Satrio Wibowo, Penulis Muda Istimewa

Posted by indonesiaberprestasi On May - 16 - 2010 2 COMMENTS

Satrio Wibowo (15) bisa dikatakan penulis muda yang super-istimewa. Novel pertamanya yang berjudul
The Chronicles of Willy Flarkies diterbitkan setelah Satrio sepakat untuk mengizinkan novel perdananya yang ditulis dalam bahasa Inggris itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Satrio sama sekali tidak pernah les bahasa Inggris, bergaul dengan orang asing, ataupun hidup di luar negeri. Keluarganya pun tidak berbicara bahasa Inggris di rumah.

Tetapi, remaja yang lahir di Serang pada 24 November 1994 itu menulis novelnya dalam bahasa Inggris sebanyak 400 halaman. Novel fantasi itu dibuat Satrio saat berusia 12 tahun.

Novel The Chronicles of Willy Flarkies berkisah tentang petualangan seorang remaja yang menemukan dunia lain dengan dimensi kehidupan berbeda dan teknologi yang sangat futuristik, namun ramah lingkungan. Kisah dalam novel itu dikemas dalam berbagai sensasi rasa, mulai dari kocak, sedih, thriller, dan misteri.

Di novel yang mengisahkan remaja pria bernama Willy Flarkies yang berstatus pelajar SMP, Bowo banyak menyisipkan pesan moral dan filosofi hidup yang mengulas tentang relasi orang tua-anak, bahaya radiasi, pelestarian lingkungan, kritik pada sistem pendidikan, hingga makna persahabatan.

Satrio yang hadir dalam peringatan Hari Buku Sedunia di Pasar Festival Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan, dirinya senang berimajinasi. Satrio suka membaca buku karena bisa membawa imajinasinya keluar secara bebas.

Awal mula menjadi penulis, Satrio mengatakan, karena didorong ibunya, Yeni Sahnaz. Saat kecil, Satrio sering sakit-sakitan tanpa diketahui secara pasti penyakitnya.

Ibunya berpikir jika Satrio bisa mengeluarkan perasaan atau pikirannya lewat tulisan, Satrio tidak akan sakit-sakitan. Ternyata, cara itu ampuh dan sangat disukai Satrio.

Satrio pun bersemangat untuk menulis buku yang sesuai imajinasinya. Satrio yang sejak usia 4 tahun secara menakjubkan bisa berbicara bahasa Inggris itu selalu menulis dalam bahasa Inggris. “Lebih bisa berekspresi,” ujarnya singkat.

“Waktu ketemu penerbit agak kesulitan karena novelnya dalam bahasa Inggris, harus diterjemahkan lagi. Awalnya Satrio tetap bersikukuh novelnya terbit dalam bahasa Inggris. Soalnya dia mau go international. Tetapi akhirnya dia mengizinkan novel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,” kisah Yeni.

Yeni mengatakan, ada beberapa bakat istimewa dalam diri anak bungsunya itu. Satrio sejak kecil mampu mengoperasikan komputer dengan baik. Dia juga jago melukis dan sebentar lagi bakal diajak berpameran. Satrio pun hobi menulis puisi.

“Semuanya otodidak, enggak ada yang ngajarin. Mungkin bakat itu karena dia indigo,” kata Yeni.

Tidak mudah

Meskipun Satrio punya banyak keistimewaan yang mencengangkan, kenyataan itu tidak berarti hidup Satrio mudah. Pelajar SMPN 5 Bogor itu justru sering menghadapi masalah, mulai dari diolok-olok temannya sebagai anak aneh hingga dinilai bodoh oleh guru di sekolah.

Yeni mengisahkan, dirinya kerap dipanggil pihak sekolah sejak TK hingga SMP karena kemampuan akademik Satrio yang dinilai tidak memuaskan. Kerap kali Satrio dianggap tidak layak untuk naik kelas.

