<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia Berprestasi &#187; angklung</title>
	<atom:link href="http://www.indonesiaberprestasi.web.id/tag/angklung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indonesiaberprestasi.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 03:32:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Berita Baik dari Pelajar Indonesia di Malaysia</title>
		<link>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/10/berita-baik-dari-pelajar-indonesia-di-malaysia/</link>
		<comments>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/10/berita-baik-dari-pelajar-indonesia-di-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 18:07:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiaberprestasi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Prestatif]]></category>
		<category><![CDATA[Berita dari Seberang]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetisi Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[angklung]]></category>
		<category><![CDATA[international students cultural night]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[nilai university college]]></category>
		<category><![CDATA[pelajar indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[tari saman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaberprestasi.web.id/?p=824</guid>
		<description><![CDATA[Pelajar Indonesia di Malaysia telah menorehkan sebuah prestasi yang cukup membanggakan dan mengharumkan nama bangsa. Di dalam acara International Students Cultural Night yang diselenggarakan oleh Nilai University College (Nilai UC), Malaysia, para pelajar Indonesia berhasil menyabet dua gelar juara. Juara kedua dalam kategori tari-tarian yang berhasil dimenangkan oleh pelajar Indonesia dari Universiti Malaya (UM) dengan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/10/mantap-paduan-suara-indonesia-raih-3-emas-di-italia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mantap, Paduan Suara Indonesia Raih 3 Emas di Italia'>Mantap, Paduan Suara Indonesia Raih 3 Emas di Italia</a> <small>Sumber Gambar: link Sekali lagi Lagu Indonesia Raya dan Nyiur...</small></li>
<li><a href='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/09/indonesia-meriahkan-magnifest-di-kota-braunschweig/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Indonesia Meriahkan Magnifest di Kota Braunschweig, Jerman'>Indonesia Meriahkan Magnifest di Kota Braunschweig, Jerman</a> <small>Indonesia meramaikan penyelenggaraan Magnifest di kota Braunschweig, Jerman yang merupakan...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pelajar Indonesia di Malaysia telah menorehkan sebuah prestasi yang cukup membanggakan dan mengharumkan nama bangsa. Di dalam acara International Students Cultural Night yang diselenggarakan oleh Nilai University College (Nilai UC), Malaysia, para pelajar Indonesia berhasil menyabet dua gelar juara. Juara kedua dalam kategori tari-tarian yang berhasil dimenangkan oleh pelajar Indonesia dari Universiti Malaya (UM) dengan tari samannya dan juara pertama yang berhasil diraih oleh pelajar Indonesia dari Universiti Sains Malaysia (USM) dalam kategori vokal yang membawakan lagu daerah Indonesia diiringi alunan musik angklung.</p>
<p>International Students Cultural Night yang diselenggarakan pada tanggal 10 Oktober 2009 ini diikuti oleh banyak peserta dari berbagai macam negara yang memiliki wakil pelajar di Malaysia. Peserta dari Indonesia, Malaysia, Uganda, Cina, Thailand, Iran, dan lain sebagainya turut serta memeriahkan acara International Students Cultural Night tersebut. Dengan mengusung tema 1 World Culture, acara ini bertujuan untuk menginisiasi sebuah wadah apresiasi kebudayaan antar negara. Acara yang diselenggarakan oleh Nilai UC ini juga merupakan kerjasama dengan Kementerian Pengajian Tinggi (Ministry of Higher Education) Malaysia.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/untitled1.JPG"><img class="aligncenter size-medium wp-image-826" title="untitled1" src="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/untitled1-300x201.jpg" alt="untitled1" width="300" height="201" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Pelajar Indonesia dari UM yang membawakan tari Saman</strong></p>
