Daha, Kediri. Dalam sebuah puisi, Sekar Lempang, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dari naskah aslinya Serat Centhini, permainan musik Cebolang digambarkan sebagai berikut:

“His voice rose, clear and bright,

rang out loud, fragrant, and sweet.

Appealing his wilet, carried heart away.

His terbang playing resonated.

His friends answered at once.

Three terbang were rumbling,

together with angklung and kendhang,

calung, ivory capalita,

vibrant, resonant, resounding, shaking and thundering.”

Beragam Fungsi Angklung

Angklung ternyata memiliki beragam fungsi selain sebagai sebuah alat musik tradisional yang bersifat menghibur. Di beberapa tempat di Bali misalnya, angklung biasa digunakan dalam upacara pembakaran mayat (Ngaben). Di Kanekes, Banten Selatan, orang Baduy menggunakan angklung dalam sebuah upacara menjelang penanaman padi di lading. Mereka menyebutnya Angklung Buhun. Di kampung Jati, Serang, Angklung Gubrag dianggap sebagai alat musik sakral yang berfungsi sebagai pengiring mantera pengobatan orang sakit atau menolak wabah. Bahkan, di Kalimantan Selatan, angklung yang dikenal dengan sebutan Kurung-kurung pun dipergunakan untuk mengiringi pertunjukkan Kuda Gepang (Sie) yang bentuk pertunjukkannya hampir sama dengan Kuda Kepang di Jawa Tengah.

Dari Militer ke Pengemis

Sebagaimana telah diceritakan sebelumnya, hampir tidak ada keterangan tertulis mengenai angklung pada zaman dahulu. Pada umumnya, angklung muncul melalui cerita-cerita lisan, seperti dalam beberapa cerita rakyat di Kanekes, Banten Selatan yang biasa dibawakan dalam bentuk pantun. Menurut cerita tersebut, pada masa kebesaran kerajaan Padjajaran di Pasundan, di samping sebagai alat musik dalam upacara pertanian, angklung juga umum digunakan sebagai alat musik angkatan bersenjata, semacam Marching Band.

Berdasarkan hal tersebut, beberapa pengamat berkebangsaan Belanda, menyatakan bahwa angklung adalah musik militer. Seorang Belanda, dengan inisial G.J.N. dalam majalah INDIE tahun pertama, 22 Agustus 1917, halaman 330 mengatakan hal berikut mengenai angklung di Priangan, “.. en qeen wonder: de angkloeng is militaire muziek (artinya: .. dan tidak mengherankan: angklung memang musik militer)”. Selain itu, seseorang dengan nama alias “Bianca” dalam majalah de ORIENT, 24 Desember 1938 pun menulis mengenai angklung Sunda sebagai berikut: “Over het algemeen draagt angkloeng muziek een opwekkend en vroolijk karakter, maar het heft ook zijn krijgslystige en mystiekezidje” (artinya: “Pada umumnya musik angklung menggairahkan dan menggembirakan, tetapi juga dapat menimbulkan semangat perjuangan dan mistik”).

Maka tidaklah mengherankan, apabila pada pertengahan abad ke-19, ketika di Pasundan sedang giat-giatnya dilaksanakan tanam paksa (Cultuurstelsel) oleh pemerintah Belanda, diadakan larangan terhadap permainan angklung. Alasannya adalah karena menurut pengamatan beberapa pembesar Belanda, permainan angklung dapat memberi pengaruh yang cukup besar terhadap semangat perlawanan rakyat atas kekuasaan pemerintah jajahan. Namun, larangan tersebut tidak berlaku untuk permainan yang dilakukan oleh anak-anak dan pengemis, mungkin karena dianggap tidak akan menimbulkan pengaruh yang signifikan.

prangkoangklunguntukanak

Sumber: link

Sejak itu, angklung yang tadinya dianggap sebagai alat musik militer dan sakral turun derajat menjadi alat musik yang biasa digunakan oleh para pengemis dalam mencari nafkah sehari-hari

BERSAMBUNG..

Referensi:

http://angklung-web-institute.com/content/view/87/74/lang,en/

http://books.google.co.id/books?id=H4JgdJt0ZWwC

avatar
Still trapped as an office worker.. But, a social worker & a good momtepreneur wanna be.. :)

10 Comments

  1. avatar
    ramadoni  /  August 29, 2009, 2:11 pm Reply

    PERTAMAX….
    angklung yah…. hhhmmmm…
    saya pernah coba ikutan main waktu di SMP dulu, dan memang maknyuss suaranya…

  2. avatar
    iman  /  August 30, 2009, 9:53 am Reply

    KEDUAXXXX :)

    Angklung, sebuah kebanggaan negeri kita, yang bahkan amat sangat dihargai di negeri orang.