Pengalaman di sekolah yang sering kali tak menyenangkan bagi Satrio membuatnya kritis terhadap sistem pendidikan nasional. Satrio berhasil membuat testimoni mengenai pandangannya terhadap sistem pendidikan Indonesia saat didapuk menjadi salah satu pembicara. Namun, tulisannya itu batal dipresentasikan.

Dari testimoni yang diberi judul My Testimony (lagi-lagi Satrio menulis dalam bahasa Inggris), Satrio menggambarkan hidupnya sangat menyedihkan. Dia selalu dapat ranking terendah di kelasnya. Tidak seorang pun mau mengakui kelebihannya di bidang lain hanya karena dia tidak bisa mendapat nilai-nilai bagus dalam pelajaran di kelas.

Penolakan-penolakan yang berkaitan dengan bakat istimewa Satrio juga sempat membuatnya kecewa. Novelnya, yang ditulis dalam bahasa Inggris, pada awalnya tidak dilirik penerbit besar. Alasannya, penerbit tidak tertarik menerbitkan novel berbahasa Inggris di Indonesia alias bakal tidak laku di pasaran.

Satrio juga menawarkan lukisan-lukisannya pada galeri, tetapi ditolak. Kali ini alasannya Satrio terlalu muda.

Huh, di Indonesia hanya peduli tentang pendidikan. Mereka tidak menghargai seseorang seperti saya hanya karena mereka ingin semua anak Indonesia harus bersekolah. Apalagi, ada sekolah bertaraf internasional hanya mau anak yang punya ranking bagus. Soal kreativitas diabaikan. Dalam pandangan mereka itu sudah super, tapi sebaliknya saya bilang superbodoh,” ujar Satrio dengan nada tinggi.

Belajar di sekolah reguler yang dijalani Satrio dinilai menyiksa. Lazimnya sekolah secara umum, pihak sekolah menerapkan aturan-aturan yang membatasi dan ingin siswa itu sama jago di Matematika dan sains. Pengajaran guru di sekolah benar-benar tidak membuat siswa bisa menjadi diri sendiri.

“Suatu hari nanti, saya mau membuat sekolah yang 25 persen teori dan 75 persen praktik yang menghargai kreativitas,” ujar Satrio mengenai impiannya soal pendidikan.

Satrio menerima kondisi dirinya sebagai anak indigo yang berpikir dengan cara yang tidak lazim. Satrio ingin seperti fisikawan kesohor Albert Einstein yang dengan percaya diri mengatakan, “It’s not that I’m genius, but I stay with problems longer“.

Satrio menyesalkan jika orang-orang berpikir hanya ilmuwan yang pintar dan bisa membawa perubahan dunia. Dalam pandangannya, imajinasi seorang anak juga perlu dibiarkan berkembang, terutama untuk anak indigo yang punya imajinasi tidak terbatas. Bukan justru dikatakan bodoh dan aneh.

Sang ibu Yeni memahami kehidupan Satrio yang imajinatif itu justru dipandang aneh dan dicibirkan. Tetapi, Yeni terus mendorong buah hatinya untuk tidak berkecil hati. Dan, menulis pun menjadi salah satu ajang pembuktian diri bagi Satrio. Karya perdananya itu sebagai bukti jika Satrio memiliki keistimewaan dengan kekuatan imajinasinya.

“Saya mau tulis sekuelnya lagi,” tekad Satrio.

Sumber: KOMPAS.Com

Teknologi Tepat Guna Yunus Puji Wibowo

Posted by agungfirmansyah On December - 16 - 2009 Comments Off

Oleh A Ponco Anggoro

”Ciptakan Pekerjaan daripada Mencarinya”. Slogan ini tertulis pada selembar spanduk besar di ruang tamu rumah Yunus Puji Wibowo di Jalan Sunan Ampel, Desa Sumberejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Slogan itu terus memotivasi Yunus sampai akhirnya cita-citanya terwujud, bahkan meraih sejumlah penghargaan.

Menjadi pengusaha memang dicita-citakan Yunus sejak masih kecil. Saat usianya masih 12 tahun, duduk di Kelas I SMPN 1 Geger, niatnya untuk berusaha sudah mulai dipupuk oleh ibunya.