<p>International Students Cultural Night sendiri melombakan dua kategori kebudayaan, yakni tari-tarian dan vokal. Diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai macam negara, seleksi yang dijalani untuk menjadi juara sangat ketat. Dari puluhan tim yang berlomba dan mendaftarkan diri atas nama universitasnya masing-masing, hanya empat tim terbaik yang dapat mengikuti babak final. Bahkan, Rosdan Abbas, seorang dosen musik dari National Arts, Culture, and Heritage Academy Malaysia yang menjadi juri pun merasakan kesulitan dalam memilih tim mana yang berhak memasuki babak final dan menjadi juara.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/untitled2.JPG"><img class="size-medium wp-image-825 aligncenter" title="untitled2" src="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/untitled2-300x200.jpg" alt="untitled2" width="300" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Pelajar Indonesia dari USM membawakan lagu diiringi angklung</strong></p>
<p>Ketika itu, total tim yang berhasil memasuki babak final adalah delapan tim. Empat tim vokal dan empat tim dari kategori tari-tarian. Dua tim pelajar Indonesia dari UM serta Universiti Putra Malaysia (UPM) berhasil memasuki final kategori tari-tarian dan satu tim pelajar Indonesia dari USM berhasil menjadi finalis kategori vokal. Tim tari Indonesia dari UM yang kesemuanya terdiri dari para wanita, membawakan tari Saman yang berasal dari Aceh. Sedangkan, tim tari UPM membawakan tarian yang berasal dari Papua Barat. Di kategori vokal, tim Indonesia dari USM berhasil merebut juara pertama atas keharmonian nada yang dibawakan oleh seorang penyanyi wanita yang diiringi alunan merdu dari angklung.</p>
<p>Sebuah prestasi yang sangat membanggakan dan menggembirakan. Karena di tengah-tengah hiruk pikuk hidup di negara orang lain, para pelajar Indonesia tersebut justru tetap mengingat kebudayaan negara sendiri dan turut berperan aktif dalam mempromosikan budaya bangsa. Semoga kita-kita yang tinggal di Indonesia, juga tidak kalah berprestasinya dibandingkan mereka. Juga.. tidak kalah kecintaannya kepada warisan budayanya sendiri <img src='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Terimakasih untuk Mawaddah Adah (pelajar Indonesia di UM) untuk sumbangan kabar baiknya <img src='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </strong></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/10/mantap-paduan-suara-indonesia-raih-3-emas-di-italia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mantap, Paduan Suara Indonesia Raih 3 Emas di Italia'>Mantap, Paduan Suara Indonesia Raih 3 Emas di Italia</a> <small>Sumber Gambar: link Sekali lagi Lagu Indonesia Raya dan Nyiur...</small></li>
<li><a href='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/09/indonesia-meriahkan-magnifest-di-kota-braunschweig/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Indonesia Meriahkan Magnifest di Kota Braunschweig, Jerman'>Indonesia Meriahkan Magnifest di Kota Braunschweig, Jerman</a> <small>Indonesia meramaikan penyelenggaraan Magnifest di kota Braunschweig, Jerman yang merupakan...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/10/berita-baik-dari-pelajar-indonesia-di-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alunan Angklung Pikat Shenyang</title>
		<link>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/10/alunan-angklung-pikat-shenyang/</link>
		<comments>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/10/alunan-angklung-pikat-shenyang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 02:07:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rabindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Seberang]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan Budaya Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[angklung]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian night 2009]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[shenyang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaberprestasi.web.id/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Lampu yang semula redup tiba-tiba menyala seiring alunan tetabuhan khas Bali yang mengalun rancak. Sejumlah penari dengan busana khas Bali masuk dan berlenggak-lenggok seiring irama. Tari pendet yang diramu dengan tari kembang janger cukup menyita perhatian warga yang memadati lapangan Balaikota Shenyang, Provinsi Liaoning, China. Sekitar 10 menit para penari Bali ini meliuk dan melirik [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/09/singapura-promosikan-pariwisata-bintan-di-australia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Singapura Promosikan Pariwisata Bintan di Australia'>Singapura Promosikan Pariwisata Bintan di Australia</a> <small>Sumber Gambar: link Pariwisata Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri)...