    Leni, kan kita pernah bincang tentang buku 40 Days in Europe ya? Di sana mengisahkan semangat yang luar biasa dari teman-teman SMA 3 bandung dalam memperkenalkan angklung ke jazirah Eropa. Bahkan mereka sempat meraih juara di salah satu festival di sana.

    Tulisan leni benar-benar menggugah kesadaran kita akan kekayaan negeri kita yang satu ini. Bravo buat leni (worship)

  3. avatar

    [...] BACA TULISAN SEBELUMNYA: Angklung (1) [...]

  4. avatar
    indonesiaberprestasi  /  August 30, 2009, 12:38 pm Reply

    @ramadoni:
    Iya suaranya benar-benar menyihir.. :D

    @iman:
    Tulisan saya ini biasa saja kang jika dibandingkan dengan teman-teman dalam buku 40 Days in Europe. Mereka benar-benar sudah berjuang dengan maksimal. Sangat salut!
    Semoga saja suatu saat nanti, tidak hanya angklung yang bisa kita bangga-banggakan di mata dunia :D
    Masih banyak lagi kekayaan negeri kita yang belum terpublish dengan baik

  5. avatar
    adibarefoot  /  August 30, 2009, 1:44 pm Reply

    Hi guys,saya sedikit komentar tentang pokok permasalahan bangsa ini,mengapa kebudayaan kita satu demi satu diakui oleh negri jiran sebagai karya mereka,ini tidak lain kesalahan bangsa kita sendiri,bukan berarti saya membela negri jiran itu ,tapi pemerintah kita harus tanggap dan meneliti apa penyebab semua ini,
    Banyaknya pengangguran dan kemiskinan dinegri kita dan minimnya penghasilan yang kita peroleh membuat rakyat kita banyak berbondong-bondong hijrah ke malaysia dengan impian dapat penghasilan yang lebih daripada dinegri sendiri,sementara rakyat kita yang pergi kesana juga tidak sedikit yang tidak mempunyai skill yang memadai,alhasil mereka terlantar dinegri jiran dan selalu setiap hari kejar-kejaran dengan polisi diraja malaysia dijalan-jalan,dan pusat keramaian kota,rakyat kita disana yang tidak mempunyai pekerjaan dan untuk biaya balik keindonesia sendiri juga tidak ada modal,sementara ijin tinggal disana juga harus bayar mahal,
    maka mereka berpura-pura dan mengubah logat bahasa mereka menjadi melayu layaknya orang sana.Maka mulailah mereka mengusung budaya dari indonesia untuk diperdagangkan,misalnya kain batik,alat musik angklung,seni reog dan masih banyak lagi karya indonesia yang ditontonkan dan dijual keumum oleh rakyat kita sendiri,akhirnya merekalah yang selamat dari kejaran polisi diraja malaysia.
    Setelah dapat logat dan peluang,mereka buat ID layaknya kita buat KTP,maka mereka tidak akan mau disebut orang indon atau indonesia dengan alasan yang pasti ingin hidup lebih baik disana dan diterima rakyat malaysia.
    Ada pengalaman saya dulu waktu berlayar kesana,kapal saya rusak diport klang malaysia,ada 1mechanic dari madiun jawa timur,yang baru 6 bulan dimalaysia sudah logat bahasa malay dan tidak mau disebut orang jawa,walaupun saya pakai bahasa jawa tetapi dia menjawab pakai bahasa malay.
    Saya berkomerntar ini karena saya sering sekali berlayar kemalaysia.
    Jadi untuk mencegah semua itu,pemerintah harus siap dan tanggap,bila perlu stop TKW dan TKI kesana dengan catatan pemerintah harus memperbaiki system kerja dan upah dinegri ini setara dengan disana.
    Jangan pemerintah cuma bisa mengeruk devisa dari TKI dan TKW.
    Kalau sudah begini semua rakyat indonesia yang dirugikan.
    Sudah waktunya reformasi total buat pemerintah indonesia.
    I love my nice country INDONESIA…

  6. avatar
    indonesiaberprestasi  /  August 30, 2009, 2:08 pm Reply

    @adibarefoot:
    Terimakasih atas sharingnya.. Membuka lagi satu cakrawala berpikir tentang kasus ini.