”Saat itu ayah meninggal dunia. Ibu lalu berpesan agar saya tidak mengandalkan warisan dari ayah,” ungkapnya. Bersamaan dengan pesan itu, Yunus diberi lima ayam oleh ibunya sebagai titik awal agar Yunus memulai usaha.

Setiap hari, saat hendak berangkat ke sekolah, telur yang dihasilkan kelima ayam itu dibawa dan dijualnya di toko jamu yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Selama tiga tahun dia jalani usaha ini. Hasil penjualan telur sepenuhnya untuk membayar uang sekolah.

Yunus memperoleh kepuasan dengan berjualan telur. Apalagi cita-citanya menjadi pengusaha bisa terwujud. Kepuasannya ini yang terus memotivasinya agar bisa menjadi pengusaha saat dewasa kelak.

Namun, seiring bertambahnya usia, niatnya menjadi pengusaha tertunda. Ketika bersekolah di STM PGRI I Madiun, di sela waktu belajarnya dia bekerja di salah satu perusahaan konstruksi di Madiun. ”Saya ikut memasang instalasi listrik di perumahan-perumahan baru,” kenangnya.

Selepas STM, tiga kali dia berpindah-pindah kerja di tiga perusahaan konstruksi di Malang dan Bandung. Dia kemudian menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Taiwan. ”Uang Rp 20 juta yang saya tabung dari hasil kerja selama dua tahun dipakai untuk keperluan itu,” tambahnya.

Meskipun gajinya di Taiwan sekitar Rp 4 juta per bulan, Yunus tidak betah. Hanya selama satu bulan dia bertahan di sana. ”Saya menjadi kuli di pabrik paralon di sana. Tidak betah rasanya disuruh-suruh, bertentangan dengan cita-cita saya menjadi pengusaha,” tuturnya.

Dia lalu pulang ke Indonesia. Namun, karena uangnya sudah habis untuk biaya ke Taiwan, dia memilih bekerja di sebuah perusahaan jasa TKI di Jakarta. Setelah bekerja setahun dan keuangannya kembali pulih, dia baru kembali ke Madiun. ”Saya berniat mewujudkan cita-cita saya yang tertunda,” kata Yunus.

Pabrik kerupuk

Di Madiun, uang yang ditabungnya itu diinvestasikan untuk membuat pabrik kerupuk. Kerupuk dipilih karena mayoritas warga kampungnya bekerja sebagai perajin kerupuk. Lima tahun dijalani, usaha itu tidak juga berkembang. Pembuatan kerupuk yang masih manual menjadi kendala utama usaha rakyat itu.

Yunus pun berangkat ke Surabaya untuk mencari informasi pemotong kerupuk yang bisa mempercepat produksi. Dari Surabaya, dia berangkat ke Tulungagung karena dia mendapat keterangan bahwa ada orang yang bisa memberikan informasi lebih banyak di Tulungagung. ”Karena uang yang dimiliki terbatas, saya sering tidur di masjid di Surabaya dan Tulungagung,” katanya.

Setelah informasi yang diperoleh cukup, dia kembali ke Madiun. Barang-barang bekas, seperti pelek sepeda, rantai, dan kaleng susu, dikumpulkannya untuk dibuat menjadi mesin pemotong kerupuk. Dengan percobaan berulang kali selama satu bulan, mesin baru tuntas dibuat.

”Sempat putus asa karena tidak kunjung berhasil. Kegagalan saat membuat mesin itu malah membuat saya semakin tertantang,” ujar Yunus.

Dalam satu hari, mesin yang rangkanya dari kayu dan pembuatannya menghabiskan dana Rp 5 juta itu bisa memotong satu kuintal kerupuk. Setelah mengetahui cara membuat mesin itu, dia mulai membuat mesin pemotong dengan rangka besi, tidak lagi dengan kayu.