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;"><a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/3157creative.jpg"><img class="size-full wp-image-733 alignleft" title="3157creative" src="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/3157creative.jpg" alt="3157creative" width="300" height="225" /></a>Lampu yang semula redup tiba-tiba menyala seiring alunan tetabuhan khas Bali yang mengalun rancak. Sejumlah penari dengan busana khas Bali masuk dan berlenggak-lenggok seiring irama. Tari pendet yang diramu dengan tari kembang janger cukup menyita perhatian warga yang memadati lapangan Balaikota Shenyang, Provinsi Liaoning, China.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Sekitar 10 menit para penari Bali ini meliuk dan melirik tajam di atas panggung yang diterangi puluhan lampu sorot warna-warni. Riuh tepukan dan sesekali teriakan dari bawah panggung berpadu dengan LCD pemandangan Bali sebagai latar belakang, menjadikan sajian pembuka tersebut cukup menyentuh kalbu jika dihubungkan dengan kejadian akhir-akhir ini atas seteru klaim tari pendet Indonesia oleh Malaysia.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Berikutnya, Grup Kesenian Liaoning—mewakili tuan rumah—kian menghangatkan suasana dengan membawakan tarian naga dan tambur. Rasanya, suhu 13 derajat celsius (awal musim panas) pekan lalu di kota Shenyang—yang sebenarnya cukup menggigit kulit—tidak mampu menyurutkan langkah sekitar 5.000 warga kota Shenyang untuk menyaksikan pagelaran kesenian dari Pemerintah Indonesia dalam program bertajuk ”Indonesian Night 2009”.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Seusai bergoyang, Indonesia mengajak warga Shenyang bersenandung bersama kuartet Batak. Lengkingan lagu ”Sing Sing So” dan ”Butet” membuat ribuan penonton tak kuasa beranjak dari tempat duduk. Apalagi berikutnya mereka disuguhi gerak rancak tari saman khas Aceh. Decak kagum dan riuh tepukan tak henti-hentinya bergemuruh di setiap pemungkas tampilan.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Tiba-tiba suasana hening begitu alunan angklung dari kelompok musik Syaeboom (musik bambu) asal Bandung mengalunkan merdunya musik bambu. Dengan saksama mereka mencermati bagaimana tabung-tabung bambu tersebut bisa menciptakan bunyi khas nan merdu. Saat itu sekitar 2.000 warga Shenyang menerima masing-masing sebuah angklung sebagai ungkapan persahabatan dari Indonesia.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Tepukan kembali bergemuruh kala suara jernih Rangga dan Ika—vokalis Syaeboom—melantunkan lagu ”Corazon Espinado”, ”Bengawan Solo”, dan ”Euis”.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Klimaks acara bisa dibilang saat Ika—dibantu Rangga serta penyanyi Ella dan Elli—membimbing warga Shenyang untuk bisa memainkan angklung sendiri. Mulai dengan melantunkan nada do-re-mi-fa-sol-la-si-do, hingga perlahan-lahan merangkai nada sampai terdengar alunan lagu berbahasa China, ”Yue Liang Bai Biao Wo De Xin”. Warga Shenyang sontak berteriak mengapresiasi lagu tersebut. Mereka tak ragu-ragu turut bernyanyi mengikuti lantunan syair lagu legendaris itu.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Kibaran bendera China dan Indonesia melambai-lambai di tengah deru kekaguman dan sukacita penonton seusai lagu tersebut didendangkan.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Akhirnya Indonesia mulai mengakhiri gebyar Indonesian Night 2009 setelah seluruh artis dan pendukung acara naik ke pentas. Penonton pun merangsek ke depan baik untuk memberikan buket bunga atau sekadar berfoto bersama Miss Tourism Indonesia 2008, Albertina Fransisca Mailoa, serta Miss Tourism Indonesia III 2008, Olivia Fransiska, yang turut dalam rombongan promosi kebudayaan Indonesia di Shenyang.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Kegiatan promosi ini adalah hasil kerja sama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan Kedutaan Besar RI di Beijing serta Perhimpunan Indonesia Tionghoa.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Menurut Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Indonesia perlu belajar dari Shenyang. Sebab, kota dengan penduduk berjumlah 7,6 juta jiwa di timur Laut China tersebut setiap tahun menerima 50 juta turis domestik di kotanya. Mereka terdiri dari warga Kota Shenyang sendiri atau warga China lain. Adapun kunjungan turis mancanegara sekitar 400.000 orang setiap tahun. Rata-rata mereka berasal dari Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara terdekat lain.