    Saya sependapat juga dengan Anda. Bahwa kita juga turut andil dalam hal ini. Saya pun pernah selama sekitar 4 bulan tinggal di sana untuk pertukaran pelajar. Bergaul dengan mereka dan sedikit banyak memahami mereka. Kebanyakkan dari masyarakat negeri jiran itu justru tidak tahu menahu soal ini budaya asli siapa pada awalnya, karena kebanyakkan mereka hidup dari kecil dengan budaya itu juga di sekeliling mereka.
    Seperti baju kurung yang dipakai sebagai pakaian resmi pegawai pemerintahnya, dll. Saya mengerti jika ada kasus seperti ini mereka juga pasti bertanya-tanya, ini sebenarnya siapa yang menjiplak siapa.
    Tapi, kebanyakkan yang saya temui, teman-teman di negeri Jiran justru tidak terlalu memusingkan hal ini.

    Melalui postingan ini, saya dan kawan-kawan gak bermaksud untuk turut memanaskan situasi yang sudah ada. Postingan ini hanya bermaksud sebagai sebuah rekam jejak. Rekam jejak atas kebudayaan bangsa Indonesia yang mungkin sudah sedikit dilupakan generasi mudanya :)
    Supaya anak muda Indonesia kembali peduli akan suatu bagian dari warisan budaya nusantaranya.

    Mengenai permasalahan TKI dan TKW ke Indonesia, saya pun setuju dengan Anda, bahwa memang banyak dari TKI, TKW ke kita yang skillnya tidak memadai, sehingga pada akhirnya TKI dan TKW kita itu justru membawa masalah sendiri di sana. Menjadi perampok, dan lain-lain, adalah hal-hal yang sering saya dengar pula ketika saya di sana. Teman sekamar saya bercerita demikian kepada saya.

    Mungkin salah satu solusinya seperti yang Anda katakan, stop total pengiriman TKI/TKW ke sana dan memperbaiki sistem yang ada di negeri sendiri. Entah berapa tahun lagi dapat tercapai..
    Tapi memang kesejahteraan yang merata untuk rakyat adalah kunci dari ini semua.

    Sekali lagi, terimakasih atas sharingnya!! :)
    Saya sangat senang menerima komentar dari Anda

  7. avatar
    Murtadho  /  August 30, 2009, 10:45 pm Reply

    Saya ingin memberikan tambahan komentar ya – saya sudah coba memahami maksudnya, kebetulan saya pernah bekerja di kantor pengacara merek dan paten. Ada kesalahan fundamental pemerintah Indonesia cq Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta Dirjen HAKI yang tidak mendaftarkan item-item kesenian dan budaya sejak dulu dan kepada Dirjen HAKI semestinya begitu mendengar adanya pendaftaran merek/paten dari negara manapun di dunia mestinya segera koordinasi paling tidak memberitahukan sehingga pada masa probation bisa dilakukan keberatan/gugatan. Jadi jelas masalahnya terletak pada lemahnya koordinasi antara Dirjen HAKI dengan Dep Kebudayaan dan Pariwisata. Tidaklah saya fokus apakah itu angklung, reyok ponorogo dan item-item kesenian & budaya lainnya, pokoknya sudah seharusnya didaftarkan di Dirjen HAKI seluruh item merek/paten milik Indonesia, dan siap mengklaim kalau kita merasa dirugikan. Jadi singkatnya soal merek/paten mestinya bukan media massa yang bisa memecahkan masalah tapi Dirjen HAKI. Mohon kiranya ke depan Dirjen HAKI lebih pro aktif agar tidak lagi ada istilah kecolongan asset dan budaya nasional. Terima kasih.

  8. avatar

    [...] artikel IB tentang angklung: bagian 1 dan bagian [...]

  9. avatar
    Purwo erdi  /  November 15, 2009, 2:31 pm Reply

    Biasalah orang Indonesia kalau sudah ada yg mengklaim baru kebakaran jenggot,kayanya Dirjen HAKI harus di sabet terus nih kaya kuda lumping,jangan jangan kuda lumping juga dah di klaim sama negara lain nih….duhh nasib

  10. avatar
    ami st jamilah  /  October 12, 2011, 3:34 pm Reply

    bagaimana perkembangan nya sekarang??????(angklung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Smart Detox