Selain memperbarui rangkanya, kemampuan memotongnya pun ditingkatkan. Jika sebelumnya satu kuintal kerupuk per hari, sekarang bisa dua kuintal setiap dua jam. Mesin juga dimodifikasi sehingga tidak hanya bisa digunakan untuk memotong kerupuk, tetapi juga tempe. Untuk membuat alat yang kemudian dinamakan mesin pemotong kerupuk multiguna ini membutuhkan modal Rp 3,5 juta.

Pada tahun 2008 Yunus mengikutsertakan mesin itu dalam lomba teknologi tepat guna. Di tingkat Kabupaten Madiun, dia menjadi satu-satunya peserta dan di tingkat provinsi dia meraih juara kedua.

Setelah itu, mesin ciptaannya mulai dikenal. Dia pun mulai diikutsertakan dalam berbagai pameran. Sejak itu mesin yang dibuatnya dicari banyak orang. Yunus menjual mesin itu Rp 5 juta per unit. ”Sudah sepuluh mesin terjual. Mesin itu digunakan di Bandung dan Aceh,” tambahnya.

Tidak berhenti pada satu karya cipta mesin, Yunus mencoba membuat mesin lain, yaitu mesin parut listrik. Mesin yang biasa digunakan untuk pompa air dimodifikasi sehingga menjadi mesin yang bisa dipakai memarut kelapa dan ketela.

Bentuknya yang kecil, mudah dibawa ke mana-mana, membuat mesin ini banyak dicari orang. Sejak diproduksi awal tahun 2009 sudah ada 200 unit mesin parut yang terjual. Mesin yang dijual dengan harga Rp 350.000 per unit ini diminati pembeli dari beberapa daerah, di antaranya Sumatera, Kalimantan, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat.

Di samping terus membuat mesin, Yunus juga menjalin kemitraan dengan petani untuk membudidayakan tanaman rosela di lahan seluas 15 hektar di Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Dia memodali para petani untuk menanam rosela, yang kemudian dia beli guna diolah menjadi sirop. Setiap tahun dia mampu memproduksi 5.000 botol sirop yang harganya Rp 12.000 per botol.

”Dari usaha-usaha ini, sekarang setiap bulan saya bisa memperoleh penghasilan kotor Rp 25 juta,” kata Yunus. Padahal, saat bekerja di perusahaan konstruksi dia hanya memperoleh penghasilan Rp 2 juta per bulan.

Cita-citanya menjadi pengusaha sudah terwujud. Berbagai penghargaan pun sudah diraihnya. Namun, dia masih terus bermimpi. Dengan usianya yang masih 30 tahun, tampaknya masih terbuka kesempatan bagi Yunus untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpinya itu.

Sumber: Koran Kompas

Nusantara, Nge-game Sambil Belajar Sejarah Indonesia

Posted by indonesiaberprestasi On December - 8 - 2008 ADD COMMENTS

Ardhi Suryadhi – detikinet

3498nusantara_ol

Jakarta – Bermain game tak hanya dapat mengobati kejenuhan. Sebuah game karya anak bangsa yang satu ini misalnya, sambil bermain gamer juga dapat belajar sejarah kebudayaan dan kerajaan-kerajaan besar di Indonesia.

Game online buatan barudak-barudak Bandung tersebut diberi nama Nusantara. Game ini bertipe MMORPG (Massively Multiplayer Online Role Playing Game) yang berlatarkan kehidupan masyarakat nusantara pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan di tanah air.

Game ini berkisah di suatu masa dimana rakyat Nusantara sudah memiliki sistim kemasyarakatan dan peri kehidupan yang maju dan terstruktur. Namun, kemahsuran Nusantara membuat negara-negara lain tertarik akan keberadaannya dan ingin menguasai, sehingga konflik pun tak terhindarkan.

Nusantara juga memiliki ensikolpedi yang menyajikan data dan fakta terkait sejarah kebudayaan, mulai dari artefak, prasasti, cerita hikayat, tokoh-tokoh hingga peristiwa sejarah.