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Padahal, jika ditilik, sebenarnya obyek wisata di Shenyang tidak benar-benar extraordinary atau sangat luar biasa. Kota ini mengandalkan The Imperial Palace in Shenyang (istana Manchuria peninggalan Dinasti Qing)—seperti istana raja-raja lainnya—dengan sejumlah kamar dan ruangan, ornamen klasik, serta taman istana, World Cultural Heritage Qing Zhao Tomb—makam raja-raja dengan kawasan hijauan berhektar-hektar dengan danau untuk berperahu, museum industri pesawat terbang, serta bentuk-bentuk seni budaya China pada umumnya.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Obyek-obyek seperti itu pun dimiliki Indonesia. Sebut saja wisata sejarah seperti Candi Borobudur, eksotisme Bali dengan budaya dan wisata alamnya, Jakarta dengan wisata belanjanya, dan sebagainya. Namun, kenapa pariwisata Indonesia jauh tertinggal dibandingkan Malaysia dan Singapura, misalnya, dalam hal menarik turis China?</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">”Banyaknya turis domestik yang datang ke kota kami mungkin karena jarak ke tempat kami tidak jauh. Selain itu, sarana transportasi darat dan laut juga mudah,” tutur Zhou Jian Ya, Director of International Marketing and Communication Department Shenyang Tourism Administration.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Berkaca dari Shenyang, Tourism Ambassador Indonesia di China, Ted Siong, mengatakan, banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan jika Indonesia ingin memajukan sektor pariwisata.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">Pekerjaan rumah yang harus terus dituntaskan, menurut Ted, adalah melakukan promosi wisata khusus ke luar negeri, seperti Indonesian Night, memudahkan cara pengurusan visa ke Indonesia, memperbaiki kualitas obyek dan sarana prasarananya, menjamin aksesibilitas ke obyek wisata, termasuk di dalamnya sarana transportasi, serta membudayakan murah senyum dan ramah.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;">”Kalau turis-turis harus antre 2-3 jam untuk bisa masuk ke Bali seperti saat ini, apalagi saat menunggu tak ada senyum dari petugas, lama-lama orang gerah dan malas datang,” ujar Ted. Hal kecil mulai dari senyuman, menurut Ted, bisa mengubah industri pariwisata Indonesia. Jika tidak, potensi Indonesia akan terus tertutupi gencarnya promosi negara lain.</p>
<p style="margin-top: 0px; line-height: 20px;"><strong>Sumber: </strong><strong><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/11/05102510/Memikat.Shenyang.dengan.Alunan.Angklung">KOMPAS</a></strong></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/09/singapura-promosikan-pariwisata-bintan-di-australia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Singapura Promosikan Pariwisata Bintan di Australia'>Singapura Promosikan Pariwisata Bintan di Australia</a> <small>Sumber Gambar: link Pariwisata Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri)...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/10/alunan-angklung-pikat-shenyang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angklung Didaftarkan ke UNESCO</title>
		<link>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-didaftarkan-ke-unesco/</link>
		<comments>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-didaftarkan-ke-unesco/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 14:51:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiaberprestasi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warisan Budaya Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[angklung]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kesenian]]></category>
		<category><![CDATA[saung mang udjo]]></category>
		<category><![CDATA[unesco]]></category>
		<category><![CDATA[warisan budaya indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaberprestasi.web.id/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Masih berhubungan dengan angklung, Saung Angklung Udjo mulai mendaftarkan angklung ke UNESCO untuk melindungi angklung sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Pendaftarannya dilakukan Rabu 26 Agustus 2009 dengan difasilitasi Departemen Pendidikan, Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, dan Departemen kebudayaan dan Pariwisata. &#8220;Jadi angklung didaftarkan sebagai nominasi warisan budaya tak benda (intangible heritage) asli dari Indonesia,&#8221; kata Direktur [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih berhubungan dengan angklung, Saung Angklung Udjo mulai mendaftarkan angklung ke UNESCO untuk melindungi angklung sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Pendaftarannya dilakukan Rabu 26 Agustus 2009 dengan difasilitasi Departemen Pendidikan, Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, dan Departemen kebudayaan dan Pariwisata.</p>
<p>&#8220;Jadi angklung didaftarkan sebagai nominasi warisan budaya tak benda <em>(intangible heritage</em>) asli dari Indonesia,&#8221; kata Direktur Operasional Saung Angklung Udjo Satria Yanuar Akbar di Bandung, Jumat 28 Agustus 2009.</p>
<p>Menurut Satria, sebelum proposal pendaftaran angklung ini diajukan ke UNESCO, pihaknya bersama sejumlah komunitas angklung di tanah air sempat menjadi narasumber dalam sidang verifikasi di Saung Udjo pada tanggal 11 Agustus lalu.</p>
<p>Narasumber itu, kata Satria, terbagi atas dua bagian yaitu masyarakat angklung tradisional seperti dari Banten, Kasepuhan Garut Jawa Barat, dan Ujungberung, dan masyarakat angklung modern yang bergumul di Saung Pak Daeng seperti Saung Angklung Udjo, komunitas angklung di sekolah, dan komunitas masyarakat musik angklung. &#8220;Sedikitnya ada 13 komunitas yang tercatat, meski pada kenyataannya lebih dari itu,&#8221; katanya.</p>
<p>Kini, kata Satria, pihaknya menunggu tahapan verifikasi yang dilakukan UNESCO. Verifikasi dilakukan untuk membuktikan apakah angklung sangat berperan dalam kelangsungan suku bangsa khususnya di Indonesia. &#8221;Jika lolos verifikasi, maka UNESCO akan mengeluarkan sertifikat dan angklung dapat diakui sebagai warisan ahli budaya kita selain tiga budaya lain yang sudah diakui yaitu wayang golek, keris, dan batik,&#8221; katanya.</p>
<p>Meski menyampaikan penghargaan atas upaya pemerintah memfasilitasi proses pengajuan proposal ini, Satria menilai pemerintah selama ini masih lambat dalam mendaftarkan warisan budaya Indonesia. Sebagai perbandingan, kata Satria, Cina sudah mendaftarkan lebih dari seribu warisan budayanya dalam kurun waktu 10 tahun. Korea, sudah melakukannya sejak tahun 1995 dan sudah mendaftarakan tidak kurang dari 100 warisan budayanya.</p>
<p>&#8220;Sedangkan Indonesia baru melakukannya sejak tahun 2002, itu pun baru empat jenis,&#8221; katanya. Di Malaysia angklung diakui sebagai kebudayaan setempat.</p>
<p>Tentunya kita semua berharap agar verifikasi yang dilakukan tersebut berhasil. Selain itu, semoga untuk ke depannya pemerintah lebih proaktif lagi dalam melakukan pendaftaran budaya Indonesia. Dan mungkin tidak hanya dari perhatian pemerintah, tapi juga dari kita sendiri yang lebih mencintai dan mengapresiasi lagi budaya Indonesia.</p>
<p>Mari kita lestarikan budaya Indonesia!</p>
<p><strong>Sumber: </strong><a href="http://nasional.vivanews.com/news/read/86263-angklung_didaftarkan_ke_unesco"><strong>VIVAnews</strong></a></p>
<p>Bacalah artikel IB tentang angklung:<a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-1/"> bagian 1</a> dan<a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-2/"> bagian 2</a></p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-didaftarkan-ke-unesco/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angklung (2)</title>
		<link>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-2/</link>
		<comments>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 04:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiaberprestasi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan Budaya Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[alat musik bambu]]></category>
		<category><![CDATA[alat musik tradisional indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[angklung]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaberprestasi.web.id/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[BACA TULISAN SEBELUMNYA: Angklung (1) Kebangkitan Sejak dihapuskannya Cultuurstelsel, larangan memainkan angklung turut dicabut. Namun, pengaruh angklung tetap saja tidak sedahsyat awalnya. Angklung hanya berperan sebagai alat musik penghibur dalam pertunjukkan rakyat, seperti reog atau ogle. Keadaan tersebut berlangsung hampir satu abad lamanya. Baru menjelang masa penjajahan Jepang, angklung mulai kembali diperhatikan. Sejak tahun 1983, [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-1/" target="_blank"><strong>BACA TULISAN SEBELUMNYA: Angklung (1)</strong></a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Kebangkitan</strong></p>
<p style="text-align: left;">Sejak dihapuskannya Cultuurstelsel, larangan memainkan angklung turut dicabut. Namun, pengaruh angklung tetap saja tidak sedahsyat awalnya. Angklung hanya berperan sebagai alat musik penghibur dalam pertunjukkan rakyat, seperti reog atau ogle.</p>