Penasaran? Sayangnya bagi yang ingin menjajal game ini harus bersabar dulu. Pasalnya, Nusantara masih dalam tahap pengembangan. Diperkirakan, Mei 2009 atau bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional game ini baru bakal dilempar ke dunia game tanah air.

Nusantara adalah buah kreativitas dua studio animasi di Bandung. Mereka adalah studio Sangkuriang yang mengembangkan engine dan studio Telegraf yang mempresiapkan animasinya. ( ash / dwn )

Sumber berita: detikcom

Sumber gambar: Nusantara Online

Profil Prestatif – Bagus Rully Muttaqien

Posted by indonesiaberprestasi On December - 3 - 2008 4 COMMENTS

3 Desember 2008

Contributor: Leni

Pernah mampir ke situs Motivasy.net? Atau jangan-jangan Anda sudah menjadi pengunjung setianya?

Kalau belum, cobalah untuk sekali-kali mampir ke sana. Dijamin kehausan jiwa Anda dapat sedikit terobati dengan kisah-kisah motivasi yang disuguhkannya! Begitulah, situs Motivasy.net yang dulu beralamat di http://motivasy.com ini berisikan segudang kisah tentang kehidupan dan inspirasi yang dapat diambil darinya. Tujuannya tentu saja untuk membuat para pembacanya dapat termotivasi dalam menjalankan kesehariannya. Tapi, ternyata tidak hanya itu saja!

Mau tau lebih lanjut? Mari kita simak hasil wawancara tim Indonesia Berprestasi dengan salah satu anak muda Indonesia berprestasi, pendiri situs Motivasy.net, Bagus Rully Muttaqien, mengenai kisah di baliknya dan harapan-harapan ke depannya! Semoga ada sedikit percikan inspirasi yang bisa diambil dari profil kita kali ini ;-)

***

Sekilas Profil

bagusrully

Full Name : Bagus Rully Muttaqien

Place, Date of Birth : Solo, April, 27th 1985

E-mail Address : mail@bagusrully.com

Website : http://bagusrully.com

***

Wawancara

Indonesia Berprestasi (IB) : Assalammua’alaikum, bisa tolong ceritakan kisah di balik munculnya Motivasy.net ini?

Bagus Rully Muttaqien (BR) : Wa’alaikumsalam, awalnya cuman dari obrolan di kantin. Kita bertiga… saya, Almer Fazri (Informatika STT Telkom 2002) sama Deniar (2003), memutuskan untuk membangun komunitas baru yang bernama motivasy ini. Setiap dari kita sering banget cerita tentang teman-teman kita yang sering curhat tentang masalahnya ke kita. Dan yang mencengangkan, ada juga teman-teman kita yang notabene orang yang selalu bersemangat, ternyata cerita juga tentang masalahnya. Nah, kita menyimpulkan, bahwa seorang motivator sekalipun, bisa punya masalah, dan tetap butuh orang lain untuk berbagi. Nah, di komunitas motivasy ini, kita ingin saling berbagi. Tidak ada kata siapa itu motivatornya, dan siapa yang dimotivasi. Di komunitas ini, semua orang adalah motivator. Kita bisa saling berbagi, saling memotivasi, saling menyemangati satu sama lain.

(IB) : Sejak tahun berapa Motivasy.net didirikan?

(BR) : Kalau saya tidak salah, motivasy.com itu sudah ada sejak November 2004. Lalu isi webnya adalah forum diskusi. Membernya mencapai 1000 lebih. Namun, sampai pertengahan tahun 2006, kita vakum. Nah, baru bulan kemarin kita bangkit lagi. Kali ini dengan Motivasy.net.

(IB) : Vakum karena kesibukkan masing-masing pendirinya?

(BR) : Betul…. Semua pengurus sibuk, karena memang sudah angkatan tua. Dan yang tidak kita perhitungkan, kita tidak memiliki regenerasi pada saat itu.

(IB) : Nilai-nilai baik yang ada di Motivasy.net tentu saja tidak akan tersebar tanpa adanya komunitas yang membacanya. Bagaimana cara dari teman-teman Motivasy.net untuk menggaet massa pembaca yang luas?