<p style="text-align: left;">Keadaan tersebut berlangsung hampir satu abad lamanya. Baru menjelang masa penjajahan Jepang, angklung mulai kembali diperhatikan. Sejak tahun 1983, Daeng Sutigna, seorang putra pribumi kelahiran Garut, mengkreasikan angklung tradisional yang mempunyai tangga nada pentatonis menjadi diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, si, do). Usahanya itu didasari atas pemikiran supaya angklung sebagai warisan budaya nusantara dapat dengan mudah dipopulerkan ke kalangan generasi muda untuk dijaga kelestariannya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/08/daeng.jpg"><img class="size-full wp-image-490 alignnone" title="daeng" src="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/08/daeng.jpg" alt="daeng" width="144" height="214" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Daeng Sutigna (Sumber: <a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:uNvv8LDcqWxPmM:http://fandy17hutari.files.wordpress.com/2009/01/daeng.jpg" target="_blank">link</a>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Usaha Daeng Sutigna pun membuahkan hasil. Angklung kembali mendapatkan tempat yang layak dan dipandang oleh masyarakat. Bahkan, angklung pun mendapatkan reputasi internasional di mata dunia. Pada tahun 1955, seorang musikus besar kebangsaan Australia, Igor Hmel Nitsky, menyatakan sebagai berikut: “.. my surprise that Daeng Sutigna has found such a practical and fascinating method of teaching the youth of Indonesia how to appreciate and play their own historic instrument, the Angklung. It’s original idea of enabling young children to read and understand the tonal structure by visual and practical demonstration, is, to say the least, wonderful!”.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Alat Pendidikan</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/08/angklung2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-491" title="angklung2" src="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/08/angklung2-300x199.jpg" alt="angklung2" width="300" height="199" /></a></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Sumber: <a href="http://kopidangdut.files.wordpress.com/2007/08/angklung.jpg" target="_blank">link</a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Walaupun menurut anggapan beberapa pihak, angklung sebagai alat musik masih memiliki beberapa kekurangan, angklung masih dapat dipertanggungjawabkan sebagai sebuah alat pendidikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kemudian menetapkan angklung sebagai alat pendidikan musik di sekolah melalui Surat Keputusan tertanggal 23 Agustus 1963, No. 082/1968 sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: left;">-         Menetapkan angklung sebagai alat pendidikan musik dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan</p>
<p style="text-align: left;">-         Menugaskan Direktur Jenderal Kebudayaan untuk mengusahakan agar angklung dapat ditetapkan sebagai alat pendidikan musik tidak hanya dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Perkembangan Pasca Daeng</strong></p>
<p style="text-align: left;">Daeng Sutigna tidak hanya mengembangkan angklung dari segi teknik pembelajarannya, melainkan juga menyebaluaskan angklung ke negara-negara di luar Indonesia. Melalui pembinaan daeng-daeng muda dari berbagai daerah yang akhirnya disebar kembali ke pelosok dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Hal tersebut menyebabkan angklung mencapai puncak kejayaannya pada dasawarsa tujuh puluhan. Apresiasi yang meriah tidak hanya didapat dari kalangan tanah air saja, melainkan juga sampai ke negara tetangga. Ratusan set angklung diekspor ke Malaysia setiap tahunnya, sebagai salah satu komoditi nonmigas. Bahkan, sekolah-sekolah di Malaysia pun mengajarkan angklung kepada murid-muridnya.</p>
<p style="text-align: left;">***</p>
<p style="text-align: left;">Demikianlah, sejarah angklung sedikit banyak mengingatkan kita akan sejarah bangsa Indonesia. Ketika bangsa Indonesia berada dalam genggaman penjajah, angklung hanya menjadi alat musik pengemis. Dan ketika kemerdekaan telah tercapai, angklung kembali menjadi alat musik yang dipandang serta dibanggakan di mata dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Berbanggalah kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki beraneka ragam kebudayaan. Dengan budaya, kita dapat berkaca kepada sejarah. Melihat kisah-kisah tersirat di baliknya yang mengajarkan makna perjuangan dan nasionalisme.</p>
<blockquote style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari sejarah dan menghargai kearifan budaya lokal”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong>Referensi:</strong></p>
<p style="text-align: left;">http://angklung-web-institute.com/content/view/87/74/lang,en/</p>
<p style="text-align: left;">http://angklunglovers.blogspot.com/2009/02/sejarah-angklung-indonesia.html</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angklung (1)</title>
		<link>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-1/</link>
		<comments>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 04:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lenidisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan Budaya Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[alat musik tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[angklung]]></category>
		<category><![CDATA[bambu]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaberprestasi.web.id/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Guys, sebagai anak muda Indonesia yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, pasti pada pernah dengar kan alat musik tradisional milik kita semua bernama angklung? Kalau gak pernah denger kebangetan euy! Yang gini-gini nih, yang bisa bikin Indonesia sedikit demi sedikit kehilangan aset-aset budayanya. Kalau kamu-kamu masih ngaku cinta Indonesia dan pengen jadi pengganti “ayah-ibu” kita di kabinet [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/10/alunan-angklung-pikat-shenyang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alunan Angklung Pikat Shenyang'>Alunan Angklung Pikat Shenyang</a> <small>Lampu yang semula redup tiba-tiba menyala seiring alunan tetabuhan khas...</small></li>
<li><a href='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2010/06/gim-wayang-golek-ke-korea-selatan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gim Wayang Golek ke Korea Selatan'>Gim Wayang Golek ke Korea Selatan</a> <small>Gim (game) animasi wayang golek diperkenalkan dalam konferensi pemuda internasional...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Guys, sebagai anak muda Indonesia yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, pasti pada pernah dengar kan alat musik tradisional milik kita semua bernama angklung? Kalau gak pernah denger kebangetan euy! Yang gini-gini nih, yang bisa bikin Indonesia sedikit demi sedikit kehilangan aset-aset budayanya. Kalau kamu-kamu masih ngaku cinta Indonesia dan pengen jadi pengganti “ayah-ibu” kita di kabinet masa depan, kudu tahu paling gak sedikit saja mengenai sejarah warisan-warisan budayanya. Biar apa? Yah biar bisa ngebelain negara dengan argumen-argumen yang berdasar jikalau suatu saat ada pihak-pihak yang sengaja maupun tidak sengaja berusaha mengambil alih kekayaan bangsa kita.</p>
<p>By the way, saya sendiri juga tidak terlalu tahu banyak. Tapi, saya masih pengen belajar lebih dalam, lho. Kalau ada yang mau nambahin, silakan nambahin, ya!</p>
<p><strong>Sejarah Angklung</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/08/angklung1.jpg"><img class="size-medium wp-image-479 aligncenter" title="angklung1" src="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/08/angklung1-260x300.jpg" alt="angklung1" width="260" height="300" /></a></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Sumber: <a href="http://yandhie.files.wordpress.com/2008/12/angklung.jpg" target="_blank">link</a></strong></p>
<p>Sebenarnya, sejak kapan angklung mulai muncul dan berkembang, merupakan pertanyaan yang belum dapat dijawab secara pasti. Namun, menurut perkiraan Dr. Groneman, dalam bukunya “De Gamelan to Jogjakarta, Letterkundige Vehaldingen der Koninkl”, angklung sudah menjadi sebuah alat musik yang digemari oleh masyarakat Indonesia di beberapa daerah sebelum pengaruh Hindu berkembang di Indonesia. Namun anehnya, angklung tidak digambarkan pada candi Borobudur dan Prambanan sebagaimana halnya alat musik bambu lainnya, seperti alat musik bambu berdawai yang sudah berkembang sebelum zaman Hindu di Indonesia.</p>
<p>Nama angklung baru disebut-sebut dalam Serat Centhini (naskah sejarah lama mengenai musik dan agama di tanah Jawa) yang dibuat pada tahun 1830. Dalam serat tersebut, dikisahkan seorang putra kyai bernama Cebolang yang mempertunjukkan keahliannya bermain musik (disebut musik terbangan) di hadapan Bupati Daha, Kediri. Dalam sebuah puisi, Sekar Lempang, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dari naskah aslinya Serat Centhini, permainan musik Cebolang digambarkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;">“His voice rose, clear and bright,</p>
<p style="text-align: center;">rang out loud, fragrant, and sweet.</p>
<p style="text-align: center;">Appealing his wilet, carried heart away.</p>
<p style="text-align: center;">His terbang playing resonated.</p>
<p style="text-align: center;">His friends answered at once.</p>
<p style="text-align: center;">Three terbang were rumbling,</p>
<p style="text-align: center;">together with <strong>angklung</strong> and kendhang,</p>