(BR) : Jadi banyak sekali media yang kita gunakan. Dan beberapa member memiliki jaringan masing-masing. Biasanya mereka akan mereferensikan web kita ke orang lain. Jujur aja, tidak ada marketing khusus. Kita cuman berpedoman, ketika kebaikan yang kita sebarkan, Insya Allah penyebarannya ga akan sulit.

(IB) : Kalau boleh disimpulkan berarti Motivasy.net punya harapan untuk bisa jadi wadah saling memotivasi di antara kita. Adakah harapan2x lainnya?

(BR) : Harapan kita sebenernya bukan untuk 1 atau 2 tahun kedepan. Mungkin bisa jadi 10 tahun ke depan. Kita ingin membentuk paradigma positif di setiap diri pemuda, membentuk manusia-manusia Indonesia Berprestasi yang akan benar-benar mengabdi untuk negeri ini. Karena, kebanyakkan pemuda Indonesia, ketika mereka sudah memiliki kemampuan yang luar biasa, justru kemampuan itu tidak diabdikan untuk negerinya sendiri. Kita benar-benar ingin memberikan pandangan bahwa saat ini, bukan saatnya lagi kita mengeluh pada negeri ini. Namun ini saatnya bangkit membangun negeri ini.

saat ini, bukan saatnya lagi kita mengeluh pada negeri ini

(IB) : Oke, ini berarti akan sangat membutuhkan kerja-kerja besar dan juga kekonsistenan yang maksimal. Pernahkah kiranya Bagus Rully sendiri secara pribadi mengalami masa-masa drop untuk meraih tujuan tersebut?

(BR) : Pernah dong. Buktinya moty (Motivasy.net) pernah vakum selama 1,5 tahun. Gak lain itu merupakan kelalaian kita (termasuk saya) menjaga konsistensi itu. Untung cepet disadarkan. Awalnya hampir menyerah, tapi kita ingat sama visi besar kita.

(IB) : Semua anak muda indonesia adalah sasaran dari Motivasy.net. Bagaimana mencapai hal itu?

(BR) : Visi yang besar, tentu saja perlu pengorbanan besar. Kita sedikit demi sedikit mulai membangun berbagai macam media untuk menyampaikan visi dan misi dari moty. Saat ini, mungkin yang kita miliki hanya web dan fordis (forum diskusi) yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu. Atau untuk media lain berupa training-training motivasi yang sudah kita susun kurikulumnya jadi sama seperti dulu. Selain aktif di dunia maya, kita juga menyelenggarakan kegiatan training yang langsung disampaikan oleh trainer-trainer motivasy. Kita masuk ke SMA dan kampus-kampus, seperti UI, Trisakti, Unpad, ITB, dll. Kalau untuk ke depannya, media benar-benar ingin kita perluas. Mungkin dengan media cetak seperti buletin, lalu beranjak ke rubrik di koran, bahkan sampai tabloid. Kalau boleh bermimpi, kedepannya juga kita ingin punya moty radio dan moty tv. Jadi, kita ingin merangkul semua kalangan.

(IB) : Terakhir, tentang prestasi. Menurut Bagus Rully, seseorang dikatakan berprestasi jika bagaimana? Dan apakah kita bangsa Indonesia bisa jadi bangsa yang berprestasi? Apa yang harus diperbaiki dan ditingkatkan?

(BR) : Sebuah bangsa akan berprestasi ketika memiliki rakyat yang berprestasi juga. Tentu saja jangan mau puas dengan apa yang telah didapat Indonesia saat ini, harus terus ditingkatkan tanpa henti. Ga usah berpikir kapan kita akan mengejar ketertinggalan dari negara-negara di Eropa atau Amerika. Saat ini, bentuk mind set setiap punggawa negeri ini untuk berpikir positif, raih prestasi, bangun negeri ini, dan berikan yang terbaik dari yang ia punya. Gak usah mikir, ketika kita mati nanti, sudah berapa banyak yang kita berikan untuk negeri ini. Namun pastikan, ketika kita mati nanti, kita telah memberikan yang luar biasa terbaik untuk negeri ini.