<p style="text-align: center;">calung, ivory capalita,</p>
<p style="text-align: center;">vibrant, resonant, resounding, shaking and thundering.”</p>
<p><strong>Beragam Fungsi Angklung</strong></p>
<p>Angklung ternyata memiliki beragam fungsi selain sebagai sebuah alat musik tradisional yang bersifat menghibur. Di beberapa tempat di Bali misalnya, angklung biasa digunakan dalam upacara pembakaran mayat (Ngaben). Di Kanekes, Banten Selatan, orang Baduy menggunakan angklung dalam sebuah upacara menjelang penanaman padi di lading. Mereka menyebutnya Angklung Buhun. Di kampung Jati, Serang, Angklung Gubrag dianggap sebagai alat musik sakral yang berfungsi sebagai pengiring mantera pengobatan orang sakit atau menolak wabah. Bahkan, di Kalimantan Selatan, angklung yang dikenal dengan sebutan Kurung-kurung pun dipergunakan untuk mengiringi pertunjukkan Kuda Gepang (Sie) yang bentuk pertunjukkannya hampir sama dengan Kuda Kepang di Jawa Tengah.</p>
<p><strong>Dari Militer ke Pengemis</strong></p>
<p>Sebagaimana telah diceritakan sebelumnya, hampir tidak ada keterangan tertulis mengenai angklung pada zaman dahulu. Pada umumnya, angklung muncul melalui cerita-cerita lisan, seperti dalam beberapa cerita rakyat di Kanekes, Banten Selatan yang biasa dibawakan dalam bentuk pantun. Menurut cerita tersebut, pada masa kebesaran kerajaan Padjajaran di Pasundan, di samping sebagai alat musik dalam upacara pertanian, angklung juga umum digunakan sebagai alat musik angkatan bersenjata, semacam Marching Band.</p>
<p>Berdasarkan hal tersebut, beberapa pengamat berkebangsaan Belanda, menyatakan bahwa angklung adalah musik militer. Seorang Belanda, dengan inisial G.J.N. dalam majalah INDIE tahun pertama, 22 Agustus 1917, halaman 330 mengatakan hal berikut mengenai angklung di Priangan, “.. en qeen wonder: de angkloeng is militaire muziek (artinya: .. dan tidak mengherankan: angklung memang musik militer)”. Selain itu, seseorang dengan nama alias “Bianca” dalam majalah de ORIENT, 24 Desember 1938 pun menulis mengenai angklung Sunda sebagai berikut: “Over het algemeen draagt angkloeng muziek een opwekkend en vroolijk karakter, maar het heft ook zijn krijgslystige en mystiekezidje” (artinya: “Pada umumnya musik angklung menggairahkan dan menggembirakan, tetapi juga dapat menimbulkan semangat perjuangan dan mistik”).</p>
<p>Maka tidaklah mengherankan, apabila pada pertengahan abad ke-19, ketika di Pasundan sedang giat-giatnya dilaksanakan tanam paksa (Cultuurstelsel) oleh pemerintah Belanda, diadakan larangan terhadap permainan angklung. Alasannya adalah karena menurut pengamatan beberapa pembesar Belanda, permainan angklung dapat memberi pengaruh yang cukup besar terhadap semangat perlawanan rakyat atas kekuasaan pemerintah jajahan. Namun, larangan tersebut tidak berlaku untuk permainan yang dilakukan oleh anak-anak dan pengemis, mungkin karena dianggap tidak akan menimbulkan pengaruh yang signifikan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/08/prangkoangklunguntukanak.jpg"><img class="size-full wp-image-478 aligncenter" title="prangkoangklunguntukanak" src="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/08/prangkoangklunguntukanak.jpg" alt="prangkoangklunguntukanak" width="150" height="194" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Sumber: <a href="http://www.kabumi.org/images/stories/berita/prangkoangklunguntukanak.jpg" target="_blank">link</a></strong></p>
<p>Sejak itu, angklung yang tadinya dianggap sebagai alat musik militer dan sakral turun derajat menjadi alat musik yang biasa digunakan oleh para pengemis dalam mencari nafkah sehari-hari</p>
<p><strong>BERSAMBUNG..</strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>http://angklung-web-institute.com/content/view/87/74/lang,en/</p>
<p>http://books.google.co.id/books?id=H4JgdJt0ZWwC</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/10/alunan-angklung-pikat-shenyang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alunan Angklung Pikat Shenyang'>Alunan Angklung Pikat Shenyang</a> <small>Lampu yang semula redup tiba-tiba menyala seiring alunan tetabuhan khas...</small></li>
<li><a href='http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2010/06/gim-wayang-golek-ke-korea-selatan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gim Wayang Golek ke Korea Selatan'>Gim Wayang Golek ke Korea Selatan</a> <small>Gim (game) animasi wayang golek diperkenalkan dalam konferensi pemuda internasional...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaberprestasi.web.id/2009/08/angklung-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