(IB) : Terimakasih atas sharingnya. Adakah pesan-pesan yang ingin disampaikan lagi?

(BR) : Keep your motivation alive..

***

Bagaimana, readers? Semoga saja profil yang kita sajikan kali ini dapat membangkitkan semangat-semangat berprestasi yang terkubur dalam diri! Yakinlah bahwa kita semua bisa berprestasi! Bangsa Indonesia bisa berprestasi!

Salam Indonesia Berprestasi!

Share it and feel it!


Anastasia dan Medina Peringkat Tiga Dunia

Posted by indonesiaberprestasi On November - 25 - 2008 ADD COMMENTS

31 Oktober 2008, Amril Amarullah

VIVAnews - Dua pecatur cilik Indonesia Anastasia Patrick dan Medina Warda Aulia kembali mengukir prestasi gemilang pada ajang Kejuaraan Catur Kelompok Umur Dunia (World Youth Chess Championship) yang berlangsung di Vung Tau, Vietnam, 19-30 Oktober 2008, seperti yang dikutip dari Humas PB Percasi, Jumat 31 Oktober 2008.

Setelah bertanding 11 babak sistem Swiss, Anastasia Patrick dan Medina Warda Aulia meraih peringkattiga dunia pada kelompok umur 10 tahun dan 12 tahun putri. Anastasia pada babak terakhir menang atas MFW Liao Simone dari AS sehingga meraih 8 angka dan menduduki peringkat tiga hingga enam bersama Cecile Hausernot (Prancis), Sapathy Sunyasakta (India) dan Vu Hong Lan (Vietnam), tetapi nilai tie-break Anastasia lebih baik dari tiga saingannya sehingga bertengger di peringkat tiga. Dari sebelas babak Anastasia mencetak 7 kemenangan, 2 kali remis dan 2 kali kalah.

Juara kelompok ini Aleksandra Goryachkina dari Rusia dengan 9 angka. Medina pada babak terakhir bermain remis lawan MFW Rueda Paula Andrea Rodriguez dari Kolombia dan sama mengumpulkan 8 angka bersama Rueda dan Pratyusha Bodda (India) berada di peringkat tiga hingga lima, tetapi nilai tie-breaknya kalah dari Bodda sehingga peringkatnya berada di ranking empat. Dari sebelas babak Medina mencetak 6 kemenangan, 4 kali remis dan sekali kalah.

Juara kelompok ini Zhai Mo dari Cina dengan 8,5 angka. Dua pecatur Indonesia lainnya, MF Rian Kapriaga dan Kaisar Jenius yang turun di KU18 putra berturut-turut berada di peringkat 40 dan 45. Rian membukukan 5,5 angka sementara Kaisar 5 angka. Juara kelompok ini MI Ivan Saric dari Kroasia dengan 8 angka.

Sumber : Klik ini


Profil Prestatif – Trustia Rizqandaru

Posted by indonesiaberprestasi On November - 16 - 2008 1 COMMENT

Usianya boleh saja belia, 18 tahun. Namun, siapa sangka gadis kelahiran 10 September itu cukup aktif menyuarakan hak-hak anak. Bahkan, kiprahnya telah diakui secara nasional, hingga mengantarkannya menjadi duta anak perempuan Indonesia pada Sidang Komisi Kedudukan Wanita (Commission on the Status of Women-CSW) ke-52 di New York, Amerika Serikat, 23 Februari – 8 Maret 2007.

Kiprah gadis bernama Trustia Rizqandaru dalam menyuarakan hak anak bermula saat ia duduk di kelas III SMP. Saat itu, gadis yang akrab disapa Icha itu, mewakili sekolahnya untuk mengikuti Pelatihan Konvensi Anak dan Undang-Undang Perlindungan Anak yang diselenggarakan Lembaga Perlindungan Anak Jabar.

“Dari kegiatan itu, saya bertemu dengan anak-anak dari berbagai latar belakang sosial ekonomi, mulai dari anak jalanan sampai anak pengungsi. Dari sana, mata saya mulai terbuka melihat realita yang ada. Ternyata, di luar sana masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan haknya,” ujar Icha saat ditemui di SMAN 3 Bandung, Jln. Sumatra, Bandung, Selasa (27/3).

Awalnya, ia hanya merasa kasihan terhadap anak-anak yang haknya terenggut. Sebut saja mereka menjadi buruh pada usia dini atau dipaksa mengakhiri masa lajang pada usia yang masih belia. Namun, seiring dengan seringnya berkumpul dengan alumni pelatihan itu, pikiran Icha pun mulai terbuka.

“Kami harus melakukan sesuatu untuk menyuarakan hak anak yang tertindas,” kata gadis yang masih tercatat sebagai siswa kelas XII SMAN 3 Bandung itu.

Dari sana, tercetuslah ide untuk membentuk forum anak yang secara khusus menyuarakan hak-hak anak. Pada September 2002, Forum Anak Daerah Jawa Barat pun didirikan.

Tak disangka, aktivitasnya dalam organisasi tersebut menarik perhatian UNESCO dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Pada 23 Juli 2006, bertepatan dengan peringatan Hari Anak, ia mendapatkan penghargaan sebagai pemimpin muda. Penghargaan tersebut diberikan bagi anak yang dinilai aktif dalam menyuarakan hak anak.

“Dari seluruh Indonesia, dipilih tiga pemimpin muda, termasuk saya,” ujar siswi yang sempat meraih penghargaan sebagai pelajar SMP teladan tingkat Jabar itu.

Dari sanalah awal keikutsertaan Icha dalam delegasi Indonesia untuk Sidang Komisi Kedudukan Wanita. Ia terpilih dari tiga pemimpin muda tersebut.

Dalam kegiatan tingkat dunia itu, delegasi dari 192 negara membicarakan lima isu besar yang dihadapi anak-anak, khususnya perempuan. Mulai dari sunat perempuan, trafficking,  buruh anak, penyalahgunaan narkoba, HIV/AIDS, hingga pernikahan di bawah umur.

“Ternyata, di dunia ini masih banyak hak-hak anak, khususnya anak perempuan, yang masih terpasung. Mulai dari maraknya sunat perempuan di Afrika, penjualan anak, sampai pada pengguguran janin perempuan hanya karena menginginkan anak laki-laki,” katanya.

Pengalaman itu, pada akhirnya semakin mengokohkan niat Icha untuk menapaki jalan sebagai aktivis anak. Satu pesan yang dititipkan Icha bagi seluruh anak Indonesia, “Jangan takut untuk bersuara.

Sumber: Klik ini

Dirgahayu Indonesia, Dirgahayu Tanah Airku

65 tahun silam… Tepat pukul 10.00 pagi, 17 Agustus 1945.. Tertulislah sejarah bangsa Indonesia di kanvas kehidupan. Diiringi... 

ITSF AWARD 2010

ITSF AWARD 2010 telah dimulai Indonesia Toray Science Foundation mengajak ahli ilmu pengetahuan, peneliti, dan guru SMA bidan... 

Kido/Hendra Raih Gelar Internasional

Ganda putra peringkat empat dunia Markis Kido/Hendra Setiawan meraih gelar pertama mereka dalam turnamen internasional pada... 
Indonesia, Juara Essay Competition 2010 World Bank!

Indonesia, Juara Essay Competition 2010 World Bank!

Indonesia kembali menorehkan namanya di dunia internasional. Kali ini melalui International Essay Competition 2010 yang diselenggarakan... 

TAG CLOUD

POPULAR

  • Dukung Indonesia Berprestasi

    Indonesia Berprestasi
  • Indonesia Berprestasi on Facebook!

  • Indonesia Berprestasi Didukung dan Mendukung: